Aku akan memperkenalkan tempat wisata yang terkenal di
kampungku, Kabupaten Wajo atau terkenal dengan sebutan Sengkang. Selain disebut
Kota Sutera, kampungku ini ternyata memiliki danau yang terkenal. Namanya
adalah Danau Tempe. Eits, kata “Tempe” ini diambil karena danau ini terletak di
Kecamatan Tempe.
Pada
masa lampau, Danau Tempe digunakan sebagai jalur pelayaran sekaligus penghubung
antara Selat Makassar dengan Teluk Bone. Yaitu sebagai penghubung
Teluk Bone dengan Sungai Walanoe. Adanya jalur pelayaran, membuat danau ini
berubah dari masa ke masa.
Ada 4
tahap perubahan dari Danau Tempe. Tahap pertama
terjadi sebelum Masehi, Pulau Sulawesi bagian selatan
masih terpisah oleh selat.
Tahap kedua berlangsung dari abad ke-1 sampai abad 16 Masehi, saat itupendangkalan
dan penyempitan selat. Kemudian, abad 17 dan 18 ini terjadi tahap ketiga. Setelah semua tahap
itu, akhirnya terbentuklah danau yang memgelilingi 7 kecamatan. Yaitu mulai dari kecamatan Tempe, Belawa, Wajo, Tanah Sitolo,
Maniangpajo, dan Sabangparu. Bukan Sabang Sampai Merauke, ya. Hahaha.
Oh ya,
Danau Tempe
ini memang sangat luas, lho! Diperkirakan luasnya mencapai 13 hektar. Air
pada danau ini berasal dari Sungai Bila. Selain itu, letaknya pun strategis, yakni di antara Benua Asia dan Australia. Sehingga, kita dapat menemukan berbagai jenis ikan air tawar ketika
berkunjung ke sana. Jangan lupa, Danau Tempe ini dikategorikan sebagai Danau
Tektonik.
Setiap
23 Agustus, diadakan acara festival laut di Danau Tempe ini. Orang bugis biasa
menyebut festival ini Maccera Tappareng.
Pemimpin acara ini yaitu
Ketua Nelayan. Selain itu, ada pula lomba perahu hias, lomba layang-layang tradisional
hingga Pagelaran musik
yang mengiringi tarian Bissu. Wah,
sangat menarik, ya! Ayo teman-teman datang dan ramaikan festival ini! Hingga
saat ini, Danau Tempe telah menjadi objek wisata yang menarik. Hal ini
membuatku bangga dengan Sengkang, kampung halamanku. [ ]
BIODATA
Perkenalkan,
namaku Ainun Mubin Misbah N. Umurku
14 tahun . Aku bersekolah di SMP Negeri 8 Makassar dan mengikuti organisasi
Jurnalistik.
Jika
ingin berkenalan lebih lanjut, bisa melalui E-mail
: putriainun38@gmail.com, serta
akun instagramku : ainunmubin. Alamat
rumah : Jl. Toddopuli Raya Timur, Perum. Ilma Green Residence Blok DL No. 43
Makassar 90233.
9 buku
yang telah terbit : Ketika Senja Mulai
Redup (Kaifa Publishing, 2016), Karena
Allah (Pena Indis, 2016) , Nada-Nada
Rindu (Gema Media Wonosobo, 2016), Ritme
Syair Mimpi (Isy Karima Media, 2016), Falsafah
Yang Rendah Yang Kuselami Di Batang Canduku (Gusmus Pustaka, 2016), Pesona Kotaku (FAM Publishing, 2016), 99 Antologi Perempuan (Bintang Visitama,
2016), Bunga Abadi (Rumahkayu, 2016),
Indonesia (Nahima Press, 2016).
Artikelku
“Hebohnya Ultah Ainun” dimuat di koran Tribun Timur (2009), dan artikelku “Masa
Depan Kita Bukanlah Untuk Menjadi Robot Canggih” dimuat di Devils Of Death (salah satu media online sastra).
Prestasiku
antara lain Juara Hiburan Lomba Menulis “Pengalamanku Bersama Scots Emulsion”
(2011), Juara Hiburan Lomba Mewarnai Permen Allpeliebe
(2011), Peringkat II Penamatan SD Negeri Kompleks IKIP 1 Makassar (2014),
Juara Harapan III Lomba Menulis Surat Untuk Walikota Makassar (2015), Peringkat I kelas VII (2015), Siswa
Berprestasi kelas VIII SMP Negeri 8 Makassar (2016).
