Sebenarnya,
tak terlalu sulit menjaga dan merawat seorang anak kecil berusia lima tahun
yang tak banyak tingkah dan pendiam seperti Ilana. Apalagi, dulu aku juga
sempat dekat dengan seorang yang tahu seluk beluk dunia anak-anak. Sayangnya,
di usia yang baru lewat kepala tiga dengan segudang kesibukan sepertiku tak
begitu. Sulit bagiku mengerjakan kedua-duanya sendiri tanpa keteteran. Meski
aku bisa saja menggaji pengasuh untuk Ilana, nyatanya gadis kecil itu terus
merengek dan bersikap tak wajar pada mereka hingga tak ada satupun pengasuh
yang pernah kupekerjakan bertahan lebih dari seminggu.
Ilana,
dia keponakanku. Seperti bocah kebanyakan dia bisa dibilang gadis yang lucu dan
suka bermain dengan dunianya sendiri. Dia malah terkesan pintar dan mandiri.
Hanya satu kekurangannya yang tak bisa kuterima. Keluargaku terima juga
orang-orang terdekatku. Aku tak tahu harus menyebutnya kelebihan atau apa.
Bocah itu, seperti mampu melihat masa depan. Apa yang akan terjadi dan menimpa
orang-orang di sekitarnya, dia bisa tahu. Dan itu membuatku takut.
Awalnya
kami bersyukur mempunyai anggota keluarga yang memiliki kemampuan istimewa
seperti Ilana. Bagaimana tidak, berkali-kali kami selamat dari bahaya
karenanya. Semisal ketika ayahnya hendak berangkat kerja dan Ilana memintanya
untuk melewati jalan lain bukan yang biasa dia lewati, ayahnya selamat dari
maut. Ada kecelakaan besar yang terjadi di sana dan jika ayah Ilana
melewatinya, sudah dapat dipastikan dia takkan selamat.
Aku
juga pernah mendapat keberuntungan semacam itu ketika hendak menyelesaikan
tugas kantor keluar negeri. Dia merengek dan menangis sejadi-jadinya hingga aku
terpaksa membatalkan janji dan tak jadi berangkat. Aku selamat. Pesawat yang
seharusnya kutumpangi hilang kontak dan baru berhasil ditemukan beberapa hari
kemudian di Selat Malaka. Semua penumpangnya mati.
Awalnya
kami memang bangga memiliki Ilana. Gadis kecil penurut, manis serta pintar lagi
menggemaskan juga memiliki bakat cenanyang yang istimewa. Hanya saja, makin ke
sini apa yang dikatakan bocah lima tahun itu makin membuat ngeri. Dia pernah
meramalkan kematian kakek dan neneknya -orangtuaku- setelah mereka memarahinya
karena bersikap tak sopan pada tamu. Apa yang dikatakannya terwujud. Mobil yang
ditumpangi orangtuaku bersama seorang supir masuk ke jurang sedalam sepuluh
meter dan tewas.
Begitu
juga kedua orangtuanya. Kakakku, juga suaminya meninggal setelah diramalkan
Ilana yang tengah marah. Apa yang terjadi pada mereka sama persis seperti yang
diramalkan bocah kecil itu. Setidaknya begitulah kata pembantu mereka.
Maka,
ketika dia harus tinggal bersamaku, aku tak tahu harus berbuat apa. Dia
sendiri. Rapuh. Tanpa pelindung tapi sama sekali tak menangis. Dia seperti
sudah mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Ketika
kedua orangtuanya dibawa ke pemakaman, dia juga tak menangis. Dia bahkan sempat
mengucapkan selamat jalan pada mereka. Seolah benar-benar mengerti apa yang
diucapkannya meskipun umurnya memang baru lima tahun.
Sehari
setelah pemakaman orangtuanya, mau tak mau aku membawa Ilana ke tempatku
diiringi tatapan penuh simpati orang-orang sekitar. Seolah aku tengah mengemban
tugas besar dan memberikan semangat. Sayangnya, aku tak butuh itu. Aku takut.
Takut kalau-kalau dia juga akan meramalkan kematianku seperti kedua orangtuaku
juga kakakku.
Untungnya,
selama tinggal bersamaku sampai detik ini dia tak pernah sekalipun bicara yang
aneh-aneh lagi. Tak mengatakan soal kematian siapa pun atau tak memberi instruksi
ke mana aku harus pergi dan jangan pergi. Setidaknya ini membuatku cukup tenang
meski masih was-was.
Dia
pendiam. Pendiam sekali ketika aku berada di dekatnya. Dia sering bermain
bicara sendiri namun diam seketika setelah aku mendekat. Karena tak ingin dia
kesepian, aku memperkerjakan pengasuh di apartemen untuk menjaganya hingga aku
pulang kerja. Anehnya, tak ada satupun dari mereka yang mampu bertahan lebih
dari seminggu. Mereka semua mengadu merasa takut pada Ilana. Kata mereka, bocah
itu sering melakukan hal-hal tak wajar untuk anak umur lima tahun. Kata mereka
pula, Ilana suka bercerocos soal siapa yang meninggal hari ini dan siapa yang
besok.
Andai
aku tak mengenal Ilana sebelum ini, aku pasti tak percaya.
"Paman,"
Aku
menoleh padanya yang memainkan lego dari meja kerjaku di ruang tengah.
"Paman
besok mau ke luar kota?"
Aku
mengangguk. Tiba-tiba saja perasaanku berubah buruk tatkala kenangan akan
keluargaku yang berakhir tragis setelah Ilana bertanya seperti ini. Aku
tiba-tiba takut kalau dia berujar tentang sesuatu yang bakal terjadi besok padaku.
"Paman
jangan pergi. Paman di sini saja temani Ilana main."
Aku
mendesah agak senang. Setidaknya dia tak meramalkan kematianku.
"Paman
tak bisa, Ilana. Besok paman harus kerja. Kamu main saja dengan boneka-bonekamu
seperti biasa, yah!"
Aku
bangkit dari mejaku secepat mungkin, tak ingin setelah menolak permintaannya
aku bernasib sial.
"Paman
tak boleh pergi! Kalau tidak paman akan mati! Paman bakal jatuh seperti kakek
nenek dan takkan ada yang tahu!"
Aku
menghentikan langkahku seketika setelah mendengarnya berteriak lalu membalik
badan melotot pada gadis kecil itu. Ternyata, dia juga tengah melakukan hal
yang sama. Berkacak pinggang sambil melotot ke arahku.
Aku
agak terkejut. Darimana dia bisa berekpresi seperti itu sedangkan dia masih
berumur lima tahun. Tapi, buru-buru pikiran tersebut pergi berganti dengan
perkataan Ilana barusan. Aku besok akan mati. Dalam keadaan yang sama seperti
ayah dan ibuku. Jatuh ke jurang dan tak ada yang menemukan. Begitu kata Ilana.
"Tak
ada yang mengajarimu berkata seperti itu, Ilana. Itu tidak sopan. Paman tetap
akan pergi besok." Aku kembali mencoba pergi sebelum lagi-lagi aku
mendengarnya berteriak.
"Aku
tidak bercanda, Paman. Aku serius!" ucapnya dan aku kembali berbalik.
Aku
sempat bergidik melihat kilatan menyeramkan di matanya. Namun, lagi-lagi
kubuang cepat.
"Berhenti
berkata yang aneh-aneh. Kalau kamu masih mau tinggal di sini diamlah dan jangan
bicara seperti barusan!" Aku membentak dan dia terdiam. Menatapku dengan
ekpresi yang tak bisa kujelaskan.
"Satu
lagi," aku kembali berbalik. "Jangan pernah bicara seperti barusan
kepada siapapun!"
Aku
membentak. Melanjutkan langkahku keluar ruangan dengan perasaan ketar-ketir.
Semoga
saja perkataan Ilana siang ini tak berakhir seperti yang sudah-sudah. Aku takut
kalau harus mati seperti seluruh keluargaku.
***
Pagi
ini ketika dalam perjalanan ke luar kota, perasaanku jauh lebih tenang dari
kemarin siang. Sebelum keluar rumah tadi aku sempat pamit pada Ilana yang terus
memasang wajah masam dan tak suka semenjak percakapan kami di ruang tengah
kemarin. Aku tak peduli.
Yang
kulakukan pagi ini padanya sama seperti biasa. Membangunkan, memandikan dan
memberi sarapan. Hanya saja ada tambahan lain. Aku menitipkannya pada tetangga
apartemenku dan bilang baru akan pulang nanti malam.
Sebenarnya
aku masih sedikit terganggu dengan perkataan Ilana kemarin. Semalaman aku
berpikir bagaimana caranya menghindari apa yang bisa terjadi padaku seperti
kata bocah tersebut kemarin. Hingga aku sadar, mungkin masalahnya ada pada
diriku sendiri. Aku hanya perlu berkonsentrasi ketika mengemudi. Istirahat jika
mengantuk atau lelah. Aku yakin jika aku melakukannya tidak akan terjadi
apa-apa padaku.
Aku
sempat tertawa geli menyadari betapa bodohnya aku karena percaya pada perkataan
Ilana. Pada ketakutanku sendiri yang membuatku tak bisa tidur namun sebenarnya
bisa dijelaskan secara logis. Ketika orangtuaku kecelakaan dulu, mereka dalam
perjalanan di malam hari yang melintasi wilayah yang memang rawan kecelakaan.
Supir mereka juga pasti mengantuk dan lelah hingga tak konsentrasi mengemudi.
Makanya kecelakaan itu terjadi.
Sedangkan
kedua orangtua Ilana, yang salah adalah yang menabrak mereka. Atau bisa juga
orang yang membuat supir truk besar tersebut kehilangan konsentrasi. Itu
artinya masalahnya sama. Fokus. Dan aku harus fokus sekarang. Tak boleh
berpikiran yang aneh-aneh agar aku selamat.
Belum
sampai setengah jalan, ponselku berbunyi. Ketika kulihat siapa yang menelepon,
aku mengerjitkan dahi lalu menghentikan mobil. Pikiranku langsung dipenuhi oleh
Ilana lagi.
"Halo,
Pak. Ada apa yah?" sambutku.
Suara
panik di ujung sana jelas terdengar. Dia berkata sesuatu yang buruk tengah
terjadi. Baru saja terjadi di rumahku.
"Kami
menemukan Ilana terbaring di ruang depan. Mulutnya berbusa dan dia sudah tak
bernapas," ucap tetangga yang kutitipkan Ilana.
"Maksudnya
apa, Pak?" ucapku agak kaget.
"Sepertinya
dia keracunan makanan. Di dekatnya ada kue yang baru digigit sebagian."
Dia menjelaskan. "Mas, cepatlah pulang. Ambulan dan polisi sudah tiba.
Mereka mencari Mas." Aku mengiyakan langsung.
Ketika
telponnya tertutup, cepat aku memutar mobil kembali ke apartemen. Aku harus
melihat keadaan Ilana secepatnya. Selama itu, aku juga menyempatkan menelpon
atasan memberitahu apa yang tengah terjadi dan mengundurkan diri dari
pekerjaanku di luar kota.
Yah,
aku pernah dengar seseorang berkata bahwa posisi seseorang bisa digantikan
dengan orang lain kalau kita mau.
Aku
tersenyum senang. Setidaknya bukan nyawaku yang melayang. Ilana menggantikan
tempatku. Racun di susu yang dia minum pagi ini bekerja dengan baik dan aku
takkan dicurigai karena telah menyembunyikan buktinya dengan sempurna. Paling
penjual makanan yang berada selemparan batu tempat Ilana biasa jajan saja yang
dicurigai.
Mereka
takkan mengendusku. Dan yang terpenting, semua bebanku terangkat. Tak ada lagi
yang bisa membuatku takut di rumah sendiri. [ ]
Biodata:
Penulis menggunakan nama pena
x, juga menggunakan nama fb yang
sama. Bergabung dalam sebuah fanspage kepenulisan sebagai admin. Dapat
dihubungi via email may.sarah1412@gmail.com
