Pages

Ads 468x60px

Minggu, 20 Maret 2016

|| KONGKOW JADUL ||

(Sebuah catatan Astri Nf* tentang Readzone)

Sebuah fase hidup, sebuah sekolah dasar, seorang guru, secarik kenangan, majalah kita.

Saya sebenarnya capek sekali. Saya sedang menjalani ujian akhir universitas demi sebuah kelulusan yang belum digenggam oleh tangan, dan demi nilai yang bisa membinarkan mata, serta sebuah harga diri yang sejak dulu masih mati-matian saya pertahankan.


Namun saat mendengar permintaan seorang teman dekat yang ingin sebuah rangkuman dari saya tentang majalah ‘tua’ ini, saya seketika bersemangat. Kalau diingat-ingat, saya rasanya suka bersemangat kalau menyangkut RZ. Sejak dulu saat masih giat-giatnya menulis di sana, dikejar-kejar deadline, puyeng karena ide tak datang-datang, ah… masih terang sekali ingatan ini. RZ adalah orangtua saya, ‘baby’ pertama saya, sekaligus sahabat saya. Maka sampai saat ini, saya masih mencintai majalah tersebut. Dimana pun saya berada.

Saya salah satu penulis senior RZ. Tapi jangan salah paham dulu, maksud ‘senior’ di sini bukan yang berbau-bau kawakan dan profesional itu, tapi semata karena saya adalah salah satu kru yang lumayan awal bergabung dengan RZ. Maka jadilah saya menamakan diri ‘senior’. Soal kemampuan? Jangan ditanya.… Masih seukuran bonsai di halaman rumah.

Dulu saya sempat galau sewaktu diajak bergabung oleh mereka-mereka para pendiri RZ itu. Takut mengganggu sekolah, takut tidak bisa profesional, malu, belum banyak pengalaman, bla bla bla… Tapi gimana donk? Saya sudah suka menulis sejak kecil. Waktu kelas 4 SD, guru saya suka memberi PR mengarang dan saya selalu dapat nilai 8 atau 8.5, karena sebenarnya saya suka bercerita, turunan Bapak. Hehe.... Saat Sekolah Menengah, saya sudah menulis sebuah novel ‘remaja’ yang sensasi ‘abege’nya jelas sekali, dan yang lalu dibaca oleh teman-teman sekelas, karena waktu itu saya terinspirasi oleh novel-novel L. E. Blair. Ah, narsis sekali paragraf ini. Maaf.

Jadi, tidak ada alasan yang jelas sebenarnya untuk menolak tawaran RZ.

Untungnya saya tidak menolak. Untungnya saya mau saja disuruh menyumbang tulisan-tulisan. Untungnya saya tidak drop-out di tengah jalan. Saya memang beruntung. Untuk mendapatkan sebuah pembelajaran tentang ‘menjadi-seorang-penulis-sejak-nol’ dari majalah Read-Zone, saya tahu saya beruntung.

Saya tidak tahu apakah RZ masih seaktif dulu, yang setiap bulan mengejar target, berusaha memenuhi keinginan pembaca, meminta tulisan ke mana-mana, dan kalau yang bersangkutan tidak bisa menulis dan baru mengkonfirmasi di saat-saat terakhir, terpaksa lah kita yang bertanggung-jawab, lalu langsung kelimpungan mencari ide dan menuliskannya agar selesai tepat waktu, lalu tersenyum ketika RZ sudah naik cetak dan bundelannya sudah tersebar pada pembaca. Manis sekali, teman. Kenangan itu selalu membawa senyum tersendiri bagi saya, dan tentu saja bagi kru-kru lain yang nasibnya sebelas-dua belas dengan saya.

Karena dalam hidup ini tidak ada yang instan, maka begitu pula dengan proses menulis yang saya dapatkan dari si ‘mungil’ RZ. Tidak ada perekrutan resmi sebagai anggota, tidak ada seminar keanggotaan, tidak ada wawancara, tidak ada pelatihan satu hari menulis bersama RZ, apalagi kartu pers seperti yang biasanya kita dapatkan dari hasil bergabung menjadi anggota sebuah majalah, RZ tak memberikan semua itu. RZ bahkan tak memberikan persenan untuk para penulisnya. Istilah ‘mungil’ yang saya gunakan memang benar-benar berarti mungil.

Yang disediakan oleh RZ untuk para krunya hanyalah sebuah wadah.

Menulis, menulis, dan menulis. Tak perduli seamburadul apapun, tulisan tersebut akan diterima, dipermak, lalu terbitlah karya pertama kita. Lalu menulis lagi, begitu seterusnya. RZ tak menawarkan apapun, tapi itulah keistimewaannya. Dia tak punya nama bergengsi seperti majalah lainnya, namun bisa meraup sekelumit writer wannabe yang sedang kehausan, mencari sebuah tempat untuk bercerita dan ‘curhat’. Dan karena ketidak-istimewaannya itulah, di mata saya RZ menjadi sebuah majalah saku spesial.

Suatu hari saya mendapatkan permintaan dari seorang kakak kelas yang ingin tulisannya dimuat di RZ. Kita memang sering menawarkan kolom ‘cerpen’ untuk diisi oleh penulis-penulis luar. Dengan senang hati saya terima tulisan dia. Kebetulan saat itu saya sudah lumayan tahu kaidah menulis berkat bacaan-bacaan yang saya konsumsi. Tapi di situlah kesalahannya. Ketika saya baca cerpen milik si kakak kelas, saya menemukan sangat banyak kesalahan yang membuat tulisan tersebut tidak enak sekali dibaca. Istilahnya, tidak mengalir.

Akhirnya saya ketik ulang cerita tersebut, pangkas sana-sini, tambal kanan-kiri, dengan harapan ceritanya bisa lebih mengalir dan pembaca bisa lebih menikmati. Hasilnya memang jauh lebih nyaman dikonsumsi, tapi kemudian, saya malah mendapatkan kritikan yang tidak lain berasal dari si penulis sendiri. Dia memprotes isi cerpennya yang hampir saya permak semuanya, dari plot cerita, tata bahasa, percakapan, bahkan sampai kepada karakter tokoh! Dia merasa kecewa karena keorisinalitasan tulisannya sudah tidak bisa dia lihat lagi, hanya nama penanya yang masih tertera dan seketika tampak ironis. Itu semua gara-gara hasil editan saya! Saya merasa menjadi orang paling mengerikan dan jahat karena telah membunuh karakter-karakter yang sudah diciptakannya, tanpa seizin penulis, dan dengan sangat semena-mena.

Saya ingat sekali, itu terjadi tahun 2007. Pembelajaran pertama yang saya dapatkan dan rasanya mengena sekali pada diri saya, hingga sekarang. Saya kemudian mulai belajar bukan hanya kaidah menulis tapi juga tata cara dan undang-undang dalam mengedit, sampai sekarang. Kalau tidak karena RZ, saya tidak akan menjadi editor reguler di majalah Kalimantan-Mesir sekarang, saya tidak akan tahu ‘sopan santun’ dalam dunia tulis-menulis, dan saya tidak akan tahu bagaimana perasaan si penulis tentang pentingnya karya original mereka.

Saya hanya bertanya-tanya, apakah RZ masih seperti dulu? Apakah semangat itu masih ada dan bukannya luntur ditelan akun facebook dan twitter? Apakah masih ada sekelumit pemimpi muda yang masih mau membagi sedikit waktunya untuk menulis demi majalah kecil RZ? Saya tidak tahu, dan sebenarnya ingin sekali tahu. Tapi saya takut pada kenyataan yang mungkin tidak seperti harapan saya. Mau diapain lagi? Saya tak punya hak untuk menentukan remaja sekarang seharusnya melakukan ini dan itu, tidak boleh begini dan begitu. Tidak. Saya hanya akan memuji para penulis junior yang masih mau bertahan meski yang lain sudah kehilangan kepedulian pada kata ‘menulis’. Saya selalu ingat kata-kata Billi Lim yang dia tulis dalam buku fenomenalnya ‘Dare to Fail’:

Agar tidak dilupakan, bila telah mati dan busuk,
tulislah sesuatu yang bermanfaat untuk dibaca,
 atau buatlah sesuatu yang bermanfaat untuk ditulis.

Tidak kenal siapa itu Billi Lim? Saya anjurkan Anda untuk tidak hanya membaca status facebook J

Menulis itu harus pakai hati, itulah yang diajarkan majalah Read Zone pada para penulis mudanya. Kita tak bisa menghasilkan sebuah karya yang indah kalau tulisan kita tak berasal dari hati. Karya itu tidak akan bisa menyentuh hati pembaca karena tidak ditulis dengan perasaan. Bukankah jika pada sebuah pandangan pertama orang bisa merasakan sesuatu yang lain, maka akan terlahir sebuah istilah ‘dari mata turun ke hati’? Dan pesan Anda dalam tulisan tersebut pun secara otomatis akan tersampaikan pada pembaca.


Karena hidup terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja tanpa ada sebuah rekaman untuk dikenang. Bukankah begitu? []



*Astri Nf adalah nama pena dari Astri Nor Fitriani. Lulusan Al-Azhar University Cairo Mesir ini merupakan salah satu kru yang turut serta merintis berdirinya majalah Read Zone. Ia pertama kali bergabung di Read Zone di bulan September 2006
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter