Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label miRRor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label miRRor. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Desember 2016

IBNU JUMA: SANG PEMILIK IMAN YANG DAHSYAT


Terjepit di antara dua pilihan tentu merupakan kondisi yang tidak mengenakan. Apalagi jika pilihannya begini: Meninggalkan keimanan kepada Allah atau melihat orang tua lemah tak berdaya seperti ingin mati. Wow, menurut Reader, pilihan yang sulitkah ini?
Sa’ad bin Waqqash, salah satu sahabat Rasul yang masuk Isam pada usia 17 tahun merupakan orang yang pernah berada dalam situasi terjepit seperti disebutkan tadi. Saat itu, ibunya ingin agar dia melepas keimanannya, dan mengancam kalau dia tidak mau maka ibunya akan mogok makan hingga keinginannya terpenuhi.
Ancaman ibunya itu tidak menggoyahkan keimanan Sa’ad. Hingga suatu ketika, ibunya pun berada dalam kondisi yang sangat kritis. Beberapa kerabat pun menjemputnya agar menjenguk ibunya dengan harapan ia berubah pikiran ketika melihat kondisi ibunya. Tapi, meski telah melihat kondisi ibunya yang sekarat itu keimanannya kepada Allah tetap tidak tergoyahkan. Meskipun sebenarnya hatinya terasa seperti teriris sembilu.
Ketika ia berada di dekat ibunya yang dalam kondisi kritis tersebut, ia mendekatkan wajahnya ke wajah ibunya kemudian berbisik, “Demi Allah, ketahuilah wahai Ibu, seandainya ibu mempunyai seratus nyawa, lalu keluar satu per satu, anakmu ini takkan meninggalkan agama Allah dengan tebusan apapun. Bahkan dengan nyawa ibu sekalipun. Sekarang terserah ibu, apakah mau makan atau tidak.”
Akhirnya ibunya pun menyerah untuk membelokkan kembali keimanan anaknya agar kembali menyembah berhala. Peristiwa inilah yang kemudian menurunkan wahyu Allah berupa surah Luqman ayat 15 yang artinya: “Dan seandainya kedua orang tua memaksamu untuk mempersekutukan Aku, padahal itu tidak sesuai dengan pendapatmu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya….”
Sa’ad memiliki nama asli Sa’ad bin Malik Azzuhri. Kakeknya bernama Uhaib, putera Manaf, yang merupakan paman dari Aminah, ibunda Rasulullah SAW. Ia memiliki pribadi yang sangat takut kepada Allah. Dia kerap menangis setiap mendengar Rasulullah berpidato di hadapan para sahabat. Selain itu, Sa’ad juga termasuk sahabat yang dikarunai harta berlimpah sehingga banyak menafkahkan hartanya di jalan Allah. Sa’ad juga tidak mau menjamah harta yang syubhat apalagi haram. Oleh karena itu, dia dianggap sebagai mahaguru dalam hal mengumpulkan harta yang bersih dan halal.
Sa’ad yang termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam setelah Sayidatina Khadijah r.a. ini juga memiliki keistimewaan yakni doanya setajam pedang. Hal ini berkat doa Rasulullah kala melihat sesuatu yang menyenangkan beliau pada diri Sa’ad, “Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkan doanya…” Meski memiliki keistimewaan ini, Sa’ad tidak pernah mendoakan seseorang dengan kejelekan. Jika ada seseorang mendzaliminya, ia hanya menyerahkan urusannya kepada Allah.
Sa’ad juga dinobatkan sebaga salah satu penduduk surga. Kala itu, dalam suatu majelis bersama para sahabat, tiba-tiba Rasulullah menajamkan pandangannya ke depan seolah-olah melihat sesuatu yg ditunggu-tunggu dari kejauhan. Kemudian beliau kembali menoleh kepada para sahabat seraya berkata: “Sekarang akan muncul di hadapan kalian seorang lelaki penduduk surga.” Seketika para sahabat menengok ke kiri ke kanan penuh tanda tanya, penasaran siapakah gerangan orang yang beruntung itu. Ternyata, orang itu adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, karena tak lama kemudian dia lah yang muncul di hadapan mereka.
Apa rahasia Sa’ad sehingga membuatnya dinobatkan sebagai salah satu penduduk surga? Mungkin itulah tanda tanya kita, yang juga merupakan tanda tanya Abdullah bin Amr bin Ash, yang membuat beliau bertandang ke rumah Sa’ad. “Tak lebih dari ibadah yang biasa kita kerjakan,” jawab Sa’ad, “Hanya saja aku tidak pernah menaruh dendam atau niat jahat kepada siapapun dari kaum muslimin.”
Itulah Sa’ad bin Abi Waqqash, sosok yg memiliki keimanan yang sangat kuat seperti baja dan tegar ibarat batu karang. [ ]


Selasa, 01 November 2016

miRRor: MUDA FOYA-FOYA, TUA KAYA RAYA, MATI MASUK SURGA


Pas baca judulnya, enak banget ya! Berasa anak muda banget. Tentunya juga akan jadi orang paling bahagia dan paling beruntung dah. Tapi, emang mungkin motto itu bisa terjadi di kehidupannya nyata, juga kita? Entahlah….
Pada kesempatan kali ini, miRRor ingin berbagi kisah tentang seorang milyader, saudagar, yang termasuk dalam 10 besar yang dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah saw. Nama beliau adalah Abdul Amr. Setelah keislamannya, beliau lebih dikenal dengan nama Abdurrahman bin Auf. Mm… sudah ada yang tau dengan kisah ini? Jika sudah tau, diam aja ya. Beri kesempatan yang belum tau untuk mencari tau.
Memang, apa keistimewaan Abdurrahman bin Auf?
Mari disimak kisah………

Sebagaimana Sahabat Rasulullah yang lainnya, Abdurrahman bin Auf berhijrah ke Madinah tanpa bisa membawa hartanya yang banyak. Tiba di Madinah, oleh Rasulullah kaum Muhajirin (dari Mekkah) ini dipersaudarakan dengan kaum Anshar (penduduk Madinah). Abdurrahman bin Auf dapat saudara angkat bernama Sa’ad bin Rabi’.
Ketika itu, Saad berkata pada Abdurrahman, “Aku orang terkaya di Madinah. Kamu boleh ambil separuh hartaku. Aku punya istri dua, silakan kamu pilih seorang yang kamu suka untuk dikawini, nanti akan kuceraikan.”
Wah, bagi orang awan kayak kita, aji mumpung sekali ya. Tapi, Abdurrahman bin Auf bukanlah orang yang seperti itu. Ia justru menjawab, “Semoga Allah memberkati keluargamu dan hartamu. Tunjukkan saja aku letak pasar agar aku dapat berniaga.”
Abdurrahman pun dibawa ke pasar. Ia mulai berniaga dan mendapat banyak keuntungan.
Suatu ketika, tiba kafilah dagang di Madinah, terdiri dari 700 kendaraan (onta). Masyarakat terkesima dengan kedatangan kafilah besar tersebut. Aisyah ra. yang keluar rumah saat itu teringat dengan sabda Rasul, “Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan merangkak.
Setelah mendengar sabda Rasul tersebut, Abdurrahman bin Auf berkata pada Aisyah ra., “Anda telah mengingatkan saya suatu hadits yang tak pernah saya lupakan. Dengan ini saya sangat berharap Anda berkenan menjadi saksi bahwa kafilah ini dengan segala isinya, kendaraan dan perlengkapannya, aku sumbangkan di jalan Allah.”
Pada suatu hari yang lain, Abdurrahman bin Auf juga pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar (berapa rupiah ya?), kemudian uang tersebut ia bagikan pada keluarganya di Bani Zuhrah, istri-istri Nabi, dan fakir miskin.
Di lain hari lagi, beliau menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan pasukan Islam. Dan di hari lainnya lagi beliau menyumbangkan 1500 ekor kuda. Bahkan, menjelang beliau wafat, beliau mewasiatan 50.000 dinar untuk di jalan Allah, serta 400 dinar kepada setiap orang yang ikut berperang di perang Badar dan masih hidup, sampai-sampai Utsman bin Affan yang tergolong kaya pun mendapat bagian tersebut.
Dalam riwayat lain, Abdurrahman bin Auf juga pernah menyumbangkan 2.000 dirham untuk biaya pasukan. Pada saat perang Tabuk, sumbangan beliau berupa 200 uqiyah emas. Bayangkan, Sobat! Luar biasa, bukan?!
Begitulah Abdurrahman bin Auf, kekayaannya yang melimpah tak sedikitpun membuat beliau sombong dan takabur. Sampai-sampai dikatakan orang, “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak akan sanggup membedakannya di antara mereka.”
Kisah ini tentu bukan bermaksud untuk memamerkan sedekah beliau, tapi untuk kita jadikan pelajaran bahwa kekayaan bukanlah segalanya. Dan tentu saja, beliau tidak hanya terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya saja. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa terdapat 20 bekas luka di tubuh beliau, bahkan salah satu luka tersebut membuat beliau pincang. Demikian pula beberapa gigi beliau yang rontok sehingga menyebabkan kecadelan dalan berbicara. Semua itu adalah tanda jasa beliau dalam perang Uhud.
Ya, itulah Abdurrahman bin Auf: mudan gak foya-foya, tua kaya raya, dan mati dijamin masuk surga. [ ]




Selasa, 27 September 2016

AHMAD RIADI: THALAQ ISTRI GARA-GARA BULAN


Sobat Reader, coba bayangkan ketika kalian menikah dan di malam pertama tiba-tiba kalian harus menceraikan istri yang baru kalian nikahi hanya gara-gara bulan? Aduh… Pasti hancur rasanya hati ini. Semua perjuangan kita untuk mendapatkan gadis pujaan kita hingga bisa menikahinya menjadi sia-sia.
Kasus ini pernah terjadi pada sepasang pengantin yang baru menikah di masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Kala itu, di malam kebahagiaan sepasang pengantin baru yang penuh senda gurau, hingga bulan pun seperti malu untuk menampakkan kemolekannya dan bersembunyi di balik awan. Saking bahagianya, sang suami berkata pada istrinya, “Seandainya bulan menampakkan dirinya dengan cahaya yang indah melebihi engkau, maka kuthalaq (ceraikan) engkau.”
Ternyata, Allah Yang Maha Pengatur Alam pun berkehendak lain. Awan di langit pun bergeser sehingga sang rembulan terlihat utuh. Malam itu juga bertepatan dengan malam bulan purnama, sehingga bulan bersinar dengan indahnya. Orang-orang di kota itu pun takjub melihat keindahan sang bulan. Termasuk pasangan pengantin tersebut.
“Kakanda, apa engkau ingat dengan perkataanmu tadi?” sang istri mencoba mengingatkan ketika sang suami mengajaknya melanjutkan malam.
“Yang mana, Adinda?” Sang suami sepertinya tidak ingat lagi.
“Bahwa kakanda akan menthalaq saya jikalau bulan menampakkan dirinya sangat indah.”
Sang suami pun terdiam. Rasa gelisah pun menghantui hatinya.
Keesokan harinya, sang suami pun pergi menghadap Khalifah untuk mengadukan permasalahannya semalam. Tapi, setelah mendengar ceritanya, sang Khalifah menjadi bingung harus menjawab apa. Khalifah pun segera mengumpulkan para Mufti besar di negerinya. Terjadilah perundingan antar para mufti untuk mengambil keputusan terhadap permasalahan sepasang pengantin baru itu. Hingga akhirnya, diputuskan lah bahwa thalaq sang suami itu sah. Sang suami pun seketika bersedih hati.
Tiba-tiba, datang seorang santri yang menyatakan kalau thalaq yang diucapkan oleh sang suami itu tidak sah. Tentu apa yang dilakukannya itu membuat semua orang yang ada di sana sangat terkejut, terutama para mufti.
“Apa alasannya?” tanya Khalifah.
Sang santri kemudian menjawab bahwa dia akan memberikan alasannya tersebut dengan syarat ia harus menjadi imam pada shalat Isya. Khalifah pun menyetujuinya.
Ketika shalat Isya tiba, santri itu pun dipersilakan maju menjadi imam. Tapi, sebelumnya, sang mufti besar berbisik kepada santri itu agar ia tidak mempermalukan beliau sebagai gurunya.
Shalat Isya pun dimulai. Setelah membaca surah Al-Fatihah, sang santri meneruskan dengan membaca surah At-Tiin. Pada ayat ke-1 s.d. ke-3 berjalan dengan baik-baik saja. Tapi, pada ayat ke-4 terjadilah kekhilafan. Ayat yang seharusnya dibaca Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim, dibaca, Laqad khalaqnal badra fi ahsani taqwim. Seluruh jamaah pun mengucapkan ’subhanallah’ sebagai tanda adanya kekhilafan. Sang santri pun mengulangi bacaannya, tapi tetap terjadi kesalahan yang sama pada ayat yang sama pula. Kesalahan itu terjadi sampai tiga, sehingga sang Mufti berteriak kalau shalatnya batal.
”Apa kesalahan saya, wahai guru?” tanya si santri seakan tidak ada kesalahan sedikitpun. Sang Mufti menjawab kalau kesalahannya terjadi dalam pembacaan ayat ke-4 tersebut.
Sang santri tersenyum, ”Bukankah para guru sendiri yang mengatakan begitu?”
”Kapan?” sang mufti bingung.
Si santri pun menjawab dengan tenang, ”Di waktu Anda memutuskan jatuhnya thalaq terhadap lelaki itu.”
Sang mufti terdiam memikirkan, hingga akhirnya sadar. Langsung saja keputusan diubah, kalau thalaq sang suami itu tidak sah. Dengan penuh riang gembira, sang suami pun segera pulang menemui istrinya.

Tak dipungkiri, kita sering menemui (bahkan bisa jadi kita yang melakukan) seorang lelaki yang merayu gadis dengan membandingkan wajah gadis itu dengan bulan. ”Wajahmu indah bagai rembulan.”  Dimana secara tidak langsung kita menganggap bahwa bulan lebih cantik. Tapi, sebelumnya Neil Amstrong mendarat di bulan, seorang santri telah menyadarkan para gurunya dan pemimpinnya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik, indah, dan sempurna dibandingkan yang lain, termasuk bulan.

”Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu dengan sebaik-baiknya bentuk.” (TQS. At-Tiin (95) : 4).




