Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 22 Oktober 2016

CERPEN LUSI ANDA SUDJANA: PANGGUNG-PANGGUNG KESEDIHAN


(1)
Symphoni Tchaikovsky mengalun lembut, mengiringi kawanan angsa yang menari di atas danau. Pangeran Siegfried mengangkat tubuhku tinggi, waktu seolah terhenti. Danau berkilau tertimpa cahaya purnama. Dark Wood tidaklah sesuram namanya.  Ketika Pangeran Siegfried melepas tangannya dari pinggangku, udara kembali hangat. Siegfried, akankah kau bebaskan aku dari sihir Rothbart? Lalu membunuhnya dan kita akan bahagia selamanya?

"Aku mencintaimu, Odette. Sekalipun aku hanya bisa menemuimu dalam gelap, aku tetap mencintaimu." Bisikanmu laksana alunan orkestra yang mengiringi tarian kita.
"Tidak, Siegfried! Aku tidak ingin bertemu dalam gelap. Aku ingin mencintaimu pada saat matahari, bulan, dan bintang bersinar. Aku ingin selalu bersamamu merajut waktu. Menikmati sepotong croissant dan secangkir teh bersama. Aku tidak ingin terkurung di danau ini!" Siegfried menghapus butiran bening yang hampir jatuh di sudut netra. Mengecup bibirku perlahan dan mengajakku menari mengelilingi danau.
"Datanglah tiga hari lagi ke istanaku. Terbanglah ketika sayapmu masih mengembang. Akan kubuka satu jendela menara untukmu masuk. Menarilah denganku dan akan kuumumkan kepada seluruh negeri kaulah mempelaiku. Aku berjanji kita akan bahagia."
Siegfried, tidakkah kau mengerti kekejaman Rothbart? Dia tidak akan membiarkan kita bahagia. Ah, cinta, mengapa demikian sakit? Jika hanya cinta yang membuatku terbebas dari kutukan, biarlah selamanya aku hidup sebagai angsa. Tapi cerita harus terus berjalan. Aku harus menemui Siegfried di istananya 3 hari lagi.

Malam itu Pangeran Siegfried terlihat gagah dengan pakaian kebesarannya, membungkuk sopan kepada setiap tamu yang datang. Matahari belum sempurna turun, sayapku terlipat rapi di sisi tubuh. Aku mematuk-matuk kaca jendela, mencoba mencari perhatian Siegfried. Dia lupa membuka satu jendela menaranya untukku. Apakah Siegfried berbohong? Mungkinkah dia sengaja lupa membuka jendela menara? Aku terbang berkeliling mencoba mencari celah untuk masuk.
Ah, bodohnya aku. Seharusnya aku tinggal menunggu matahari terbenam dan masuk sebagai seorang putri. Aku pun menurunkan sayap dan melangkah anggun menuju tangga istana. Perlahan, matahari mulai kembali ke peraduan. Kaki berjari lentik mulai terlihat melangkah menggantikan kaki berselaput. Dengan senyum mengembang aku mulai berbaur dengan para tamu, mencoba mendekati pangeran.
Aku melihat Rothbart berdiri di samping pangeran bersama seorang gadis bergaun hitam. Tapi aku tidak takut lagi padanya. Ketika jemari kami saling bersentuhan, kutukannya akan lenyap. Lalu pangeran akan mengirim Rothbart ke mahkamah kerajaan untuk diadili atas segala perbuatan kejamnya. Kerajaan pun akan bersuka cita merayakan pesta pernikahan kami selama 7 hari 7 malam. Kurasakan wajahku menghangat membayangkannya.
Langkahku tegap, dadaku membusung, ketika berjalan mendekati Pangeran Siegfried. Tepat pada saat itu, dia mengangkat gelas anggurnya.
"Bersulang untuk calon pengantinku yang cantik. Odile!" Hadirin gemuruh bertepuk tangan.
Rothbart menatapku culas. Gadis bergaun hitam yang mirip denganku membuang pandang melecehkan, aroma kemenangan menguar di udara. Aku menatap tak percaya pada mata Siegfried yang kosong. Dia disihir Rothbart! Lalu untuk apa aku tetap di sini? Aku terluka menatap pas de deux Pangeran Siegfried dengan Odile.
Aku tahu akhir dari kisahnya. Aku yang putus asa, akan berlari kembali ke danau. Tiba-tiba Pangeran Siegfried menyadari kesalahannya lalu menyusulku. Dia meregangkan busur, hendak memanah Rothbart. Tapi anak panah itu menancap di dadaku. Tidak ada pesta 7 hari 7 malam di istana, karena aku mati. Pangeran Siegfried, menenggelamkan diri di danau bersama jasadku. Akhirnya cinta menyatukan kami di kehidupan setelah mati. Tidak! Aku tidak suka akhir yang sedih dan tragis. Aku harus ke luar dari cerita ini.
32 fouttes en tournant. Aku berputar seperti Odile. Menciptakan pusaran angin di sekitarku. Aku berputar lebih dari 32 hingga pointe shoes-ku terasa panas dan kakiku tak sanggup mengayun. Leotardku basah oleh keringat. Aku jatuh terduduk.

(2)
Panggung yang berbeda. Ini lebih ceria. Suasana desa Thuringen, Rhineland Jerman yang ramah dan hangat. Semua bersuka cita menyambut tibanya panen anggur. Aku bersama warga desa menari dengan suka cita sepanjang jalan desa.
Satu persatu untaian anggur di kebun, jatuh ke keranjang. Jatuh bersama hatiku yang berdebar menatap seorang pemuda di kejauhan. Mengapa aku tidak menyadari kehadirannya selama ini? Pasti ini karena Berthe, Ibuku, melarang untuk ke luar rumah terlalu sering.
“Nanti kamu lelah!”
Begitu alasannya. Tapi jantungku kuat, bahkan ketika jatuh cinta dan berdegup demikian kencang, jantungku tak menunjukkan tanda-tanda sakit. Ibu berlebihan!
“Aku Loys, siapa namamu?”
Pemuda rupawan mengulurkan tangannya padaku.
“Giselle.”
“Mengapa aku tidak pernah melihatmu selama ini?”
“Karena aku bersembunyi.”
 “Sekarang kamu tidak akan bisa sembunyi dariku. Cintamu terlalu indah untuk terjatuh. Biarkan saja cinta itu berlabuh di sini.” Loys membawa tanganku ke dadanya. Jantungku berdebar semakin kencang, wajahku panas. Aku bahagia.
Ah, ibu, jika tahu rasa cinta ini begitu menyenangkan, mengapa kau tidak memberitahuku sejak dulu?
Loys, dia membuatku menari kegirangan sepanjang hari. Hatiku hampa bila tak bertemu dengannya. Hilarion memperingatkanku tentang Loys. Dia curiga kepadanya dan berjanji akan membongkar rahasia kelam hidup Loys. Aku tidak peduli peringatan Hilarion. Dia hanya cemburu, karena aku pernah menolak cintanya.
Ibu gusar dengan kegiranganku yang menurutnya berlebihan. Dia memperingatkanku dengan cerita tentang para Wilis. Wanita muda yang meninggal sebelum hari pernikahannya dan terjebak dalam tarian yang abadi. Ibu takut itu akan menjadi takdirku. Ibu salah, aku hanya jatuh cinta. Cinta tidak akan membuatku mati.
Malam ini, kemeriahan pesta panen. Teman-teman mendaulatku sebagai ratu festival dan memahkotaiku dengan jalinan daun anggur. Aku berdansa dengan gembira, tangan Loys membimbingku.
Tiba-tiba musik berhenti mengalun. Hilarion berteriak-teriak marah kepada Loys. Dia menuduh Loys penipu, pembohong, dan tuduhan keji lainnya. Aku berdiri di depan Loys memandang marah pada Hilarion. Dia tidak berkata, hanya memberiku sebilah pedang dengan simbol bangsawan. Aku memandang Loys mohon penjelasan, dia menggeleng tegas, mohon agar aku tak percaya ucapan Hilarion.
Lalu Hilarion meniupkan terompet berburu dan beberapa orang berseragam tiba di keramaian yang menjadi sepi. Loys tidak bisa berkelit lagi. Dia putra seorang Duke!
Dia Albrecht, bukan Loys!
Hilarion menyampaikan berita lain yang membuat dadaku sakit. Albrecht telah bertunangan dengan Bathilde, putri bangsawan yang siang tadi menumpang istirahat di rumahku. Dadaku semakin sakit. Bukan karena jantungku yang lemah, sakitnya lebih menusuk dari pisau ibu yang mengiris tanganku sewaktu mengupas apel.
Ibu?
Aku memandang matanya yang menatapku sedih di antara kerumunan orang desa. Ibu menggeleng pelan.
Aku salah, Bu. Cinta ternyata bisa membunuhku.
Aku tidak ingin mati perlahan dalam kesedihan. Aku tidak ingin menunggu jantungku berhenti berdetak menahan tangis. Aku ingin mati cepat, secepat cinta Albrecht menghampiriku! Lalu mata tajam pedang Albrecht membuat jantungku berhenti selamanya. Aku akan bergabung dengan para Wilis.

Corps of women in white. Aku bermetamorfosis menjadi Wilis, menari bersama mereka. Berkelana di hutan, mencari pemuda tersesat untuk diajak menari sampai mati. Satu waktu aku melihat Hilarion bermuka panik di kegelapan hutan. Myrtha, ratu para Wilis menyuruhnya menari hingga lelah, lalu membuangnya ke laut hingga tenggelam menemui ajal.
Kudengar angin membisikkan kabar pernikahan Albrecht dan Bathilde. Ini menyesakkan! Aku pernah membayangkan bersanding bersamanya di pelaminan. Tapi aku tak punya air mata lagi untuk menangis. Dia telah berubah menjadi embun yang menguap tertimpa mentari. Suatu hari, angin datang lagi membisikkan kabar tentang kedatangan Albrecht pada sebuah makam. Terdengar isak tangis mengucap maaf dan sesal mendalam. Bibirnya membentuk namaku. Aku harus segera membawa pergi Albrecht sebelum para Wilis menemukan jiwanya yang tersesat. Tapi terlambat! Myrtha dan para Wilis mencium aroma sesal yang menguar di kegelapan hutan.
Albrecht…, berbahagialah untukku, hiduplah untuk bagianku, bawalah cintaku dalam napasmu. Pergilah dari hutan ini! 
Aku pun berdiri tegas menghadang para Wilis yang kelaparan.
Ah, ini terlalu sedih. Bahkan Giselle masih terus berkorban setelah mati. Tidak ada penyatuan cinta setelah kehidupan berakhir. Aku tidak mau berlarut berada dalam cerita yang terlalu mengaduk perasaan. Aku harus pergi meninggalkan cerita menyedihkan ini!

(3)
Matahari pertama di musim semi. Hangat menembus kulit. Salju terakhir meninggalkan dedaunan, menguap sebelum jatuh ke tanah. Aku menikmati kehangatan mentari yang masih bersinar malu-malu dengan tangan terikat. Tidak! Jangan lagi! Mengapa aku selalu terjebak dalam cerita tragis? Aku memberontak berusaha melepaskan diri dari ikatan yang membelit. Sia-sia. Semakin aku banyak bergerak, simpulnya semakin kuat mengikat.
Kaum pagan mulai mengelilingiku, menari-nari dalam irama kontemporer. Seorang pria yang sepertinya tetua kaum pagan mulai menari solo di hadapanku. Aku, gadis persembahan bagi musim dingin yang mematikan! Ketika arwahku terbang ke langit, aku akan hidup sebagai musim semi.
Lagi-lagi sebuah pengorbanan yang sia-sia. Tapi tak ada kisah cinta dua insan dalam cerita ini. Aku hanyalah korban kebodohan kaum purba yang percaya harus mengorbankan kesucian seorang gadis agar kedatangan musim semi tak ternoda. Pengorbanan yang sejatinya lebih mulia karena untuk kebahagiaan orang banyak.
Le Sacre du Printemps. Aku akan menari di sini sampai akhir. Menikmati adegan demi adegan karya kontroversi Igor Stravinsky dan Vaslav Nijinsky. Aku tak tahu jalan pulang, aku hanya bisa menari sepanjang hayatku.
Aku, Wilis yang tersesat dari panggung ke panggung.

Batam, 2016
Keterangan:
- Pas de deux: tarian berpasangan laki-laki dan perempuan dalam balet
- 32 fouttes en tournant: gerakan berputar sebanyak 32 kali dalam balet klasik, dalam cerita Swan Lake ditarikan oleh Odile.
- Corps of women in white: salah satu cirri khas tarian balet klasik, dimana para penarinya menggunakan kostum serba putih dan menari dalam grup.


BIODATA:

Lusi Anda Sudjana, penikmat cerita yang suka berkebun.  Lahir di Sumedang, kini tinggal di Batam. Beberapa karyanya dapat dilihat di: lasudjana.blogspot.co.id , Facebook : Lusyanda Keian




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter