Hujan deras yang turun di kotaku baru saja
reda. Aspal basah lengkap dengan genangan air yang memantulkan cahaya merkuri menjadi
penegas jika hujan benar-benar luruh dengan derasnya. Cahaya merkuri yang dipantulkan melalui genangan air
itu memang terlihat indah. Tetapi dibalik keindahannya ada bahaya yang
disembunyikannya.. Sebab, jika tidak waspada bisa saja lubang pencipta genangan
air itu mampu menjatuhkan siapa saja yang melewatinya.
Ketika senja tiba dan
merangkak menuju malam.
Pendar-pendar cahaya merkuri yang tergantung di sisi jalanan akan mengikutinya.
Ia bertugas sebagai penjaga dan akan menemaninya sampai hari berganti.
Begitulah yang terjadi dan terus berulang-ulang setidaknya seperti saat ini.
Nyala merkuri itu bukan saja menjadi teman setia bagi jalanan yang mau menjadi
saksi bagi setiap pergulatan kehidupan. Ia juga mampu menjadi tanda. Sebuah
tanda dimana saat ia datang akan senantiasa diikuti oleh gerak langkah ratusan,
ribuan, atau bahkan jutaan orang pulang menuju rumah masing-masing. Gerak
langkah lelah dari setiap individu yang baru saja mencoba mewujudkan apa yang
menjadi keinginannya.
Suara-suara deru kendaraan. Asap-asap yang
keluar dari moncong knalpot dan suara bising dari klakson adalah bukti yang
tidak bisa dipungkiri. Bahwa jalanan penuh lubang ini masih sanggup untuk
menjadi saksi sekaligus perantara bagi mereka yang mewujudkan mimpi. Di bahu
jalan sebelah kiri sore ini aku melihat ada sekelompok lelaki yang menepi.
Mereka duduk di sebuah warung tenda kecil. Orang-orang di kota ini menyebut
tempat tersebut wedangan. Aku tidak mengerti mengapa mereka menamainya
demikian. Mungkin karena kesamaan penyajian atau kesamaan makanan yang
disajikan. Sehingga banyak orang sepakat untuk menamainya wedangan.
Saat duduk di wedangan ini terlihat beberapa
lelaki yang usianya beberapa tahun diatasku. Dari caranya berbicara aku menduga
bahwa lelaki itu telah berkeluarga. Jauh dari sini baragkali ada yang tengah
menanti kedatangannya. Kalau bukan anaknya pastilah sang istri. Tetapi pada
lelaki ini aku tidak melihat adanya keinginan untuk pulang ke rumahnya dan
menghapuskan kecemasan pada mereka yang menantinya. Kenapa dia tega
melakukannya? Benarkah dia tidak setia? Pertanyaan bodoh macam ini senantiasa
hadir. Saat aku melihat lelaki yang dengan santainya menghabiskan malam diluar
rumah dengan seragam masih membalut tubuhnya.
Untungnya pertanyaan bodoh macam ini
senantiasa bisa kujawab sendiri. Mungkin mereka lelah dan butuh istirahat
sebentar. Agar perjalanan pulangnya lebih fokus. Atau mungkin inilah cara
mereka melepas segala permasalahan yang didapatnya hari ini. Sehingga ketika
pulang nanti tidak ada urusan pekerjaan yang turut serta mengikutinya sampai
rumah.
Ketika para lelaki atau lebih tepatnya
disebut dengan nama suami ini berkumpul. Bisa dipastikan apa yang akan menjadi
pokok pembicaraan. Kalau bukan persoalan dapur pastilah permasalahan tempat
tidur. Kata orang dua masalah inilah yang mesti dihadapi oleh lelaki dewasa.
Seorang lelaki belum bisa dikatakan dewasa jika belum menghadapi dua masalah
ini. Dulu, aku sempat menduga bahwa hal ini hanyalah omong kosong belaka.
Tetapi saat mendengar langsung dari mulut orang yang pernah melaluinya. Barulah
aku percaya bahwa hal tersebut memang benar adanya.
“Belakangan, anda terlihat nampak lebih muda,
Pak. Beda dengan dulu, bagi dong rahasianya!” tanya seorang lelaki kepada
pedagang wedangan.
Belakangan aku tahu lelaki yang bertanya ini,
Joko namanya. Sedangkan penjual wedangan yang ditanya memiliki nama panggilan
Sapto. Kedua lelaki ini memang bukan sahabat karib. Hanya karena Joko sering
nongkrong di wedangan Sapto.
“Ah, apa iya Mas? Bisa saja kalau memuji,”
elak Sapto.
“Benar pak, dari cara bicara, roman wajah,
sampai dengan cara melayani pembeli, sampeyan
terlihat lebih trengginas jika
dibandingkan dengan beberapa bulan lalu. Rahasianya apa sih?”
“Masa sih mas? Saya nggak ngrasa ada yang berubah dengan diri saya.
Cuma belakangan ini saya merasa seikit lebih rileks dibandingkan dulu. Istri
saya sudah tidak banyak menuntut.”
“Oh.”
Percakapan keduanya terhenti sejenak. Sebab,
ada lelaki lain yang datang dan dengan segera memesan segelas kopi susu hangat
kepada Sapto.
“Wah, kalau urusan awet muda saya masih kalah
dengan bapak ini, Mas,” kata Sapto.
Joko segera menoleh.
“Bapak, ini usianya sudah lebih 15 tahun di atas
saya. Tetapi, lihatlah beliau malah nampak seperti adik saya,” lanjut Sapto.
Joko kembali menatap pria yang ada di seberangnya
dalam-dalam. Seolah ada rasa tidak percaya yang dirasakannya. Jika lelaki yang
duduk di seberangnya itu 15 tahun di atas Sapto, setidaknya usia lelaki itu
sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Namun, jika dilihat dari penampilannya,
rasanya kurang pantas apabila lelaki tersebut memiliki usia sebanyak itu.
“Kenapa, Mas?” tanya pria itu dengan hangat.
“Ah, nggak, Pak,” jawab Joko.
“Ndak
usah malu sama bapaknya, Mas. Orangnya enak kok” Sapto lalu menyambungnya, “Ini,
Pak, mas-nya pengin tahu rahasia awet muda.”
“Hehehe, siapa yang awet muda? Saya? Ah ndak juga. Benar Anda ingin tahu rahasia
awet muda saya?”
Joko mengangguk.
Lelaki yang menurut Sapto bernama Pak Murdi
itu lantas menjelaskan dengan terperinci rahasia awet muda yang dimilikinya.
“Begini, sebenarnya resep awet muda yang saya
miliki ini mudah saja. Tidak muluk-muluk dan tidak perlu perawatan khusus.
Tidak perlu pula mengkonsumsi makanan jenis tertentu. Hanya saja ada hal
pertama yang mesti dilakukan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah
menikahlah jika merasa sudah mampu dan memiliki calon. Kemudian sebisa mungkin
bahagiakan istri Anda dan ciptakan kehidupan rumah tangga yang harmonis. Jangan
sampai ada yang merasa tertekan, baik itu Anda maupun istri Anda. Buatlah
sebuah hubungan yang menyenangkan untuk dinikmati bersama,” jelasnya.
“Tetapi, bagaimana caranya, Pak? Bukankah
sudah menjadi kodratnya, apabila seorang istri selalu menekan suaminya?” tanya
Joko.
“Memang demikianlah seharusnya. Istri yang
baik memang begitu seharusnya. Tetapi yang perlu diingat, tekanan yang
diberikan oleh istri ini harus dilandasi oleh hal yang masuk akal. Maksudnya
begini, permintaan itu terlahir demi mencapai kebahagiaan semua anggota
keluarga. Dan bukan semata-mata untuk mencapai kebahagiaan istri saja.”
“Kalau soal itu saya juga mengerti, Pak. Tapi,
bisakah bapak menjelaskannya lebih sederhana lagi?”
“Biar saya sederhanakan. Di dalam hubungan
yang dinamakan keluarga, dimana di dalamnya terdiri dari seorang lelaki dan
perempuan yang terikat dalam sebuah hubungan bernama pernikahan. Mereka yang
berhubungan itu harus bisa memahami sekaligus mengerti di posisi mana mereka
berada. Seorang suami harus bisa menempatkan diri sebagai roda. Artinya lelaki lah
harus menjadi penggerak roda hubungan dalam sebuah keluarga. Dalam hal ini
seorang lelaki akan disebut sebagai suami. Sedangkan seorang wanita yang dalam
hal ini disebut dengan istri harus bisa memposisikan dirinya sebagai rem.
Keberadaan rem di sini juga tidak kalah penting. Ia berfungsi menjaga laju dari
roda penggerak kehidupan rumah tangganya, Nah, sekarang saya tanya. Jika Anda
telah menjadi suami, rem seperti apakah yang anda inginkan?”
Joko mengangkat bahu mengisyaratkan bahwa dia
tidak tahu tentang rem seperti apakah yang baik itu. Pak Murdi kembali
meneruskan penjelasannya.
“Begini, rem yang baik itu tidak boleh perlu
pakem dan tidak boleh ngeblong. Jika terlalu pakem akan membahayakan bagi
keberadaan roda itu sendiri. Sedangkan apabila terlalu ngeblong akan berbahaya
bagi seluruh penumpangnya. Roda dan rem harus berjalan beriringan agar semua
bisa selamat sampai tujuan.”
Mendengar percakapan mereka aku hanya terdiam
dan tidak menanggapi sepatah katapun. Ini memang sengaja aku lakukan. Bukan
karena aku antipati kepada permasalahan yang tengah mereka hadapi. Tetapi,
lebih mengarah kepada ketakutanku terhadap hal yang belum waktunya kuhadapi.
Setelah mengatakan tentang bagaimana caranya membuat kehidupan rumah tangga
yang harmonis tadi Pak Murdi melanjutkan ceritanya.
Ia mengatakan bahwa dirinya memiliki teman
yang usianya sekitar dua puluh tahun lebih muda darinya. Sebut saja namanya
Andri. Mungkin Andri termasuk orang yang kurang beruntung. Ini dikarenakan sang
istri terlalu banyak menekan dan juga mengekangnya. Apa yang dilakukan oleh
istri ini tentu berakibat kurang bagus bagi kesehatan Andri. Ketika usia
pernikahannya baru mencapai 20 tahun Andri sudah terkena stroke. Dan selang beberapa bulan menderita penyakit yang menyerang
syarafnya itu sampai membuat Andri meninggal. Apa yang membuat Andri meninggal
bukanlah penyakit strokenya melainkan
penyakit jantung. Selama Pak Murdi mengenal Andri ia sama sekali tidak tahu
bahwa temannya itu memiliki riwayat penyakit jantung. Ia menduga bahwa tekanan
dan pengekangan yang dilakukan oleh istri sahabatnya itulah yang membuat
penyakit jantung menghampiri rekannya. Dan sampai membuat nyawa rekannya melayang.
“Kalau normalnya kita-kita yang sebagai
lelaki ini memang seperti ditakdirkan mati lebih dulu jika dibandingkan istri
kita. Ini mungkin karena pola hidup kita yang tidak sehat. Lain halnya dengan
wanita. Jika tidak ada penyakit khusus, umumnya mereka memiliki rentang usia
yang lebih panjang dibanding kita. Untuk itulah penting bagi kita para lelaki
untuk mensiasati takdir kita.”
“Caranya, Pak?”
“Buatlah diri kita senang dan nyaman. Apapun
itu asal dapat membuat segala beban, penat, jenuh, dan rasa lelah yang ada bisa
hilang meski hanya sementara waktu, lakukanlah. Percaya saja jika kamu
melakukannya. Kamu akan menjadi awet muda dan tentunya memiliki waktu hidup
yang lebih panjang lagi. Lihatlah mas Sapto itu, ia telah membuktikannya dan
cobalah perhatikan perubahan yang ada pada dirinya. Benar, kan?”
Joko mengangguk-angguk. Aku terus mengamati
perbincangan mereka dan merekam apa saja yang mereka bicarakan. Sementara
bagian diriku yang lain tengah bertanya-tanya, siapa yang membawaku ke sini?
Biodata:
Zuly
Kristanto, tinggal di RT 02 RW 06 Ds.
Mirigambar Kec. Sumbergempol Kabupaten Tulungagung. Alamat email:
zulykristanto@gmail.com