Selasa, 16 Agustus 2016

MARZ: MEMBANTU JANDA PRAJURIT YANG GUGUR DI MEDAN PERTEMPURAN


Suatu hari seorang perempuan sedang memanggul air, dengan napas tersengal-sengal, pulang ke rumahnya. Di tengah jalan, seorang pria yang tak dikenalnya menawarkan jasa baik untuk mengantarkan gentong air yang akan dibawanya ke rumahnya. Saat itu anak-anak perempuan itu, yang masih kecil, tengah menunggu kedatangan sang ibu. Anak-anak itu melihat ibundanya pulang bersama seorang pria yang tak mereka kenal.
Selepas gentong itu diletakkan di rumah perempuan itu, pria itu bertanya, “Tampaknya Ibu tidak mempunyai suami, sehingga Ibu harus mengambil air sendiri. Bagaimana ceritanya hingga Ibu menjadi janda?”
“Suamiku dulunya seorang prajurit,” jawab ibu itu. “Lalu, Ali bin Abi Thalib mengirimnya ke suatu perbatasan dan dia terbunuh di sana. Kini, yang tinggal hanyalah aku dan beberapa anakku yang masih kecil.”
Mendengar jawaban demikian, pria itu tidak banyak bicara. Ia hanya menundukkan kepala dan kemudian mohon diri. Selepas meninggalkan rumah perempuan itu, pikirannya terus dibayangi hal ihwal perempuan tadi dan anak-anaknya. Malamnya pun ia tidak bisa tidur. Pagi-pagi sekali ia mengambil sehelai karung dan mengisinya dengan makanan, daging, gandum, dan kurma, kemudian ia pergi ke rumah perempuan tersebut.
“Siapa?” tanya perempuan itu, selepas mendengar ketukan di pintu.
“Hamba Allah yang kemarin datang ke sini. Saya membawakan makanan sekadarnya untuk anak-anakmu,” jawab pria itu.
“Semoga Allah meridhaimu dan menghukum Ali bin Abi Thalib karena keteledorannya atas kami,” ucap perempuan itu.
Selepas pintu itu dibuka, pria itu masuk seraya berkata, “Saya ingin mendapatkan pahala sekadarnya. Izinkan saya menumbuk gandum ini dan membuatkan roti untuk kalian.”
“Baiklah,” jawab perempuan itu. “Tapi, aku lebih terbiasa menumbuk gandum dan membuat roti. Tolong engkau jagakan anak-anakku saja agar aku leluasa memasak.”
Perempuan itu pun pergi ke dapur, sedangkan pria itu segera mengambil sedikit daging yang dibawanya, lalu mencincangnya dan menyampurkannya dengan kurma, kemudian menyuapi anak-anak yatim itu dengan tangannya sendiri. Setiap kali ia menyuapi makanan, ia selalu berkata, “Anak-anakku, relakanlah Ali bin Abi Thalib kalau ia bersalah terhadap kalian.”
Selepas gandum siap, perempuan itu memanggil, “Wahai Hamba Allah! Tolong nyalakan api periuk ini.”
Pria itu pun pergi ke dapur untuk menyalakan api. Silapan api yang menyala terasa sangat panas. Lalu, pria itu mendekatkan mukanya ke api dan berkata pada dirinya sendiri, “Rasakanlah panasnya api ini. Inilah balasan orang yang tidak memerhatikan urusan anak yatim dan para janda!”
Kebetulan seorang perempuan tetangga datang ke rumah itu, dan ternyata ia mengenali pria asing tersebut. Ia pun berkata kepada perempuan si empunya rumah, “Celaka engkau! Apakah engkau tidak mengenali pria yang membantumu itu? Dialah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib!”
Perempuan itu serta merta mendatangi Ali bin Abi Thalib dan berkata, “Di mana hendak kuletakkan mukaku ini. Sungguh, aku minta maaf, wahai Amirul Mukiminin!”
“Tidak!” jawab Ali bin Abi Thalib. “Seharusnya saya lah yang meminta maaf kepadamu karena kesalahanku ini.”


(Kisah diambil dari buku “Pesan Indah dari Mekkah dan Madinah” karangan Ahmad Rofi’ Usmani)



Selasa, 26 Juli 2016

ERSABANA: SANG PENCINTA YANG DERMAWAN


Sobat Reader, andai kamu mendapat suatu ‘bocoran rahasia’ tentang orang-orang yang masuk surga, dan kamu masuk dalam dalam daftar orang itu, gimana perasaan kamu? Pasti luar biasa senangnya, kan?  Tapi, mungkin kah itu? Kalau sekarang mah impossible. Kagak mungkin! Kalau doeloe?
Nabi Muhammad SAW pernah nyebutin Top Ten orang yang masuk surga. Salah satu orangnya adalah Thalhah bin Ubaidillah. Pernah dengar atau baca kisahnya? Amal apa sih yang membuat Sahabat ini menjadi orang yang terpilih? Di antaranya adalah pengorbanannya yang besar dalam cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, disamping kedermawanannya yang amat sangat.
Stay tuned, here is the story.  Cekidot!!!
Ketika posisi kaum muslimin terjepit, kocar kacir, karena pasukan pemanah meninggalkan posisi strategisnya di bukit Uhud. Thalhah memperhatikan daerah peperangan tempat Rasulullah berdiri. Dilihatnya Rasulullah menjadi sasaran empuk serbuan pasukan Quraisy. Maka ia dengan cepat segera ke arah Rasul. Thalhah terus maju menebas jalan yang walau pendek terasa panjan. Setiap jengkal jalan dihadang puluhan pedang yang bersilang dan tombak yang mencari mangsa.
Ketika dilihatnya Rasulullah beralih ke pinggir menghindari serangan, Thalhah berkata:  “Ya Nabiyullah, demi bapak dan ibuku jangan minggir nanti orang-orang akan mengenaimu. Biar aku yang berkorban, jangan engkau.” (Muttafaq ‘alaih).  Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya sudah berdarah. Dipeluknya tubuh baginda dengan tangan kiri dan dadanya, mengundurkan diri mencari tempat yang aman. Sementara pedang yang ada ditangan kanan diayunin ke arah lawan yang mengelilingi.
Alhamdulillah, Rasulullah selamat walaupun dalam keadaan menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bukit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kaki beliau diciumi oleh Thalhah seraya berkata, “Aku tebus engkau ya Rasulallah dengan ayah ibuku.”
Ada lebih dari 70 luka bekas tombak, pedang, dan panah di tubuhnya, serta jari tangannya putus. Diceritain, tangannya bahkan kemudian jadi lumpuh karena peristiwa ini.  
Disamping keberaniannya, Thalhah juga seorang hartawan dengan harta berlimpah. Seorang dermawan yang menginfakkan hartanya tanpa batas. Istrinya pernah bercerita: “Suatu hari saya menemukan Thalhah berduka cita. Saya bertanya, “Ada apa dengan kanda?”
“Uang yang ada padaku ini semakin banyak sehingga memusingkan aku.”  Jawabnya.
“Tidak jadi soal, bagi-bagikanlah,” saranku.
Ia lalu berdiri memanggil orang banyak, membaginya hingga tidak ada yang tersisa walau satu dirham pun”
Subhaanallaah!
Pernah juga suatu saat ia menjual sebidang tanah dengan harga yang tinggi, maka dilihatnya tumpukan harta, lalu menangislah ia dan berkata, “Sungguh, bila seseorang dibebani mengalami harta demikian banyak dan tidak tahu apa yang akan terjadi, pasti akan mengganggu ketenteraman ibadah kepada Allah!”
Maka kemudian dipanggilnya sahabat-sahabatnya dan mereka keliling kota Madinah membagikan harta tersebut hingga menjelang subuh dan suksess … abis tanpa sisa!  Ck...ck...ck!!! Adakah orang seperti itu di sini saat ini?
Reader, bisa kah kita mencontoh Thalhah ini? Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya. Allah Swt berfirman: “Katakanlah, jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri ,kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dari (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (TQS At Taubah (9) : 24) [*]



Jumat, 22 April 2016

REZEKI SEEKOR ULAT




“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (Q.S. Hud: 6)


Ketika Rasulullah mengadakan walimah pernikahan beliau dengan salah satu istrinya, beliau mengundang para sahabat untuk berhadir dalam acara tersebut. Namun, di acara itu mereka tidak tahan untuk tidak memperbincangkan jamuan yang disajikan oleh sang Baginda. “Dari mana Rasulullah akan mampu memenuhi hidup para istrinya? Coba lihat, jamuannya saja hanya seperti itu,” kata salah satu undangan.

Rasulullah diam saja kala mendengar perkataan itu. Namun, setelah menunaikan shalat, Rasulullah pun menceritakan sebuah kisah kepada para hadirin tersebut. “Kisah ini diceritakan oleh malaikat Jibril kepadaku,” ungkap Rasulullah dan memulai kisahnya.

“Suatu ketika Nabi Sulaiman melakukan shalat di tepi pantai. Usai shalat, beliau melihat ada seekor semut sedang berjalan di atas air sambil membawa daun hijau. Beliau yang mengerti bahasa binatang pun mendengar semut tersebut memanggil-manggil seekor katak. Tak lama, katak yang dipanggil pun muncul. Nabi Sulaiman menyaksikan katak itu langsung menggendong sang semut dan membawanya masuk ke dalam air menuju dasar laut. Semut itu menceritakan kepada Nabi Sulaiman bahwa di sana tinggal seekor ulat. Sang ulat menggantungkan rezekinya pada si semut.

“Sehari dua kali aku diantar oleh malaikat ke dasar laut untuk memberi makanan kepada ulat itu.” Demikian si semut memberikan penjelasan kepada Nabi Sulaiman.

“Siapakah malaikat itu, wahai semut?” tanya Nabi Sulaiman.

Si semut pun menjawab, “Si katak itu sendiri. Malaikat menjelmakan dirinya menjadi katak yang kemudian mengantarkanku menuju dasar laut. Setelah menerima kiriman dan melahapnya, si ulat tak lupa memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT, Maha Besar Allah yang mentakdirkan aku hidup di dasar laut.”

Sebelum mengakhiri ceritanya, Rasulullah menyampaikan pandangannya dari cerita tadi, “Jika ulat saja yang hidupnya di dasar laut, Allah masih tetap memberinya makanan, maka apakah Allah tega menelantarkan umat Muhammad soal rezki dan rahmat-Nya.”

Dari kisah di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa Allah tidak akan pernah menelantarkan hamba-Nya. Jadi, kita tidak perlu terlalu khawatir apalagi bersedih dengan rezeki yang kita terima. Allah telah mengaturnya sesuai kadar dan usaha masing-masing hamba-nya, dan Dia adalah Maha Pengatur yang Terbaik. Yang penting, kita selalu berusaha di jalan yang baik dan terus mengerjakan amal shalih agar menjadi hamba yang beriman. Tentunya, tak lupa selalu bersyukur atas setiap nikmat dan anugerah yang diberikan kepada kita.

Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Saba’:4)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (Q.S. Al-Baqarah: 172)



(Kisah diambil dari buku the Miracle of Qur’anic Motivation, penulis Fatkhul Anas) - [Red]



Sabtu, 26 Maret 2016

FADILAT AYAT KURSI DARI SEORANG PENCURI

         Kisah ini berawal di suatu malam, saat Abu Hurairah menjaga gudang zakat atas perintah Rasulullah SAW. Ketika itu, ada seorang laki-laki yang mengendap-endap hendak mencuri segenggam makanan. Abu Hurairah yang mengetahuinya pun segera menangkap pencuri itu. “Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah,” gertak Abu Hurairah.

            Bukan main takutnya pencuri itu. Ia pun merengek-rengek minta dikasihani, “Aku ini orang miskin, keluarga yang jadi tanggunganku banyak, dan aku sangat membutuhkan makanan untuk keluargaku.”
            Karena kasihan, maka pencuri itu pun dilepaskan Abu Hurairah. Pikirnya, bukankah zakat ini nantinya akan diberikan kepada fakir miskin? Hanya saja caranya yang keliru. Mestinya tidak dengan mencuri.
            Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kepada Rasulullah kejadian malam tadi. Menanggapi cerita itu, Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam, hai Abu Hurairah?”
            “Ia mengeluh, ya Rasulullah. Dia berkata bahwa ia orang miskin, keluarganya banyak dan sangat membutuhkan makanan,” jawab Abu Hurairah. Lalu diterangkannya juga kalau ia merasa kasihan dengan pencuri itu sehingga dilepaskannya. Rasul pun berkata, “Dia bohong, padahal nanti malam dia akan datang kembali.”
            Karena Rasul berkata begitu, maka malam berikutnya Abu Hurairah pun meningkatkan penjagaan. Dan ternyata benar. Pencuri itu kembali dan mengambil makanan seperti kemarin.
            “Akan kuadukan kamu kepada Rasulullah,” ancam Abu Hurairah. Dan sama seperti kemarin, pencuri itu sekali lagi minta ampun serta berkata, “Aku miskin, keluargaku banyak. Aku berjanji besok tidak akan kembali lagi.”
            Abu Hurairah kembali merasa kasihan hingga pencuri itu pun dilepaskannya.
Keesokan harinya, Abu Hurairah melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah. Rasul pun bertanya seperti kemarin. Setelah mendapatkan jawaban dari Abu Hurairah, Rasul kembali menegaskan bahwa pencuri itu bohong dan nanti malam ia akan kembali.
            Malamnya, Abu Hurairah kembali berjaga-jaga dengan kewaspadaan dan kesiagaan penuh. Diperhatikannya dengan teliti setiap gerak-gerik di sekelilingnya. Sudah dua kali dia dibohongi, dan jika nanti pencuri itu tertangkap, ia telah bertekad tidak akan melepaskannya lagi.
Malam makin larut dan jalanan sudah sepi. Ketika itu muncullah sesosok bayangan yang datang menghampiri karung makanan yang dijaganya. Segera Abu Hurairah menangkap pencuri itu. Diperhatikannya benar-benar wajah pencuri itu, dan rupanya ada semacam kepura-puraan pada gerak-geriknya. “Kali ini kau pasti kuadukan kepada Rasulullah. Kau tidak bisa mengibuliku lagi. Sudah dua kali kau berjanji tidak akan kembali ke sini, tapi nyatanya kau kembali,” kata Abu Hurairah tegas.
            “Lepaskan aku!” pencuri itu memohon. Tapi, dari kuatnya genggaman tangan Abu Hurairah dapat dipahami bahwa ia tidak akan dilepaskan tawanannya itu. Maka dengan putus asa, pencuri itu berkata, “Lepaskan aku, nanti tuan akan aku ajari beberapa kalimat yang sangat berguna.”
            “Kalimat apakah itu?” tanya Abu Hurairah.
Pencuri itu pun menjawab, “Bila tuan hendak tidur, bacalah ayat Kursi, maka tuan akan selalu dipelihara oleh Allah, dan tidak ada syetan yang berani mendekati tuan sampai pagi.”
Akhirnya, pencuri itu dilepaskan Abu Hurairah. Naluri keilmuannya lebih menguasai dirinya ketimbang  naluri penjaga gudang.
            Esok harinya, Abu Hurairah menceritakan pengalamannya yang luar biasa tadi malam kepada Rasulullah SAW. Menanggapi cerita dari Abu Hurairah ini, Rasulullah SAW berkata: “Pencuri itu telah berkata benar, sekalipun sebenarnya ia adalah pembohong.” Kemudian beliau bertanya, “Wahai Abu Hurairah, tahukan kamu siapa sebenarnya pencuri yang bertemu denganmu tiap malam itu?”
            “Entahlah, aku tidak tahu,” jawab Abu Hurairah.
            “Itulah Iblis yang menyerupai seorang laki-laki,” jawab Rasulullah.

(Kisah diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah)


Jangan lupa kirim naskah kalian di Read Zone. Berpotensi diterbitkan jadi buku lho...
Cek selengkapnya di sini

Statistik Pengunjung

Flag Counter