Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 24 September 2016

CERPAN AULIA MAYSARAH: ILANA


Sebenarnya, tak terlalu sulit menjaga dan merawat seorang anak kecil berusia lima tahun yang tak banyak tingkah dan pendiam seperti Ilana. Apalagi, dulu aku juga sempat dekat dengan seorang yang tahu seluk beluk dunia anak-anak. Sayangnya, di usia yang baru lewat kepala tiga dengan segudang kesibukan sepertiku tak begitu. Sulit bagiku mengerjakan kedua-duanya sendiri tanpa keteteran. Meski aku bisa saja menggaji pengasuh untuk Ilana, nyatanya gadis kecil itu terus merengek dan bersikap tak wajar pada mereka hingga tak ada satupun pengasuh yang pernah kupekerjakan bertahan lebih dari seminggu.
Ilana, dia keponakanku. Seperti bocah kebanyakan dia bisa dibilang gadis yang lucu dan suka bermain dengan dunianya sendiri. Dia malah terkesan pintar dan mandiri. Hanya satu kekurangannya yang tak bisa kuterima. Keluargaku terima juga orang-orang terdekatku. Aku tak tahu harus menyebutnya kelebihan atau apa. Bocah itu, seperti mampu melihat masa depan. Apa yang akan terjadi dan menimpa orang-orang di sekitarnya, dia bisa tahu. Dan itu membuatku takut.
Awalnya kami bersyukur mempunyai anggota keluarga yang memiliki kemampuan istimewa seperti Ilana. Bagaimana tidak, berkali-kali kami selamat dari bahaya karenanya. Semisal ketika ayahnya hendak berangkat kerja dan Ilana memintanya untuk melewati jalan lain bukan yang biasa dia lewati, ayahnya selamat dari maut. Ada kecelakaan besar yang terjadi di sana dan jika ayah Ilana melewatinya, sudah dapat dipastikan dia takkan selamat.
Aku juga pernah mendapat keberuntungan semacam itu ketika hendak menyelesaikan tugas kantor keluar negeri. Dia merengek dan menangis sejadi-jadinya hingga aku terpaksa membatalkan janji dan tak jadi berangkat. Aku selamat. Pesawat yang seharusnya kutumpangi hilang kontak dan baru berhasil ditemukan beberapa hari kemudian di Selat Malaka. Semua penumpangnya mati.
Awalnya kami memang bangga memiliki Ilana. Gadis kecil penurut, manis serta pintar lagi menggemaskan juga memiliki bakat cenanyang yang istimewa. Hanya saja, makin ke sini apa yang dikatakan bocah lima tahun itu makin membuat ngeri. Dia pernah meramalkan kematian kakek dan neneknya -orangtuaku- setelah mereka memarahinya karena bersikap tak sopan pada tamu. Apa yang dikatakannya terwujud. Mobil yang ditumpangi orangtuaku bersama seorang supir masuk ke jurang sedalam sepuluh meter dan tewas.
Begitu juga kedua orangtuanya. Kakakku, juga suaminya meninggal setelah diramalkan Ilana yang tengah marah. Apa yang terjadi pada mereka sama persis seperti yang diramalkan bocah kecil itu. Setidaknya begitulah kata pembantu mereka.
Maka, ketika dia harus tinggal bersamaku, aku tak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri. Rapuh. Tanpa pelindung tapi sama sekali tak menangis. Dia seperti sudah mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Ketika kedua orangtuanya dibawa ke pemakaman, dia juga tak menangis. Dia bahkan sempat mengucapkan selamat jalan pada mereka. Seolah benar-benar mengerti apa yang diucapkannya meskipun umurnya memang baru lima tahun.
Sehari setelah pemakaman orangtuanya, mau tak mau aku membawa Ilana ke tempatku diiringi tatapan penuh simpati orang-orang sekitar. Seolah aku tengah mengemban tugas besar dan memberikan semangat. Sayangnya, aku tak butuh itu. Aku takut. Takut kalau-kalau dia juga akan meramalkan kematianku seperti kedua orangtuaku juga kakakku.
Untungnya, selama tinggal bersamaku sampai detik ini dia tak pernah sekalipun bicara yang aneh-aneh lagi. Tak mengatakan soal kematian siapa pun atau tak memberi instruksi ke mana aku harus pergi dan jangan pergi. Setidaknya ini membuatku cukup tenang meski masih was-was.
Dia pendiam. Pendiam sekali ketika aku berada di dekatnya. Dia sering bermain bicara sendiri namun diam seketika setelah aku mendekat. Karena tak ingin dia kesepian, aku memperkerjakan pengasuh di apartemen untuk menjaganya hingga aku pulang kerja. Anehnya, tak ada satupun dari mereka yang mampu bertahan lebih dari seminggu. Mereka semua mengadu merasa takut pada Ilana. Kata mereka, bocah itu sering melakukan hal-hal tak wajar untuk anak umur lima tahun. Kata mereka pula, Ilana suka bercerocos soal siapa yang meninggal hari ini dan siapa yang besok.
Andai aku tak mengenal Ilana sebelum ini, aku pasti tak percaya.
"Paman,"
Aku menoleh padanya yang memainkan lego dari meja kerjaku di ruang tengah.
"Paman besok mau ke luar kota?"
Aku mengangguk. Tiba-tiba saja perasaanku berubah buruk tatkala kenangan akan keluargaku yang berakhir tragis setelah Ilana bertanya seperti ini. Aku tiba-tiba takut kalau dia berujar tentang sesuatu yang bakal terjadi besok padaku.
"Paman jangan pergi. Paman di sini saja temani Ilana main."
Aku mendesah agak senang. Setidaknya dia tak meramalkan kematianku.
"Paman tak bisa, Ilana. Besok paman harus kerja. Kamu main saja dengan boneka-bonekamu seperti biasa, yah!"
Aku bangkit dari mejaku secepat mungkin, tak ingin setelah menolak permintaannya aku bernasib sial.
"Paman tak boleh pergi! Kalau tidak paman akan mati! Paman bakal jatuh seperti kakek nenek dan takkan ada yang tahu!"
Aku menghentikan langkahku seketika setelah mendengarnya berteriak lalu membalik badan melotot pada gadis kecil itu. Ternyata, dia juga tengah melakukan hal yang sama. Berkacak pinggang sambil melotot ke arahku.
Aku agak terkejut. Darimana dia bisa berekpresi seperti itu sedangkan dia masih berumur lima tahun. Tapi, buru-buru pikiran tersebut pergi berganti dengan perkataan Ilana barusan. Aku besok akan mati. Dalam keadaan yang sama seperti ayah dan ibuku. Jatuh ke jurang dan tak ada yang menemukan. Begitu kata Ilana.
"Tak ada yang mengajarimu berkata seperti itu, Ilana. Itu tidak sopan. Paman tetap akan pergi besok." Aku kembali mencoba pergi sebelum lagi-lagi aku mendengarnya berteriak.
"Aku tidak bercanda, Paman. Aku serius!" ucapnya dan aku kembali berbalik.
Aku sempat bergidik melihat kilatan menyeramkan di matanya. Namun, lagi-lagi kubuang cepat.
"Berhenti berkata yang aneh-aneh. Kalau kamu masih mau tinggal di sini diamlah dan jangan bicara seperti barusan!" Aku membentak dan dia terdiam. Menatapku dengan ekpresi yang tak bisa kujelaskan.
"Satu lagi," aku kembali berbalik. "Jangan pernah bicara seperti barusan kepada siapapun!"
Aku membentak. Melanjutkan langkahku keluar ruangan dengan perasaan ketar-ketir.
Semoga saja perkataan Ilana siang ini tak berakhir seperti yang sudah-sudah. Aku takut kalau harus mati seperti seluruh keluargaku.
***
Pagi ini ketika dalam perjalanan ke luar kota, perasaanku jauh lebih tenang dari kemarin siang. Sebelum keluar rumah tadi aku sempat pamit pada Ilana yang terus memasang wajah masam dan tak suka semenjak percakapan kami di ruang tengah kemarin. Aku tak peduli.
Yang kulakukan pagi ini padanya sama seperti biasa. Membangunkan, memandikan dan memberi sarapan. Hanya saja ada tambahan lain. Aku menitipkannya pada tetangga apartemenku dan bilang baru akan pulang nanti malam.
Sebenarnya aku masih sedikit terganggu dengan perkataan Ilana kemarin. Semalaman aku berpikir bagaimana caranya menghindari apa yang bisa terjadi padaku seperti kata bocah tersebut kemarin. Hingga aku sadar, mungkin masalahnya ada pada diriku sendiri. Aku hanya perlu berkonsentrasi ketika mengemudi. Istirahat jika mengantuk atau lelah. Aku yakin jika aku melakukannya tidak akan terjadi apa-apa padaku.
Aku sempat tertawa geli menyadari betapa bodohnya aku karena percaya pada perkataan Ilana. Pada ketakutanku sendiri yang membuatku tak bisa tidur namun sebenarnya bisa dijelaskan secara logis. Ketika orangtuaku kecelakaan dulu, mereka dalam perjalanan di malam hari yang melintasi wilayah yang memang rawan kecelakaan. Supir mereka juga pasti mengantuk dan lelah hingga tak konsentrasi mengemudi. Makanya kecelakaan itu terjadi.
Sedangkan kedua orangtua Ilana, yang salah adalah yang menabrak mereka. Atau bisa juga orang yang membuat supir truk besar tersebut kehilangan konsentrasi. Itu artinya masalahnya sama. Fokus. Dan aku harus fokus sekarang. Tak boleh berpikiran yang aneh-aneh agar aku selamat.
Belum sampai setengah jalan, ponselku berbunyi. Ketika kulihat siapa yang menelepon, aku mengerjitkan dahi lalu menghentikan mobil. Pikiranku langsung dipenuhi oleh Ilana lagi.
"Halo, Pak. Ada apa yah?" sambutku.
Suara panik di ujung sana jelas terdengar. Dia berkata sesuatu yang buruk tengah terjadi. Baru saja terjadi di rumahku.
"Kami menemukan Ilana terbaring di ruang depan. Mulutnya berbusa dan dia sudah tak bernapas," ucap tetangga yang kutitipkan Ilana.
"Maksudnya apa, Pak?" ucapku agak kaget.
"Sepertinya dia keracunan makanan. Di dekatnya ada kue yang baru digigit sebagian." Dia menjelaskan. "Mas, cepatlah pulang. Ambulan dan polisi sudah tiba. Mereka mencari Mas." Aku mengiyakan langsung.
Ketika telponnya tertutup, cepat aku memutar mobil kembali ke apartemen. Aku harus melihat keadaan Ilana secepatnya. Selama itu, aku juga menyempatkan menelpon atasan memberitahu apa yang tengah terjadi dan mengundurkan diri dari pekerjaanku di luar kota.
Yah, aku pernah dengar seseorang berkata bahwa posisi seseorang bisa digantikan dengan orang lain kalau kita mau.
Aku tersenyum senang. Setidaknya bukan nyawaku yang melayang. Ilana menggantikan tempatku. Racun di susu yang dia minum pagi ini bekerja dengan baik dan aku takkan dicurigai karena telah menyembunyikan buktinya dengan sempurna. Paling penjual makanan yang berada selemparan batu tempat Ilana biasa jajan saja yang dicurigai.
Mereka takkan mengendusku. Dan yang terpenting, semua bebanku terangkat. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut di rumah sendiri. [ ]


Biodata:
Penulis menggunakan nama pena x, juga menggunakan nama fb yang sama. Bergabung dalam sebuah fanspage kepenulisan sebagai admin. Dapat dihubungi via email may.sarah1412@gmail.com




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter