Pola pengembangan paragraf
yang kita bahas sebelumnya berkisar pada peletakkan kalimat utama. Jika kalimat
utama yang mengandung ide pokok di awal paragraf disebut paragraf deduktif.
Jika di akhir disebut paragraf induktif. Jika di awal dan akhir disebut
paragraf campuran. Jika tersebar di seluruh kalimat disebut paragraf
naratif- deskreptif.
Contoh paragraf deduktif
Dalam dunia musik Betawi, terdapat
pembauran yang harmonis antara kesenian pribumi dengan unsur kesenian Cina.
Pembauran itu nampak pada alat-alat musik gambang kromong yang masih bisa
dinikmati hingga sekarang. Sebagian alat musik gambang kromong, seperti kemor,
kecrek, gendang, kempul, dan gong adalah unsur pribumi, sedangkan sebagian
lagi, yakni kongahyan, tehyan, dan skong merupakan alat musik gesek Cina.
Begitu pula dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tersebut, telah terjadi
pengadaptasian dan pengadopsian lagu-lagu Cina. Lagu yang disebut pobin,
seperti "Pobin Mano Kongjilok", "Bankinhwa",
"Posilitan", "Caicusiu", dan sebagainya, yang biasanya
disajikan secara instrumental merupakan lagu-lagu yang diadopsi dari lagu
Cina. (Alex)
Kalau kita amati paragraf di atas, kalimat utamanya atau gagasan
pentingnya terdapat pada kalimat pertama. Gagasannya yaitu mengangkat masalah
pembauran musik betawi yang membaur antara musik pribumi dan cina.
Kalimat berikutnya adalah kalimat pendukung atau kalimat penjelas. Hal ini ditandai
dengan kata tunjuk itu (pembauran itu), ini berarti menjelaskan kalimat yang di
awal. Maka paragraf seperti itu disebut paragraf deduktif.
Selanjutnya paragraf induktif, yaitu paragraf yang memulai
paparannya dengan menampilkan fakta, bukti, alasan, contoh, ilustrasi
terlebih dahulu. Setelah itu di kalimat terakhir penulis membuat
kesimpulan.
Pola pengembangan paragraf induktif bisa juga disebut pola
pengembangan generalisasi. Pola analogi juga termasuk induktif karena menarik
kesimpulan dengan membandingkan dua hal yang berbeda diambil sisi
persamaannya sebagai kesimpulan.
Pola pengembangan sebab-akibat atau akibat-sebab juga termasuk
kategori paragraf induktif. Penulis bisa mengemukakan beberapa sebab lalu
menyimpulkan satu akibat. Atau penulis memulai dengan mengemukakan
akibat-akibat kemudian meyimpulkan dengan satu sebab. Pola ini bisa juga
dibentuk menjadi paragraf deduktif yaitu mengemukakan satu akibat lalu merinci
apa saja penyebabnya.
Ada lagi pola pengembangan yang disebut dengan pola defenisi,
kronologi.
Kita lanjut mengenal paragraf dilihat dari tujuan penulisannya.
Kalau paragraf itu isinya bertujuan memaparkan, menjelaskan, disebut paragraf
eksposisi.
Jika bertujuan mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu,
paragraf itu disebut paragraf persuasi.
Jika isinya menghendaki pembaca bisa menerima pendapat yang
dikemukakan dengan memperkuatnya dengan alasan-alasan logis, disebut paragraf
argumentasi.
Jika isinya bertujuan menceritakan sesuatu disebut paragraf
narasi, dan jika bertujuan menggambarkan suatu agar pembaca seolah melihat,
merasakan apa yang digambarkan, paragraf ini disebut paragraf deskrepsi. Narasi
dan deskrepsi kebanyakan bisa kita jumpai pada cerpen dan novel. Namun bisa
juga pada artikel. [ ]
