Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 29 Oktober 2016

CERPEN ANGGI PUTRI: TAK PERNAH MEMILIKI


Hangat mencekat di depan dada. Ruap asap sudah ada di atap-atap gelap. Sundari menatap tungku perapian yang belum benar padam. Barangkali ia sedang memikirkan hutang yang tak kunjung surut sejak kematian suaminya setahun silam. Matanya sembab dengan lelehan air mata yang selalu mengguratkan bekas, seolah lintasan kanal yang terpeta permanen pada guratan-guratan keriput pipinya. Sore ini ia sengaja hanya menanak nasi di tungku perapian yang wujudnya sudah tak karuan, penuh debu kotor dan warnanya pun menghitam menandakan umur tungku tersebut lebih tua dari usianya.
“Lupakan, lupakan, Mak,” ucap Wanti anak semata wayangnya.
“Emak bukan mengungkit-ungkit harta gono-gini yang memang haknya ada di Emak. Bukan pula berebut harta yang kepemilikannya masih ada di tangan saudara-saudara Bapakmu,” ungkap Sundari sembari memajukan kayu di tungku agar apinya tidak cepat padam.
“Ya, aku tahu, Mak. Salah Emak sendiri sih, tidak meminta hak Emak setelah Bapak meninggal. Sekarang, lihat! Hutang kita tercecer dimana-mana dan belum satu pun hutang yang terbayar lunas.”
Sundari menghirup napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ingatannya kembali pada pusara yang masih basah, pusara tempat ia mengadu suka dan duka. Di sanalah ia bisa bercerita tentang kehidupannya sekarang, tentang air mata yang sengaja ditahannya dan segala pesakitan hanya menjadi penyakit dalam benaknya.
Ketika itu hari Rabu pon, ia baru saja pulang dari pasar. Pekerjaannya hanya berdagang baju di pasar dengan bedak yang tak begitu besar. Sundari mampu menghidupi Wanti dan menyekolahkannya hingga jenjang SMA, meskipun Wanti adalah anak adiknya yang diurusnya sejak orok. Ia sudah menganggap Wanti sebagai anak kandungnya, meski rahimnya tak bisa memproduksi janin.
Belum juga ia membereskan bedaknya, seorang tetangganya yang bernama Marni lari tergopoh-gopoh menuju tempat Sundari berdagang. Napas Marni tersengal-sengal. Sundari pun heran dengan sikap yang tak biasa dilakukan oleh Marni. Muka Marni ketika itu nampak pucat dan air mata sudah menganak sungai di pipinya.
“Tunggu, bicaralah pelan-pelan, Ni,” ucap Sundari di depan Marni.
“Aku sebenarnya tak kuasa mengungkapkan hal ini padamu, Sun.”
“Sebenarnya ada apa? Coba kamu bicara pelan-pelan. Atur napasmu agar kau bisa bicara dengan jelas,” tambah Sundari. Ada perasaan panik dalam dirinya tetapi secara tidak langsung sengaja dikendalikannya agar tidak meledak seketika itu juga.
“Suamimu … Mas Marmo, Sun. Mas Marmo telah meninggal, Sun,” ucap Marni sembari memeluk Sundari.
Sundari teramat kaget dengan adanya berita tersebut. Padahal belum lama suaminya berniat untuk mengolah sawah warisan. Memang Marmo adalah kuli bangunan yang pekerjaannya sembilan puluh persen mengandalkan otot, sedangkan otaknya tumpul seperti pisau yang berkarat dan tak pernah diasah.
Air mata Sundari meleleh seketika itu juga. Lantas ia meninggalkan bedak yang masih berantakan dan berlari ke rumahnya. Di sana sudah seperti kerumunan semut yang berebut makanan, tetapi kali ini yang dilihatnya adalah kerumunan orang yang berkumpul di depan rumahnya. Tepat di ruang tamunya sudah tergeletak Marmo ditutupi selembar jarik berwarna cokelat tua.
“Tabahkan hatimu, Sun,” ucap Retno, tetangganya yang ikut berduka cita.
“Mas… kenapa kau tinggalkan aku dengan cara mengenaskan seperti ini?” keluh Sundari dengan sisa-sisa air matanya.
Tak beberapa lama Wanti pulang dari sekolah dan melihat mayat bapaknya terkapar di rentangan tikar dengan ditutupi jarik. Hati anak perempuan itu bergetar hebat. Wanti berlari ke arah emaknya dan menangis tersedu-sedu.
“Bapak kenapa, Mak?” tanya Wanti seraya sesegukan.
“Bapakmu jatuh ketika menggarap proyek pabrik besi yang ada di seberang jalan raya, Ti. Mungkin mulai hari ini kita hanya hidup berdua,” tambah Sundari sembari terus memeluk anaknya.
Kejadian itu terus beterbangan dalam kepala wanita empat puluh tahun itu. Sejak suaminya pergi keluarganya selalu mempermasalahkan harta yang ditinggalkan suaminya. Padahal sang suami hanya meninggalkan lima hektar sawah di belakang rumah.
Untung saja Wanti adalah anak yang rajin, hari-harinya selalu diisi dengan belajar dan membantu Sundari untuk menggoreng gorengan. Kini kehidupan Sundari hanya diisi dengan berdagang, entah berdagang apapun. Kalau musim hujan ia berjualan gorengan; pisang goreng, ubi goreng, onde-onde, godoh tape, hingga klenyem. Bagi Sundari yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, berdagang adalah cara paling efektif untuk menyambung hidup.
“Mak, kenapa Emak tidak meminta uang pada Budhe Lastri?” tanya Wanti sembari membolak-balikkan gorengan yang sedang digorengnya. Budhe Lastri adalah ibu kandung Wanti. Tetapi semenjak ia diurus oleh Sundari tak pernah sekalipun ia memanggil dengan sebutan ‘ibu’.
“Tidak perlu, Emak masih bisa menghidupimu, Ti. Juga menyekolahkanmu. Meski Lastri adalah ibu sebenarnya bagimu, tak perlu ia menuangkan uang-uangnya pada Emak. Kau sudah menjadi anak Emak, darah daging Emak,” bantah Sundari sembari memukul-mukul dadanya. Hati Sundari merintih, barangkali ia tak rela jika nama Lastri masih disebut ibu asli dari Wanti. Jika hal itu terjadi rasanya ia di dunia ini hanyalah sebatang kara.
Sundari terus meniup tungku dengan bambu yang sengaja dilubangi bagian ujungnya. Api tungku sudah hampir padam karena persediaan kayu yang mereka miliki menipis. Terkadang Kang Mamat tetangga depan rumahlah yang memberi sabut kelapa sekadar untuk memasak dan merebus air.
“Iya, tapi hidup kita sudah seperti balon kembang-kempis. Terkadang ada, dan sering tidak ada. Walah Mak, kalau begini terus adanya mau diapakan masa depan Wanti?” tanya Wanti.
“Masa depan yang seperti apa yang kamu inginkan, Nduk?”
“Ya, setidaknya jadi PNS Mak, punya motor layak yang bisa dikendarai keliling desa. Atau menjadi ledek seperti Mbak Rani, punya banyak uang.”
“Walah Nduk, Jangan! Sekali lagi jangan menjadi ledek. Emak ini membesarkanmu dengan tata trapsila, sopan santun sangat Emak tekankan buatmu. Ledek di mata masyarakat itu dipandang jelek, tak patut dijadikan sebagai profesi.”
“Tapi menjadi ledek itu seperti membebaskan diri dari keguncangan dunia, Mak. Mbak Rani saja bisa kaya, punya gelang emas dan bisa makan di restoran tiap malam minggu. Aku ingin seperti dia, Mak.”
“Jika keinginanmu untuk jadi PNS, Emak sangat mendukung. Nah, kalau ledek wis Nduk jangan diteruskan. Emak nggak rela jika punya anak seorang ledek. Tiap malam harus menari geol sana geol sini, berdandan menor dan setiap saat melayani laki-laki sedesa sendiri. Lah dalah… ngeri sekali, Nduk.”
Sundari meniriskan gorengan kemudian memasukkannya pada rantang besar yang biasa dipakainya berjualan. Orang-orang sekitar menyebutnya bakul tenong. Semacam rantang besar yang digunakan berjualan kue basah dan gorengan.
“Ya sudahlah, Mak. Mulai besok Wanti ikut Budhe Lastri saja!”
“Lho, jangan to Nduk. Lantas nanti Emak tinggal sama siapa?”
“Aku sudah lelah hidup seperti ini, Mak. Emak tahu sendiri, kan? Kehidupan Budhe Lastri tampak berada. Bahkan mungkin Budhe bisa menyekolahkanku hingga ke Perguruan Tinggi, aku bisa jadi PNS, Mak.”
Keesokan harinya Wanti membereskan semua pakaiannya dan berniat tinggal bersama Budhe Lastri, ibu kandungnya. Sundari hanya bisa menangis menitikkan air mata yang ke sekian kalinya. Seakan memang muara air mata yang dimilikinya tak bisa surut hingga akhir mautnya.
“Kita tak pernah memiliki, tetapi selalu merasa kehilangan. Duh, Gusti, anakku bukan anakku, tetapi anak-Mu.” [ ]



BIODATA
Anggi Putri, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Pencinta sajak kelahiran Jombang, 9 Juli 1995. Penggagas komunitas menulis RAJ (Rumpun Aksara Jombang). Tulisannya ada di ratusan antologi, enam buku solo, dan beberapa dimuat media, seperti Radar Surabaya, Tribun Jateng, SKH Mata Banua, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tetas Kata, dsb.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter