Puisi I
MATI DALAM SEPI
Menjelajahi lekuk di dadamu
seperti mengendap di taman
beraroma dupa
dan kapas- kapas
berterbangan
melekat pada tubuh- tubuh
telanjang
menjelma unggas- unggas
yang hinggap di ranting malam
ladang- ladang sepi
di dadamu tak ada lagi
petani menanam padi
irigasi dari puting susumu
telah mengering
lelaki mati kehausan
satu persatu sayapmu
terlepas
aku kehilangan denyar
jantungmu yang biadab
daun- daun berguguran
tepat di sela- sela jemari
kakimu yang kian keriput
sisa dari ritual perjalanan
waktu yang panjang
hingga berakhir di ujung
penuaan
tidurlah engkau duhai,
sayang, dalam kebekuan
yang panjang
Pangkalan Berandan,
September 2016
Puisi II
DI AMBANG
JALAN YANG BERBEDA
Dan jalan yang sering kita lalui dahulu, masih terasa basah
aroma hujannya mengalahkan wewangian bunga- bunga sengon
yang selalu saja gugur, lalu menutupinya, meski pada awal dan
akhirnya
ia lengser ke selokan bersama deras airnya dengan gemuruh
seperti gemuruh yang terjadi pada jantung kita berdua
embun di sudut dedaun juga serasa enggan labuh pagi ini
pagi yang selalu meninggalkan jejak kenangan tentang kita
tentang bunga- bunga sengon yang luruh di ujung musim semi
dan kita tak lagi segera meraupnya
seperti yang pernah kita lakukan bersama
dan engkau merasa seperti serpihan mentari pada musim dingin
yang selalu saja tiba setiap kali kau menyuguhkanku
segelas anggur dengan aroma nirwana
jalan- jalan yang pernah kita lewati dahulu, masih basah
dan beraroma kenangan
padahal kita telah berada di ambang jalan yang berbeda
Pangkalan Berandan, 2016
Puisi III
LAUT TAK
LAGI MENYEMPURNAKAN MIMPI
Burung- burung camar telah mengeja huruf- huruf dalam rahim hujan
pun pada tunggul- tunggul nibung yang dicumbu ombak pesisir
kapal dan sampan- sampan tak ada yang berlabuh dan menambat
hanya sebait kenangan senja yang menderu
lampu- lampu dari menara mercu suar yang menonggak julang
di antara pepohon nyiur yang melambai tanpa gemulai aduhai
seperti nyanyian anak- anak pesisir, selalu beraroma amis ikan
tanpa mimpi
bulan tengkurap, hanya biasnya menawarkan sengkarut
tentang ombak yang selalu saja menghentikan sampan- sampan pelaut
sebab ikan- ikan tiada lagi yang hendak didulang
burung- burung camar memilih diam di batang- batang nibung lapuk
ombak menderu, tapi ia tak pernah sampai ke pangkal
anak- anak pesisir duduk merunduk
betapa laut tak lagi menyempurnakan mimpi- mimpi mereka
Pangkalan Berandan, September 2016
BIODATA
Amrin
Tambuse lahir di
Pangkalan Berandan, 03 Oktober 1968.
Cerpen dan puisi pernah dipublikasikan di beberapa media massa. Beberapa
puisi termaktub dalam antologi puisi
NUUN (Format Publishing, 2010), YANG
MEMBUKA PINTU SURGA (FAM, 2016)

