Pagi masih menyisakan
embun dan harum tanah basah. Mengingatkan pada gundukan tanah di areal
pekuburan, yang ada pemakaman baru di dalamnya. Lokasi Sambilawang, salah satu
pesantren di Cirebon memang tidak terlalu jauh dari kompleks pekuburan umum
Desa Kemlaka. Kokok ayam mulai terdengar satu dua, seakan mengisyaratkan adanya
malaikat yang lewat dan mengingatkan hamba-hamba Allah untuk bangun dan
bermunajat kepada Allah di sepertiga malam.
Srak
… srak … srak …
Seorang lelaki paruh
baya berjalan pelan menuju halaman tengah pesantren. Halaman berbentuk segi
empat itu diapit oleh empat bangunan berbeda. Satu sisi merupakan surau tempat
para santri dan asatidz pesantren
biasa sholat. Masyarakat sekitar pun banyak yang melaksanakan sholat berjama’ah
di sana. Di seberang surau, terdapat bangunan memanjang yang terdiri dari dua
lantai. Bangunan tersebut merupakan pondokan santri laki-laki.
Sementara dua bangunan
lainnya yang juga saling berseberangan adalah kantor pemilik dan staff
pesantren serta tempat wudhu yang disertai dengan kolam ikan berukuran sedang.
Berbagai jenis ikan hidup di sana dengan memanfaatkan limbah air wudhu. Air
bekas wudhu mengalir langsung ke dalam kolam. Oleh karena itu, ada larangan menggunakan
sabun atau bahan kimia lainnya di tempat wudhu agar tidak mencemari lingkungan tempat
hidup ikan. Rumah pemilik pesantren berada di belakang kantor staff.
Lelaki itu berjalan
dari belakang kantor menuju sudut surau, dimana terdapat sebuah pilar pendek menyerupai
pondasi setinggi pondasi semen yang digunakan untuk menancapkan tiang bendera
di sekolah-sekolah. Ada sesuatu di salah satu tangannya, yang kemudian
diletakkannya di sana.
“Maaf Kyai, jika ada istisqo’ untuk meminta hujan, tidak adakah sholat atau do’a untuk
sekadar menunda hujan? Karena menolak hujan rasanya tidak sopan untuk
memintanya kepada Allah. Bukankah dalam tiap tetesnya diiringi oleh malaikat
pembawa rezeki? Jika menolak hujan bukankah itu berarti menolak rezeki?”
terdengar sebuah suara.
Lelaki yang dipanggil kyai
itu terkejut. Seorang santri telah memergokinya tengah menancapkan sapu lidi
terbalik, yang ujung-ujungnya ada cabe, bawang merah, dan bawang putih. Konon,
ritual ini bisa menjadikan cuaca cerah sepanjang hari. Ritual yang biasa
dilakukan orang zaman dahulu saat ada hajatan pernikahan atau khitanan. Jadi,
selama acara tersebut berlangsung, tidak akan ada mendung atau hujan.
Sang kyai menoleh.
Seorang anak lelaki telah berdiri di sampingnya. Kyai tersebut terdiam
mendengar rentetan pertanyaan dari seorang anak yang baru kali ini dilihatnya.
Anak
ini bukan santri di Sambilawang. Kyai tiba-tiba
tersenyum, menyadarkan si anak akan satu hal.
“Oh iya, maaf saya
belum mengucapkan salam. Assalaamu’alaikum Kyai Cecep, saya Asep, dari Ponorogo”
“Wa’alaikum salam warohmatullah
wabarakatuh,” jawab Kyai Cecep sambil berpikir sebentar. “Dari Gontor?”
tanyanya.
Asep agak terkejut. “Bagaimana
Kyai bisa tahu?”
Kyai Cecep tak lagi
tersenyum, tapi tertawa. Sampai seorang santri memanggil Asep.
“Asep!”
Aduh,
jangan-jangan, si Asep bicara macam-macam dengan Kyai Cecep.
Santri itu setengah
berlari menuju keduanya.
“Andi?” Asep dan Kyai
Cecep memanggil bersamaan. Andi menoleh ke Asep, lalu ke Kyai Cecep.
“Betul, Kyai. Mohon maaf,
Asep ini sepupu saya dari Gontor yang sedang sowan ke rumah nenek. Karena ingin mengetahui suasana Sambilawang,
dia menginap beberapa hari di pondok. Semalam kyai tidak ada di tempat, jadi saya
hanya meminta izin pada ustadz Maman,” jelas Andi pelan.
Kyai Cecep
menganguk-angguk. Kepala pondok itu memang telah memberitahunya.
Baru
kali ini aku tidak melihat beliau mengenakan sorban putih yang biasa dikenakan
beliau saat menjadi imam shalat maupun saat mengisi kajian rutin harian dan
bulanan, batin Andi.
Karena pagi masih gelap
dan sepertiga malam masih panjang, Kyai Cecep mengajak mereka duduk di tangga
surau. Warna marun keramiknya mengingatkan Asep pada rumahnya di Ponorogo.
“Kalian sudah qiyamul lail, bukan?”
Asep dan Andi
mengangguk, “Sampun, kyai,” jawab
mereka serempak.
“Saya ingin
menceritakan satu kisah pada kalian. Sebuah cerita yang masih ada hubungannya
dengan apa yang saya lakukan tadi”
Kyai Cecep menarik
napas panjang sebelum menghembuskannya secara perlahan. Seakan ada beban berat
yang sebenarnya membuat ia enggan untuk menceritakan kisah itu.
Tapi
saya tetap harus menceritakannya, batin Kyai Cecep.
“Dua dekade lalu, ada
sebuah pesantren yang didirikan oleh seorang kyai tersohor. Ada kabar burung
yang mengatakan bahwa beliau adalah keturunan dari Sunan Kalijaga. Beberapa
perampok yang pernah menghadangnya dapat dengan mudah disadarkan untuk kembali
ke jalan yang benar. Beliau mendirikan sebuah pesantren dan memiliki seorang
putra. Karena istrinya meninggal saat melahirkan, beliau mencurahkan segala
kasih sayangnya pada putranya sehingga si anak tidak merasa kekurangan kasih
sayang.
“Sebut saja nama
putranya itu Fulan. Fulan yang tumbuh dengan baik tersebut kemudian menjadi
penerus sang kyai setelah ayahnya meninggal. Kebijakan yang dibuat di pesantren
pun mengikuti sang ayah. Fulan menjadi kyai yang dihormati. Santrinya berasal
dari berbagai pelosok negeri. Kyai itu sangat rajin, berwibawa, dan rajin
beribadah. Hanya satu saja kekurangannya yang nampak. Ia tidak suka dibantah
dan dinasihati ketika berbuat salah.
“Hingga satu hari,
seorang santri melihatnya tengah memasang sapu lidi terbalik, yang
ujung-ujungnya ditancapkan bawang merah dan bawang putih. Santri tersebut
menanyakan hal yang sama seperti yang Asep tanyakan pada saya. Kyai Fulan tidak
menjawab, tapi justru menanyakannya tentang hapalan yang apakah sudah
diselesaikan atau belum oleh si santri. Karena si santri menjawab ‘belum’, Kyai
Fulan memintanya untuk tidak berkeliaran sampai hapalannya selesai.
“Padahal sebenarnya, si
anak telah selesai menghapal surat yang harus disetor hari itu. Kyai Fulan pun
akhirnya mengetahuinya. Ia merasakan sesak di tenggorokan ketika mendengar
obrolan salah seorang ustadz dengan pembimbing santri, tengah membicarakan
salah seorang santri yang mampu dites melanjutkan hapalan qur’an surat apa
saja. Besar kemungkinan jika anak itu telah hapal al-qur’an. Mereka memuji
kerendahan hati si anak yang tidak mengatakan kalau ia hafidz 30 juz saat
mendaftar di pondok.
“Apa yang membuat Kyai
Fulan terkejut adalah karena santri yang dibicarakan adalah santri yang ia temui
pagi tadi. Ia tidak suka dibantah. Sejak kejadian itu, Kyai Fulan jarang
tersenyum bila melihat si santri. Kyai Fulan sering mencari-cari kesalahan si
santri dan memberi hukuman menyiram halaman yang berdebu saat hujan tidak turun
selama beberapa hari.
“Berdasarkan penuturan
istrinya, Kyai Fulan kembali menujukkan kebiasaan semasa kecilnya yang ‘aneh’.
Beberapa anak pun pernah memergoki Kyai Fulan menggigit-gigit tangannya di
malam hari. Saat ada santri yang menyapa dan bertanya, Kyai Fulan memelototkan
mata, sehingga si santri pun kabur. Usut punya usut, ternyata kebiasaan itu
terjadi hanya jika keinginan sang kyai tidak terpenuhi. Kyai tersebut memang
sangat dimanja oleh ayahnya.
“Sebulan setelah itu, Kyai Fulan jatuh sakit. Saat di rumah
sakit, ia bermimpi bertemu ayahnya. Ketika pagi tiba, ia meminta istrinya
memanggil si santri. Ada kejadian mengejutkan di sana. Kyai Fulan menangis dan
meminta maaf pada si santri. Ia bercerita, bahwa kebiasaannya menggigit tangan
adalah untuk menghilangkan perasaan sakit di leher. Rasa sakit yang menyerupai
cekikan tangan bila ada yang menegur atau menasihatinya. Kebiasaannya itu
memang tidak sampai membuat cedera atau mati, tapi setidaknya ia bisa meluapkan
kemarahannya dengan melakukan hal itu.
“Sejak saat itulah Kyai
Fulan sadar. Ia benar-benar menjadi orang yang welcome terhadap masukan dan nasihat orang lain, baik itu dari
orang tua, orang yang lebih muda, dan masyarakat lainnya. Apalagi setelah ada
seorang misterius yang mengiriminya buku. Buku tersebut berjudul ‘Sudah
Betulkah Ibadahmu?’. Isinya tentang bagaimana cara menjaga ibadah agar tidak
membuat riya’, takabbur, dan sombong.
Juga korelasi antara ibadah dengan perilaku sehari-hari. Buku itu menjadi
tamparan halus bagi Kyai Fulan. Beberapa tahun kemudian, ia meninggal dan
menikahkan si santri dengan putrinya.
“Satu yang diingat si santri
adalah wajah ramah sang mertua saat memasang sapu berbawang itu.” Kyai Cecep
mengakhiri kisahnya.
“Karena itu ya, kyai
meneruskan kebiasaan Kyai Fulan?”
Kyai Cecep mengangguk. “Tapi
bukan untuk menolak hujan. Saya melakukannya jika saya merasa kangen dengan Kyai
Fulan dan hanya beberapa menit. Usai tahajjud saya pasang, lalu melepaskannya
kembali menjelang shubuh.
Pantas
saja, aku tidak pernah melihat Kyai Cecep memasang sapu lidi itu siang hari,
batin Andi.
“Bukankah do’a jauh
lebih penting untuk menyampaikan rasa kangen kyai?”
Kyai Cecep mengangguk.
“Terima kasih padamu, Sep. Sudah lama saya menantikan saat-saat seperti ini.
Saat dimana ada yang menegur dan menghentikan kebiasaan ini dan memberi solusi
untuk mengganti kebiasaan itu dengan yang lain.”
Sepoi angin pagi menyibak
dengan lembut rimbun dedaunan pohon belimbing wuluh, pohon mangga, dan
pepohonan lainnya yang tumbuh di sekitar Sambilawang, hingga sampai pada sapu
lidi itu. Lembutnya masih angin mampu menjatuhkan sapu lidi tersebut. Asep dan
Kyai Cecep saling pandang, lalu tersenyum.
“Maaf kyai, apakah
perkataan saya di awal juga seperti apa yang dianggap Kyai Fulan?” tanya Asep.
“Maksudmu perkataan
yang menyakitkan hati hingga terasa seperti mencekik leher?”
Asep mengangguk.
Kemudian Kyai Cecep tertawa. Untuk ke sekian kalinya Andi melihat deretan gigi
yang masih lengkap dan putih bersih itu. Suatu pemandangan yang jarang sekali
bisa ia lihat di pesantren maupun kajian yang diisi beliau.
“Tentu saja tidak.
Sejak kecil, saya selalu dididik untuk belajar dan siap menerima koreksi maupun
kritikan dari orang lain. Jika saya berbuat salah, siapa saja wajib
mengingatkan. Baik itu adik atau kakak saya,” papar beliau.
“Alhamdulillah, saya
lega mendengarnya. Tapi saya tetap ingin meminta maaf, jika dalam perkataan
saya selama kita berbincang tadi, ada kalimat yang membuat kyai tersinggung dan
sakit hati,” ujar Asep lagi. Sepertinya ia masih tak enak hati.
Kyai Cecep membelai
kepala Asep. “Wallahi, saya ridho
dengan apa yang kamu katakan. Tidak ada satu kalimat pun yang membuat saya
sakit hati. Justru saya merasa kagum, di usia yang saya perkirakan masih
belasan tahun, kalimat yang kamu ucapkan sudah tertata dengan baik. Tak ada
kesan menggurui atau bahkan membenci.”
Asep menunduk. Ada perasaan
lega di hatinya.
“Apa kamu tahu, nduk? Nama kita sebenarnya sama. Nama
lahir saya juga Asep. Tapi karena sering dipanggil Cecep, jadi nama ini
ditambahkan dalam nama lahir saya.”
“Saya ada sesuatu untuk
kyai. Jika tidak keberatan, mohon diterima.”
Kyai Cecep membaca
sekilas. Menjadi Santri yang Menyenangkan.
“Kalau begitu, kami
pamit kyai. Sudah hampir Shubuh. Kami belum mandi dan abdas,” ujar Andi.
“Oh iya, silakan,
silakan. Biar tidak terlambat berjama’ah di sini.”
Kyai Cecep lama
memandangi kepergian keduanya. Ada sesuatu yang luar biasa pada anak itu. Mungkinkah
ini yang dirasakan Kyai Fulan dulu terhadap dirinya? Kyai Cecep membuka halaman
demi halaman, hingga sampai pada daftar pustaka. Neon 15 watt yang menerangi
teras surau mampu menjadi penerang untuk membaca salah satu referensi dalam
pembuatan buku tersebut.
Sudah
Betulkah Ibadahmu?
Kyai Cecep tersenyum
mengangguk-angguk.
Sementara itu, Andi dan
Asep bergegas menuju pondok. Jika terlambat lima menit lagi, maka mereka akan
mendapat giliran terakhir mandi. Andi masih memikirkan obrolannya dengan Asep
dan Kyai Cecep.
Entah
kenapa, ada rasa lapang di hatiku. Hari ini aku mengerti satu hal. Dua Asep
yang hari ini kutemui bukanlah santri dan kyai biasa. Banyak hal yang bisa
kupelajari dari mereka.
“ANDI ASEP NUGRAHA!
Bengong melulu dari tadi. Asep sudah ke luar tuh, giliran kamu. Atau aku saja dulu yang mandi?” tegur Didin,
teman sekamar Andi.
“Oh iya, iya. Aku dulu,
dong. Kan aku yang ngantri duluan.”
“Ya sudah, cepat ya. Ingat,
jangan melamun lagi di kamar mandinya.”
“Siap, bos.” timpal
Andi sambil senyum-senyum.
Ya,
nama lengkapku Andi Asep Nugraha. Asep nama tengahku. Yah, kurasa aku bisa
seperti mereka. Karena nama ‘Asep’ sejatinya bukan hanya do’a orang tua yang
menginginkan anak laki-laki tampan secara lahir, tapi juga dalam hal akhlak. Jika
Asep dan Kyai Cecep bisa, mungkin aku juga bisa seperti mereka. Menjadi manusia
biasa yang istimewa. Namun kali ini, aku berharap tidak akan ada tragedi ‘mencekik
leher kyai’ lagi. [ ]
Biodata
:
Vifi
Andriani Noer, lahir di Majalengka, 09 Oktober 1981. Alamat
di Jalan Cihujan RT. 002 RW. 012 Blok Jum’at Desa Burujul Wetan Kecamatan
Jatiwangi Kabupaten Majalengka 45454. Email vifiandrianinoer81@gmail.com
