(Sebuah catatan Astri Nf* tentang Readzone)
Sebuah
fase hidup, sebuah sekolah dasar, seorang guru, secarik kenangan, majalah kita.
Saya
sebenarnya capek sekali. Saya sedang menjalani ujian akhir universitas demi
sebuah kelulusan yang belum digenggam oleh tangan, dan demi nilai yang bisa
membinarkan mata, serta sebuah harga diri yang sejak dulu masih mati-matian
saya pertahankan.
Namun
saat mendengar permintaan seorang teman dekat yang ingin sebuah rangkuman dari saya
tentang majalah ‘tua’ ini, saya seketika bersemangat. Kalau diingat-ingat, saya
rasanya suka bersemangat kalau menyangkut RZ. Sejak dulu saat masih
giat-giatnya menulis di sana, dikejar-kejar deadline,
puyeng karena ide tak datang-datang, ah… masih terang sekali ingatan ini. RZ
adalah orangtua saya, ‘baby’ pertama
saya, sekaligus sahabat saya. Maka sampai saat ini, saya masih mencintai
majalah tersebut. Dimana pun saya berada.
Saya
salah satu penulis senior RZ. Tapi jangan salah paham dulu, maksud ‘senior’ di
sini bukan yang berbau-bau kawakan dan profesional itu, tapi semata karena saya
adalah salah satu kru yang lumayan awal bergabung dengan RZ. Maka jadilah saya
menamakan diri ‘senior’. Soal kemampuan? Jangan ditanya.… Masih seukuran bonsai
di halaman rumah.
Dulu
saya sempat galau sewaktu diajak bergabung oleh mereka-mereka para pendiri RZ
itu. Takut mengganggu sekolah, takut tidak bisa profesional, malu, belum banyak
pengalaman, bla bla bla… Tapi gimana donk? Saya sudah suka menulis sejak
kecil. Waktu kelas 4 SD, guru saya suka memberi PR mengarang dan saya selalu
dapat nilai 8 atau 8.5, karena sebenarnya saya suka bercerita, turunan Bapak.
Hehe.... Saat Sekolah Menengah, saya sudah menulis sebuah novel ‘remaja’ yang
sensasi ‘abege’nya jelas sekali, dan yang lalu dibaca oleh teman-teman sekelas,
karena waktu itu saya terinspirasi oleh novel-novel L. E. Blair. Ah, narsis
sekali paragraf ini. Maaf.
Jadi,
tidak ada alasan yang jelas sebenarnya untuk menolak tawaran RZ.
Untungnya
saya tidak menolak. Untungnya saya mau saja disuruh menyumbang tulisan-tulisan.
Untungnya saya tidak drop-out di
tengah jalan. Saya memang beruntung. Untuk mendapatkan sebuah pembelajaran
tentang ‘menjadi-seorang-penulis-sejak-nol’ dari majalah Read-Zone, saya tahu
saya beruntung.
Saya
tidak tahu apakah RZ masih seaktif dulu, yang setiap bulan mengejar target, berusaha
memenuhi keinginan pembaca, meminta tulisan ke mana-mana, dan kalau yang
bersangkutan tidak bisa menulis dan baru mengkonfirmasi di saat-saat terakhir,
terpaksa lah kita yang bertanggung-jawab, lalu langsung kelimpungan mencari ide
dan menuliskannya agar selesai tepat waktu, lalu tersenyum ketika RZ sudah naik
cetak dan bundelannya sudah tersebar pada pembaca. Manis sekali, teman.
Kenangan itu selalu membawa senyum tersendiri bagi saya, dan tentu saja bagi
kru-kru lain yang nasibnya sebelas-dua belas dengan saya.
Karena
dalam hidup ini tidak ada yang instan, maka begitu pula dengan proses menulis
yang saya dapatkan dari si ‘mungil’ RZ. Tidak ada perekrutan resmi sebagai
anggota, tidak ada seminar keanggotaan, tidak ada wawancara, tidak ada
pelatihan satu hari menulis bersama RZ, apalagi kartu pers seperti yang
biasanya kita dapatkan dari hasil bergabung menjadi anggota sebuah majalah, RZ
tak memberikan semua itu. RZ bahkan tak memberikan persenan untuk para
penulisnya. Istilah ‘mungil’ yang saya gunakan memang benar-benar berarti
mungil.
Yang
disediakan oleh RZ untuk para krunya hanyalah sebuah wadah.
Menulis,
menulis, dan menulis. Tak perduli seamburadul apapun, tulisan tersebut akan diterima,
dipermak, lalu terbitlah karya pertama kita. Lalu menulis lagi, begitu
seterusnya. RZ tak menawarkan apapun, tapi itulah keistimewaannya. Dia tak
punya nama bergengsi seperti majalah lainnya, namun bisa meraup sekelumit writer wannabe yang sedang kehausan,
mencari sebuah tempat untuk bercerita dan ‘curhat’. Dan karena
ketidak-istimewaannya itulah, di mata saya RZ menjadi sebuah majalah saku
spesial.
Suatu
hari saya mendapatkan permintaan dari seorang kakak kelas yang ingin tulisannya
dimuat di RZ. Kita memang sering menawarkan kolom ‘cerpen’ untuk diisi oleh
penulis-penulis luar. Dengan senang hati saya terima tulisan dia. Kebetulan
saat itu saya sudah lumayan tahu kaidah menulis berkat bacaan-bacaan yang saya
konsumsi. Tapi di situlah kesalahannya. Ketika saya baca cerpen milik si kakak
kelas, saya menemukan sangat banyak kesalahan yang membuat tulisan tersebut
tidak enak sekali dibaca. Istilahnya, tidak mengalir.
Akhirnya
saya ketik ulang cerita tersebut, pangkas sana-sini, tambal kanan-kiri, dengan
harapan ceritanya bisa lebih mengalir dan pembaca bisa lebih menikmati.
Hasilnya memang jauh lebih nyaman dikonsumsi, tapi kemudian, saya malah mendapatkan
kritikan yang tidak lain berasal dari si penulis sendiri. Dia memprotes isi
cerpennya yang hampir saya permak semuanya, dari plot cerita, tata bahasa,
percakapan, bahkan sampai kepada karakter tokoh! Dia merasa kecewa karena
keorisinalitasan tulisannya sudah tidak bisa dia lihat lagi, hanya nama penanya
yang masih tertera dan seketika tampak ironis. Itu semua gara-gara hasil editan
saya! Saya merasa menjadi orang paling mengerikan dan jahat karena telah
membunuh karakter-karakter yang sudah diciptakannya, tanpa seizin penulis, dan
dengan sangat semena-mena.
Saya
ingat sekali, itu terjadi tahun 2007. Pembelajaran pertama yang saya dapatkan
dan rasanya mengena sekali pada diri saya, hingga sekarang. Saya kemudian mulai
belajar bukan hanya kaidah menulis tapi juga tata cara dan undang-undang dalam
mengedit, sampai sekarang. Kalau tidak karena RZ, saya tidak akan menjadi
editor reguler di majalah Kalimantan-Mesir sekarang, saya tidak akan tahu
‘sopan santun’ dalam dunia tulis-menulis, dan saya tidak akan tahu bagaimana
perasaan si penulis tentang pentingnya karya original mereka.
Saya
hanya bertanya-tanya, apakah RZ masih seperti dulu? Apakah semangat itu masih
ada dan bukannya luntur ditelan akun facebook dan twitter? Apakah masih ada
sekelumit pemimpi muda yang masih mau membagi sedikit waktunya untuk menulis
demi majalah kecil RZ? Saya tidak tahu, dan sebenarnya ingin sekali tahu. Tapi
saya takut pada kenyataan yang mungkin tidak seperti harapan saya. Mau diapain lagi? Saya tak punya hak untuk
menentukan remaja sekarang seharusnya melakukan ini dan itu, tidak boleh begini
dan begitu. Tidak. Saya hanya akan memuji para penulis junior yang masih mau
bertahan meski yang lain sudah kehilangan kepedulian pada kata ‘menulis’. Saya
selalu ingat kata-kata Billi Lim yang dia tulis dalam buku fenomenalnya ‘Dare
to Fail’:
Agar tidak dilupakan, bila telah mati dan busuk,
tulislah sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca,
atau buatlah sesuatu
yang bermanfaat untuk ditulis.
Tidak kenal siapa itu
Billi Lim? Saya anjurkan Anda untuk tidak hanya membaca status facebook J
Menulis
itu harus pakai hati, itulah yang diajarkan majalah Read Zone pada para penulis
mudanya. Kita tak bisa menghasilkan sebuah karya yang indah kalau tulisan kita
tak berasal dari hati. Karya itu tidak akan bisa menyentuh hati pembaca karena
tidak ditulis dengan perasaan. Bukankah jika pada sebuah pandangan pertama
orang bisa merasakan sesuatu yang lain, maka akan terlahir sebuah istilah ‘dari mata turun ke hati’? Dan pesan Anda
dalam tulisan tersebut pun secara otomatis akan tersampaikan pada pembaca.
Karena
hidup terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja tanpa ada sebuah rekaman untuk
dikenang. Bukankah begitu? []
