Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label poetRy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poetRy. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

PUISI ZR. IIS: TEMAN ATAU CINTA?


Puisi I
DALAM DIAM

Dalam diam,aku bermimpi
Dalam diam, aku berharap
Dalam diam aku tertawa
Dalam diam aku menangis
Dalam diam aku merindu
Dan dalam diam jua, aku mencintaimu
Hanya dengan doa
Caraku mencintaimu dalam diamku
Biarkan tetap seperti ini
Seperti air mengalir dalam diamnya
Biarlah aku tetap terdiam
Karena aku, akan baik-baik saja




Puisi II
SUNYI

Tak seperti biasanya
Memang berbeda
Benar-benar berbeda
Canda tawa,suka & duka
Tinggal cerita dalam sajak-sajak hampa
Teman memang tak ada yang sejati
Pada akhirnya semua harus pergi
"Teman sejati yang tak Pernah Pergi"
Itu hanya kalimat dan ambisi
Nyatanya teman sejati hilang & pergi
Dan kini aku berada dalam sunyi
Sepi dan lagi-lagi sendiri




Puisi III
TEMAN ATAU CINTA?

Seperti mawar yang merindukan kumbang
Seperti malam yang menanti sang bintang
Seperti putri yang merindu pangeran
Seperti itu pula aku padamu

Kamu teman, tapi aku sayang
Aku cinta, tapi kamu kawan
Teman atau cinta? Cinta atau teman?
Biarkan aku diam, dan tidak mencari jawaban

Semua hanya angan
Hanya bayang yang kan menghilang
Entahlah.  . .
Esok atau Lusa kita pasti sama-sama melupa



BIODATA
Zr. Iis, merupakan nama pena dari Iis Suhartini, bekerja sebagai Care Giver di PT Kanopi Insan Sejahtera. Facebook: Iis S (Zuster Iis) E-mail: ariskaiis098@gmail.com



Jumat, 13 Januari 2017

PUISI DARUZ ARMEDIAN: KENANGAN SEPANJANG PANTURA


Puisi I
JATUH CINTA YANG BAIK BAGI PEMALU

sebagai lelaki pemalu aku tahu cara jatuh cinta yang baik
adalah membiarkan pikiran menggambar seseorang
seperti halnya bocah kecil dengan riang mencoreti buku kecil
sesuka hati sesuka pandangan ini

aku ingin selalu merawat rindu yang panjang
dan tak mau duduk berdampingan membicarakan kembang
putih awan, biru kolam dan ikan-ikan
lalu memaksa waktu bermusuhan dengan perjalanan
aku tak mau membagi perasaan pada telinganya
yang menyimpan rahasia dan semacam peristiwa

kalau seandainya ia menganggapku wajah yang ia cintai
aku tetap menolak jadi waktu bagi putaran jam
yang mau tidak mau fardlu berdampingan
sebab dekat adalah cara membunuh yang akurat pada kerinduan


kutub, 2016




Puisi II
KENANGAN

kenangan adalah rumah tempatku singgah yang menolak rapuh
dan menganggap waktu hanya sebatas pejalan yang menjauh
di sana aku bermukim dengan pikiranku sendiri
dengan segala yang kurawat di dada ini

seumpama kau berpetualang dan tak ingat jalan pulang di pundakku
atau pergi dengan seseorang yang memaksamu melupakan masa lalu
aku tak berniat mencarimu
aku hanya akan lebih khidmat tinggal di rumah itu


warkop, 2016




Puisi III
DI SEPANJANG PANTURA

di sepanjang Pantura, dalam bis kota
menuju rumahmu, yang itu adalah rumahku
kita bersepakat; siapa paling cepat
membaca papan iklan
ialah pemenang
aku lihat mulutmu yang angkuh pada kesedihan
membaca satu per satu, pandanganmu ke sini ke situ
aku tak hendak bicara apa-apa, sebab celotehmu
seperti mengajakku untuk senantiasa mengabadikan momen ini
momen di mana luka tak punya ruang lagi

kau salah tingkah, atau mungkin lelah?
kepalamu  kini bersandar di pundaku
harum rambutmu kini kuciumi
akhirnya, seperti biasa, kau bertanya juga soal perpisahan

di sepanjang Pantura, biarlah debu-debu berterbangan
toh, kita masih di sini, bergandengan tangan

Tuban, 2015



Biodata:
Daruz Armedian, lahir di Tuban dan kuliah di jurusan Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).  Tulisannya pernah di Media Indonesia, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll.




Jumat, 06 Januari 2017

PUISI AKBAR RIZKY SHOLEH: KETIKA MATI


Puisi I
KETIKA MATI

Diam-diam kau datang
Bersama bayang-bayang
Rinduku membeku
Dipantai deraimu

Kau menjemputku
Ditengah sepi yang sembilu
Ragaku kau angkat
Rohku melayang terangkat

Dibawah batu nisan
Kau menghujatku berat
Mulutku terdiam
Tubuhku menjawab berat




Puisi II
DIPERKOSA SUNYI

Sunyi telah memperkosaku malam ini.
Seluruh tubuhku dijamahnya habis.
Ia telah membelai sekujur tubuhku.
Dengan aroma yang membuat mulutku bisu.
Kau ajak aku bercinta.
Kau janjikan aku kata-kata yang nista.

ketika tubuhku kaku
Kau biarkan aku tergelatak tak berdaya.




Puisi III
MAWAR YANG BERDURI

Mawar..
Harummu semerbak bersama angin.
Warnamu yang merah, telah membuat aku lebih berani.

Mawar...
Aku disini memujamu, dengan angan-angan yang tak ingin ku lepas.
Mawar..
Tahukah kau bahwa aku mencintaimu.
Tahukah kau bawa aku disini menjamah bau harum yang keluar dari kelopak bungamu itu.
Mawar.. 
Tahukah kau apa yang sedang aku rasakan melalui indera penciumanku..

Tapi, kenapa mawar selalu menancapkan duri itu untukku.
Mawar.
Aku mencintaimu tapi kenapa kau tusukkan duri itu untukku.
Aku tak peduli mawar atas darah yang bercucuran dari tubuhku.
Aku disini aku terus mencium harummu, walau aku tau akan duri darimu yang akan menusuk-nusuk tubuhku sampai aku mati.

Mawar..
Mohon kendalikan dirimu, aku disini selalu mencintaimu



BIODATA:
Akbar Rizky Sholeh, biasa dipanggil Abay, lahir pada tanggal 25 Desember 1996. Sekarang Menjadi Mahasiswa di-Universitas Lambung Mangkurat Program Study Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Terlibat diberbagai kegiatan seni Seperti Teater, Tari dan Sastra di sebuah sanggar yang bernama SAS SMAGRIDA ( Sarana Apresiasi Seni SMA PGRI 2 Banjarmasin)




Jumat, 30 Desember 2016

PUISI AHMAD RADHITYA ALAM: TEMBOK MUSAFIR KATA


Puisi I
MUSAFIR DI UJUNG SENJA

Menggulung senja
Pada huluan langit jingga
Deru-deru ombak samudera
Mengiring rona matari berkelana

Langit semakin menghitam
Mengelabuhi puspa cahya pesona
Langkah-langkah menapak tanah persada
Remuk redam tubuh sayu menuju temaram

Musafir di ujung senja
Mengitari rotasi jagat raya
Tapak kaki bergerak bersama
Beratap cakrawala, memecah samudera


Blitar, 15 Oktober 2016




Puisi II
PERAKIT KATA

Menuangkan angan pada harapan
Kata-kata tak bertuan
Menembus ruang imaji
Hingga libas lorong persepsi

Para peramu bahasa
Merakit aksara menjadi kata
Tanpa ragu tanpa ambigu
Menyusunnya menjadi satu
Hingga lahir dari rahim aksara
Kalimat kuat pengubah dunia

Di saat para teroris merakit bom
Kau sibuk merakit kata
Di saat korupsi penguasa merajalela
Kau teguh dengan mosi tidak percaya
Kritik-kritik yang kau lempar
Seperti udara yang diumbar
Menusuk dan menyambar
Kukuh teguh dan takkan gentar


Blitar, 30 Mei 2016




Puisi III
TEMBOK KESEDIHAN

Tembok-tembok kesedihan
Kokoh membayang
Aku kan berontak
Buih kesedihan, kubuang !
Menapaki jalan hidup yang panjang
Melawan badai yang siap menerjang
Luka menggunung
Rindu bergelantung
Di lubuk hati terujung


Blitar, 4 April 2016


BIODATA:
Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PPMH Kaweron. Tinggal bersama orang tua di Kasim, RT 02/RW 09 Ploso Kec.Selopuro Kab. Blitar. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat pada media cetak maupun elektronik.




Jumat, 23 Desember 2016

PUISI ARI VIDIANTO: MENGGIRING SUNYI


Puisi I
BERLAMUN ASA

Di telan waktu
Meredup sunyi
Di telan detik
Melirih berbisik

Resahan terpedih
Berhimpit lara
Mewarnai hati
Berlamun asa


Lumbir, 30 Mei 2016




Puisi II
HENTAKAN RINDU

Debaran di dada
Terhalusinasi cinta
Getaran musik hati
Mengalun lirih bernadi

Hentakan rindu
Berbunga semerbak
Melebur bersemayam
Dalam buaian ilusi


Lumbir, 4 Juni 2016




Puisi III
MENGGIRING SUNYI

Menggiring sunyi
Letih yang terperih
Sirna tanpa menyapa

Tergeletak jiwa ternoda
Bersimpuh bayang bermakna

Lunglai arah jalan menepi
Segenggam asa terikat janji


Lumbir, 1 Juni 2016



BIODATA
Ari Vidianto, lahir di Banyumas, 27 Januari 1984, pekerjaan seorang Guru di SDN 2 Lumbir UPK Lumbir. Tinggal di Cikole RT 03 RW 02, Desa Lumbir Kecamatan Lumbir Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Kode Pos 53177. Saya suka menulis Puisi, Cerpen, Pantun, Lagu dan Geguritan. Sudah menerbitkan 2 buku karya tunggal berjudul “ Ibu Maafkan Aku”, “ Wajah-Wajah Penuh Cinta” , 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa. Facebook Ari Vidianto, email : ari.vidianto@gmail.com.




Statistik Pengunjung

Flag Counter