Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 15 Oktober 2016

CERPEN VIFI ANDRIANI NOER: MENCEKIK LEHER KYAI


Pagi masih menyisakan embun dan harum tanah basah. Mengingatkan pada gundukan tanah di areal pekuburan, yang ada pemakaman baru di dalamnya. Lokasi Sambilawang, salah satu pesantren di Cirebon memang tidak terlalu jauh dari kompleks pekuburan umum Desa Kemlaka. Kokok ayam mulai terdengar satu dua, seakan mengisyaratkan adanya malaikat yang lewat dan mengingatkan hamba-hamba Allah untuk bangun dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam.
Srak … srak … srak …
Seorang lelaki paruh baya berjalan pelan menuju halaman tengah pesantren. Halaman berbentuk segi empat itu diapit oleh empat bangunan berbeda. Satu sisi merupakan surau tempat para santri dan asatidz pesantren biasa sholat. Masyarakat sekitar pun banyak yang melaksanakan sholat berjama’ah di sana. Di seberang surau, terdapat bangunan memanjang yang terdiri dari dua lantai. Bangunan tersebut merupakan pondokan santri laki-laki.
Sementara dua bangunan lainnya yang juga saling berseberangan adalah kantor pemilik dan staff pesantren serta tempat wudhu yang disertai dengan kolam ikan berukuran sedang. Berbagai jenis ikan hidup di sana dengan memanfaatkan limbah air wudhu. Air bekas wudhu mengalir langsung ke dalam kolam. Oleh karena itu, ada larangan menggunakan sabun atau bahan kimia lainnya di tempat wudhu agar tidak mencemari lingkungan tempat hidup ikan. Rumah pemilik pesantren berada di belakang kantor staff.
Lelaki itu berjalan dari belakang kantor menuju sudut surau, dimana terdapat sebuah pilar pendek menyerupai pondasi setinggi pondasi semen yang digunakan untuk menancapkan tiang bendera di sekolah-sekolah. Ada sesuatu di salah satu tangannya, yang kemudian diletakkannya di sana.
 “Maaf Kyai, jika ada istisqo’ untuk meminta hujan, tidak adakah sholat atau do’a untuk sekadar menunda hujan? Karena menolak hujan rasanya tidak sopan untuk memintanya kepada Allah. Bukankah dalam tiap tetesnya diiringi oleh malaikat pembawa rezeki? Jika menolak hujan bukankah itu berarti menolak rezeki?” terdengar sebuah suara.
Lelaki yang dipanggil kyai itu terkejut. Seorang santri telah memergokinya tengah menancapkan sapu lidi terbalik, yang ujung-ujungnya ada cabe, bawang merah, dan bawang putih. Konon, ritual ini bisa menjadikan cuaca cerah sepanjang hari. Ritual yang biasa dilakukan orang zaman dahulu saat ada hajatan pernikahan atau khitanan. Jadi, selama acara tersebut berlangsung, tidak akan ada mendung atau hujan.
Sang kyai menoleh. Seorang anak lelaki telah berdiri di sampingnya. Kyai tersebut terdiam mendengar rentetan pertanyaan dari seorang anak yang baru kali ini dilihatnya.
Anak ini bukan santri di Sambilawang. Kyai tiba-tiba tersenyum, menyadarkan si anak akan satu hal.
“Oh iya, maaf saya belum mengucapkan salam. Assalaamu’alaikum Kyai Cecep, saya Asep, dari Ponorogo”
“Wa’alaikum salam warohmatullah wabarakatuh,” jawab Kyai Cecep sambil berpikir sebentar. “Dari Gontor?” tanyanya.
Asep agak terkejut. “Bagaimana Kyai bisa tahu?”
Kyai Cecep tak lagi tersenyum, tapi tertawa. Sampai seorang santri memanggil Asep.
“Asep!”
Aduh, jangan-jangan, si Asep bicara macam-macam dengan Kyai Cecep.
Santri itu setengah berlari menuju keduanya.
“Andi?” Asep dan Kyai Cecep memanggil bersamaan. Andi menoleh ke Asep, lalu ke Kyai Cecep.
“Betul, Kyai. Mohon maaf, Asep ini sepupu saya dari Gontor yang sedang sowan ke rumah nenek. Karena ingin mengetahui suasana Sambilawang, dia menginap beberapa hari di pondok. Semalam kyai tidak ada di tempat, jadi saya hanya meminta izin pada ustadz Maman,” jelas Andi pelan.
Kyai Cecep menganguk-angguk. Kepala pondok itu memang telah memberitahunya.
Baru kali ini aku tidak melihat beliau mengenakan sorban putih yang biasa dikenakan beliau saat menjadi imam shalat maupun saat mengisi kajian rutin harian dan bulanan, batin Andi.
Karena pagi masih gelap dan sepertiga malam masih panjang, Kyai Cecep mengajak mereka duduk di tangga surau. Warna marun keramiknya mengingatkan Asep pada rumahnya di Ponorogo.
“Kalian sudah qiyamul lail, bukan?”
Asep dan Andi mengangguk, “Sampun, kyai,” jawab mereka serempak.
“Saya ingin menceritakan satu kisah pada kalian. Sebuah cerita yang masih ada hubungannya dengan apa yang saya lakukan tadi”
Kyai Cecep menarik napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan. Seakan ada beban berat yang sebenarnya membuat ia enggan untuk menceritakan kisah itu.
Tapi saya tetap harus menceritakannya, batin Kyai Cecep.
“Dua dekade lalu, ada sebuah pesantren yang didirikan oleh seorang kyai tersohor. Ada kabar burung yang mengatakan bahwa beliau adalah keturunan dari Sunan Kalijaga. Beberapa perampok yang pernah menghadangnya dapat dengan mudah disadarkan untuk kembali ke jalan yang benar. Beliau mendirikan sebuah pesantren dan memiliki seorang putra. Karena istrinya meninggal saat melahirkan, beliau mencurahkan segala kasih sayangnya pada putranya sehingga si anak tidak merasa kekurangan kasih sayang.
“Sebut saja nama putranya itu Fulan. Fulan yang tumbuh dengan baik tersebut kemudian menjadi penerus sang kyai setelah ayahnya meninggal. Kebijakan yang dibuat di pesantren pun mengikuti sang ayah. Fulan menjadi kyai yang dihormati. Santrinya berasal dari berbagai pelosok negeri. Kyai itu sangat rajin, berwibawa, dan rajin beribadah. Hanya satu saja kekurangannya yang nampak. Ia tidak suka dibantah dan dinasihati ketika berbuat salah.
“Hingga satu hari, seorang santri melihatnya tengah memasang sapu lidi terbalik, yang ujung-ujungnya ditancapkan bawang merah dan bawang putih. Santri tersebut menanyakan hal yang sama seperti yang Asep tanyakan pada saya. Kyai Fulan tidak menjawab, tapi justru menanyakannya tentang hapalan yang apakah sudah diselesaikan atau belum oleh si santri. Karena si santri menjawab ‘belum’, Kyai Fulan memintanya untuk tidak berkeliaran sampai hapalannya selesai.
“Padahal sebenarnya, si anak telah selesai menghapal surat yang harus disetor hari itu. Kyai Fulan pun akhirnya mengetahuinya. Ia merasakan sesak di tenggorokan ketika mendengar obrolan salah seorang ustadz dengan pembimbing santri, tengah membicarakan salah seorang santri yang mampu dites melanjutkan hapalan qur’an surat apa saja. Besar kemungkinan jika anak itu telah hapal al-qur’an. Mereka memuji kerendahan hati si anak yang tidak mengatakan kalau ia hafidz 30 juz saat mendaftar di pondok.
“Apa yang membuat Kyai Fulan terkejut adalah karena santri yang dibicarakan adalah santri yang ia temui pagi tadi. Ia tidak suka dibantah. Sejak kejadian itu, Kyai Fulan jarang tersenyum bila melihat si santri. Kyai Fulan sering mencari-cari kesalahan si santri dan memberi hukuman menyiram halaman yang berdebu saat hujan tidak turun selama beberapa hari.
“Berdasarkan penuturan istrinya, Kyai Fulan kembali menujukkan kebiasaan semasa kecilnya yang ‘aneh’. Beberapa anak pun pernah memergoki Kyai Fulan menggigit-gigit tangannya di malam hari. Saat ada santri yang menyapa dan bertanya, Kyai Fulan memelototkan mata, sehingga si santri pun kabur. Usut punya usut, ternyata kebiasaan itu terjadi hanya jika keinginan sang kyai tidak terpenuhi. Kyai tersebut memang sangat dimanja oleh ayahnya.
“Sebulan setelah  itu, Kyai Fulan jatuh sakit. Saat di rumah sakit, ia bermimpi bertemu ayahnya. Ketika pagi tiba, ia meminta istrinya memanggil si santri. Ada kejadian mengejutkan di sana. Kyai Fulan menangis dan meminta maaf pada si santri. Ia bercerita, bahwa kebiasaannya menggigit tangan adalah untuk menghilangkan perasaan sakit di leher. Rasa sakit yang menyerupai cekikan tangan bila ada yang menegur atau menasihatinya. Kebiasaannya itu memang tidak sampai membuat cedera atau mati, tapi setidaknya ia bisa meluapkan kemarahannya dengan melakukan hal itu.
“Sejak saat itulah Kyai Fulan sadar. Ia benar-benar menjadi orang yang welcome terhadap masukan dan nasihat orang lain, baik itu dari orang tua, orang yang lebih muda, dan masyarakat lainnya. Apalagi setelah ada seorang misterius yang mengiriminya buku. Buku tersebut berjudul ‘Sudah Betulkah Ibadahmu?’. Isinya tentang bagaimana cara menjaga ibadah agar tidak membuat riya’, takabbur, dan sombong. Juga korelasi antara ibadah dengan perilaku sehari-hari. Buku itu menjadi tamparan halus bagi Kyai Fulan. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal dan menikahkan si santri dengan putrinya.
“Satu yang diingat si santri adalah wajah ramah sang mertua saat memasang sapu berbawang itu.” Kyai Cecep mengakhiri kisahnya.
“Karena itu ya, kyai meneruskan kebiasaan Kyai Fulan?”
Kyai Cecep mengangguk. “Tapi bukan untuk menolak hujan. Saya melakukannya jika saya merasa kangen dengan Kyai Fulan dan hanya beberapa menit. Usai tahajjud saya pasang, lalu melepaskannya kembali menjelang shubuh.
Pantas saja, aku tidak pernah melihat Kyai Cecep memasang sapu lidi itu siang hari, batin Andi.
“Bukankah do’a jauh lebih penting untuk menyampaikan rasa kangen kyai?”
Kyai Cecep mengangguk. “Terima kasih padamu, Sep. Sudah lama saya menantikan saat-saat seperti ini. Saat dimana ada yang menegur dan menghentikan kebiasaan ini dan memberi solusi untuk mengganti kebiasaan itu dengan yang lain.”
Sepoi angin pagi menyibak dengan lembut rimbun dedaunan pohon belimbing wuluh, pohon mangga, dan pepohonan lainnya yang tumbuh di sekitar Sambilawang, hingga sampai pada sapu lidi itu. Lembutnya masih angin mampu menjatuhkan sapu lidi tersebut. Asep dan Kyai Cecep saling pandang, lalu tersenyum.
“Maaf kyai, apakah perkataan saya di awal juga seperti apa yang dianggap Kyai Fulan?” tanya Asep.
“Maksudmu perkataan yang menyakitkan hati hingga terasa seperti mencekik leher?”
Asep mengangguk. Kemudian Kyai Cecep tertawa. Untuk ke sekian kalinya Andi melihat deretan gigi yang masih lengkap dan putih bersih itu. Suatu pemandangan yang jarang sekali bisa ia lihat di pesantren maupun kajian yang diisi beliau.
“Tentu saja tidak. Sejak kecil, saya selalu dididik untuk belajar dan siap menerima koreksi maupun kritikan dari orang lain. Jika saya berbuat salah, siapa saja wajib mengingatkan. Baik itu adik atau kakak saya,” papar beliau.
“Alhamdulillah, saya lega mendengarnya. Tapi saya tetap ingin meminta maaf, jika dalam perkataan saya selama kita berbincang tadi, ada kalimat yang membuat kyai tersinggung dan sakit hati,” ujar Asep lagi. Sepertinya ia masih tak enak hati.
Kyai Cecep membelai kepala Asep. “Wallahi, saya ridho dengan apa yang kamu katakan. Tidak ada satu kalimat pun yang membuat saya sakit hati. Justru saya merasa kagum, di usia yang saya perkirakan masih belasan tahun, kalimat yang kamu ucapkan sudah tertata dengan baik. Tak ada kesan menggurui atau bahkan membenci.”
Asep menunduk. Ada perasaan lega di hatinya.
“Apa kamu tahu, nduk? Nama kita sebenarnya sama. Nama lahir saya juga Asep. Tapi karena sering dipanggil Cecep, jadi nama ini ditambahkan dalam nama lahir saya.”
“Saya ada sesuatu untuk kyai. Jika tidak keberatan, mohon diterima.”
Kyai Cecep membaca sekilas. Menjadi Santri yang Menyenangkan.
“Kalau begitu, kami pamit kyai. Sudah hampir Shubuh. Kami belum mandi dan abdas,” ujar Andi.
“Oh iya, silakan, silakan. Biar tidak terlambat berjama’ah di sini.”
Kyai Cecep lama memandangi kepergian keduanya. Ada sesuatu yang luar biasa pada anak itu. Mungkinkah ini yang dirasakan Kyai Fulan dulu terhadap dirinya? Kyai Cecep membuka halaman demi halaman, hingga sampai pada daftar pustaka. Neon 15 watt yang menerangi teras surau mampu menjadi penerang untuk membaca salah satu referensi dalam pembuatan buku tersebut.
Sudah Betulkah Ibadahmu?
Kyai Cecep tersenyum mengangguk-angguk.
Sementara itu, Andi dan Asep bergegas menuju pondok. Jika terlambat lima menit lagi, maka mereka akan mendapat giliran terakhir mandi. Andi masih memikirkan obrolannya dengan Asep dan Kyai Cecep.
Entah kenapa, ada rasa lapang di hatiku. Hari ini aku mengerti satu hal. Dua Asep yang hari ini kutemui bukanlah santri dan kyai biasa. Banyak hal yang bisa kupelajari dari mereka.
“ANDI ASEP NUGRAHA! Bengong melulu dari tadi. Asep sudah ke luar tuh, giliran kamu. Atau aku saja dulu yang mandi?” tegur Didin, teman sekamar Andi.
“Oh iya, iya. Aku dulu, dong. Kan aku yang ngantri duluan.”
“Ya sudah, cepat ya. Ingat, jangan melamun lagi di kamar mandinya.”
“Siap, bos.” timpal Andi sambil senyum-senyum.
Ya, nama lengkapku Andi Asep Nugraha. Asep nama tengahku. Yah, kurasa aku bisa seperti mereka. Karena nama ‘Asep’ sejatinya bukan hanya do’a orang tua yang menginginkan anak laki-laki tampan secara lahir, tapi juga dalam hal akhlak. Jika Asep dan Kyai Cecep bisa, mungkin aku juga bisa seperti mereka. Menjadi manusia biasa yang istimewa. Namun kali ini, aku berharap tidak akan ada tragedi ‘mencekik leher kyai’ lagi. [ ]


Biodata :
Vifi Andriani Noer, lahir di Majalengka, 09 Oktober 1981. Alamat di Jalan Cihujan RT. 002 RW. 012 Blok Jum’at Desa Burujul Wetan Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka 45454. Email vifiandrianinoer81@gmail.com



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter