Pages

Ads 468x60px

Senin, 10 Oktober 2016

ZULFAISAL PUTERA: CON MAN


Tahun 1998, sesaat setelah peristiwa reformasi yang ditandai dengan berakhirnya kekuasaan Soeharto dan Orde Baru, penyair Taufiq Ismail menulis sebuah puisi yang fenomenal. Puisi terdiri dari 92 larik dalam 4 bagian itu berjudul “Malu Aku Jadi Orang Indonesia”. Dengan bahasa naratif yang sederhana, Taufiq menumpahkan kekecewaannya, kemarahannya, dan mencoba mengingatkan akan keterpurukan negeri ini selama pemerintahan saat itu.
Pada bait pertama, Taufiq menggambarkan bangganya tokoh ‘aku’ menjadi orang Indonesia saat itu karena negeri ini diakui dunia sebagai bangsa yang hebat dalam revolusi setelah berhasil merdeka dari penjajah Belanda. Namun, pada bait-bait selanjutnya, ‘aku’ menjadi sering merunduk karena melihat negeri ini sudah berubah menjadi lebih buruk: rubuhnya langit akhlak dengan tak tegaknya hukum, selingkuh birokrasi dengan peringkat nomor satu di dunia, dan pembantaian terang-terangan.
Apa yang membuat seorang penyair sekelas Taufiq Ismail malu menjadi orang Indonesia delapan belas tahun yang lalu, tampaknya masih terjadi sampai saat ini. Indonesia nyatanya tidak lebih baik dibanding masa sebelum reformasi. Runtuhnya akhlak anak bangsa tetap menjadi persoalan utama karena dari sinilah munculnya perilaku menyimpang, tak tahu malu, dan sadisme di luar batas. Dan semua berujung kepada lemahnya pondasi berbangsa dan bernegara.
Sebagai contoh, jika dulu korupsi masih malu-malu di belakang meja dan berlindung di balik bos besar, sekarang bisa dilakukan berdua atau berjamaah di mana saja: toilet, kafe, bahkan rumah dinas. Padahal kurang apa KPK meringkus banyak pelaku. Jika dulu pornografi hanya melalui kertas stensilan, buku putih, atau video dalam kamar pribadi, sekarang bisa mobile dalam gawai, diedarkan melalui medsos, bahkan diputar di videotron di sudut jalan raya. 
Nyawa manusia pun sepertinya sudah tidak berharga di negeri agamis ini. Berita pembunuhan jadi santapan harian. Pelaku mengincar korbannya setiap saat. Bukan hanya di jalan atau tempat keramaian, tetapi di rumah bahkan di kamar pribadi. Wajahnya juga takmesti garang, bisa lembut dan bersahaja. Tersangkanya bukan saja orang jauh, bisa juga dekat, bahkan orang tua atau saudara kita. Korbannya tak pandang usia, bayi baru lahir pun jadi sasaran. Dan menariknya, proses pembunuhan sadis itu direkam pelakunya. 
Undang-undang dan peraturan di negeri bisa diubah kapan pun oleh sekelompok orang untuk dengan mengatasnamakan apa saja. Lihatlah UUD 1945 yang sudah diobrak-abrik lebih dari 4 kali sejak 1999 sampai sekarang. UU Pemilu hampir diubah setiap tahun untuk menyelamatkan nafsu berkuasanya. Selalu ada kericuhan dan lalu lintas dana kesekapatan saat proses pengubahannya. Takbisa dibayangkan jika Sumpah Pemuda, Teks Proklamasi, dan Pancasila disusun zaman sekarang, bisa jadi tidak selesai-selesai.
Akhirnya, anak bangsa menjadi kehilangan sosok pemimpin yang bisa dijadikan teladan. Orang yang dianggap sosok pemimpin di negeri makin tak jelas. Bisa saja ketika awal tampil, mereka itu sangat berwibawa, agamis, santun, dan sosial, tetapi ujung-ujungnya jadi pesakitan karena korupsi. Sebaliknya, kesehariannya jadi bandar narkoba dan perjudian, pemerkosa, bahkan penyebar teror, tetapi begitu ditangkap tampilannya jadi berbaju gamis, berkopiah haji, dan duduk di kursi terdakwa sambil memegang tasbih. 
Itulah barangkali mengapa kebanyakan anak bangsa menjadi gampang percaya dengan pemimpin non-formal di sekitarnya, yaitu orang-orang yang membungkus dirinya sendiri agar dianggap pemimpin. Dengan bermodal tampilan agamis, kepandaian orasi, menggunakan retorika agama, dan menyediakan tempat, mereka mampu menarik jamaah dari masyarakat yang ingin ambil jalan pintas dalam menyelesaikan masalah. Maka lahirlah sosok semacam Eyang Subur, Gatot Brajamusti, dan Kanjeng Dimas.
Jangan salahkan anak bangsa ini sepenuhnya jika mereka lebih percaya dipimpin con man atau penipu karena orang yang jadi pemimpin negeri ini sebagian juga ramai ramai menjadi con man. Penyair Abdul Hadi W.M. pernah beri solusi dalam “Sajak Negeri Entah Kenapa” dengan kutipan begini : Atau kita bangun lagi negeri / Dari mimpi baru / Parlemen baru / Partai baru / Presiden baru / Tentara baru / Polisi baru / Universitas baru / Jaksa agung baru / Lembaga HAM baru / Kelompok konglomerat baru / Pemeras baru / Para penipu baru. [ ]



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter