Judul :
I Was Here - Aku Pernah di Sini
Pengarang :
Gayle Forman
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Dimensi : 328 hlm; 20 cm
Cetakan : 1, 2016
ISBN :
978-602-03-2243-1
Kita tidak memilih untuk dilahirkan, dan
secara umum tidak bisa menentukan kematian. Bunuh diri adalah perkecualian.
Butuh jiwa yang tegar untuk memilih jalan ini. (Hlm. 112)
Sebagian dari kita mungkin punya cita-cita
yang terus bisa membuat kita melangkah maju. Sebagian lagi, malah mungkin
sebaliknya, kehilangan harapan, keletihan yang teramat sangat, atau kesakitan
yang mampu mendorong kita berpikir mengakhiri hidup. Namun, sebelum itu
terjadi, pernahkah kita memikirkan orang-orang terdekat yang bisa jadi sangat
kehilangan ketika pergi?
Ketika Meg, teman baik Cody mengakhiri
hidupnya dengan meminum cairan pembersih dan telah menyiapkan kematiannya
dengan sangat rapi, Cody sangat sedih dan tak bisa memahami perbuatan
sahabatnya itu. Selama ini, mereka selalu berbagi cerita, apa pun, jadi rasanya
tak mungkin dia tak mengetahui masalah yang dihadapi sahabatnya tersebut.
Saat dia pergi ke kota tempat Meg kuliah
untuk membereskan barang-barang gadis itu, Cody mendapati banyak hal yang tak
diceritakan Meg padanya. Tentang teman-teman sekamarnya yang tak pernah dijumpainya
di kota kecil tempat dia tinggal, tentang pergaulannya, juga tentang Ben, cowok
sinis pemain gitar yang kemudian diketahui Cody telah membuat Meg patah hati.
Awalnya Cody mengira salah Ben-lah Meg bunuh
diri setelah membaca percakapan mereka di surel Meg. Namun, dia lalu menemukan
hal lain ketika kembali melihat Ben. Meski mereka bertengkar, Ben tetap peduli
pada Meg.
Kemudian ketika lagi-lagi dia mencoba mencari
petunjuk di komputer Meg, Cody menemukan sebuah file bersandi yang tak bisa
dibuka. Sampai pulang kembali ke Washington, dia tak mengindahkannya kecuali
saat Scottie, adik Meg mengatakan satu hal yang membuatnya tersadar.
Cody berniat membuka file tersebut dengan
bantuan Harry, salah satu teman serumah Meg dan berhasil. File tersebut membawanya
ke sebuah forum pendukung bunuh diri. Amarah, kesal dan rasa ingin tahu
membuatnya menyusuri lebih dalam hingga mendapati semua postingan Meg di forum
tersebut, juga siapa mentornya.
Obsesi Cody menggila. Dia mencoba memancing
All_BS, orang yang membuat Meg percaya bunuh diri adalah jalan terbaik
mengakhiri penderitaan dan mengumpankan dirinya sendiri. Gadis itu berhasil.
All_BS memberinya banyak pencerahan soal bunuh diri seperti yang diterima Meg.
Bersamaan dengan itu pula, dia kembali meminta bantuan Harry untuk melacak
keberadaan orang tersebut. Benar saja, sekali lagi Harry berhasil mendapatkan
nama berikut alamat si All_BS.
Ditemani Ben yang menjadi dekat dengannya
karena cowok itu bersedia merawat kucing Meg, dia pergi ke Laughin menemui
Bradford Smith, All_BS. Semua berjalan lancar kecuali rasa takutnya. Dia takut tapi juga marah.
Di perjalanan, mereka mampir di rumah
Richard, juga salah satu teman serumah Meg selama di kampus dan terpaksa
menghadiri kebaktian karena ayah Richard seorang pendeta. Entah ada yang
memberitahu atau bagaimana, khotbah ayah Richard begitu membuatnya sesak karena
sama persis dengan apa yang dirasakannya sekarang. Tapi, ayah Richard juga
memberi peredamnya hingga sedikit membuat Cody sedikit tenang.
Dia menatapku, dan aku tahu apa yang kuminta
dari-Nya, apa yang Tuhan minta kita lakukan -apa yang kuminta kalian lakukan-
tidaklah mudah. Membiarkan luka kita sembuh. Memaafkan. Dan yang paling sulit,
kadang-kadang adalah memaafkan diri sendiri. Tapi jika kita tidak melakukannya,
kita menyia-nyiakan hadiah Tuhan terbesar; obat ajaibnya. (Hlm. 249)
Cody marah. Tapi dia juga bisa menerimanya.
Dan ketika dia berhasil berhadapan dengan Bradford, dia mampu mengendalikan
diri. Mengendalikan hatinya yang rapuh. Memutuskan berdamai dengan amarah dan
jujur pada ibunya, juga pada keluarga Meg.
Ini adalah novel yang mengharukan. Hampir
semua sisinya bercerita dengan muram dan bernuansa kesedihan. Tapi disitulah
daya tariknya. Penulis mampu membuat pembaca merasakan sedih dan putus asa si tokoh
dengan baik. Meski konfliknya sebenarnya sederhana, tetap saja ini menarik
karena menawarkan sisi yang jarang ditulis orang-orang.
Perhatian orang-orang sekitar sangat berguna
bagi setiap orang. Tidak membiarkan orang-orang terdekat menghadapi masalah
sendirian merupakan hal bijak yang mampu dipetik di novel ini. Selain itu,
tampak ditekankan pula betapa pentingnya memaafkan, menerima luka dengan lapang
semua masalah meski berat agar semua orang bisa melangkah maju. Penulis
tampaknya ingin kita melakukan itu.
Sedikit cacat dalam buku ini, cukup banyak
ditemukan salah ketik yang tak perlu. Memang tidak mengganggu, tapi jika muncul
hampir di setiap bab. Tentu saja ini bukan hal yang baik.
Kehidupan dan kematian berada pada benang
yamg tipis, benang yang sama yang dipandang dari berbagai sudut. (Hlm. 128)
