Lima tahun terakhir, sepanjang Jalan Cemara Raya Perumnas, belok
kanan ke Sultan Adam, dan terus ke Pangeran Hidayatullah, Banjarmasin, tumbuh
dan menjamur tempat-tempat berkumpulnya orang untuk bersantai. Belum lagi di
kawasan di luar jalan itu. Tempat yang populer disebut Kafe ini menyediakan
ragam minuman dan makanan serta hiburan musik. Kebanyakan pengunjungnya anak
muda. Biasanya mereka mulai mengisi kursi-kursi di sana sejak buka sore dan
makin penuh di malam hari.
Secara iseng, saya pernah menghitung jumlah Kafe sepanjang jalan
tersebut. Sekitar 25 buah. Ada yang berada dalam ruko, tenda biasa, dan memakai
halaman bangunan. Memang tak semuanya terlihat laris. Ada beberapa yang padat
pengunjung hingga seperti tak ada sela lagi untuk duduk, terutama pada akhir
pekan. Bisa jadi karena Kafe itu menyediakan wifi gratis, bisa pula karena
menunya enak, suasananya nyaman, atau harganya terjangkau kantong anak muda.
Budaya santai di Kafe bagi urang Banjar bukanlah hal baru.
Kebiasaan ini merupakan metamorfosa dari budaya mawarung selama ini. Duduk
berlama-lama di warung, saling berbincang, menikmati minuman dan kue, dan
menghabiskan waktu. Hiburannya cukup dari radio transistor. Kondisinya jelas
berbeda dengan Kafe sekarang. Ruangan lebih sejuk dan warna warni, sajian menu
kekinian, dan orang-orangnya lebih wangi.
Seperti kesukaan mengunjungi toko-toko buku, saya juga berusaha
sempatkan waktu untuk nongkrong di sebuah Kafe, yang diremomendasi tentunya,
jika berkunjung ke sebuah kota. Sambil menyeruput kopi dan ngobrol, saya amati
apa yang khas dari tempat tersebut. Kafe yang saya lihat kebanyakan punya ciri
tertentu, seperti sajian minum makannya, musiknya, atau suasana yang
ditawarkan. Yang terakhir ini yang dominan, Kafe dengan nuansa tema tertentu,
seperti retro atau western. Apalagi tempat yang biasa digunakan adalah bangunan
lama bernilai pusaka.
Hal ini yang belum saya temukan pada puluhan Kafe di
Banjarmasin. Pada umumnya, pemilik Kafe berusaha untuk memoles Kafenya dengan
nuansa tertentu, tetapi tak serius dan serba tanggung. Masih tema gado gado.
Mungkin prinsipnya: begini saja, laku! Hampir tak ada Kafe yang menempati
bangunan kuno. Sila bandingkan dengan Kafe di Jogja, Bandung, dan Surabaya,
Bahkan, di Semarang, bangunan tua di kawasan kota lama yang berupa gudang,
hampir semuanya disulap menjadi Kafe.
Tampaknya pengusaha Kafe di kota ini tak pernah tugul mengelola
Kafenya. Okelah, hampir tak ada lagi bangunan kuno yang bisa disulap menjadi
Kafe. Namun, paling tidak punya karakter. Kita merindukan Kafe yang punya
pengunjung satu selera. Bookcafe, misalnya untuk yang hobi baca. Jazzcafe,
sportcafe, womanscafe, writercafe. atau apalah apalah. Saya dulu suka dengan
Kafe Capung di S. Parman yang menempati rumah tua Aidan Sinaga, mantan
Walikota. Namun, sekarang sudah tidak lagi sejak berubah menjadi restoran biasa
apa adanya.
Tampaknya kondisi Kafe di kota ini sebelas dua belas dengan
kondisi kota Banjarmasin yang dihuninya. Jika dianalogikan Banjarmasin ini
seperti sebuah Kafe, maka inilah salah satu Kafe tertua di Indonesia untuk
kawasan kota. Selain ratusan sungainya yang memang sudah disediakan Tuhan untuk
warganya – dan ini menjadi merk ‘dagang’nya, kota ini belum punya karakter yang
tetap. Hampir tak terlihat tema seutuhnya dari Banjarmasin jika memasuki kota
ini.
Sejak mendarat di bandara sampai masuk ke hotel, hampir takada
bunyi-bunyian musik panting Apalagi gambar dinding di kamar-kamar hotel, malah
tempat wisata kota lain. Interior dan eskterior bangunan dan aksesorinya tak
ada rasa Banjarnya. Belum lagi tulisan-tulisan untuk papan pengumuman dan
petunjuk, tak ada bahasa Banjar sapalit-palit sebagai pendamping bahasa
Indonesia. Padahal umur Perda yang mengatur hal ini sudah bertahun-tahun. Yang
terasa Banjarnya barangkali kalau sudah bertemu makanan dan kainnya.
Selebihnya, ya dialek bicara warganya.
Beginilah kondisi Kafe Bandjarmasin yang berdiri sejak tahun
1526. Sudah 490 tahun usianya tanggal 24 September 2016 kemarin. Dengan
walikota baru yang belum setahun mengelola Kafe tua ini tentu banyak harapan
oleh para penikmatnya. Ada keinginan besar agar Kafe ini bisa membuat warganya
betah dan bangga serta mampu menarik pengunjung sebanyak-banyaknya. Tersebab
apa? Karena mereka menemukan sesuatu yang khas yang belum didapatkan di
kota-kota lainnya. Selamat ulang tahun Banjarmasinku. Teruslah berinovasi tanpa
kehilangan jatidiri. [ ]
