Pages

Ads 468x60px

Minggu, 09 Oktober 2016

HADERI IDERIS: POLA PENGEMBANGAN TULISAN


Katanya cuma merangkai huruf dari a sampai z. Sepintas memang mudah, tapi cukup sulit manakala menulis sampai pada menulis bermakna.
Saya sering memotivasi bahwa menulis itu mudah. Hal ini dalam tataran pola pikir yang harus dipatri. Jangan terburu-buru beranggapan menulis itu sulit lantaran setelah mencoba sekali menulis, lalu gagal, akhirnya  tidak mau mencoba lagi. Padahal, tidak ada yang sulit jika kita mau belajar dan berlatih.
Dua hal di atas tidak bisa diabaikan, baik penulis yang sudah mahir maupun pemula. Belajar bisa dari membaca buku-buku tentang kepenulisan, bisa juga membaca karya orang lain. Oleh karena itu, saya sangat menganjurkan bagi yang ingin terampil menulis cerpen, hendaknya membaca cerpen sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan yang ingin terampil menulis artikel.
Setelah kita banyak membaca lantas langsung terampil menulis? Tentu tidak.  Membaca adalah penunjang  penting. Walau banyak membaca, tapi malas berlatih menulis,  percuma. Justru,  keduanya akan saling mengisi.
Bagaimana cara membaca agar bisa menunjang keterampilan menulis? Kita amati, misal artikel yang kita baca. Bagaimana orang membuat judul. Biasanya judul singkat dan menarik. Dari situ  kita belajar, oh, seperti ini judul artikel yang menarik.
Setelah itu kita baca sampai selesai. Kemudian kita ajukan pertanyaan. Apa topik atau tema yang dibahas? Untuk mengetahuinya, kita baca lagi secara intensif per paragraf. Temukanlah gagasan setiap paragrafnya. Setelah menemukan, kita bisa mengambil kesimpulan tema atau topik yang diangkat oleh penulis.
Terus kita belajar lagi dari tulisan tersebut bagaimana penulis mengembangkan wacananya. Apakah pola pengembangan wacananya dengan pola piramida terbalik atau piramida biasa?
Pola piramida terbalik yaitu mengawali paragraf pembukanya dengan gagasan-gasan  penting. Dilanjutkan dengan gagasan penunjang. Pola piramida terbalik ini biasanya dipakai dalam penulisan berita. Begitu juga artikel.  Sebaliknya, piramida biasa, penulis mengembangkan wacana dengan membahas hal-hal yang kurang penting menuju bahasan yang dianggap paling penting atau hal pokok diletakkan di akhir.
Dari sudut pembaca, kita bisa juga memperhatikan bagaimana penulis mengembangkan paragrafnya. Apakah penulis mengembangkan dengan pola umum-khusus ataukah pola khusus-umum?
Setiap paragraf biasanya memiliki satu gagasan inti. Gagasan inti atau gagasan pokok ini bisa diletakkan di awal paragraf. Kita bisa mengidentifikasinya dengan cara memperhatikan kalimatnya. Jika pernyataannya masih bersifat umum dan memerlukan penjelasan lebih lanjut atau lebih rinci, berarti kalimat itu yang mengandung gagasan inti. Kalimat inilah yang disebut dengan kalimat utama. Kalimat-kalimat berikutnya adalah kalimat penjelasnya. Nah, paragraf seperti itu  disebut paragraf deduktif. Pola pengembangan yang dipakai yaitu dari umum ke khusus.
Pola pengembangan berikutnya adalah pola dari khusus ke umum yakni mengawali paragraf dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan kesimpulan. Pola ini disebut juga pola pengembangan paragraf induktif. 
Selanjutnya ada juga pola campuran. Yakni meletakkan gagasan inti di awal dan di akhir.
Berikutnya, ada juga gagasan-gagasan penting itu tersebar di semua kalimat yang ada dalam satu paragraf. Tidak ada yang didahulukan atau dikebelakangkan. Semua kalimat dianggap penting. Pola pengembangan paragraf seperti ini biasanya terdapat pada tulisan deskreftif dan naratif.
Dari sudut pembaca kita menemukan gagasan-gagasan dalam tiap paragraf. Dari situ kita bisa menyimpulkan topik yang dibahas penulis. Nah, kalau kita ingin jadi penulis tinggal kita balik sudut pandangnya jadi penulis. Berarti kita mulai berpikir topik apa yang harus saya angkat jadi tulisan. Selanjutnya menentukan gagasan-gagasan penunjangnya yang akan kita jadikan setiap gagasan menjadi satu paragraf. Akhirnya, jadilah satu artikel.
Selamat berlatih! [ ]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter