Puisi I
SETITIK RINDU
Aku
enggan tidur malam ini
Sebab tempo itu, kau dan aku kasih bertemu
Meniti dengan riang, ke ujung tanda-tanda takdir
Membincangkan tentang mana yang harus kupilih
Sebab tempo itu, kau dan aku kasih bertemu
Meniti dengan riang, ke ujung tanda-tanda takdir
Membincangkan tentang mana yang harus kupilih
Jalan
setapak penuh debu, ataukah
Senyummu; racun nirwana di dasar jurang kalbuku
Senyummu; racun nirwana di dasar jurang kalbuku
Kau
yang sinis tersipu, ripuh sendiri
Kau yang kukenang bisu, hening sendiri
Kau yang kukenang bisu, hening sendiri
Pelaihari, 08 September 2016
Puisi II
JELAS
“Ketika,
setangkai mawar jatuh tanpa kejelasan
deru ombak dingin menyentuh, tiada penjelasan
sepasang merpati terbang jauh, tidak menjelaskan
setangkai mawar jatuh tanpa kejelasan
deru ombak dingin menyentuh, tiada penjelasan
sepasang merpati terbang jauh, tidak menjelaskan
Di sudut sunyi itu
sekeping kaca rapuh, tak
pernah terjelaskan.”
Jelas keluh, tiada bosan
Jelas keluh, tiada bosan
Pelaihari, 02 September 2016
Puisi III
MENANTI KABAR
untaian takdir-takdir itu
datang menjemputku dua tiga waktu.
aku termenung sekejap
berkelebatan rupa dua tiga haru.
senyum mengembang terang
di wajah sendu-ku pada dua tiga rindu.
"aku segera ke
situ."
Pelaihari, 10 September 2016
BIODATA:
Nuruddin Azmi, sekarang tinggal di kota Pelaihari, Kalimantan Selatan. Lahir
di Barabai, 31 Mei 1994.
