Katanya cuma merangkai huruf dari a sampai z. Sepintas memang
mudah, tapi cukup sulit manakala menulis sampai pada menulis bermakna.
Saya sering memotivasi bahwa menulis itu mudah. Hal ini dalam
tataran pola pikir yang harus dipatri. Jangan terburu-buru beranggapan menulis
itu sulit lantaran setelah mencoba sekali menulis, lalu gagal, akhirnya
tidak mau mencoba lagi. Padahal, tidak ada yang sulit jika kita mau belajar dan
berlatih.
Dua hal di atas tidak bisa diabaikan, baik penulis yang sudah
mahir maupun pemula. Belajar bisa dari membaca buku-buku tentang kepenulisan,
bisa juga membaca karya orang lain. Oleh karena itu, saya sangat menganjurkan
bagi yang ingin terampil menulis cerpen, hendaknya membaca cerpen
sebanyak-banyaknya. Begitu juga dengan yang ingin terampil menulis artikel.
Setelah kita banyak membaca lantas langsung terampil menulis?
Tentu tidak. Membaca adalah penunjang penting. Walau banyak
membaca, tapi malas berlatih menulis, percuma. Justru, keduanya
akan saling mengisi.
Bagaimana cara membaca agar bisa menunjang keterampilan menulis?
Kita amati, misal artikel yang kita baca. Bagaimana orang membuat judul.
Biasanya judul singkat dan menarik. Dari situ kita belajar, oh, seperti
ini judul artikel yang menarik.
Setelah itu kita baca sampai selesai. Kemudian kita ajukan
pertanyaan. Apa topik atau tema yang dibahas? Untuk mengetahuinya, kita baca
lagi secara intensif per paragraf. Temukanlah gagasan setiap paragrafnya.
Setelah menemukan, kita bisa mengambil kesimpulan tema atau topik yang diangkat
oleh penulis.
Terus kita belajar lagi dari tulisan tersebut bagaimana penulis
mengembangkan wacananya. Apakah pola pengembangan wacananya dengan pola
piramida terbalik atau piramida biasa?
Pola piramida terbalik yaitu mengawali paragraf pembukanya
dengan gagasan-gasan penting. Dilanjutkan dengan gagasan penunjang. Pola
piramida terbalik ini biasanya dipakai dalam penulisan berita. Begitu juga
artikel. Sebaliknya, piramida biasa, penulis mengembangkan wacana dengan
membahas hal-hal yang kurang penting menuju bahasan yang dianggap paling
penting atau hal pokok diletakkan di akhir.
Dari sudut pembaca, kita bisa juga memperhatikan bagaimana
penulis mengembangkan paragrafnya. Apakah penulis mengembangkan dengan pola
umum-khusus ataukah pola khusus-umum?
Setiap paragraf biasanya memiliki satu gagasan inti. Gagasan
inti atau gagasan pokok ini bisa diletakkan di awal paragraf. Kita bisa mengidentifikasinya
dengan cara memperhatikan kalimatnya. Jika pernyataannya masih bersifat umum
dan memerlukan penjelasan lebih lanjut atau lebih rinci, berarti kalimat itu
yang mengandung gagasan inti. Kalimat inilah yang disebut dengan kalimat utama.
Kalimat-kalimat berikutnya adalah kalimat penjelasnya. Nah, paragraf seperti
itu disebut paragraf deduktif. Pola pengembangan yang dipakai yaitu dari
umum ke khusus.
Pola pengembangan berikutnya adalah pola dari khusus ke umum
yakni mengawali paragraf dengan rincian-rincian dan diakhiri dengan kesimpulan.
Pola ini disebut juga pola pengembangan paragraf induktif.
Selanjutnya ada juga pola campuran. Yakni meletakkan gagasan
inti di awal dan di akhir.
Berikutnya, ada juga gagasan-gagasan penting itu tersebar di
semua kalimat yang ada dalam satu paragraf. Tidak ada yang didahulukan atau
dikebelakangkan. Semua kalimat dianggap penting. Pola pengembangan paragraf
seperti ini biasanya terdapat pada tulisan deskreftif dan naratif.
Dari sudut pembaca kita menemukan gagasan-gagasan dalam tiap
paragraf. Dari situ kita bisa menyimpulkan topik yang dibahas penulis. Nah,
kalau kita ingin jadi penulis tinggal kita balik sudut pandangnya jadi penulis.
Berarti kita mulai berpikir topik apa yang harus saya angkat jadi tulisan. Selanjutnya
menentukan gagasan-gagasan penunjangnya yang akan kita jadikan setiap gagasan
menjadi satu paragraf. Akhirnya, jadilah satu artikel.
Selamat berlatih! [ ]
