Pages

Ads 468x60px

Jumat, 18 Maret 2016

SI MUNGIL TANGGAL 18 MARET 2006

Oleh Mahfuzh Amin

18 Maret, malam ini aku ingin bernostalgia denganmu lagi.

Masih terpatri dalam ingatanku, 10 tahun yang lalu, saat kita dipertemukan untuk pertama kalinya. Saat kita mulai melangkah bersama, bergandengan tangan, menyusuri setiap jalan yang penuh suka dan duka, perjuangan dan pengorbaan, untuk mencapai sebuah kebahagian yang mungkin hanya orang-orang tertentu saja yang bisa merasakannya – kebanyakan orang menilai apa yang kita lakukan itu hanyalah hal yang melelahkan saja.


Jujur saja, aku sangat merindukanmu; lukisan-lukisanmu, bait-baitmu, cerita-ceritamu, nasehat-nasehatmu, guyonan-guyonanmu. Ah, kau memang sebuah kenangan yang indah dalam hidupku.

18 Maret telah menjadi tanggal yang istimewa bagiku. Bukan hari ulang tahunku, tak jua sekadar ulang tahunmu. Tapi, ulang tahun kebersamaan kita.




            Setiap orang pasti memiliki sebuah tanggal yang istimewa dalam hidupmu. Bisa tanggal lahir, tanggal pernikahan, tanggal pertama kali punya pacar, tanggal ultah pacar, tanggal diputusi pacar, tanggal punya pacar yang kedua, tanggal ultah pacar kedua, tanggal diputusi lagi, dan seterusnya. Aku pun juga memiliki beberapa tanggal istimewa dalam hidupku, salah satunya tanggal 18 Maret.
            18 Maret bukanlah hari ulang tahunku, karena hari ulang tahunku adalah tanggal teeett…. (sensor). Di tanggal ini, tepatnya sepuluh tahun yang lalu, aku menemukan sebuah jati diriku melalui sebuah benda mungil yang berhasil kami (aku dan beberapa teman sekelasku di SMKN 1 Amuntai jurusan Akuntansi) ciptakan. Bukan sebuah jurnal dan neraca keuangan, maupun rumus terbaru dalam perhitungan akuntansi. Justru kami menemukan suatu hal yang cukup jauh dari lingkup jurusan kami, yakni sebuah majalah mini.
            Berawal dari seorang guru bahasa Inggris di sekolahku (saat itu aku masih duduk di kelas 1) yang menunjukkan sebuah majalah mini titipan teman beliau dari Barabai, HST, untuk dijual (lupa apa nama majalahnya), membuatku menjadi tertantang ingin membuat hal yang serupa. Aku yang memang telah suka menulis sejak SD, selama ini hanya mencoba menulis di mading sekolah, dan kala itu aku merasa menulis di mading masih kurang menggairahkan. Aku pun mencoba mengajak beberapa teman sekelasku untuk membuat majalah mini, yang kemudian kami beri nama Read Zone.
            Ah, menulis nama Read Zone (kemudian disingkat RZ) membuatku jadi teringat dengan apa yang kami lakukan dulu. Tak pernah hilang dari ingatku, cerita awal penerbitan RZ yang hanya bermodal sumbangan Rp 2.000,- dari 9 anggota, yang kemudian sumbangan lagi Rp 3.000,-  dari 13 anggota. Mencetaknya pun hanya numpang ngeprint di rumah teman hingga cartridge-nya rusak dan dia dimarahi oleh keluarganya akibat itu. Sempat bingung ke mana mencari tempat mencetak selanjutnya (yang hemat dan gratis tentunya, hehe…), akhirnya bapak guru bahasa Inggris itu pun menawarkan tempatnya untuk membuat dan mencetak RZ. Seiring dengan berjalannya waktu, RZ pun bisa terbit melalui percetakan dengan bagian isinya fotocopy dan covernya full warna. Yang mulanya hanya bisa mencetak 5 – 10 eks saja (jika sudah habis terjual baru cetak lagi), hingga pernah mencapai angka pencetakan sebanyak 500 eks.
            Pada era pertamanya, RZ hanya ditangani oleh saya dan beberapa teman sekelas saya, juga bapak Rakhiman Sya’ban (guru bahasa Inggris itu). Namun, dengan keterbatasan personil tersebut, kami hanya mampu menerbitkan dua edisi, yakni edisi pertama di bulan Maret 2006 dan edisi kedua di bulan Mei 2006. Setelah itu mandek. Hingga di bulan Ramadhan di tahun yang sama, saya tiba-tiba merasa rindu dengan RZ dan ingin menerbitkannya kembali. Saya pun kemudian mencoba mengajak beberapa teman lain, baik di sekolah maupun di luar sekolah yang saya kenal suka menulis untuk bekerjasama, seperti Astri Nf, Titanium Putih, Leni Rahmida, Ahmad Riadi, dan Ebar (apa kabar kalian semua sobat? Leni yang baru menikah tgl 14 Maret 2016 tadi, semoga jadi keluarga yang SAMAWA ya!). Alhamdulillah, di November 2006, RZ kembali bangkit lagi dan mulai beredar luas hingga keluar kota Amuntai. Sayangnya, era kebangkitan RZ ini hanya mampu bertahan hingga bulan Juni 2008. Setelahnya, RZ sempat berusaha untuk bangkit lagi, namun dengan kondisi yang masih terkeok-keok membuatnya kembali terjatuh. Dan hingga sampai sekarang, RZ telah hilang di bawah timbunan status-status di berbagai media sosial.
            Jujur, aku sangat merindukan RZ. Bahkan dalam beberapa hari terakhir, aku sempat berpikir untuk membangkitkan kembali RZ. Namun, ketika kucoba berpikir realitis, dengan siapa aku akan mengelola RZ? Bagaimana aku memulainya kembali? Mungkin dipikir-pikir sangat mudah, cukup buat tulisan dan cetak, selesai. Tapi, RZ tidak sekadar tulis, cetak dan selesai. Dan kenyataan lainnya lagi, siapa yang mau menjadi redaksi RZ sekarang ini? Karena RZ bukanlah sebuah majalah besar. Hanya sebuah majalah mungil. Benar benar mungil, seperti yang pernah diungkapkan oleh Astri Nf tentang RZ, “... Tidak ada perekrutan resmi sebagai anggota, tidak ada seminar keanggotaan, tidak ada wawancara, tidak ada pelatihan satu hari menulis bersama RZ, apalagi kartu pers seperti yang biasanya kita dapatkan dari hasil bergabung menjadi anggota sebuah majalah, RZ tak memberikan semua itu. RZ bahkan tak memberikan persenan untuk para penulisnya. Istilah ‘mungil’ yang saya gunakan memang benar-benar berarti mungil.” (tulisan Astri Nf ini akan kami share dalam postingan terpisah).
            Bentuknya memang mini – mungil, hanya seukuran kertas A4 yang dilipat menjadi empat bagian (dua di atas, dua di bawah). Namun, RZ bisa memberiku motivasi dan inspirasi yang sangat besar dalam menulis. Ketika dulu waktu mengelola RZ, aku merasa begitu produktif melatih diri dalam menulis. Bahkan, aku sangat bersyukur, berkat RZ aku bisa menerbitkan sebuah novel berjudul Superstar Udin (diterbitkan pada tahun 2013 oleh penerbit Ping!!!, lini dari Diva Press). Karena hampir seluruh isi dari novel Superstar Udin diambil dari seRial Udin Pa’ak yang saya tulis di setiap edisi RZ.
            Itulah mengapa saya membuat sebuah blog Read Zone ini sebagai mengganti pikiran yang tertepis oleh realita itu. Kupikir, tak mampu mencetak majalah RZ kayak dulu, bikin ‘majalah eletronik’ seperti ini pun tak apa. Yang penting, visi dari RZ tetap berjalan, yakni menjadi wadah berkarya dan berbagi untuk semua orang. Dan rasa kangen saya akan RZ bisa terobati. Serta – tentu aku sangat berharap – kehadiran blog Read Zone ini bisa kembali ‘memaksa’ku untuk lebih giat dalam berkarya. Karena bagiku, RZ adalah motivatorku dalam menulis. [ ]

Note: Bagi kawan-kawan yang ingin ikut menulis di blog ini, silakan klik di sini
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter