Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 01 Oktober 2016

CERPEN ZULY KRISTANTO: RAHASIA AWET MUDA


Hujan deras yang turun di kotaku baru saja reda. Aspal basah lengkap dengan genangan air yang memantulkan cahaya merkuri menjadi penegas jika hujan benar-benar luruh dengan derasnya. Cahaya  merkuri yang dipantulkan melalui genangan air itu memang terlihat indah. Tetapi dibalik keindahannya ada bahaya yang disembunyikannya.. Sebab, jika tidak waspada bisa saja lubang pencipta genangan air itu mampu menjatuhkan siapa saja yang melewatinya.
Ketika senja tiba dan
merangkak menuju malam. Pendar-pendar cahaya merkuri yang tergantung di sisi jalanan akan mengikutinya. Ia bertugas sebagai penjaga dan akan menemaninya sampai hari berganti. Begitulah yang terjadi dan terus berulang-ulang setidaknya seperti saat ini. Nyala merkuri itu bukan saja menjadi teman setia bagi jalanan yang mau menjadi saksi bagi setiap pergulatan kehidupan. Ia juga mampu menjadi tanda. Sebuah tanda dimana saat ia datang akan senantiasa diikuti oleh gerak langkah ratusan, ribuan, atau bahkan jutaan orang pulang menuju rumah masing-masing. Gerak langkah lelah dari setiap individu yang baru saja mencoba mewujudkan apa yang menjadi keinginannya.
Suara-suara deru kendaraan. Asap-asap yang keluar dari moncong knalpot dan suara bising dari klakson adalah bukti yang tidak bisa dipungkiri. Bahwa jalanan penuh lubang ini masih sanggup untuk menjadi saksi sekaligus perantara bagi mereka yang mewujudkan mimpi. Di bahu jalan sebelah kiri sore ini aku melihat ada sekelompok lelaki yang menepi. Mereka duduk di sebuah warung tenda kecil. Orang-orang di kota ini menyebut tempat tersebut wedangan. Aku tidak mengerti mengapa mereka menamainya demikian. Mungkin karena kesamaan penyajian atau kesamaan makanan yang disajikan. Sehingga banyak orang sepakat untuk menamainya wedangan.
Saat duduk di wedangan ini terlihat beberapa lelaki yang usianya beberapa tahun diatasku. Dari caranya berbicara aku menduga bahwa lelaki itu telah berkeluarga. Jauh dari sini baragkali ada yang tengah menanti kedatangannya. Kalau bukan anaknya pastilah sang istri. Tetapi pada lelaki ini aku tidak melihat adanya keinginan untuk pulang ke rumahnya dan menghapuskan kecemasan pada mereka yang menantinya. Kenapa dia tega melakukannya? Benarkah dia tidak setia? Pertanyaan bodoh macam ini senantiasa hadir. Saat aku melihat lelaki yang dengan santainya menghabiskan malam diluar rumah dengan seragam masih membalut tubuhnya.
Untungnya pertanyaan bodoh macam ini senantiasa bisa kujawab sendiri. Mungkin mereka lelah dan butuh istirahat sebentar. Agar perjalanan pulangnya lebih fokus. Atau mungkin inilah cara mereka melepas segala permasalahan yang didapatnya hari ini. Sehingga ketika pulang nanti tidak ada urusan pekerjaan yang turut serta mengikutinya sampai rumah.
Ketika para lelaki atau lebih tepatnya disebut dengan nama suami ini berkumpul. Bisa dipastikan apa yang akan menjadi pokok pembicaraan. Kalau bukan persoalan dapur pastilah permasalahan tempat tidur. Kata orang dua masalah inilah yang mesti dihadapi oleh lelaki dewasa. Seorang lelaki belum bisa dikatakan dewasa jika belum menghadapi dua masalah ini. Dulu, aku sempat menduga bahwa hal ini hanyalah omong kosong belaka. Tetapi saat mendengar langsung dari mulut orang yang pernah melaluinya. Barulah aku percaya bahwa hal tersebut memang benar adanya.
“Belakangan, anda terlihat nampak lebih muda, Pak. Beda dengan dulu, bagi dong rahasianya!” tanya seorang lelaki kepada pedagang wedangan.
Belakangan aku tahu lelaki yang bertanya ini, Joko namanya. Sedangkan penjual wedangan yang ditanya memiliki nama panggilan Sapto. Kedua lelaki ini memang bukan sahabat karib. Hanya karena Joko sering nongkrong di wedangan Sapto.
“Ah, apa iya Mas? Bisa saja kalau memuji,” elak Sapto.
“Benar pak, dari cara bicara, roman wajah, sampai dengan cara melayani pembeli, sampeyan terlihat lebih trengginas jika dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Rahasianya apa sih?”
“Masa sih mas? Saya nggak ngrasa ada yang berubah dengan diri saya. Cuma belakangan ini saya merasa seikit lebih rileks dibandingkan dulu. Istri saya sudah tidak banyak menuntut.”
“Oh.”
Percakapan keduanya terhenti sejenak. Sebab, ada lelaki lain yang datang dan dengan segera memesan segelas kopi susu hangat kepada Sapto.
“Wah, kalau urusan awet muda saya masih kalah dengan bapak ini, Mas,” kata Sapto.
Joko segera menoleh.
“Bapak, ini usianya sudah lebih 15 tahun di atas saya. Tetapi, lihatlah beliau malah nampak seperti adik saya,” lanjut Sapto.
Joko kembali menatap pria yang ada di seberangnya dalam-dalam. Seolah ada rasa tidak percaya yang dirasakannya. Jika lelaki yang duduk di seberangnya itu 15 tahun di atas Sapto, setidaknya usia lelaki itu sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Namun, jika dilihat dari penampilannya, rasanya kurang pantas apabila lelaki tersebut memiliki usia sebanyak itu.
“Kenapa, Mas?” tanya pria itu dengan hangat.
“Ah, nggak, Pak,” jawab Joko.
Ndak usah malu sama bapaknya, Mas. Orangnya enak kok” Sapto lalu menyambungnya, “Ini, Pak, mas-nya pengin tahu rahasia awet muda.”
“Hehehe, siapa yang awet muda? Saya? Ah ndak juga. Benar Anda ingin tahu rahasia awet muda saya?”
Joko mengangguk.
Lelaki yang menurut Sapto bernama Pak Murdi itu lantas menjelaskan dengan terperinci rahasia awet muda yang dimilikinya.
“Begini, sebenarnya resep awet muda yang saya miliki ini mudah saja. Tidak muluk-muluk dan tidak perlu perawatan khusus. Tidak perlu pula mengkonsumsi makanan jenis tertentu. Hanya saja ada hal pertama yang mesti dilakukan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menikahlah jika merasa sudah mampu dan memiliki calon. Kemudian sebisa mungkin bahagiakan istri Anda dan ciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Jangan sampai ada yang merasa tertekan, baik itu Anda maupun istri Anda. Buatlah sebuah hubungan yang menyenangkan untuk dinikmati bersama,” jelasnya.
“Tetapi, bagaimana caranya, Pak? Bukankah sudah menjadi kodratnya, apabila seorang istri selalu menekan suaminya?” tanya Joko.
“Memang demikianlah seharusnya. Istri yang baik memang begitu seharusnya. Tetapi yang perlu diingat, tekanan yang diberikan oleh istri ini harus dilandasi oleh hal yang masuk akal. Maksudnya begini, permintaan itu terlahir demi mencapai kebahagiaan semua anggota keluarga. Dan bukan semata-mata untuk mencapai kebahagiaan istri saja.”
“Kalau soal itu saya juga mengerti, Pak. Tapi, bisakah bapak menjelaskannya lebih sederhana lagi?”
“Biar saya sederhanakan. Di dalam hubungan yang dinamakan keluarga, dimana di dalamnya terdiri dari seorang lelaki dan perempuan yang terikat dalam sebuah hubungan bernama pernikahan. Mereka yang berhubungan itu harus bisa memahami sekaligus mengerti di posisi mana mereka berada. Seorang suami harus bisa menempatkan diri sebagai roda. Artinya lelaki lah harus menjadi penggerak roda hubungan dalam sebuah keluarga. Dalam hal ini seorang lelaki akan disebut sebagai suami. Sedangkan seorang wanita yang dalam hal ini disebut dengan istri harus bisa memposisikan dirinya sebagai rem. Keberadaan rem di sini juga tidak kalah penting. Ia berfungsi menjaga laju dari roda penggerak kehidupan rumah tangganya, Nah, sekarang saya tanya. Jika Anda telah menjadi suami, rem seperti apakah yang anda inginkan?”
Joko mengangkat bahu mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu tentang rem seperti apakah yang baik itu. Pak Murdi kembali meneruskan penjelasannya.
“Begini, rem yang baik itu tidak boleh perlu pakem dan tidak boleh ngeblong. Jika terlalu pakem akan membahayakan bagi keberadaan roda itu sendiri. Sedangkan apabila terlalu ngeblong akan berbahaya bagi seluruh penumpangnya. Roda dan rem harus berjalan beriringan agar semua bisa selamat sampai tujuan.”
Mendengar percakapan mereka aku hanya terdiam dan tidak menanggapi sepatah katapun. Ini memang sengaja aku lakukan. Bukan karena aku antipati kepada permasalahan yang tengah mereka hadapi. Tetapi, lebih mengarah kepada ketakutanku terhadap hal yang belum waktunya kuhadapi. Setelah mengatakan tentang bagaimana caranya membuat kehidupan rumah tangga yang harmonis tadi Pak Murdi melanjutkan ceritanya.
Ia mengatakan bahwa dirinya memiliki teman yang usianya sekitar dua puluh tahun lebih muda darinya. Sebut saja namanya Andri. Mungkin Andri termasuk orang yang kurang beruntung. Ini dikarenakan sang istri terlalu banyak menekan dan juga mengekangnya. Apa yang dilakukan oleh istri ini tentu berakibat kurang bagus bagi kesehatan Andri. Ketika usia pernikahannya baru mencapai 20 tahun Andri sudah terkena stroke. Dan selang beberapa bulan menderita penyakit yang menyerang syarafnya itu sampai membuat Andri meninggal. Apa yang membuat Andri meninggal bukanlah penyakit strokenya melainkan penyakit jantung. Selama Pak Murdi mengenal Andri ia sama sekali tidak tahu bahwa temannya itu memiliki riwayat penyakit jantung. Ia menduga bahwa tekanan dan pengekangan yang dilakukan oleh istri sahabatnya itulah yang membuat penyakit jantung menghampiri rekannya. Dan sampai membuat nyawa rekannya melayang.
“Kalau normalnya kita-kita yang sebagai lelaki ini memang seperti ditakdirkan mati lebih dulu jika dibandingkan istri kita. Ini mungkin karena pola hidup kita yang tidak sehat. Lain halnya dengan wanita. Jika tidak ada penyakit khusus, umumnya mereka memiliki rentang usia yang lebih panjang dibanding kita. Untuk itulah penting bagi kita para lelaki untuk mensiasati takdir kita.”
“Caranya, Pak?”
“Buatlah diri kita senang dan nyaman. Apapun itu asal dapat membuat segala beban, penat, jenuh, dan rasa lelah yang ada bisa hilang meski hanya sementara waktu, lakukanlah. Percaya saja jika kamu melakukannya. Kamu akan menjadi awet muda dan tentunya memiliki waktu hidup yang lebih panjang lagi. Lihatlah mas Sapto itu, ia telah membuktikannya dan cobalah perhatikan perubahan yang ada pada dirinya. Benar, kan?”
Joko mengangguk-angguk. Aku terus mengamati perbincangan mereka dan merekam apa saja yang mereka bicarakan. Sementara bagian diriku yang lain tengah bertanya-tanya, siapa yang membawaku ke sini?


Biodata:
Zuly Kristanto, tinggal di RT 02 RW 06 Ds. Mirigambar Kec. Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Alamat email: zulykristanto@gmail.com




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter