Hangat
mencekat di depan dada. Ruap asap sudah ada di atap-atap gelap. Sundari menatap
tungku perapian yang belum benar padam. Barangkali ia sedang memikirkan hutang
yang tak kunjung surut sejak kematian suaminya setahun silam. Matanya sembab
dengan lelehan air mata yang selalu mengguratkan bekas, seolah lintasan kanal
yang terpeta permanen pada guratan-guratan keriput pipinya. Sore ini ia sengaja
hanya menanak nasi di tungku perapian yang wujudnya sudah tak karuan, penuh
debu kotor dan warnanya pun menghitam menandakan umur tungku tersebut lebih tua
dari usianya.
“Lupakan,
lupakan, Mak,” ucap Wanti anak semata wayangnya.
“Emak
bukan mengungkit-ungkit harta gono-gini yang memang haknya ada di Emak. Bukan
pula berebut harta yang kepemilikannya masih ada di tangan saudara-saudara
Bapakmu,” ungkap Sundari sembari memajukan kayu di tungku agar apinya tidak
cepat padam.
“Ya,
aku tahu, Mak. Salah Emak sendiri sih, tidak meminta hak Emak setelah Bapak
meninggal. Sekarang, lihat! Hutang kita tercecer dimana-mana dan belum satu pun
hutang yang terbayar lunas.”
Sundari
menghirup napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Ingatannya kembali
pada pusara yang masih basah, pusara tempat ia mengadu suka dan duka. Di
sanalah ia bisa bercerita tentang kehidupannya sekarang, tentang air mata yang
sengaja ditahannya dan segala pesakitan hanya menjadi penyakit dalam benaknya.
Ketika
itu hari Rabu pon, ia baru saja pulang dari pasar. Pekerjaannya hanya berdagang
baju di pasar dengan bedak yang tak begitu besar. Sundari mampu menghidupi
Wanti dan menyekolahkannya hingga jenjang SMA, meskipun Wanti adalah anak
adiknya yang diurusnya sejak orok. Ia sudah menganggap Wanti sebagai anak
kandungnya, meski rahimnya tak bisa memproduksi janin.
Belum
juga ia membereskan bedaknya, seorang tetangganya yang bernama Marni lari
tergopoh-gopoh menuju tempat Sundari berdagang. Napas Marni tersengal-sengal.
Sundari pun heran dengan sikap yang tak biasa dilakukan oleh Marni. Muka Marni
ketika itu nampak pucat dan air mata sudah menganak sungai di pipinya.
“Tunggu,
bicaralah pelan-pelan, Ni,” ucap Sundari di depan Marni.
“Aku
sebenarnya tak kuasa mengungkapkan hal ini padamu, Sun.”
“Sebenarnya
ada apa? Coba kamu bicara pelan-pelan. Atur napasmu agar kau bisa bicara dengan
jelas,” tambah Sundari. Ada perasaan panik dalam dirinya tetapi secara tidak
langsung sengaja dikendalikannya agar tidak meledak seketika itu juga.
“Suamimu
… Mas Marmo, Sun. Mas Marmo telah meninggal, Sun,” ucap Marni sembari memeluk
Sundari.
Sundari
teramat kaget dengan adanya berita tersebut. Padahal belum lama suaminya
berniat untuk mengolah sawah warisan. Memang Marmo adalah kuli bangunan yang
pekerjaannya sembilan puluh persen mengandalkan otot, sedangkan otaknya tumpul
seperti pisau yang berkarat dan tak pernah diasah.
Air
mata Sundari meleleh seketika itu juga. Lantas ia meninggalkan bedak yang masih
berantakan dan berlari ke rumahnya. Di sana sudah seperti kerumunan semut yang
berebut makanan, tetapi kali ini yang dilihatnya adalah kerumunan orang yang
berkumpul di depan rumahnya. Tepat di ruang tamunya sudah tergeletak Marmo
ditutupi selembar jarik berwarna cokelat tua.
“Tabahkan
hatimu, Sun,” ucap Retno, tetangganya yang ikut berduka cita.
“Mas…
kenapa kau tinggalkan aku dengan cara mengenaskan seperti ini?” keluh Sundari
dengan sisa-sisa air matanya.
Tak
beberapa lama Wanti pulang dari sekolah dan melihat mayat bapaknya terkapar di
rentangan tikar dengan ditutupi jarik. Hati anak perempuan itu bergetar hebat.
Wanti berlari ke arah emaknya dan menangis tersedu-sedu.
“Bapak
kenapa, Mak?” tanya Wanti seraya sesegukan.
“Bapakmu
jatuh ketika menggarap proyek pabrik besi yang ada di seberang jalan raya, Ti.
Mungkin mulai hari ini kita hanya hidup berdua,” tambah Sundari sembari terus
memeluk anaknya.
Kejadian
itu terus beterbangan dalam kepala wanita empat puluh tahun itu. Sejak suaminya
pergi keluarganya selalu mempermasalahkan harta yang ditinggalkan suaminya.
Padahal sang suami hanya meninggalkan lima hektar sawah di belakang rumah.
Untung
saja Wanti adalah anak yang rajin, hari-harinya selalu diisi dengan belajar dan
membantu Sundari untuk menggoreng gorengan. Kini kehidupan Sundari hanya diisi
dengan berdagang, entah berdagang apapun. Kalau musim hujan ia berjualan gorengan;
pisang goreng, ubi goreng, onde-onde, godoh tape, hingga klenyem. Bagi Sundari
yang tidak mengenyam pendidikan tinggi, berdagang adalah cara paling efektif
untuk menyambung hidup.
“Mak,
kenapa Emak tidak meminta uang pada Budhe Lastri?” tanya Wanti sembari
membolak-balikkan gorengan yang sedang digorengnya. Budhe Lastri adalah ibu
kandung Wanti. Tetapi semenjak ia diurus oleh Sundari tak pernah sekalipun ia
memanggil dengan sebutan ‘ibu’.
“Tidak
perlu, Emak masih bisa menghidupimu, Ti. Juga menyekolahkanmu. Meski Lastri
adalah ibu sebenarnya bagimu, tak perlu ia menuangkan uang-uangnya pada Emak.
Kau sudah menjadi anak Emak, darah daging Emak,” bantah Sundari sembari
memukul-mukul dadanya. Hati Sundari merintih, barangkali ia tak rela jika nama Lastri
masih disebut ibu asli dari Wanti. Jika hal itu terjadi rasanya ia di dunia ini
hanyalah sebatang kara.
Sundari
terus meniup tungku dengan bambu yang sengaja dilubangi bagian ujungnya. Api
tungku sudah hampir padam karena persediaan kayu yang mereka miliki menipis.
Terkadang Kang Mamat tetangga depan rumahlah yang memberi sabut kelapa sekadar
untuk memasak dan merebus air.
“Iya,
tapi hidup kita sudah seperti balon kembang-kempis. Terkadang ada, dan sering
tidak ada. Walah Mak, kalau begini terus adanya mau diapakan masa depan Wanti?”
tanya Wanti.
“Masa
depan yang seperti apa yang kamu inginkan, Nduk?”
“Ya,
setidaknya jadi PNS Mak, punya motor layak yang bisa dikendarai keliling desa.
Atau menjadi ledek seperti Mbak Rani, punya banyak uang.”
“Walah
Nduk, Jangan! Sekali lagi jangan menjadi ledek. Emak ini membesarkanmu dengan
tata trapsila, sopan santun sangat Emak tekankan buatmu. Ledek di mata
masyarakat itu dipandang jelek, tak patut dijadikan sebagai profesi.”
“Tapi
menjadi ledek itu seperti membebaskan diri dari keguncangan dunia, Mak. Mbak
Rani saja bisa kaya, punya gelang emas dan bisa makan di restoran tiap malam
minggu. Aku ingin seperti dia, Mak.”
“Jika
keinginanmu untuk jadi PNS, Emak sangat mendukung. Nah, kalau ledek wis Nduk
jangan diteruskan. Emak nggak rela jika punya anak seorang ledek. Tiap malam
harus menari geol sana geol sini, berdandan menor dan setiap saat melayani
laki-laki sedesa sendiri. Lah dalah… ngeri sekali, Nduk.”
Sundari
meniriskan gorengan kemudian memasukkannya pada rantang besar yang biasa
dipakainya berjualan. Orang-orang sekitar menyebutnya bakul tenong. Semacam
rantang besar yang digunakan berjualan kue basah dan gorengan.
“Ya
sudahlah, Mak. Mulai besok Wanti ikut Budhe Lastri saja!”
“Lho,
jangan to Nduk. Lantas nanti Emak tinggal sama siapa?”
“Aku
sudah lelah hidup seperti ini, Mak. Emak tahu sendiri, kan? Kehidupan Budhe
Lastri tampak berada. Bahkan mungkin Budhe bisa menyekolahkanku hingga ke
Perguruan Tinggi, aku bisa jadi PNS, Mak.”
Keesokan
harinya Wanti membereskan semua pakaiannya dan berniat tinggal bersama Budhe
Lastri, ibu kandungnya. Sundari hanya bisa menangis menitikkan air mata yang ke
sekian kalinya. Seakan memang muara air mata yang dimilikinya tak bisa surut
hingga akhir mautnya.
“Kita
tak pernah memiliki, tetapi selalu merasa kehilangan. Duh, Gusti, anakku bukan
anakku, tetapi anak-Mu.” [ ]
BIODATA
Anggi Putri,
mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma
Surabaya. Pencinta sajak kelahiran Jombang, 9 Juli 1995. Penggagas komunitas
menulis RAJ (Rumpun Aksara Jombang). Tulisannya ada di ratusan antologi, enam
buku solo, dan beberapa dimuat media, seperti Radar Surabaya, Tribun Jateng,
SKH Mata Banua, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tetas Kata, dsb.

