Perempuan muda yang duduk paling depan kanan panggung itu
tampak menangis. Sapu tangan yang diusapnya berulang-ulang tak mampu menahan
curah air matanya. Wajahnya memerah. Dia tidak sendiri. Ada banyak orang lagi
saat itu yang sesenggukan menangis. Bibir-bibir mereka bergerak-gerak ikut
melantun. Larut dalam kesahduan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun yang tengah
senandungkan Salawat Alfu Salam dan berlanjut Sidnan Nabi.
Saya yang menyaksikan pemandangan itu dari atas panggung ini
juga ikut terbawa keharuan yang sama. Sambil menikmati dan meniru lantunan
syair-syair pujian kepada Rasullullah itu, pikiran saya terbawa kepada suasana
pengajian Sekumpul yang dipimpin oleh almarhum Guru Zaini Ganie belasan tahun
silam. Saat itu, ribuan orang bermajelis dua kali seminggu, selain untuk
mendengarkan nasihat guru, juga bersama-sama bersalawat kepada baginda Rasul.
Atmosfer salawat guru Sekumpul itulah yang terasa saat acara
Banjarmasin Bersyukur dalam rangka Hari Jadi ke-490 Kota Banjarmasin digelar.
Cak Nun dengan warna suaranya yang khas dan indah mampu memusatkan pikiran dan
rasa penyaksi kepada satu titik : cinta Allah dan Rasulnya. Dan bukan hanya
dilakukan Cak Nun saat pentas di Banjarmasin, yang masyarakatnya memang punya
keterkaitan emosional dengan guru Sekumpul, tetapi juga di pengajian-pengajian
lain di banyak tempat.
Setiap bulan, ada 5 pengajian rutin digelar Cak Nun dan Kiai
Kanjeng. Pertama, pengajian Phadangmbulan di Jombang tiap tanggal 15 bulan
Hijriah atau saat purnama. Kedua, Mocopat Syafaat di Jogjakarta tiap 17 Masehi.
Ketiga, Kenduri Cinta di TIM Jakarta tiap Jumat minggu kedua. Keempat, Gambang
Syafaat tiap 25 Masehi. Dan kelima, Bambang Wetan di Surabaya, tiap 17 Hijriah.
Juga puluhan pengajian lainnya di berbagai daerah. Di tempat-tempat itu, salawat
nabi guru Sekumpul selalu dikumandangkan.
Itulah salah satu daya tarik pengajian yang digelar Cak Nun
sejak 90-an. Dia sangat pandai menggerakan hati jamaah untuk lebih mencintai
Allah dan Rasul-Nya melalui salawat. Dia juga mampu mengisi ruang pikir dan
hati dengan asupan ilmu dan hikmah, dari soal politik, ekonomi, dan agama.
Semua disampaikan dalam tuturan dan kemasan seni yang mudah dicerna, oleh orang
awam sekali pun. Tak heran jika pengajiannya punya banyak nama: tadabur atau
perenungan, sinau atau pencerahan, atau ngaji bareng. Dari pengajian ini, Cak
Nun punya pengikut yang militan : maiyah.
Maiyah bermakna kebersamaan. Nama ini dijadikan semacam
sebutan bagi pengikut pengajian Cak Nun, ke mana dan di mana pun diadakan. Ada
jutaan orang yang menyatu dalam simpul-simpul Maiyah di berbagai daerah. Dengan
swadaya, mereka ‘diperjalankan’ dari kota ke kota, dan pulau ke pulau, bahkan
menyeberang lautan, hanya untuk melingkar dalam pengajian Cak Nun. Saya
menemukan beberapa orang militan semacam ini di banua. Mereka menyunting
sedikit waktu untuk beredar dua sampai tiga tempat pengajian dalam sekali
perjalanan.
Sekali pun titik sentral melingkar para jamaah Maiyah ini
adalah Cak Nun, tetapi mereka tidak mengkultuskannya. Si Mbah, demikian biasa
mereka menyebut, hanyalah guru, yang membagi pengetahuannya akan berbagai hal
kepada murid-muridnya. Bagi mereka, bermaiyah bersama Cak Nun sama seperti
sebuah proses recharger mind and soul.
Ada semacam interaksi energi positif untuk terus berproses dalam meningkatkan
pemahaman pentingnya Allah dan agama dalam kehidupan.
Cak Nun sendiri tak mengistimewakan diri. Di setiap
pengajiannya, dia berusaha tetap sama berkedudukan dan tak berjarak dengan
jamaah. Misalnya, syarat tinggi panggung untuk pentasnya hanya sekitar 40-50
cm; jamaah langsung berhadapan dengannya tanpa dipisahkan oleh barisan pejabat
yang biasanya duduk paling depan; dan semua lesehan. Cak Nun juga selalu
membagi tugas bicara dan bersenandung dengan rekan di kiri kanannya dan membuka
ruang tanya-jawab. Suasana semacam ini jarang ditemukan dalam
pengajian-pengajian layaknya.
Cak Nun bukan sekadar sebuah fenomena melainkan juga
keniscayaan. Di tengah krisis kepemimpinan, krisis idola, krisis kepercayaan
akan tokoh spiritual dan motivator yang berkedok agama, kehadiran Cak Nun sejak
belasan tahun lalu telah membuktikan sebuah keajekan keteladanan. Dia tidak
bercokol di pusat kekuasaan, tetapi menyusur di tepi tepi kehidupan keseharian
bersama rakyat kebanyakan. Tak heran jika kehadiran Si Mbah ini selalu
dirindukan dan menyedot banyak jamaah untuk duduk bersama berjam-jam memahami
hakikat kehidupan. [ ]
