Pages

Ads 468x60px

Jumat, 28 Oktober 2016

PUISI AMRIN TAMBUSE: JALAN SEPI MENYEMPURNAKAN MIMPI


Puisi I
MATI  DALAM  SEPI

Menjelajahi lekuk di dadamu
seperti mengendap di taman beraroma dupa

dan kapas- kapas berterbangan
melekat pada tubuh- tubuh telanjang
menjelma unggas- unggas yang hinggap di ranting malam

ladang- ladang sepi
di dadamu tak ada lagi petani menanam padi
irigasi dari puting susumu telah mengering
lelaki mati kehausan

satu persatu sayapmu terlepas
aku kehilangan denyar jantungmu yang biadab

daun- daun berguguran
tepat di sela- sela jemari kakimu yang kian keriput
sisa dari ritual perjalanan waktu yang panjang
hingga berakhir di ujung penuaan

tidurlah engkau duhai, sayang, dalam kebekuan
yang panjang                                                                                               


Pangkalan Berandan, September 2016




Puisi II
DI  AMBANG  JALAN  YANG   BERBEDA

Dan jalan yang sering kita lalui dahulu, masih terasa basah
aroma hujannya mengalahkan wewangian bunga- bunga sengon
yang selalu saja gugur, lalu menutupinya, meski pada awal dan akhirnya
ia lengser ke selokan bersama deras airnya dengan gemuruh
seperti gemuruh yang terjadi pada jantung kita berdua

embun di sudut dedaun juga serasa enggan labuh pagi ini
pagi yang selalu meninggalkan jejak kenangan tentang kita
tentang bunga- bunga sengon yang luruh di ujung musim semi
dan kita tak lagi segera meraupnya
seperti yang pernah kita lakukan bersama

dan engkau merasa seperti serpihan mentari pada musim dingin
yang selalu saja tiba setiap kali kau menyuguhkanku
segelas anggur dengan aroma nirwana

jalan- jalan yang pernah kita lewati dahulu, masih basah
dan beraroma kenangan
padahal kita telah berada di ambang jalan yang berbeda


Pangkalan Berandan, 2016




Puisi III
LAUT  TAK  LAGI  MENYEMPURNAKAN  MIMPI

Burung- burung camar telah mengeja huruf- huruf dalam rahim hujan
pun pada tunggul- tunggul nibung yang dicumbu ombak pesisir

kapal dan sampan- sampan tak ada yang berlabuh dan menambat
hanya sebait kenangan senja yang menderu

lampu- lampu dari menara mercu suar yang menonggak julang
di antara pepohon nyiur yang melambai tanpa gemulai aduhai
seperti nyanyian anak- anak pesisir, selalu beraroma amis ikan
tanpa mimpi

bulan tengkurap, hanya biasnya menawarkan sengkarut
tentang ombak yang selalu saja menghentikan sampan- sampan pelaut
sebab ikan- ikan tiada lagi yang hendak didulang

burung- burung camar memilih diam di batang- batang nibung lapuk
ombak menderu, tapi ia tak pernah sampai ke pangkal
anak- anak pesisir duduk merunduk
betapa laut tak lagi menyempurnakan mimpi- mimpi mereka


Pangkalan Berandan, September 2016



BIODATA
Amrin Tambuse lahir di Pangkalan Berandan, 03 Oktober 1968.  Cerpen dan puisi pernah dipublikasikan di beberapa media massa. Beberapa puisi termaktub dalam antologi puisi  NUUN (Format Publishing, 2010), YANG  MEMBUKA  PINTU  SURGA (FAM, 2016)




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter