Angkot yang kutumpangi ini
sebentar lagi akan membawaku tiba di pondok Pesantren Al-Hidayah, tempatku
dilahirkan, tumbuh, mengenyam pendidikan dari tingkat paud hingga Madrasah Aliyah.
Aku ada di pesantren itu benar-benar hal yang tak bisa ditawar lagi. Kedua
orang tuaku alumnus pesantren itu juga, kemudian menikah dan tinggal di sana. Butuh
pergolakan batin yang panjang sebelum akhirnya
aku memutuskan meninggalkan
pondok pesantren yang sudah seperti bagian dari jiwaku itu demi kuliah di
Jakarta, masuk ke universitas yang kurasa cocok untuk menunjang cita-citaku
menjadi seorang arsitek. Sejak mondok di sana, tak jarang aku kena ta’zir1,
karena saat diminta menyelesaikan hafalan, aku malah sibuk menggambar desain
bangunan pencakar langit. Rasanya lucu bila terkenang masa itu. Entah sejak
kapan aku tergila-gila dengan dunia arsitek, padahal kurikulum di pesantren
tidak mengajarkan itu.
Aku mengambil napas dalam-dalam,
membiarkan aroma khas Gunung Tembak—salah satu pedesaan di kota Balikpapan—memenuhi
rongga dada. Senyumku tersungging tipis, rasanya sudah tidak sabar untuk
bertemu abi dan umi, serta semua teman-teman dan warga di pesantren. Sibuk
mengamati setiap sudut kampung halaman yang telah lama kutinggalkan ini,
tiba-tiba pandanganku terpaku pada seorang perempuan yang duduk tepat di
belakang sopir.
“Mondok di Al-Hidayah, Neng?”
tanyaku setelah sekilas melihat stiker logo pesantren yang cukup tersohor itu
di sampul depan notebook yang
dipegangnya.
Ia hanya tersenyum yang kemudian
kuartikan “iya”. Ya, hanya tersenyum. Para santriwati di pesantren itu
sepertinya memang sudah terlatih untuk tidak banyak bicara, terlebih terhadap
lawan jenis yang bukan mahram. Aku bukan tipe orang yang pandai menggambarkan
kecantikan seorang perempuan, hanya saja, seutas senyum tadi mampu membuat
jantungku bekerja lebih cepat dari biasanya.
* * *
Tak banyak yang berubah dengan
pondok pesantren ini. Mungkin yang berubah hanya statusku saja yang tak lagi
menjadi santri di dalamnya. Masa-masa indah saat jadi santri yang rada nakal, kini mengundang sekelebat
kerinduan. Ghosob2, gojlogan3,
setoran4, lengseran5, aku pernah melalui dan kini merindukan
semua itu.
Seminggu sudah sejak kepulanganku
dari Jakarta. Ada hal yang sulit kujabarkan sejak pertemuanku dengan perempuan
itu di atas angkot. Hari-hari setelah perjumpaan itu, aku sibuk menerka,
bagaimana kuasa Tuhan menyelipkan keindahan pada makhluk bernama perempuan.
Bahkan hanya dengan seutas senyum, ia mampu menguasai memori otakku. Senyumnya
abadi, membentuk semacam gumpalan mengambang yang hanya berjarak sejengkal dari
keningku.
Umi baru saja keluar dan menutup
pintu kamarku setelah menyampaikan hal yang sebenarnya sudah kuprediksi
jauh-jauh hari sebelum aku memutuskan untuk kembali ke pondok pesantren ini. Bahkan
di hari pertama kepulanganku pun, umi mulai menyelipkan hal itu sebagai wacana
tersirat di sela-sela obrolan kami. Dan barusan, mulai ada penekanan di suara
umi saat mengutarakannya lagi.
Karena lahir di lingkungan
pesantren, aku dibesarkan dalam naungan ilmu agama yang sangat kental. Wajar
jika aku menjadi anak yang penurut dan tidak pernah melalaikan kewajiban
sebagai seorang muslim. Tapi akhir-akhir ini, naluri membangkang kurasakan
mulai bertunas dalam hati, lebih tepatnya sejak umi menyampaikan hal itu.
Aku bangga menjadi bagian dari pesantren
ini. Aku menyukai alamnya yang masih asri, serta ketentraman warga di dalamnya.
Kecuali satu hal, aku benci tradisi nikah massal yang seolah menjadi image pesantren ini. Ya, nikah massal
yang tak lama lagi sepertinya akan menjadi cerita tersendiri di hidupku juga. Setiap
santri yang telah menyelesaikan pendidikannya dengan baik, akan dinikahkan
dengan salah seorang santriwati yang dianggap cocok. Para warga yang tinggal di
kawasan pondok pesantren ini adalah pelakon nikah massal itu, termasuk abi dan
umi. Bagi mereka, salah satu pilar Pesantren Al-Hidayah adalah menikah dengan
sesama kader.
“Kamu sudah menyelesaikan
pendidikan, Nak, apalagi selanjutnya selain menikah?”
“Bagaimana mungkin aku berumah
tangga dengan kondisi seperti ini, Umi? Aku belum siap!” sanggahku dengan nada
memelas bercampur kesal.
“Menikah itu membuka pintu rezeki
dan akan menyempurnakan agamamu. Dan yang paling penting, kamu akan terhindar
dari niatan zina yang mulai
bergejolak di usiamu ini.”
“Aku masih punya mimpi yang
panjang, Umi! Aku tidak ingin hidupku hanya berkutat di sekitaran pesantren ini
saja.” Aku memunggungi umi.
“Apakah dengan menikah lantas
memutuskan jalanmu untuk meraih cita-cita? Setelah menikah, kamu masih bisa
mengejar apa pun mimpimu itu.”
Aku memilih diam, aku tidak
pernah menang dari umi jika membahas masalah ini. Hanya saja … kurasa abi dan
umi paham akan agama, tapi bagaimana mereka mendesak seseorang yang belum siap
lahir batin untuk segera menikah? Ini menjadi pemikiran terumit yang menghuni
kepalaku saat ini.
Umi tidak lagi di kamarku, ia
pergi setelah kubalas semua ucapannya dengan diam. Tapi kata-kata umi tadi
masih betah berputar-putar di benakku. Apa pun yang kujadikan alasan belum
ingin menikah, hal yang paling menjurus adalah ketidaksukaanku pada tradisi
nikah massal itu. Apa jadinya, momen bersejarah yang diharapkan hanya terjadi
sekali seumur hidup itu malah dirayakan ramai-ramai. Membayangkannya saja … aku
enggan!
* * *
Hari ini ada seminar dari pemerintah
setempat yang mengangkat tema “Pentingnya Kepedulian Sosial”. Dari temanya
saja, aku sudah bisa menebak akan jadi apa seminar itu. Pasti sangat
membosankan untuk orang sepertiku yang memang tidak betah duduk lama-lama. Tapi
lagi-lagi karena senyuman itu, aku malah paling semangat mengikuti seminar hari
ini. Aku mengambil tempat di tengah-tengah barisan kursi yang telah diatur
sangat rapi di aula pesantren. Dulu, jika ada seminar semacam ini, kami artikan
sebagai ajang bertemunya para santri dan santriwati dalam satu ruangan. Di hari
lain, tembok tinggi pembatas asrama berdiri kokoh, menjadikan kami seolah hidup
di dua dunia yang berbeda. Dan hari ini, aku berharap bisa bertemu dengan
pemilik senyuman itu.
Acara akan dimulai lima menit
lagi. Aku duduk dengan tenang sambil mengamati para santriwati yang memasuki
aula satu persatu. Hingga barisan kursi di zona akhwat terisi penuh, aku mulai
mencari sosok yang diinginkan kedua mataku. Tapi … bagaimana mungkin aku
mendapati senyuman itu? Mereka kompak mengenakan burqa. Entah sejak kapan adat itu berlaku. Jika ada pertemuan
semacam ini para satriwati diwajibkan mengenakan penutup wajah, padahal jika
mereka keluar dari lingkungan pesantren tidak sampai segitunya. Aku terus
celingukan, hingga tak sadar sang MC sudah
membuka acara. Aku lekas merapikan posisi duduk setelah beberapa pasang mata
memicing ke arahku.
“Bismillahirahmanirahim!
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatu!” suara MC yang kemudian disusul riuh ketika para hadirin menjawab
salamnya. Detik itulah, ketika aku mengenali sepasang mata milik perempuan yang
tengah berdiri di tengah panggung itu. Sepasang mata itulah, yang menemani
senyum pelumpuh yang ia arahkan padaku kala itu. Mataku terpasung, tak mau lagi
menjamah yang lain, selain sepasang mata itu.
Setelah selesai membuka acara, ia
berjalan pelan hendak turun dari panggung. Sekilas, ia melihat ke arahku. Kantung
matanya dihiasi kerutan halus. Detik itu, aku yakin, ada senyum di balik
cadarnya.
*
* *
Aku merebahkan tubuh yang
sebenarnya tak lelah di atas sofa panjang di ruang tamu. Setelah senyuman, kini
suaranya. Semakin lengkap untuk memenjarakanku seperti ini. Untuk pertama
kalinya, aku berpikir hendak menyetujui keinginan abi dan umi untuk mengikutkanku
nikah massal, tapi jika perempuan itu yang dipasangkan denganku. Ah … pikiranku
mulai nakal.
“Sudah selesai seminarnya?”
Aku lekas bangkit kemudian duduk
bersandar ketika abi dan umi menghampiriku. Mereka mengambil posisi di
sebelahku. Abi meletakkan map cokelat di atas meja, lebih tepatnya bermaksud
diperlihatkan kepadaku. Aku hanya melirik map itu, dan seketika perasaanku jadi
tidak enak.
“Abi sudah mendaftarkanmu ke
panitia nikah massal tahun ini.”
Deg!
Sesaat,
detak jantungku berhenti, kemudian disusul gemuruh di dada yang mewakili berbagai
rasa. Aku mau berontak, tapi seperti apa cara berontak seorang anak yang tetap
sopan di depan orangtua yang telah membesarkannya selama ini? Akhirnya aku
hanya diam, seolah tak terjadi apa-apa.
“Kenapa, Nak, kok, murung?” Umi
menangkap perubahan mimik wajahku.
“Aku tidak ingin nikah massal,
Umi. Aku ingin menikah dengan caraku sendiri,” lirihku.
“Tapi nikah massal sudah jadi
tradisi di pesantren ini. Apa kata orang jika kamu enggan melakukannya?”
“Memang bukan sekarang, tapi
kelak, kamu akan mengerti mengapa kami melakukan ini.” abi menambahkan.
“Perempuan yang kami pilihkan
untukmu adalah perempuan yang diidamkan banyak kaum adam. Kamu beruntung bisa
meminangnya. Ia adalah Ustadzah Annisa, putri bungsu Kiai Manshur,” ucap umi
setelah hening sesaat.
“Ustadzah Annisa?” pekikku tak
terkontrol.
“Iya. Kiai Manshur sendiri yang
pertama kali mengusulkan perjodohan ini kepada Abi.”
Aku beranjak ke kamar,
meninggalkan abi dan umi. Ini memang tidak sopan, tapi lebih baik daripada aku
mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas diperdengarkan seorang anak kepada
orangtuanya.
Kurasakan semakin berat pikiran
yang bersarang di kepalaku. Ini bukan lagi sebatas nikah massal, tapi aku dijodohkan
dengan Ustadzah Annisa, putri pengasuh pesantren ini. Semasa aku di tahun
terakhir Madrasah aliyah, ia baru pulang dari Cairo setelah meraih gelar S1-nya
di sana. Ia kembali dan mengabdikan diri di pesantren ini. Aku banyak mendengar
cerita tentangnya. Solehah sudah pasti, baik tidak diragukan lagi, cantik …
entahlah, aku belum pernah bertemu langsung. Tapi … bukankah ia lebih pantas
jadi kakakku? Entah apa yang ada di benak abi dan umi. Dulu, aku pernah
menentang abi dan umi yang menginginkanku kuliah di universitas milik
lembaga—masih di bawah naungan Al-Hidayah—yang menurutku kurang sejalan dengan
cita-citaku. Entah apa jadinya jika aku terpaksa menentang mereka lagi.
* * *
Sudah tiga hari ini aku aktif
bantu-bantu ngajar di tingkat
tsanawiah sambil menunggu hasil wawancara di sebuah perusahaan ternama di
Jakarta yang kulakukan sehari sebelum kembali ke sini.
“Baiklah, Abi, Umi, aku bersedia
menikah dengan Ustadzah Annisa,” ucapku pagi ini sebelum berangkat ngajar. Kalimat itu terlontar setelah
aku melakoni salat istiqarah tiga
malam berturut-turut. Tentu saja kalimat tadi disambut mereka dengan senyum
sumringah.
“Tapi aku tidak ingin nikah
massal. Aku ingin pernikahan itu digelar terpisah,” imbuhku sejurus kemudian
dan sukses membuat mereka terkesiap.
“Aku lebih baik kembali ke
Jakarta daripada harus nikah massal,” tandasku mengakhiri percakapan singkat
itu lalu beranjak pergi.
Seminggu kemudian, kami
bertandang ke kediaman Kiai Manshur. Persiapan pernikahanku dengan Ustadzah
Annisa telah dibicarakan sebelumnya, tentu saja setelah menyetujui
ketidakinginanku nikah massal. Hari ini, untuk pertama kalinya, aku akan
dipertemukan dengan calon istriku. Sebelum mengucapkan ijab qabul, aku berhak
melihat wajahnya secara langsung tanpa balutan cadar. Sumpah, aku belum pernah
segugup ini. Telapak tangan serta keningku dirembesi keringat dingin. Terlebih
saat Ustadzah Annisa sudah berada di depanku dan sedang ancang-ancang untuk
melepas cadarnya.
Ketika cadar itu tersingkap, aku
menemukan cahaya yang lebih lembut dari purnama. Mungkin berlebihan, tapi sudah
kukatakan di awal, bahwa aku bukan tipe orang yang pandai menggambarkan
kecantikan seorang perempuan.
“Subahanallah!
Alhamdulillah!” hanya dua
kalimat itu yang kurasa mampu mewakili gemuruh rasa di dada saat ini. Tidak
salah lagi, wajah inilah yang melahirkan senyuman pelumpuh di angkot itu.
Dialah yang kuinginkan, Uztadzah Annisa yang sempat kusangsikan.
Konsep pernikahan yang kurancang
matang-matang, serta-merta kubatalkan. Aku lebih memilih nikah massal,
bergabung dengan 80 pasangan lainnya yang terdaftar tahun ini. Ustadzah Annisa
pun menginginkan itu, sebagai bentuk penyempurnaan kami selaku kader Pesantren
Al-Hidayah. Meskipun akhirnya aku juga melakoni nikah massal—tradisi yang tidak
kusukai—ini, tapi aku tidak akan memaksakannya kepada anak-anakku kelak. Aku
hanya akan menawarkan, lalu membiarkan mereka memutuskan.
*
* *
Di malam pertama kami.
“Aku belum paham bagaimana
perjodohan ini terjadi,” ucapku kikuk.
“Kamu menyesal?” ucapnya pelan.
“Oh … tidak. Aku hanya ….” Aku
tercekat.
“Karena aku lebih pantas jadi
kakakmu?”
“Bukan, sama sekali tidak seperti
itu. Bahkan awalnya aku menolak perjodohan ini karena aku menginginkan
perempuan yang kutemui di atas angkot itu,” sanggahku sebelum ia tersinggung.
“Ya, semua berawal dari angkot
itu. Sudah lama abi selalu mendesakku untuk segara menikah, tapi aku tidak mau
gegabah sebelum hati menemukan pelabuhan yang tepat. Dan akhirnya kuturuti
keinginan beliau setelah bertemu denganmu. Sejak kamu menyapaku di angkot itu,
suaramu tak pernah berhenti terngiang di telingaku. Kamu berhasil membuatku
merasakan rindu terlarang untuk pertama kalinya.” Ia jeda untuk mengambil
napas. Bisa kutangkap, ia yang menginginkan perjodohan ini.
“Awalnya aku ragu, ketika sadar,
kamu lebih pantas jadi adikku. Tapi setelah kupikir, St. Khadijah, pun, umurnya
lebih tua 15 tahun dari baginda nabi. Sementara kita, hanya terpaut beberapa
tahun.”
“Sudahlah, aku sama sekali tidak
mempermasalahkan itu. Aku benar-benar tulus mencintaimu. Sekalipun kamu bukan
perempuan di atas angkot itu, karena sekarang kamu adalah istriku,” ucapku
meyakinkan.
“Bisakah aku minta satu hal?”
“Tentu, apa itu?”
“Panggil aku Dek Annisa!”
Aku tersenyum nakal, kemudian
kubalas dengan mengecup keningnya. Sungguh besar kuasa Tuhan mempertemukan dua
cinta dengan cara terindah setelah saling meminta dalam doa. Dan untuk pertama
kalinya, aku beranggapan, bahwa tradisi nikah massal itu tidak terlalu buruk. [
]
Catatan:
[1] Hukuman bagi santri yang
melanggar aturan pesantren.
2 Menggunakan barang orang lain
tanpa seijin pemilik.
3 Istilah yang digunakan ketika
mengerjai santri lain.
4 Kegiatan menyetorkan hafalan
nadzaman kitab-kitab.
5 Makan bersama menggunakan
lengser atau nampan.
Biodata:
Ansar Siri, kelahiran Bone, 05
Januari 1989. Tinggal di Jl. Kapasa Raya No.05, Kel. Daya, Kec. Biringkanaya,
Makassar Email : ansarsiri357@gmail.com, Facebook: Ansar Siri, Twitter: @SiriAnsar

