Sobat Reader, coba bayangkan ketika kalian menikah dan di
malam pertama tiba-tiba kalian harus menceraikan istri yang baru kalian nikahi hanya
gara-gara bulan? Aduh… Pasti hancur rasanya hati ini. Semua perjuangan kita
untuk mendapatkan gadis pujaan kita hingga bisa menikahinya menjadi sia-sia.
Kasus ini pernah terjadi pada sepasang
pengantin yang baru menikah di masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Kala itu, di
malam kebahagiaan sepasang pengantin baru yang penuh senda gurau, hingga bulan
pun seperti malu untuk menampakkan kemolekannya dan bersembunyi di balik awan.
Saking bahagianya, sang suami berkata pada istrinya, “Seandainya bulan
menampakkan dirinya dengan cahaya yang indah melebihi engkau, maka kuthalaq (ceraikan) engkau.”
Ternyata, Allah Yang Maha Pengatur Alam pun
berkehendak lain. Awan di langit pun bergeser sehingga sang rembulan terlihat
utuh. Malam itu juga bertepatan dengan malam bulan purnama, sehingga bulan
bersinar dengan indahnya. Orang-orang di kota itu pun takjub melihat keindahan
sang bulan. Termasuk pasangan pengantin tersebut.
“Kakanda, apa engkau ingat dengan perkataanmu
tadi?” sang istri mencoba mengingatkan ketika sang suami mengajaknya
melanjutkan malam.
“Yang mana, Adinda?” Sang suami sepertinya
tidak ingat lagi.
“Bahwa kakanda akan menthalaq saya jikalau bulan menampakkan dirinya sangat indah.”
Sang suami pun terdiam. Rasa gelisah pun
menghantui hatinya.
Keesokan harinya, sang
suami pun pergi menghadap Khalifah untuk mengadukan
permasalahannya semalam. Tapi,
setelah mendengar ceritanya, sang Khalifah menjadi bingung harus menjawab apa.
Khalifah pun segera mengumpulkan para Mufti besar di negerinya. Terjadilah perundingan
antar para mufti untuk mengambil keputusan terhadap permasalahan sepasang
pengantin baru itu. Hingga akhirnya, diputuskan lah bahwa thalaq sang suami itu sah. Sang suami pun seketika bersedih hati.
Tiba-tiba, datang seorang santri yang
menyatakan kalau thalaq yang
diucapkan oleh sang suami itu tidak sah. Tentu apa yang dilakukannya itu membuat
semua orang yang ada di sana sangat terkejut, terutama para mufti.
“Apa alasannya?” tanya Khalifah.
Sang santri kemudian menjawab bahwa dia akan
memberikan alasannya tersebut dengan syarat ia harus menjadi imam pada shalat
Isya. Khalifah pun menyetujuinya.
Ketika shalat Isya tiba, santri itu pun
dipersilakan maju menjadi imam. Tapi, sebelumnya, sang mufti besar berbisik kepada
santri itu agar ia tidak mempermalukan beliau sebagai gurunya.
Shalat Isya pun dimulai.
Setelah membaca surah Al-Fatihah, sang santri meneruskan dengan membaca surah
At-Tiin. Pada ayat ke-1 s.d. ke-3 berjalan dengan baik-baik saja. Tapi, pada
ayat ke-4 terjadilah kekhilafan. Ayat yang seharusnya dibaca Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim, dibaca,
Laqad khalaqnal badra fi ahsani taqwim. Seluruh
jamaah pun mengucapkan ’subhanallah’ sebagai
tanda adanya kekhilafan. Sang santri pun mengulangi bacaannya, tapi tetap terjadi
kesalahan yang sama pada ayat yang sama pula. Kesalahan itu terjadi sampai tiga,
sehingga sang Mufti berteriak kalau shalatnya batal.
”Apa kesalahan saya,
wahai guru?” tanya si santri seakan tidak ada kesalahan sedikitpun. Sang Mufti
menjawab kalau kesalahannya terjadi dalam pembacaan ayat ke-4 tersebut.
Sang santri tersenyum,
”Bukankah para guru sendiri yang mengatakan begitu?”
”Kapan?” sang mufti
bingung.
Si santri pun menjawab dengan
tenang, ”Di waktu Anda memutuskan jatuhnya thalaq
terhadap lelaki itu.”
Sang mufti terdiam
memikirkan, hingga akhirnya sadar. Langsung saja keputusan diubah, kalau thalaq sang suami itu tidak sah. Dengan
penuh riang gembira, sang suami pun segera pulang menemui istrinya.
Tak dipungkiri, kita
sering menemui (bahkan bisa jadi kita yang melakukan) seorang lelaki yang
merayu gadis dengan membandingkan wajah gadis itu dengan bulan. ”Wajahmu indah bagai rembulan.” Dimana secara tidak langsung kita menganggap
bahwa bulan lebih cantik. Tapi, sebelumnya Neil Amstrong mendarat di bulan,
seorang santri telah menyadarkan para gurunya dan pemimpinnya bahwa manusia
adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik, indah, dan sempurna dibandingkan
yang lain, termasuk bulan.
”Sesungguhnya telah Kami
ciptakan manusia itu dengan sebaik-baiknya bentuk.” (TQS. At-Tiin (95) : 4).
