Pages

Ads 468x60px

Selasa, 27 September 2016

AHMAD RIADI: THALAQ ISTRI GARA-GARA BULAN


Sobat Reader, coba bayangkan ketika kalian menikah dan di malam pertama tiba-tiba kalian harus menceraikan istri yang baru kalian nikahi hanya gara-gara bulan? Aduh… Pasti hancur rasanya hati ini. Semua perjuangan kita untuk mendapatkan gadis pujaan kita hingga bisa menikahinya menjadi sia-sia.
Kasus ini pernah terjadi pada sepasang pengantin yang baru menikah di masa Khalifah Harun Al-Rasyid. Kala itu, di malam kebahagiaan sepasang pengantin baru yang penuh senda gurau, hingga bulan pun seperti malu untuk menampakkan kemolekannya dan bersembunyi di balik awan. Saking bahagianya, sang suami berkata pada istrinya, “Seandainya bulan menampakkan dirinya dengan cahaya yang indah melebihi engkau, maka kuthalaq (ceraikan) engkau.”
Ternyata, Allah Yang Maha Pengatur Alam pun berkehendak lain. Awan di langit pun bergeser sehingga sang rembulan terlihat utuh. Malam itu juga bertepatan dengan malam bulan purnama, sehingga bulan bersinar dengan indahnya. Orang-orang di kota itu pun takjub melihat keindahan sang bulan. Termasuk pasangan pengantin tersebut.
“Kakanda, apa engkau ingat dengan perkataanmu tadi?” sang istri mencoba mengingatkan ketika sang suami mengajaknya melanjutkan malam.
“Yang mana, Adinda?” Sang suami sepertinya tidak ingat lagi.
“Bahwa kakanda akan menthalaq saya jikalau bulan menampakkan dirinya sangat indah.”
Sang suami pun terdiam. Rasa gelisah pun menghantui hatinya.
Keesokan harinya, sang suami pun pergi menghadap Khalifah untuk mengadukan permasalahannya semalam. Tapi, setelah mendengar ceritanya, sang Khalifah menjadi bingung harus menjawab apa. Khalifah pun segera mengumpulkan para Mufti besar di negerinya. Terjadilah perundingan antar para mufti untuk mengambil keputusan terhadap permasalahan sepasang pengantin baru itu. Hingga akhirnya, diputuskan lah bahwa thalaq sang suami itu sah. Sang suami pun seketika bersedih hati.
Tiba-tiba, datang seorang santri yang menyatakan kalau thalaq yang diucapkan oleh sang suami itu tidak sah. Tentu apa yang dilakukannya itu membuat semua orang yang ada di sana sangat terkejut, terutama para mufti.
“Apa alasannya?” tanya Khalifah.
Sang santri kemudian menjawab bahwa dia akan memberikan alasannya tersebut dengan syarat ia harus menjadi imam pada shalat Isya. Khalifah pun menyetujuinya.
Ketika shalat Isya tiba, santri itu pun dipersilakan maju menjadi imam. Tapi, sebelumnya, sang mufti besar berbisik kepada santri itu agar ia tidak mempermalukan beliau sebagai gurunya.
Shalat Isya pun dimulai. Setelah membaca surah Al-Fatihah, sang santri meneruskan dengan membaca surah At-Tiin. Pada ayat ke-1 s.d. ke-3 berjalan dengan baik-baik saja. Tapi, pada ayat ke-4 terjadilah kekhilafan. Ayat yang seharusnya dibaca Laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim, dibaca, Laqad khalaqnal badra fi ahsani taqwim. Seluruh jamaah pun mengucapkan ’subhanallah’ sebagai tanda adanya kekhilafan. Sang santri pun mengulangi bacaannya, tapi tetap terjadi kesalahan yang sama pada ayat yang sama pula. Kesalahan itu terjadi sampai tiga, sehingga sang Mufti berteriak kalau shalatnya batal.
”Apa kesalahan saya, wahai guru?” tanya si santri seakan tidak ada kesalahan sedikitpun. Sang Mufti menjawab kalau kesalahannya terjadi dalam pembacaan ayat ke-4 tersebut.
Sang santri tersenyum, ”Bukankah para guru sendiri yang mengatakan begitu?”
”Kapan?” sang mufti bingung.
Si santri pun menjawab dengan tenang, ”Di waktu Anda memutuskan jatuhnya thalaq terhadap lelaki itu.”
Sang mufti terdiam memikirkan, hingga akhirnya sadar. Langsung saja keputusan diubah, kalau thalaq sang suami itu tidak sah. Dengan penuh riang gembira, sang suami pun segera pulang menemui istrinya.

Tak dipungkiri, kita sering menemui (bahkan bisa jadi kita yang melakukan) seorang lelaki yang merayu gadis dengan membandingkan wajah gadis itu dengan bulan. ”Wajahmu indah bagai rembulan.”  Dimana secara tidak langsung kita menganggap bahwa bulan lebih cantik. Tapi, sebelumnya Neil Amstrong mendarat di bulan, seorang santri telah menyadarkan para gurunya dan pemimpinnya bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling baik, indah, dan sempurna dibandingkan yang lain, termasuk bulan.

”Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia itu dengan sebaik-baiknya bentuk.” (TQS. At-Tiin (95) : 4).




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter