Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label stoRy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stoRy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Januari 2017

CERPEN YUDITEHA: SIKLUS SINGKAT


Malam tiba.
Aku merasa kehadiranku tak diharapkan. Setiap berjumpa dengan orang, mereka seperti ingin menghindar. Dan jika kebetulan berpapasan dengan orang di jalan, kontan mereka seperti mendadak ada yang terasa gatal ditubuhnya.

Sabtu, 14 Januari 2017

CERPEN MUHAMMAD RIFKI: MENGHAPUS HUJAN


Pagi?
Selamat malam?
Apa ini hujan?
Jadi, apa aku harus bahagia atau bagaimana?
Karena bagiku, semua hanyalah kosong.

Sabtu, 07 Januari 2017

CERPEN ALFA ANISA: SEBUAH LUKA DARI SURAT KEKASIH


Gelas berbibir sumbing kuletakkan di atas meja pendek dekat tempat tidur, masih sisa separuh teh yang mendingin yang kubuat sejak pagi. Sudah hampir dua jam aku membolak-balikkan tumpukan novel yang kudapatkan dari kolong tempat tidur, berharap dapat menghilangkan kebosanan di akhir pekan dari setiap halaman yang terus kuloncati sekenanya.

Sabtu, 31 Desember 2016

CERPEN RISEN DHAWUH ABDULLAH: PEREMPUAN ANEH


Entah berapa pasang mata yang telah menyaksikan perempuan aneh dengan rambut yang terurai berai, di perempatan jantung kotaku—perempatan yang dipakai sebagai titik nol kilometer. Setiap kali  melangkahkan kakinya, perempuan itu  selalu mengundang perhatian. Di setiap perkataannya yang ceplas ceplos, selalu menimbulkan pertanyaan di benak orang.
Sudah berapa ratus kali aku melewati perempatan yang  di salah satu ruas jalannya terdapat perempuan aneh itu. Setiap aku lewat, selalu saja kusaksikan gerak-geriknya bersama kacamataku. Dulu aku mengira ia adalah seorang pengamen jalanan. Namun persepsi itu berubah setelah aku tahu bahwa ia sering berbicara sendiri, kusimpulkan bahwa ia adalah perempuan gila.
Pernah suatu ketika aku lewat sana. Ia sedang asyik berteriak-teriak. Lalu tiba-tiba berubah menjadi tertawa. Sambil berjalan-jalan di sela-sela kendaraan yang menunggu lampu hijau. Wajahnya kemudian datang kepada seorang gadis—kutaksir gadis yang didatangi perempuan itu berumur sekitar dua puluhan. Ia bisikan beberapa kalimat dari mulutnya yang mulai kering tersengat matahari. Kebetulan aku mendengarnya, karena jarakku yang begitu dekat.
“Kau adalah perempuan. Wajahmu cantik. Di setiap langkahmu selalu diikuti bahaya, apalagi kalau kau tidak bisa menjaga perilakumu…. Jangan suka berkeliaran sendiri tanpa seorang teman. Jangan suka berkeliaran di tempat sepi bersama lelaki…. Mengertiiii!!!!”
Gadis yang dibisiki menjadi takut karena rupa perempuan aneh itu berubah menjadi menakutkan. Aku membayangkannya seperti monster dalam adegan film-film yang siap menerjang mangsanya. Ketakutan sang gadis sedikit reda ketika mendadak bibir si perempuan aneh menjelma menjadi senyuman. Perempuan aneh itu berjalan ke pembatas jalan saat lampu hijau sudah menyala. Aku pun menjadi heran, perempuan aneh itu seperti tahu apa arti lampu hijau.
***
Melewati perempatan jalan yang disinggahi perempuan aneh sudah menjadi rutinitasku. Hanya lewat perempatan itu, aku bisa sampai ke tempat kerja. Lambat laun rasa penasaran terhadap perempuan aneh yang sering kulihat muncul di benakku. Mungkin karena aku sering lewat sana, selalu memperhatikan setiap gerak-geriknya saat aku menunggu lampu hijau menyala, sehingga rasa penasaranku muncul.
Pulang kerja, senja tampak menggantung di langit, aku mendapat inisiatif untuk mampir di angkringan dekat perempatan itu. Aku memesan kopi untuk sekedar menghangatkan tubuh. Sambil asyik menyeruput kopi, aku mengobrol-obrol dengan pemilik angkringan. Baru hitungan menit kami mengobrol, kami sudah terlihat akrab.
Aku pada suatu kesempatan menanyakan perihal perempuan aneh itu.
“Dia itu gila, Mas,” kata si pemilik angkringan.
“Dulunya kena apa, Pak? Dia selalu berkata aneh, Pak. Sering pula ia membisikan kata-kata seperti sebuah nasehat kepada setiap perempuan muda,” ujarku tak sabar segera ingin segera mendengarkan penjelasan tentang perempuan aneh yang sedang dibahas.
“Dulu dia diperkosa oleh seorang lelaki. Waktunya saat purnama, hampir tengah malam. Kebetulan saya ini, salah satu orang dari  beberapa orang yang memergokinya. Kami langsung meringkus. Sementara perempuan itu menangis menjadi-jadi. Saya menyuruh istri saya untuk mengantarkan pulang. Ternyata tempat tinggalnya tidak jauh dari sini,” katanya panjang lebar.
“Lalu kenapa dia sering berkata aneh?”
“Maksud Mas yang seperti sebuah nasehat tadi?”
“Ya, benar.”
“Sejak itu Sri, nama perempuan aneh itu sangat membenci dengan semua lelaki. Rasa bencinya ia sampaikan lewat perkataannya. Sri seperti itu karena tidak ingin perempuan-perempuan mengalami musibah seperti dirinya. Maka tidak heran jika ia menasehati setiap perempuan yang lewat perempatan ini.” Aku hanya mengangguk-angguk paham mendengar perkataan pemilik angkringan.
“Dia sampai diberitakan di beberapa koran lokal. Dan menjadi trending topik masyarakat yang membacanya. Aneh bukan? Orang gila diberitakan dan langsung menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat,” tambahnya sedikit tertawa. Aku pun tersenyum.
Gelas yang di depanku kusruput kembali. Setelah isinya habis, aku membayarnya dan pulang.
***
Keesokan harinya aku berangkat kerja seperti biasanya. Tidak terburu-buru. Menikmati di setiap perjalanan. Hingga tiba di perempatan itu kembali. Suasana masih begitu sepi. Aku hanya ditemani lima motor dan satu mobil yang ada di kanan kiriku.
Perempuan aneh itu tidak menampakan diri.
Aku dikejutkan dengan seorang perempuan yang berlari di pinggir trotoar. Seorang lelaki mengejarnya. Kulihat sekilas lelaki itu penuh nafsu.
Aku benar-benar terkejut kembali. Si perempuan aneh muncul dan terlihat berlari.  Berusaha mengikuti perempuan dan lelaki yang saling berkejaran. Wajahnya begitu marah. Ada apa gerangannya dengan ketiga orang itu?
Aku pun memutar balik motor. Aku tertarik untuk mengikuti ketiga orang tadi. Berlari bersama motorku, sempat kehilangan jejak, akhirnya aku menemukan mereka.
Tapi… Aku hanya menemukan perempuan aneh sedang tertawa keras dan lelaki yang sudah terbujur di tanah, dengan punggung bersimbah darah dengan pisau yang masih menancap. Perempuan aneh itu tampak puas.
“Aku telah berhasil menyelematkan kesucian perempuan,” teriak perempuan aneh itu.
Aku hanya memandangnya dan menelan ludah. Sekilas wajah perempuan yang dikejar lelaki yang kini terkulai terlintas di anganku. Aku menduga perempuan itu berusaha diperkosa si lekaki, dan perempuan aneh itu menyelamatkannya. [ ]

Bantul, 17 November 2016

BIODATA:
Risen Dhawuh Abdullah sedang menuntut ilmu di SMA N 2 Banguntapan. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen Pernah berguru menulis cerpen kepada penyair Jogja, Evi Idawati. Lahir di Sleman pada 29 September 1998. Tinggal di Bantul Yogyakarta. Facebook : Risen Dhawuh Abdullah




Sabtu, 24 Desember 2016

CERPEN ASEP FAUZI: MEMBUNUH MASA LALU


Sebenarnya, Edy suka-suka saja jika ia bertemu dengan teman-teman lamanya yang sudah menyandang berbagai profesi. Entah saat dalam pelatihan kurikulum di beberapa hotel di Banjarmasin, saat mendampingi anak didiknya lomba baca puisi di Jakarta, saat ia menjadi juri lomba menulis cerpen tingkat propinsi, saat mengunjungi pameran pembangunan dalam rangka ulang tahun Kotabaru, atau ketika ia sekadar jalan-jalan ke Pasar Subuh Kemakmuran.

Sabtu, 17 Desember 2016

CERPEN NASRUL MUHAMAD RIZAL: BUMI YANG SEKARAT


Kau terlahir sebagai khalifah di bumi ini, meskipun malaikat mempertanyakan keputusan itu pada yang Maha Kuasa karena telah memilihmu. Kau tercipta menjadi mahluk yang sempurna. Berbeda dengan mahluk lainnya, kau diberi akal. Akal yang seharusnya kau gunakan untuk merawat dan memberdayakan bumi beserta isinya. Dengannya kau bisa mengelola kekayaan yang terkandung dalam perutnya, kau mampu memperindah permukaannya, dan kau sanggup membuatnya menjadi tempat yang nyaman bagi mahluk lain. Kenyataannya kau membuat bumi menangis, merasakan bagaimana kejinya kau memperlakukan dia. Kau mahluk berbahaya bernama manusia.

Sabtu, 19 November 2016

CERPEN MUFTI UTARA: PROVOKATOR


Video seseorang kentut tersebar di dunia maya. Meski baunya tak tercium, suaranya terdengar begitu nyata, dan kentut itu keluar di tempat yang disakralkan orang berjuta-juta. Penonton menjadi hingar, memicu video itu ditayangkan di televisi berkali-kali. Dan orang-orang merasa jijik, seiring panasnya hati.

Sabtu, 12 November 2016

CERPEN ROSITI: DOSA SECANGKIR KOPI


Purnama menyapa dengan sempurna. Sinarnya yang perkasa, menyeruak menguasai setiap nestapa. Bersamaan dengan itu, aroma kopi terendus menguasai udara. Wanginya sangat khas, namun justru menyematkan luka  ....

Sabtu, 05 November 2016

CERPEN FAUZI ROHMAN: BUNGA ABADI


Kutatap lekat punggung yang sedang membereskan ranjangku, tempat untuk menghabiskan waktu berhari-hari. Tiga kali sehari ia mengganti sepreinya. Walau kadang kutolak karena aku lelah harus naik-turun ranjang dan berpindah ke kursi roda. Setia, itu yang ia siratkan. Senyumnya selalu tersungging indah berhiaskan lesung pipit. Aku tahu, ia sedang mencoba menyembunyikan lelahnya. Guratan itu nampak jelas di wajahnya yang kian lesu, mati-matian merawatku. Wanita itu begitu kokoh menjadi penopang hidupku.

Sabtu, 29 Oktober 2016

CERPEN ANGGI PUTRI: TAK PERNAH MEMILIKI


Hangat mencekat di depan dada. Ruap asap sudah ada di atap-atap gelap. Sundari menatap tungku perapian yang belum benar padam. Barangkali ia sedang memikirkan hutang yang tak kunjung surut sejak kematian suaminya setahun silam. Matanya sembab dengan lelehan air mata yang selalu mengguratkan bekas, seolah lintasan kanal yang terpeta permanen pada guratan-guratan keriput pipinya. Sore ini ia sengaja hanya menanak nasi di tungku perapian yang wujudnya sudah tak karuan, penuh debu kotor dan warnanya pun menghitam menandakan umur tungku tersebut lebih tua dari usianya.
“Lupakan, lupakan, Mak,” ucap Wanti anak semata wayangnya.
“Emak bukan mengungkit-ungkit harta gono-gini yang memang haknya ada di Emak. Bukan pula berebut harta yang kepemilikannya masih ada di tangan saudara-saudara Bapakmu,” ungkap Sundari sembari memajukan kayu di tungku agar apinya tidak cepat padam.
“Ya, aku tahu, Mak. Salah Emak sendiri sih, tidak meminta hak Emak setelah Bapak meninggal. Sekarang, lihat! Hutang kita tercecer dimana-mana dan belum satu pun hutang yang terbayar lunas.”
Sundari menghirup napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ingatannya kembali pada pusara yang masih basah, pusara tempat ia mengadu suka dan duka. Di sanalah ia bisa bercerita tentang kehidupannya sekarang, tentang air mata yang sengaja ditahannya dan segala pesakitan hanya menjadi penyakit dalam benaknya.
Ketika itu hari Rabu pon, ia baru saja pulang dari pasar. Pekerjaannya hanya berdagang baju di pasar dengan bedak yang tak begitu besar. Sundari mampu menghidupi Wanti dan menyekolahkannya hingga jenjang SMA, meskipun Wanti adalah anak adiknya yang diurusnya sejak orok. Ia sudah menganggap Wanti sebagai anak kandungnya, meski rahimnya tak bisa memproduksi janin.
Belum juga ia membereskan bedaknya, seorang tetangganya yang bernama Marni lari tergopoh-gopoh menuju tempat Sundari berdagang. Napas Marni tersengal-sengal. Sundari pun heran dengan sikap yang tak biasa dilakukan oleh Marni. Muka Marni ketika itu nampak pucat dan air mata sudah menganak sungai di pipinya.
“Tunggu, bicaralah pelan-pelan, Ni,” ucap Sundari di depan Marni.
“Aku sebenarnya tak kuasa mengungkapkan hal ini padamu, Sun.”
“Sebenarnya ada apa? Coba kamu bicara pelan-pelan. Atur napasmu agar kau bisa bicara dengan jelas,” tambah Sundari. Ada perasaan panik dalam dirinya tetapi secara tidak langsung sengaja dikendalikannya agar tidak meledak seketika itu juga.
“Suamimu … Mas Marmo, Sun. Mas Marmo telah meninggal, Sun,” ucap Marni sembari memeluk Sundari.
Sundari teramat kaget dengan adanya berita tersebut. Padahal belum lama suaminya berniat untuk mengolah sawah warisan. Memang Marmo adalah kuli bangunan yang pekerjaannya sembilan puluh persen mengandalkan otot, sedangkan otaknya tumpul seperti pisau yang berkarat dan tak pernah diasah.
Air mata Sundari meleleh seketika itu juga. Lantas ia meninggalkan bedak yang masih berantakan dan berlari ke rumahnya. Di sana sudah seperti kerumunan semut yang berebut makanan, tetapi kali ini yang dilihatnya adalah kerumunan orang yang berkumpul di depan rumahnya. Tepat di ruang tamunya sudah tergeletak Marmo ditutupi selembar jarik berwarna cokelat tua.
“Tabahkan hatimu, Sun,” ucap Retno, tetangganya yang ikut berduka cita.
“Mas… kenapa kau tinggalkan aku dengan cara mengenaskan seperti ini?” keluh Sundari dengan sisa-sisa air matanya.
Tak beberapa lama Wanti pulang dari sekolah dan melihat mayat bapaknya terkapar di rentangan tikar dengan ditutupi jarik. Hati anak perempuan itu bergetar hebat. Wanti berlari ke arah emaknya dan menangis tersedu-sedu.
“Bapak kenapa, Mak?” tanya Wanti seraya sesegukan.
“Bapakmu jatuh ketika menggarap proyek pabrik besi yang ada di seberang jalan raya, Ti. Mungkin mulai hari ini kita hanya hidup berdua,” tambah Sundari sembari terus memeluk anaknya.
Kejadian itu terus beterbangan dalam kepala wanita empat puluh tahun itu. Sejak suaminya pergi keluarganya selalu mempermasalahkan harta yang ditinggalkan suaminya. Padahal sang suami hanya meninggalkan lima hektar sawah di belakang rumah.
Untung saja Wanti adalah anak yang rajin, hari-harinya selalu diisi dengan belajar dan membantu Sundari untuk menggoreng gorengan. Kini kehidupan Sundari hanya diisi dengan berdagang, entah berdagang apapun. Kalau musim hujan ia berjualan gorengan; pisang goreng, ubi goreng, onde-onde, godoh tape, hingga klenyem. Bagi Sundari yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, berdagang adalah cara paling efektif untuk menyambung hidup.
“Mak, kenapa Emak tidak meminta uang pada Budhe Lastri?” tanya Wanti sembari membolak-balikkan gorengan yang sedang digorengnya. Budhe Lastri adalah ibu kandung Wanti. Tetapi semenjak ia diurus oleh Sundari tak pernah sekalipun ia memanggil dengan sebutan ‘ibu’.
“Tidak perlu, Emak masih bisa menghidupimu, Ti. Juga menyekolahkanmu. Meski Lastri adalah ibu sebenarnya bagimu, tak perlu ia menuangkan uang-uangnya pada Emak. Kau sudah menjadi anak Emak, darah daging Emak,” bantah Sundari sembari memukul-mukul dadanya. Hati Sundari merintih, barangkali ia tak rela jika nama Lastri masih disebut ibu asli dari Wanti. Jika hal itu terjadi rasanya ia di dunia ini hanyalah sebatang kara.
Sundari terus meniup tungku dengan bambu yang sengaja dilubangi bagian ujungnya. Api tungku sudah hampir padam karena persediaan kayu yang mereka miliki menipis. Terkadang Kang Mamat tetangga depan rumahlah yang memberi sabut kelapa sekadar untuk memasak dan merebus air.
“Iya, tapi hidup kita sudah seperti balon kembang-kempis. Terkadang ada, dan sering tidak ada. Walah Mak, kalau begini terus adanya mau diapakan masa depan Wanti?” tanya Wanti.
“Masa depan yang seperti apa yang kamu inginkan, Nduk?”
“Ya, setidaknya jadi PNS Mak, punya motor layak yang bisa dikendarai keliling desa. Atau menjadi ledek seperti Mbak Rani, punya banyak uang.”
“Walah Nduk, Jangan! Sekali lagi jangan menjadi ledek. Emak ini membesarkanmu dengan tata trapsila, sopan santun sangat Emak tekankan buatmu. Ledek di mata masyarakat itu dipandang jelek, tak patut dijadikan sebagai profesi.”
“Tapi menjadi ledek itu seperti membebaskan diri dari keguncangan dunia, Mak. Mbak Rani saja bisa kaya, punya gelang emas dan bisa makan di restoran tiap malam minggu. Aku ingin seperti dia, Mak.”
“Jika keinginanmu untuk jadi PNS, Emak sangat mendukung. Nah, kalau ledek wis Nduk jangan diteruskan. Emak nggak rela jika punya anak seorang ledek. Tiap malam harus menari geol sana geol sini, berdandan menor dan setiap saat melayani laki-laki sedesa sendiri. Lah dalah… ngeri sekali, Nduk.”
Sundari meniriskan gorengan kemudian memasukkannya pada rantang besar yang biasa dipakainya berjualan. Orang-orang sekitar menyebutnya bakul tenong. Semacam rantang besar yang digunakan berjualan kue basah dan gorengan.
“Ya sudahlah, Mak. Mulai besok Wanti ikut Budhe Lastri saja!”
“Lho, jangan to Nduk. Lantas nanti Emak tinggal sama siapa?”
“Aku sudah lelah hidup seperti ini, Mak. Emak tahu sendiri, kan? Kehidupan Budhe Lastri tampak berada. Bahkan mungkin Budhe bisa menyekolahkanku hingga ke Perguruan Tinggi, aku bisa jadi PNS, Mak.”
Keesokan harinya Wanti membereskan semua pakaiannya dan berniat tinggal bersama Budhe Lastri, ibu kandungnya. Sundari hanya bisa menangis menitikkan air mata yang ke sekian kalinya. Seakan memang muara air mata yang dimilikinya tak bisa surut hingga akhir mautnya.
“Kita tak pernah memiliki, tetapi selalu merasa kehilangan. Duh, Gusti, anakku bukan anakku, tetapi anak-Mu.” [ ]



BIODATA
Anggi Putri, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Pencinta sajak kelahiran Jombang, 9 Juli 1995. Penggagas komunitas menulis RAJ (Rumpun Aksara Jombang). Tulisannya ada di ratusan antologi, enam buku solo, dan beberapa dimuat media, seperti Radar Surabaya, Tribun Jateng, SKH Mata Banua, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tetas Kata, dsb.




Sabtu, 22 Oktober 2016

CERPEN LUSI ANDA SUDJANA: PANGGUNG-PANGGUNG KESEDIHAN


(1)
Symphoni Tchaikovsky mengalun lembut, mengiringi kawanan angsa yang menari di atas danau. Pangeran Siegfried mengangkat tubuhku tinggi, waktu seolah terhenti. Danau berkilau tertimpa cahaya purnama. Dark Wood tidaklah sesuram namanya.  Ketika Pangeran Siegfried melepas tangannya dari pinggangku, udara kembali hangat. Siegfried, akankah kau bebaskan aku dari sihir Rothbart? Lalu membunuhnya dan kita akan bahagia selamanya?

Sabtu, 15 Oktober 2016

CERPEN VIFI ANDRIANI NOER: MENCEKIK LEHER KYAI


Pagi masih menyisakan embun dan harum tanah basah. Mengingatkan pada gundukan tanah di areal pekuburan, yang ada pemakaman baru di dalamnya. Lokasi Sambilawang, salah satu pesantren di Cirebon memang tidak terlalu jauh dari kompleks pekuburan umum Desa Kemlaka. Kokok ayam mulai terdengar satu dua, seakan mengisyaratkan adanya malaikat yang lewat dan mengingatkan hamba-hamba Allah untuk bangun dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam.
Srak … srak … srak …
Seorang lelaki paruh baya berjalan pelan menuju halaman tengah pesantren. Halaman berbentuk segi empat itu diapit oleh empat bangunan berbeda. Satu sisi merupakan surau tempat para santri dan asatidz pesantren biasa sholat. Masyarakat sekitar pun banyak yang melaksanakan sholat berjama’ah di sana. Di seberang surau, terdapat bangunan memanjang yang terdiri dari dua lantai. Bangunan tersebut merupakan pondokan santri laki-laki.
Sementara dua bangunan lainnya yang juga saling berseberangan adalah kantor pemilik dan staff pesantren serta tempat wudhu yang disertai dengan kolam ikan berukuran sedang. Berbagai jenis ikan hidup di sana dengan memanfaatkan limbah air wudhu. Air bekas wudhu mengalir langsung ke dalam kolam. Oleh karena itu, ada larangan menggunakan sabun atau bahan kimia lainnya di tempat wudhu agar tidak mencemari lingkungan tempat hidup ikan. Rumah pemilik pesantren berada di belakang kantor staff.
Lelaki itu berjalan dari belakang kantor menuju sudut surau, dimana terdapat sebuah pilar pendek menyerupai pondasi setinggi pondasi semen yang digunakan untuk menancapkan tiang bendera di sekolah-sekolah. Ada sesuatu di salah satu tangannya, yang kemudian diletakkannya di sana.
 “Maaf Kyai, jika ada istisqo’ untuk meminta hujan, tidak adakah sholat atau do’a untuk sekadar menunda hujan? Karena menolak hujan rasanya tidak sopan untuk memintanya kepada Allah. Bukankah dalam tiap tetesnya diiringi oleh malaikat pembawa rezeki? Jika menolak hujan bukankah itu berarti menolak rezeki?” terdengar sebuah suara.
Lelaki yang dipanggil kyai itu terkejut. Seorang santri telah memergokinya tengah menancapkan sapu lidi terbalik, yang ujung-ujungnya ada cabe, bawang merah, dan bawang putih. Konon, ritual ini bisa menjadikan cuaca cerah sepanjang hari. Ritual yang biasa dilakukan orang zaman dahulu saat ada hajatan pernikahan atau khitanan. Jadi, selama acara tersebut berlangsung, tidak akan ada mendung atau hujan.
Sang kyai menoleh. Seorang anak lelaki telah berdiri di sampingnya. Kyai tersebut terdiam mendengar rentetan pertanyaan dari seorang anak yang baru kali ini dilihatnya.
Anak ini bukan santri di Sambilawang. Kyai tiba-tiba tersenyum, menyadarkan si anak akan satu hal.
“Oh iya, maaf saya belum mengucapkan salam. Assalaamu’alaikum Kyai Cecep, saya Asep, dari Ponorogo”
“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarakatuh,” jawab Kyai Cecep sambil berpikir sebentar. “Dari Gontor?” tanyanya.
Asep agak terkejut. “Bagaimana Kyai bisa tahu?”
Kyai Cecep tak lagi tersenyum, tapi tertawa. Sampai seorang santri memanggil Asep.
“Asep!”
Aduh, jangan-jangan, si Asep bicara macam-macam dengan Kyai Cecep.
Santri itu setengah berlari menuju keduanya.
“Andi?” Asep dan Kyai Cecep memanggil bersamaan. Andi menoleh ke Asep, lalu ke Kyai Cecep.
“Betul, Kyai. Mohon maaf, Asep ini sepupu saya dari Gontor yang sedang sowan ke rumah nenek. Karena ingin mengetahui suasana Sambilawang, dia menginap beberapa hari di pondok. Semalam kyai tidak ada di tempat, jadi saya hanya meminta izin pada ustadz Maman,” jelas Andi pelan.
Kyai Cecep menganguk-angguk. Kepala pondok itu memang telah memberitahunya.
Baru kali ini aku tidak melihat beliau mengenakan sorban putih yang biasa dikenakan beliau saat menjadi imam shalat maupun saat mengisi kajian rutin harian dan bulanan, batin Andi.
Karena pagi masih gelap dan sepertiga malam masih panjang, Kyai Cecep mengajak mereka duduk di tangga surau. Warna marun keramiknya mengingatkan Asep pada rumahnya di Ponorogo.
“Kalian sudah qiyamul lail, bukan?”
Asep dan Andi mengangguk, “Sampun, kyai,” jawab mereka serempak.
“Saya ingin menceritakan satu kisah pada kalian. Sebuah cerita yang masih ada hubungannya dengan apa yang saya lakukan tadi”
Kyai Cecep menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan. Seakan ada beban berat yang sebenarnya membuat ia enggan untuk menceritakan kisah itu.
Tapi saya tetap harus menceritakannya, batin Kyai Cecep.
“Dua dekade lalu, ada sebuah pesantren yang didirikan oleh seorang kyai tersohor. Ada kabar burung yang mengatakan bahwa beliau adalah keturunan dari Sunan Kalijaga. Beberapa perampok yang pernah menghadangnya dapat dengan mudah disadarkan untuk kembali ke jalan yang benar. Beliau mendirikan sebuah pesantren dan memiliki seorang putra. Karena istrinya meninggal saat melahirkan, beliau mencurahkan segala kasih sayangnya pada putranya sehingga si anak tidak merasa kekurangan kasih sayang.
“Sebut saja nama putranya itu Fulan. Fulan yang tumbuh dengan baik tersebut kemudian menjadi penerus sang kyai setelah ayahnya meninggal. Kebijakan yang dibuat di pesantren pun mengikuti sang ayah. Fulan menjadi kyai yang dihormati. Santrinya berasal dari berbagai pelosok negeri. Kyai itu sangat rajin, berwibawa, dan rajin beribadah. Hanya satu saja kekurangannya yang nampak. Ia tidak suka dibantah dan dinasihati ketika berbuat salah.
“Hingga satu hari, seorang santri melihatnya tengah memasang sapu lidi terbalik, yang ujung-ujungnya ditancapkan bawang merah dan bawang putih. Santri tersebut menanyakan hal yang sama seperti yang Asep tanyakan pada saya. Kyai Fulan tidak menjawab, tapi justru menanyakannya tentang hapalan yang apakah sudah diselesaikan atau belum oleh si santri. Karena si santri menjawab ‘belum’, Kyai Fulan memintanya untuk tidak berkeliaran sampai hapalannya selesai.
“Padahal sebenarnya, si anak telah selesai menghapal surat yang harus disetor hari itu. Kyai Fulan pun akhirnya mengetahuinya. Ia merasakan sesak di tenggorokan ketika mendengar obrolan salah seorang ustadz dengan pembimbing santri, tengah membicarakan salah seorang santri yang mampu dites melanjutkan hapalan qur’an surat apa saja. Besar kemungkinan jika anak itu telah hapal al-qur’an. Mereka memuji kerendahan hati si anak yang tidak mengatakan kalau ia hafidz 30 juz saat mendaftar di pondok.
“Apa yang membuat Kyai Fulan terkejut adalah karena santri yang dibicarakan adalah santri yang ia temui pagi tadi. Ia tidak suka dibantah. Sejak kejadian itu, Kyai Fulan jarang tersenyum bila melihat si santri. Kyai Fulan sering mencari-cari kesalahan si santri dan memberi hukuman menyiram halaman yang berdebu saat hujan tidak turun selama beberapa hari.
“Berdasarkan penuturan istrinya, Kyai Fulan kembali menujukkan kebiasaan semasa kecilnya yang ‘aneh’. Beberapa anak pun pernah memergoki Kyai Fulan menggigit-gigit tangannya di malam hari. Saat ada santri yang menyapa dan bertanya, Kyai Fulan memelototkan mata, sehingga si santri pun kabur. Usut punya usut, ternyata kebiasaan itu terjadi hanya jika keinginan sang kyai tidak terpenuhi. Kyai tersebut memang sangat dimanja oleh ayahnya.
“Sebulan setelah  itu, Kyai Fulan jatuh sakit. Saat di rumah sakit, ia bermimpi bertemu ayahnya. Ketika pagi tiba, ia meminta istrinya memanggil si santri. Ada kejadian mengejutkan di sana. Kyai Fulan menangis dan meminta maaf pada si santri. Ia bercerita, bahwa kebiasaannya menggigit tangan adalah untuk menghilangkan perasaan sakit di leher. Rasa sakit yang menyerupai cekikan tangan bila ada yang menegur atau menasihatinya. Kebiasaannya itu memang tidak sampai membuat cedera atau mati, tapi setidaknya ia bisa meluapkan kemarahannya dengan melakukan hal itu.
“Sejak saat itulah Kyai Fulan sadar. Ia benar-benar menjadi orang yang welcome terhadap masukan dan nasihat orang lain, baik itu dari orang tua, orang yang lebih muda, dan masyarakat lainnya. Apalagi setelah ada seorang misterius yang mengiriminya buku. Buku tersebut berjudul ‘Sudah Betulkah Ibadahmu?’. Isinya tentang bagaimana cara menjaga ibadah agar tidak membuat riya’, takabbur, dan sombong. Juga korelasi antara ibadah dengan perilaku sehari-hari. Buku itu menjadi tamparan halus bagi Kyai Fulan. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal dan menikahkan si santri dengan putrinya.
“Satu yang diingat si santri adalah wajah ramah sang mertua saat memasang sapu berbawang itu.” Kyai Cecep mengakhiri kisahnya.
“Karena itu ya, kyai meneruskan kebiasaan Kyai Fulan?”
Kyai Cecep mengangguk. “Tapi bukan untuk menolak hujan. Saya melakukannya jika saya merasa kangen dengan Kyai Fulan dan hanya beberapa menit. Usai tahajjud saya pasang, lalu melepaskannya kembali menjelang shubuh.
Pantas saja, aku tidak pernah melihat Kyai Cecep memasang sapu lidi itu siang hari, batin Andi.
“Bukankah do’a jauh lebih penting untuk menyampaikan rasa kangen kyai?”
Kyai Cecep mengangguk. “Terima kasih padamu, Sep. Sudah lama saya menantikan saat-saat seperti ini. Saat dimana ada yang menegur dan menghentikan kebiasaan ini dan memberi solusi untuk mengganti kebiasaan itu dengan yang lain.”
Sepoi angin pagi menyibak dengan lembut rimbun dedaunan pohon belimbing wuluh, pohon mangga, dan pepohonan lainnya yang tumbuh di sekitar Sambilawang, hingga sampai pada sapu lidi itu. Lembutnya masih angin mampu menjatuhkan sapu lidi tersebut. Asep dan Kyai Cecep saling pandang, lalu tersenyum.
“Maaf kyai, apakah perkataan saya di awal juga seperti apa yang dianggap Kyai Fulan?” tanya Asep.
“Maksudmu perkataan yang menyakitkan hati hingga terasa seperti mencekik leher?”
Asep mengangguk. Kemudian Kyai Cecep tertawa. Untuk ke sekian kalinya Andi melihat deretan gigi yang masih lengkap dan putih bersih itu. Suatu pemandangan yang jarang sekali bisa ia lihat di pesantren maupun kajian yang diisi beliau.
“Tentu saja tidak. Sejak kecil, saya selalu dididik untuk belajar dan siap menerima koreksi maupun kritikan dari orang lain. Jika saya berbuat salah, siapa saja wajib mengingatkan. Baik itu adik atau kakak saya,” papar beliau.
“Alhamdulillah, saya lega mendengarnya. Tapi saya tetap ingin meminta maaf, jika dalam perkataan saya selama kita berbincang tadi, ada kalimat yang membuat kyai tersinggung dan sakit hati,” ujar Asep lagi. Sepertinya ia masih tak enak hati.
Kyai Cecep membelai kepala Asep. “Wallahi, saya ridho dengan apa yang kamu katakan. Tidak ada satu kalimat pun yang membuat saya sakit hati. Justru saya merasa kagum, di usia yang saya perkirakan masih belasan tahun, kalimat yang kamu ucapkan sudah tertata dengan baik. Tak ada kesan menggurui atau bahkan membenci.”
Asep menunduk. Ada perasaan lega di hatinya.
“Apa kamu tahu, nduk? Nama kita sebenarnya sama. Nama lahir saya juga Asep. Tapi karena sering dipanggil Cecep, jadi nama ini ditambahkan dalam nama lahir saya.”
“Saya ada sesuatu untuk kyai. Jika tidak keberatan, mohon diterima.”
Kyai Cecep membaca sekilas. Menjadi Santri yang Menyenangkan.
“Kalau begitu, kami pamit kyai. Sudah hampir Shubuh. Kami belum mandi dan abdas,” ujar Andi.
“Oh iya, silakan, silakan. Biar tidak terlambat berjama’ah di sini.”
Kyai Cecep lama memandangi kepergian keduanya. Ada sesuatu yang luar biasa pada anak itu. Mungkinkah ini yang dirasakan Kyai Fulan dulu terhadap dirinya? Kyai Cecep membuka halaman demi halaman, hingga sampai pada daftar pustaka. Neon 15 watt yang menerangi teras surau mampu menjadi penerang untuk membaca salah satu referensi dalam pembuatan buku tersebut.
Sudah Betulkah Ibadahmu?
Kyai Cecep tersenyum mengangguk-angguk.
Sementara itu, Andi dan Asep bergegas menuju pondok. Jika terlambat lima menit lagi, maka mereka akan mendapat giliran terakhir mandi. Andi masih memikirkan obrolannya dengan Asep dan Kyai Cecep.
Entah kenapa, ada rasa lapang di hatiku. Hari ini aku mengerti satu hal. Dua Asep yang hari ini kutemui bukanlah santri dan kyai biasa. Banyak hal yang bisa kupelajari dari mereka.
“ANDI ASEP NUGRAHA! Bengong melulu dari tadi. Asep sudah ke luar tuh, giliran kamu. Atau aku saja dulu yang mandi?” tegur Didin, teman sekamar Andi.
“Oh iya, iya. Aku dulu, dong. Kan aku yang ngantri duluan.”
“Ya sudah, cepat ya. Ingat, jangan melamun lagi di kamar mandinya.”
“Siap, bos.” timpal Andi sambil senyum-senyum.
Ya, nama lengkapku Andi Asep Nugraha. Asep nama tengahku. Yah, kurasa aku bisa seperti mereka. Karena nama ‘Asep’ sejatinya bukan hanya do’a orang tua yang menginginkan anak laki-laki tampan secara lahir, tapi juga dalam hal akhlak. Jika Asep dan Kyai Cecep bisa, mungkin aku juga bisa seperti mereka. Menjadi manusia biasa yang istimewa. Namun kali ini, aku berharap tidak akan ada tragedi ‘mencekik leher kyai’ lagi. [ ]


Biodata :
Vifi Andriani Noer, lahir di Majalengka, 09 Oktober 1981. Alamat di Jalan Cihujan RT. 002 RW. 012 Blok Jum’at Desa Burujul Wetan Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka 45454. Email vifiandrianinoer81@gmail.com



Sabtu, 08 Oktober 2016

CERPEN ANSAR SIRI: TRADISI NIKAH MASSAL


Angkot yang kutumpangi ini sebentar lagi akan membawaku tiba di pondok Pesantren Al-Hidayah, tempatku dilahirkan, tumbuh, mengenyam pendidikan dari tingkat paud hingga Madrasah Aliyah. Aku ada di pesantren itu benar-benar hal yang tak bisa ditawar lagi. Kedua orang tuaku alumnus pesantren itu juga, kemudian menikah dan tinggal di sana. Butuh pergolakan batin yang panjang sebelum akhirnya

Sabtu, 01 Oktober 2016

CERPEN ZULY KRISTANTO: RAHASIA AWET MUDA


Hujan deras yang turun di kotaku baru saja reda. Aspal basah lengkap dengan genangan air yang memantulkan cahaya merkuri menjadi penegas jika hujan benar-benar luruh dengan derasnya. Cahaya  merkuri yang dipantulkan melalui genangan air itu memang terlihat indah. Tetapi dibalik keindahannya ada bahaya yang disembunyikannya.. Sebab, jika tidak waspada bisa saja lubang pencipta genangan air itu mampu menjatuhkan siapa saja yang melewatinya.
Ketika senja tiba dan

Sabtu, 24 September 2016

CERPAN AULIA MAYSARAH: ILANA


Sebenarnya, tak terlalu sulit menjaga dan merawat seorang anak kecil berusia lima tahun yang tak banyak tingkah dan pendiam seperti Ilana. Apalagi, dulu aku juga sempat dekat dengan seorang yang tahu seluk beluk dunia anak-anak. Sayangnya, di usia yang baru lewat kepala tiga dengan segudang kesibukan sepertiku tak begitu. Sulit bagiku mengerjakan kedua-duanya sendiri tanpa keteteran. Meski aku bisa saja menggaji pengasuh untuk Ilana, nyatanya gadis kecil itu terus merengek dan bersikap tak wajar pada mereka hingga tak ada satupun pengasuh yang pernah kupekerjakan bertahan lebih dari seminggu.
Ilana, dia keponakanku. Seperti bocah kebanyakan dia bisa dibilang gadis yang lucu dan suka bermain dengan dunianya sendiri. Dia malah terkesan pintar dan mandiri. Hanya satu kekurangannya yang tak bisa kuterima. Keluargaku terima juga orang-orang terdekatku. Aku tak tahu harus menyebutnya kelebihan atau apa. Bocah itu, seperti mampu melihat masa depan. Apa yang akan terjadi dan menimpa orang-orang di sekitarnya, dia bisa tahu. Dan itu membuatku takut.
Awalnya kami bersyukur mempunyai anggota keluarga yang memiliki kemampuan istimewa seperti Ilana. Bagaimana tidak, berkali-kali kami selamat dari bahaya karenanya. Semisal ketika ayahnya hendak berangkat kerja dan Ilana memintanya untuk melewati jalan lain bukan yang biasa dia lewati, ayahnya selamat dari maut. Ada kecelakaan besar yang terjadi di sana dan jika ayah Ilana melewatinya, sudah dapat dipastikan dia takkan selamat.
Aku juga pernah mendapat keberuntungan semacam itu ketika hendak menyelesaikan tugas kantor keluar negeri. Dia merengek dan menangis sejadi-jadinya hingga aku terpaksa membatalkan janji dan tak jadi berangkat. Aku selamat. Pesawat yang seharusnya kutumpangi hilang kontak dan baru berhasil ditemukan beberapa hari kemudian di Selat Malaka. Semua penumpangnya mati.
Awalnya kami memang bangga memiliki Ilana. Gadis kecil penurut, manis serta pintar lagi menggemaskan juga memiliki bakat cenanyang yang istimewa. Hanya saja, makin ke sini apa yang dikatakan bocah lima tahun itu makin membuat ngeri. Dia pernah meramalkan kematian kakek dan neneknya -orangtuaku- setelah mereka memarahinya karena bersikap tak sopan pada tamu. Apa yang dikatakannya terwujud. Mobil yang ditumpangi orangtuaku bersama seorang supir masuk ke jurang sedalam sepuluh meter dan tewas.
Begitu juga kedua orangtuanya. Kakakku, juga suaminya meninggal setelah diramalkan Ilana yang tengah marah. Apa yang terjadi pada mereka sama persis seperti yang diramalkan bocah kecil itu. Setidaknya begitulah kata pembantu mereka.
Maka, ketika dia harus tinggal bersamaku, aku tak tahu harus berbuat apa. Dia sendiri. Rapuh. Tanpa pelindung tapi sama sekali tak menangis. Dia seperti sudah mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Ketika kedua orangtuanya dibawa ke pemakaman, dia juga tak menangis. Dia bahkan sempat mengucapkan selamat jalan pada mereka. Seolah benar-benar mengerti apa yang diucapkannya meskipun umurnya memang baru lima tahun.
Sehari setelah pemakaman orangtuanya, mau tak mau aku membawa Ilana ke tempatku diiringi tatapan penuh simpati orang-orang sekitar. Seolah aku tengah mengemban tugas besar dan memberikan semangat. Sayangnya, aku tak butuh itu. Aku takut. Takut kalau-kalau dia juga akan meramalkan kematianku seperti kedua orangtuaku juga kakakku.
Untungnya, selama tinggal bersamaku sampai detik ini dia tak pernah sekalipun bicara yang aneh-aneh lagi. Tak mengatakan soal kematian siapa pun atau tak memberi instruksi ke mana aku harus pergi dan jangan pergi. Setidaknya ini membuatku cukup tenang meski masih was-was.
Dia pendiam. Pendiam sekali ketika aku berada di dekatnya. Dia sering bermain bicara sendiri namun diam seketika setelah aku mendekat. Karena tak ingin dia kesepian, aku memperkerjakan pengasuh di apartemen untuk menjaganya hingga aku pulang kerja. Anehnya, tak ada satupun dari mereka yang mampu bertahan lebih dari seminggu. Mereka semua mengadu merasa takut pada Ilana. Kata mereka, bocah itu sering melakukan hal-hal tak wajar untuk anak umur lima tahun. Kata mereka pula, Ilana suka bercerocos soal siapa yang meninggal hari ini dan siapa yang besok.
Andai aku tak mengenal Ilana sebelum ini, aku pasti tak percaya.
"Paman,"
Aku menoleh padanya yang memainkan lego dari meja kerjaku di ruang tengah.
"Paman besok mau ke luar kota?"
Aku mengangguk. Tiba-tiba saja perasaanku berubah buruk tatkala kenangan akan keluargaku yang berakhir tragis setelah Ilana bertanya seperti ini. Aku tiba-tiba takut kalau dia berujar tentang sesuatu yang bakal terjadi besok padaku.
"Paman jangan pergi. Paman di sini saja temani Ilana main."
Aku mendesah agak senang. Setidaknya dia tak meramalkan kematianku.
"Paman tak bisa, Ilana. Besok paman harus kerja. Kamu main saja dengan boneka-bonekamu seperti biasa, yah!"
Aku bangkit dari mejaku secepat mungkin, tak ingin setelah menolak permintaannya aku bernasib sial.
"Paman tak boleh pergi! Kalau tidak paman akan mati! Paman bakal jatuh seperti kakek nenek dan takkan ada yang tahu!"
Aku menghentikan langkahku seketika setelah mendengarnya berteriak lalu membalik badan melotot pada gadis kecil itu. Ternyata, dia juga tengah melakukan hal yang sama. Berkacak pinggang sambil melotot ke arahku.
Aku agak terkejut. Darimana dia bisa berekpresi seperti itu sedangkan dia masih berumur lima tahun. Tapi, buru-buru pikiran tersebut pergi berganti dengan perkataan Ilana barusan. Aku besok akan mati. Dalam keadaan yang sama seperti ayah dan ibuku. Jatuh ke jurang dan tak ada yang menemukan. Begitu kata Ilana.
"Tak ada yang mengajarimu berkata seperti itu, Ilana. Itu tidak sopan. Paman tetap akan pergi besok." Aku kembali mencoba pergi sebelum lagi-lagi aku mendengarnya berteriak.
"Aku tidak bercanda, Paman. Aku serius!" ucapnya dan aku kembali berbalik.
Aku sempat bergidik melihat kilatan menyeramkan di matanya. Namun, lagi-lagi kubuang cepat.
"Berhenti berkata yang aneh-aneh. Kalau kamu masih mau tinggal di sini diamlah dan jangan bicara seperti barusan!" Aku membentak dan dia terdiam. Menatapku dengan ekpresi yang tak bisa kujelaskan.
"Satu lagi," aku kembali berbalik. "Jangan pernah bicara seperti barusan kepada siapapun!"
Aku membentak. Melanjutkan langkahku keluar ruangan dengan perasaan ketar-ketir.
Semoga saja perkataan Ilana siang ini tak berakhir seperti yang sudah-sudah. Aku takut kalau harus mati seperti seluruh keluargaku.
***
Pagi ini ketika dalam perjalanan ke luar kota, perasaanku jauh lebih tenang dari kemarin siang. Sebelum keluar rumah tadi aku sempat pamit pada Ilana yang terus memasang wajah masam dan tak suka semenjak percakapan kami di ruang tengah kemarin. Aku tak peduli.
Yang kulakukan pagi ini padanya sama seperti biasa. Membangunkan, memandikan dan memberi sarapan. Hanya saja ada tambahan lain. Aku menitipkannya pada tetangga apartemenku dan bilang baru akan pulang nanti malam.
Sebenarnya aku masih sedikit terganggu dengan perkataan Ilana kemarin. Semalaman aku berpikir bagaimana caranya menghindari apa yang bisa terjadi padaku seperti kata bocah tersebut kemarin. Hingga aku sadar, mungkin masalahnya ada pada diriku sendiri. Aku hanya perlu berkonsentrasi ketika mengemudi. Istirahat jika mengantuk atau lelah. Aku yakin jika aku melakukannya tidak akan terjadi apa-apa padaku.
Aku sempat tertawa geli menyadari betapa bodohnya aku karena percaya pada perkataan Ilana. Pada ketakutanku sendiri yang membuatku tak bisa tidur namun sebenarnya bisa dijelaskan secara logis. Ketika orangtuaku kecelakaan dulu, mereka dalam perjalanan di malam hari yang melintasi wilayah yang memang rawan kecelakaan. Supir mereka juga pasti mengantuk dan lelah hingga tak konsentrasi mengemudi. Makanya kecelakaan itu terjadi.
Sedangkan kedua orangtua Ilana, yang salah adalah yang menabrak mereka. Atau bisa juga orang yang membuat supir truk besar tersebut kehilangan konsentrasi. Itu artinya masalahnya sama. Fokus. Dan aku harus fokus sekarang. Tak boleh berpikiran yang aneh-aneh agar aku selamat.
Belum sampai setengah jalan, ponselku berbunyi. Ketika kulihat siapa yang menelepon, aku mengerjitkan dahi lalu menghentikan mobil. Pikiranku langsung dipenuhi oleh Ilana lagi.
"Halo, Pak. Ada apa yah?" sambutku.
Suara panik di ujung sana jelas terdengar. Dia berkata sesuatu yang buruk tengah terjadi. Baru saja terjadi di rumahku.
"Kami menemukan Ilana terbaring di ruang depan. Mulutnya berbusa dan dia sudah tak bernapas," ucap tetangga yang kutitipkan Ilana.
"Maksudnya apa, Pak?" ucapku agak kaget.
"Sepertinya dia keracunan makanan. Di dekatnya ada kue yang baru digigit sebagian." Dia menjelaskan. "Mas, cepatlah pulang. Ambulan dan polisi sudah tiba. Mereka mencari Mas." Aku mengiyakan langsung.
Ketika telponnya tertutup, cepat aku memutar mobil kembali ke apartemen. Aku harus melihat keadaan Ilana secepatnya. Selama itu, aku juga menyempatkan menelpon atasan memberitahu apa yang tengah terjadi dan mengundurkan diri dari pekerjaanku di luar kota.
Yah, aku pernah dengar seseorang berkata bahwa posisi seseorang bisa digantikan dengan orang lain kalau kita mau.
Aku tersenyum senang. Setidaknya bukan nyawaku yang melayang. Ilana menggantikan tempatku. Racun di susu yang dia minum pagi ini bekerja dengan baik dan aku takkan dicurigai karena telah menyembunyikan buktinya dengan sempurna. Paling penjual makanan yang berada selemparan batu tempat Ilana biasa jajan saja yang dicurigai.
Mereka takkan mengendusku. Dan yang terpenting, semua bebanku terangkat. Tak ada lagi yang bisa membuatku takut di rumah sendiri. [ ]


Biodata:
Penulis menggunakan nama pena x, juga menggunakan nama fb yang sama. Bergabung dalam sebuah fanspage kepenulisan sebagai admin. Dapat dihubungi via email may.sarah1412@gmail.com




Statistik Pengunjung

Flag Counter