(1)
Symphoni Tchaikovsky
mengalun lembut, mengiringi kawanan angsa yang menari di atas danau. Pangeran Siegfried
mengangkat tubuhku tinggi, waktu seolah terhenti. Danau berkilau tertimpa
cahaya purnama. Dark Wood tidaklah sesuram namanya. Ketika Pangeran Siegfried melepas tangannya
dari pinggangku, udara kembali hangat. Siegfried, akankah kau bebaskan aku dari
sihir Rothbart? Lalu membunuhnya dan kita akan bahagia selamanya?
"Aku
mencintaimu, Odette. Sekalipun aku hanya bisa menemuimu dalam gelap, aku tetap
mencintaimu." Bisikanmu laksana alunan orkestra yang mengiringi tarian
kita.
"Tidak,
Siegfried! Aku tidak ingin bertemu dalam gelap. Aku ingin mencintaimu pada saat
matahari, bulan, dan bintang bersinar. Aku ingin selalu bersamamu merajut
waktu. Menikmati sepotong croissant
dan secangkir teh bersama. Aku tidak ingin terkurung di danau ini!"
Siegfried menghapus butiran bening yang hampir jatuh di sudut netra. Mengecup
bibirku perlahan dan mengajakku menari mengelilingi danau.
"Datanglah
tiga hari lagi ke istanaku. Terbanglah ketika sayapmu masih mengembang. Akan
kubuka satu jendela menara untukmu masuk. Menarilah denganku dan akan kuumumkan
kepada seluruh negeri kaulah mempelaiku. Aku berjanji kita akan bahagia."
Siegfried,
tidakkah kau mengerti kekejaman Rothbart? Dia tidak akan membiarkan kita
bahagia. Ah, cinta, mengapa demikian sakit? Jika hanya cinta yang membuatku
terbebas dari kutukan, biarlah selamanya aku hidup sebagai angsa. Tapi cerita
harus terus berjalan. Aku harus menemui Siegfried di istananya 3 hari lagi.
Malam
itu Pangeran Siegfried terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya, membungkuk
sopan kepada setiap tamu yang datang. Matahari belum sempurna turun, sayapku
terlipat rapi di sisi tubuh. Aku mematuk-matuk kaca jendela, mencoba mencari
perhatian Siegfried. Dia lupa membuka satu jendela menaranya untukku. Apakah
Siegfried berbohong? Mungkinkah dia sengaja lupa membuka jendela menara? Aku
terbang berkeliling mencoba mencari celah untuk masuk.
Ah,
bodohnya aku. Seharusnya aku tinggal menunggu matahari terbenam dan masuk
sebagai seorang putri. Aku pun menurunkan sayap dan melangkah anggun menuju
tangga istana. Perlahan, matahari mulai kembali ke peraduan. Kaki berjari
lentik mulai terlihat melangkah menggantikan kaki berselaput. Dengan senyum
mengembang aku mulai berbaur dengan para tamu, mencoba mendekati pangeran.
Aku
melihat Rothbart berdiri di samping pangeran bersama seorang gadis bergaun
hitam. Tapi aku tidak takut lagi padanya. Ketika jemari kami saling bersentuhan,
kutukannya akan lenyap. Lalu pangeran akan mengirim Rothbart ke mahkamah
kerajaan untuk diadili atas segala perbuatan kejamnya. Kerajaan pun akan
bersuka cita merayakan pesta pernikahan kami selama 7 hari 7 malam. Kurasakan
wajahku menghangat membayangkannya.
Langkahku
tegap, dadaku membusung, ketika berjalan mendekati Pangeran Siegfried. Tepat pada
saat itu, dia mengangkat gelas anggurnya.
"Bersulang
untuk calon pengantinku yang cantik. Odile!" Hadirin gemuruh bertepuk
tangan.
Rothbart
menatapku culas. Gadis bergaun hitam yang mirip denganku membuang pandang
melecehkan, aroma kemenangan menguar di udara. Aku menatap tak percaya pada
mata Siegfried yang kosong. Dia disihir Rothbart! Lalu untuk apa aku tetap di
sini? Aku terluka menatap pas de deux
Pangeran Siegfried dengan Odile.
Aku
tahu akhir dari kisahnya. Aku yang putus asa, akan berlari kembali ke danau. Tiba-tiba
Pangeran Siegfried menyadari kesalahannya lalu menyusulku. Dia meregangkan
busur, hendak memanah Rothbart. Tapi anak panah itu menancap di dadaku. Tidak
ada pesta 7 hari 7 malam di istana, karena aku mati. Pangeran Siegfried, menenggelamkan
diri di danau bersama jasadku. Akhirnya cinta menyatukan kami di kehidupan
setelah mati. Tidak! Aku tidak suka akhir yang sedih dan tragis. Aku harus ke
luar dari cerita ini.
32 fouttes en tournant.
Aku berputar seperti Odile. Menciptakan pusaran angin di sekitarku. Aku
berputar lebih dari 32 hingga pointe
shoes-ku terasa panas dan kakiku tak sanggup mengayun. Leotardku basah oleh
keringat. Aku jatuh terduduk.
(2)
Panggung yang
berbeda. Ini lebih ceria. Suasana desa Thuringen, Rhineland Jerman yang ramah dan
hangat. Semua bersuka cita menyambut tibanya panen anggur. Aku bersama warga
desa menari dengan suka cita sepanjang jalan desa.
Satu
persatu untaian anggur di kebun, jatuh ke keranjang. Jatuh bersama hatiku yang
berdebar menatap seorang pemuda di kejauhan. Mengapa aku tidak menyadari
kehadirannya selama ini? Pasti ini karena Berthe, Ibuku, melarang untuk ke luar
rumah terlalu sering.
“Nanti
kamu lelah!”
Begitu
alasannya. Tapi jantungku kuat, bahkan ketika jatuh cinta dan berdegup demikian
kencang, jantungku tak menunjukkan tanda-tanda sakit. Ibu berlebihan!
“Aku
Loys, siapa namamu?”
Pemuda
rupawan mengulurkan tangannya padaku.
“Giselle.”
“Mengapa
aku tidak pernah melihatmu selama ini?”
“Karena
aku bersembunyi.”
“Sekarang kamu tidak akan bisa sembunyi
dariku. Cintamu terlalu indah untuk terjatuh. Biarkan saja cinta itu berlabuh
di sini.” Loys membawa tanganku ke dadanya. Jantungku berdebar semakin kencang,
wajahku panas. Aku bahagia.
Ah, ibu,
jika tahu rasa cinta ini begitu menyenangkan, mengapa kau tidak memberitahuku
sejak dulu?
Loys,
dia membuatku menari kegirangan sepanjang hari. Hatiku hampa bila tak bertemu
dengannya. Hilarion memperingatkanku tentang Loys. Dia curiga kepadanya dan
berjanji akan membongkar rahasia kelam hidup Loys. Aku tidak peduli peringatan
Hilarion. Dia hanya cemburu, karena aku pernah menolak cintanya.
Ibu
gusar dengan kegiranganku yang menurutnya berlebihan. Dia memperingatkanku
dengan cerita tentang para Wilis. Wanita muda yang meninggal sebelum hari
pernikahannya dan terjebak dalam tarian yang abadi. Ibu takut itu akan menjadi
takdirku. Ibu salah, aku hanya jatuh cinta. Cinta tidak akan membuatku mati.
Malam
ini, kemeriahan pesta panen. Teman-teman mendaulatku sebagai ratu festival dan
memahkotaiku dengan jalinan daun anggur. Aku berdansa dengan gembira, tangan
Loys membimbingku.
Tiba-tiba
musik berhenti mengalun. Hilarion berteriak-teriak marah kepada Loys. Dia
menuduh Loys penipu, pembohong, dan tuduhan keji lainnya. Aku berdiri di depan
Loys memandang marah pada Hilarion. Dia tidak berkata, hanya memberiku sebilah
pedang dengan simbol bangsawan. Aku memandang Loys mohon penjelasan, dia
menggeleng tegas, mohon agar aku tak percaya ucapan Hilarion.
Lalu
Hilarion meniupkan terompet berburu dan beberapa orang berseragam tiba di
keramaian yang menjadi sepi. Loys tidak bisa berkelit lagi. Dia putra seorang
Duke!
Dia
Albrecht, bukan Loys!
Hilarion
menyampaikan berita lain yang membuat dadaku sakit. Albrecht telah bertunangan
dengan Bathilde, putri bangsawan yang siang tadi menumpang istirahat di
rumahku. Dadaku semakin sakit. Bukan karena jantungku yang lemah, sakitnya
lebih menusuk dari pisau ibu yang mengiris tanganku sewaktu mengupas apel.
Ibu?
Aku
memandang matanya yang menatapku sedih di antara kerumunan orang desa. Ibu
menggeleng pelan.
Aku
salah, Bu. Cinta ternyata bisa membunuhku.
Aku
tidak ingin mati perlahan dalam kesedihan. Aku tidak ingin menunggu jantungku
berhenti berdetak menahan tangis. Aku ingin mati cepat, secepat cinta Albrecht
menghampiriku! Lalu mata tajam pedang Albrecht membuat jantungku berhenti
selamanya. Aku akan bergabung dengan para Wilis.
Corps of women in
white. Aku bermetamorfosis menjadi Wilis, menari bersama mereka.
Berkelana di hutan, mencari pemuda tersesat untuk diajak menari sampai mati.
Satu waktu aku melihat Hilarion bermuka panik di kegelapan hutan. Myrtha, ratu
para Wilis menyuruhnya menari hingga lelah, lalu membuangnya ke laut hingga tenggelam
menemui ajal.
Kudengar
angin membisikkan kabar pernikahan Albrecht dan Bathilde. Ini menyesakkan! Aku
pernah membayangkan bersanding bersamanya di pelaminan. Tapi aku tak punya air
mata lagi untuk menangis. Dia telah berubah menjadi embun yang menguap tertimpa
mentari. Suatu hari, angin datang lagi membisikkan kabar tentang kedatangan
Albrecht pada sebuah makam. Terdengar isak tangis mengucap maaf dan sesal
mendalam. Bibirnya membentuk namaku. Aku harus segera membawa pergi Albrecht
sebelum para Wilis menemukan jiwanya yang tersesat. Tapi terlambat! Myrtha dan
para Wilis mencium aroma sesal yang menguar di kegelapan hutan.
Albrecht…,
berbahagialah untukku, hiduplah untuk bagianku, bawalah cintaku dalam napasmu.
Pergilah dari hutan ini!
Aku
pun berdiri tegas menghadang para Wilis yang kelaparan.
Ah,
ini terlalu sedih. Bahkan Giselle masih terus berkorban setelah mati. Tidak ada
penyatuan cinta setelah kehidupan berakhir. Aku tidak mau berlarut berada dalam
cerita yang terlalu mengaduk perasaan. Aku harus pergi meninggalkan cerita
menyedihkan ini!
(3)
Matahari
pertama di musim semi. Hangat menembus kulit. Salju terakhir meninggalkan
dedaunan, menguap sebelum jatuh ke tanah. Aku menikmati kehangatan mentari yang
masih bersinar malu-malu dengan tangan terikat. Tidak! Jangan lagi! Mengapa aku
selalu terjebak dalam cerita tragis? Aku memberontak berusaha melepaskan diri
dari ikatan yang membelit. Sia-sia. Semakin aku banyak bergerak, simpulnya
semakin kuat mengikat.
Kaum
pagan mulai mengelilingiku, menari-nari dalam irama kontemporer. Seorang pria
yang sepertinya tetua kaum pagan mulai menari solo di hadapanku. Aku, gadis
persembahan bagi musim dingin yang mematikan! Ketika arwahku terbang ke langit,
aku akan hidup sebagai musim semi.
Lagi-lagi
sebuah pengorbanan yang sia-sia. Tapi tak ada kisah cinta dua insan dalam
cerita ini. Aku hanyalah korban kebodohan kaum purba yang percaya harus
mengorbankan kesucian seorang gadis agar kedatangan musim semi tak ternoda.
Pengorbanan yang sejatinya lebih mulia karena untuk kebahagiaan orang banyak.
Le Sacre du Printemps.
Aku akan menari di sini sampai akhir. Menikmati adegan demi adegan karya
kontroversi Igor Stravinsky dan Vaslav Nijinsky. Aku tak tahu jalan pulang, aku
hanya bisa menari sepanjang hayatku.
Aku,
Wilis yang tersesat dari panggung ke panggung.
Batam, 2016
Keterangan:
-
Pas de deux: tarian berpasangan
laki-laki dan perempuan dalam balet
-
32 fouttes en tournant: gerakan
berputar sebanyak 32 kali dalam balet klasik, dalam cerita Swan Lake ditarikan
oleh Odile.
-
Corps of women in white: salah satu
cirri khas tarian balet klasik, dimana para penarinya menggunakan kostum serba
putih dan menari dalam grup.
BIODATA:
Lusi Anda Sudjana,
penikmat cerita yang suka berkebun.
Lahir di Sumedang, kini tinggal di Batam. Beberapa karyanya dapat
dilihat di: lasudjana.blogspot.co.id , Facebook : Lusyanda Keian

