“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di
bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat
penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.S. Hud: 6)
Ketika
Rasulullah mengadakan walimah pernikahan beliau dengan salah satu istrinya,
beliau mengundang para sahabat untuk berhadir dalam acara tersebut. Namun, di
acara itu mereka tidak tahan untuk tidak memperbincangkan jamuan yang disajikan
oleh sang Baginda. “Dari mana Rasulullah akan mampu memenuhi hidup para
istrinya? Coba lihat, jamuannya saja hanya seperti itu,” kata salah satu
undangan.
Rasulullah
diam saja kala mendengar perkataan itu. Namun, setelah menunaikan shalat,
Rasulullah pun menceritakan sebuah kisah kepada para hadirin tersebut. “Kisah
ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku,” ungkap Rasulullah dan memulai
kisahnya.
“Suatu
ketika Nabi Sulaiman melakukan shalat di tepi pantai. Usai shalat, beliau
melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau.
Beliau yang mengerti bahasa binatang pun mendengar semut tersebut
memanggil-manggil seekor katak. Tak lama, katak yang dipanggil pun muncul. Nabi
Sulaiman menyaksikan katak itu langsung menggendong sang semut dan membawanya
masuk ke dalam air menuju dasar laut. Semut itu menceritakan kepada Nabi
Sulaiman bahwa di sana tinggal seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rezekinya
pada si semut.
“Sehari dua
kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat
itu.” Demikian si semut memberikan penjelasan kepada Nabi Sulaiman.
“Siapakah
malaikat itu, wahai semut?” tanya Nabi Sulaiman.
Si semut pun
menjawab, “Si katak itu sendiri. Malaikat menjelmakan dirinya menjadi katak
yang kemudian mengantarkanku menuju dasar laut. Setelah menerima kiriman dan
melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, Maha
Besar Allah yang mentakdirkan aku hidup di dasar laut.”
Sebelum
mengakhiri ceritanya, Rasulullah menyampaikan pandangannya dari cerita tadi,
“Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah masih tetap memberinya
makanan, maka apakah Allah tega menelantarkan umat Muhammad soal rezki dan
rahmat-Nya.”
Dari kisah
di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan
hamba-Nya. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir apalagi bersedih dengan
rezeki yang kita terima. Allah telah mengaturnya sesuai kadar dan usaha
masing-masing hamba-nya, dan Dia adalah Maha Pengatur yang Terbaik. Yang
penting, kita selalu berusaha di jalan yang baik dan terus mengerjakan amal
shalih agar menjadi hamba yang beriman. Tentunya, tak lupa selalu bersyukur
atas setiap nikmat dan anugerah yang diberikan kepada kita.
Supaya Allah memberi balasan kepada
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Mereka itu adalah
orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Saba’:4)
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di
antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada
Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah: 172)
(Kisah diambil dari buku the Miracle of
Qur’anic Motivation, penulis Fatkhul Anas) - [Red]
