Puisi I
SEGENGGAM DOA
Menggenggam
sebuah doa yang diutus dari kejauhan
Dan karena berdebu oleh dosa
Rel kencana tergenang banjir semalam
Dan karena berdebu oleh dosa
Rel kencana tergenang banjir semalam
Aku
menengadah ke langit
Berarak awan menerbangkan sebuah kerinduan
Yang menyeruput kehangatan pada segelas cappucino di pelataran maghrib
Berarak awan menerbangkan sebuah kerinduan
Yang menyeruput kehangatan pada segelas cappucino di pelataran maghrib
Masih
dengan segenggam doa dari setahun silam
Aku meraba pagar besi yang menyisiri sepaket impian kebahagiaan
Belum ingin kulupakan apalagi kulemparkan
Aku meraba pagar besi yang menyisiri sepaket impian kebahagiaan
Belum ingin kulupakan apalagi kulemparkan
Kini
jauh telah menggelayut
Kabut menyelimut
Dan senyum semakin hanyut
Kabut menyelimut
Dan senyum semakin hanyut
Di sini
Masih dan akan tetap seperti itu
Menggenggamnya erat
Sampai denyut nadi ini melemah
Masih dan akan tetap seperti itu
Menggenggamnya erat
Sampai denyut nadi ini melemah
Karena
aku...
Percaya
Percaya
Borneo, 22 Januari 2013
Puisi II
KEPADA MALAM
Kepada
malam
kuserahkan siangku yang gelisah
Kulabuhkan sekelumit simpul hati
Kuhancurkan baja keterasingan diri
Menelan damai di hiruk pikuk perjalanan
Yang telah bersatu lebur dalam nampan kehidupan
Menyuguhkan bermacam nutrisi dan pelepas dahaga
kuserahkan siangku yang gelisah
Kulabuhkan sekelumit simpul hati
Kuhancurkan baja keterasingan diri
Menelan damai di hiruk pikuk perjalanan
Yang telah bersatu lebur dalam nampan kehidupan
Menyuguhkan bermacam nutrisi dan pelepas dahaga
Kepada
malam
Kusaljukan bara dari segumpal darah di sudut jantung itu
Membius sadar yang belum tersadarkan
Kepadanya kunyanyikan alunan bahagia
Undang kerlingan gemintang
Dari kanvas hitam Sang Pemilik Cinta
Kusaljukan bara dari segumpal darah di sudut jantung itu
Membius sadar yang belum tersadarkan
Kepadanya kunyanyikan alunan bahagia
Undang kerlingan gemintang
Dari kanvas hitam Sang Pemilik Cinta
Indah
Tenang
Menghanyutkan
Dialah malamku
Sebuah ruang gerak untuk segala yang bernama hati
Sebuah muara tuk telusuri jejak matahari
Tenang
Menghanyutkan
Dialah malamku
Sebuah ruang gerak untuk segala yang bernama hati
Sebuah muara tuk telusuri jejak matahari
Batavia, 25 April 2010
Puisi III
TANYA
Apa kabar hati?
Masihkah basah dengan rindu yang mengunggun?
Ataukah gersang karena debu gurun?
Rimba berkecamuk di bibir jarak nan menuntun
Masihkah basah dengan rindu yang mengunggun?
Ataukah gersang karena debu gurun?
Rimba berkecamuk di bibir jarak nan menuntun
Apa riak mentari?
Adakah hangat dengan segelas es teh manis?
Ataukah gigil merangkum cemburu nan mengikis?
Gemuruh rindu hati kian meringis
Adakah hangat dengan segelas es teh manis?
Ataukah gigil merangkum cemburu nan mengikis?
Gemuruh rindu hati kian meringis
Di balik jendela kaca
Pada sebingkai bayang wajah, pernah terpatri sebuah 'azzam
Sepasang senyum erat menggenggam
Lantas kemudian,
Kelam menyulam membisikkan alam melafazkan kalam
Pada apa kusandarkan sekelumit benang ini?
Dengan apa kurekatkan niat ini?
Jika diammu lebih mengicaukan sesuatu yang ingin kau tutupi
Demi sedetik angin musim semi
Yang kau harap bisa berhembus di bumi berselimut salju abadi
Dan meski tanya meraja
Aku menjagamu dengan selaksa do'a
Pada sebingkai bayang wajah, pernah terpatri sebuah 'azzam
Sepasang senyum erat menggenggam
Lantas kemudian,
Kelam menyulam membisikkan alam melafazkan kalam
Pada apa kusandarkan sekelumit benang ini?
Dengan apa kurekatkan niat ini?
Jika diammu lebih mengicaukan sesuatu yang ingin kau tutupi
Demi sedetik angin musim semi
Yang kau harap bisa berhembus di bumi berselimut salju abadi
Dan meski tanya meraja
Aku menjagamu dengan selaksa do'a
Borneo, 23 April 2013
BIODATA:
Lailatun Nazifah. Kelahiran 1989, suka menulis puisi di saat tak terduga.
Sekarang aktif mengajar B. Arab di salah satu pondok pesantren di kab. Hulu
Sungai Tengah.
