Pages

Ads 468x60px

Jumat, 22 April 2016

REZEKI SEEKOR ULAT




“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.S. Hud: 6)


Ketika Rasulullah mengadakan walimah pernikahan beliau dengan salah satu istrinya, beliau mengundang para sahabat untuk berhadir dalam acara tersebut. Namun, di acara itu mereka tidak tahan untuk tidak memperbincangkan jamuan yang disajikan oleh sang Baginda. “Dari mana Rasulullah akan mampu memenuhi hidup para istrinya? Coba lihat, jamuannya saja hanya seperti itu,” kata salah satu undangan.

Rasulullah diam saja kala mendengar perkataan itu. Namun, setelah menunaikan shalat, Rasulullah pun menceritakan sebuah kisah kepada para hadirin tersebut. “Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku,” ungkap Rasulullah dan memulai kisahnya.

“Suatu ketika Nabi Sulaiman melakukan shalat di tepi pantai. Usai shalat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang pun mendengar semut tersebut memanggil-manggil seekor katak. Tak lama, katak yang dipanggil pun muncul. Nabi Sulaiman menyaksikan katak itu langsung menggendong sang semut dan membawanya masuk ke dalam air menuju dasar laut. Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman bahwa di sana tinggal seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rezekinya pada si semut.

“Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu.” Demikian si semut memberikan penjelasan kepada Nabi Sulaiman.

“Siapakah malaikat itu, wahai semut?” tanya Nabi Sulaiman.

Si semut pun menjawab, “Si katak itu sendiri. Malaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkanku menuju dasar laut. Setelah menerima kiriman dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, Maha Besar Allah yang mentakdirkan aku hidup di dasar laut.”

Sebelum mengakhiri ceritanya, Rasulullah menyampaikan pandangannya dari cerita tadi, “Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah tega menelantarkan umat Muhammad soal rezki dan rahmat-Nya.”

Dari kisah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir apalagi bersedih dengan rezeki yang kita terima. Allah telah mengaturnya sesuai kadar dan usaha masing-masing hamba-nya, dan Dia adalah Maha Pengatur yang Terbaik. Yang penting, kita selalu berusaha di jalan yang baik dan terus mengerjakan amal shalih agar menjadi hamba yang beriman. Tentunya, tak lupa selalu bersyukur atas setiap nikmat dan anugerah yang diberikan kepada kita.

Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Saba’:4)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah: 172)



(Kisah diambil dari buku the Miracle of Qur’anic Motivation, penulis Fatkhul Anas) - [Red]



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter