Rabu pagi (12/10), di hari kedua kegiatan Hari Puisi
Indonesia (HPI) 2016, sambil mengenalkan lingkungan Taman Ismail Marzuki kepada
teman yang baru pertama ke sana, saya bertemu lagi dengan penyair sepuh dari
Banda Aceh, LK Ara, setelah pertemuan sehari sebelumnya. Saat itu, beliau
sedang menikmati segelas teh di salah satu warung yang memenuhi sisi jalan
masuk TIM. Walau tampak terlihat lelah, senyum cerah dan suara lembut beliau
tetap menyapa saya.
Kepada penyair kelahiran 12 November 1937 saya
bertanya kabar beliau dan ingin tahu tidur di mana sepanjang malam tadi. LK Ara
menjawab dengan kalimat, "bolehkah saya tidak menjawab?". Namun,
akhirnya beliau memberitahu, "Saya tidur di warung ini. Itu masih ada
bekas tempat saya tidur, tiga kursi bersusun dempet!". Saya pun kaget dan
lanjut bertanya, "Mandi di mana?". "Numpang mandi di warung ini
juga!" katanya sambil senyum kecut.
Saya terenyuh mendengar jawaban LK Ara, penyair yang
cukup dihormati di jagad kesastraan Indonesia itu ternyata tidur di warung
hanya agar bisa tetap menghadiri acara bergengsi HPI yang dikelola oleh sesama
penyair juga. Saya jadi teringat akan penyair muda Makasar, Andi Rewo Batari
Wanti, peserta HPI 2015 tahun lalu, yang tidur di atas panggung selama dua
malam (baca kembali esai saya “Rewo dan Nasib Sastrawan”, Banjarmasin Post,
Minggu, 13/9/2015).
Peserta HPI yang datang dari seluruh Indonesia memang
tidak ditanggung akomodasi, apalagi transportasi, oleh panitia, Yayasan Hari
Puisi dan Indopos. Hal ini sudah dimaklumi sejak HPI pertama, 2013 sampai tahun
ini. Justru ini yang menjadikan perhelatan setahun sekali para penyair
Indonesia luar biasa. Betapa magnet HPI dan keinginan bersilaturahmi sesama
penyair dan budayawan menarik minat para penyair walau harus rogoh kocek
sendiri atau usahakan bantuan biaya transportasi dan penginapan.
Namun demikian, para penyair seperti merasa mendapat
panggung bersama di HPI. “Panggung Apresiasi HPI” yang dilaksanakan di halaman
parkir TIM, misalnya, memberikan kesempatan bagi ratusan deklamator untuk baca
puisi dan bermusikalisasi. Begitu juga acara “Parade Puisi” di dalam gedung,
menjadi tempat para deklamator terpilih bisa baca puisi bersama pejabat dan
pengusaha terpilih. Belum lagi “Anugerah HPI” yang memilih buku puisi terbaik
yang disertakan para penyair dengan hadiah menggiurkan. Pokoknya, HPI
benar-benar memanusiakan penyair Indonesia.
Tentu penyair Indonesia perlu berterimakasih kepada
tokoh Rida K. Liamsi, Agus R. Sarjono, Asrizal Nur, Maman S. Mahayana, Ahmadun
Yosie Herfanda, Jamal D. Rahman, dan Kazzaini H.S. sebagai penggagas HPI.
Begitu juga kepada para deklarator, salah satunya Micky Hidayat dari Banua,
saat di Pekanbaru, 23 November 2012 menetapkan tanggal lahir Chairil Anwar, 26
Juli sebagai hari puisi. Berbanggalah tersebab hanya Puisi yang punya hari
untuk diperingati di Indonesia. Sementara cabang sastra lain tidak punya hari.
Jika juga ada, hari untuk tingkat dunia, seperti Tari dan Teater.
Tidak gampang menyelenggarakan kegiatan akbar semacam
HPI. Wajar jika ada catatan tercecer, seperti acara baca puisi. Ada kesan
dikotomi antara penyair yang baca puisi di halaman parkir dengan di gedung.
Diketahui yang baca puisi di gedung adalah penyair ‘pilihan’, a.l. para
deklarator serta pejabat dan pengusaha yang dimintai kontribusi; sementara yang
baca di halaman boleh siapa saja. Jika ingin memanusiakan, lebih elok jika
semuanya baca di gedung. Bedakan saja waktu bacanya dengan mereka yang terpilih
dan bayar. Soal ongkos sewa gedung, itulah tantangan buat panitia.
Apa yang terjadi dengan penyair sekelas LK Ara tentang
tempat akomodasinya yang bisa dianggap tak manusiawi juga perlu menjadi
pelajaran. Tak masalah soal tak disediakannya akomodasi oleh panitia, tetapi
paling tidak panitia mengetahui. Itulah perlunya registrasi terstruktur setiap peserta
yang datang, dari data pribadi, tempat menginap, jadwal pulang, dsb., agar
panitia bisa mengantisipasi dan memberikan saran solusi. Ini wajar dalam sebuah
perhelatan nasional agar tak ada lagi peserta yang menggelandang.
Ke depan patutlah merenungi kutipan puisi dari LK Ara
yang ditulisnya saat tidur di warung itu : … / Dimana tidur semalam / Di sebuah
cafe kenalan / Kursi disisikan kasur digelar / Di situlah tubuh direbahkan /
Ada seniman wanita ketika ditanya / Tak jelas jawabnya / Di emperan gedung
Graha Bhakti / Atau di Teater Kecil / Pokoknya saya tidur dan pulas, katanya /
Seseorang lelaki berkaos agak kumal / Angkat bicara / Para penyair kan datang
dari seluruh Indonesia / Acara ini kan setahun sekali / Memperingati hari puisi
/ Sepertinya panitia kurang peduli / … [ ]
