Puisi I
BIMBANG
cahaya dan musim sedang sekongkol
menciptakan bosan
yang didorong oleh anggapan malam
adakalanya gulita
adakalanya bercahaya
menuju waktu yang tak berpihak
tapi tak bisa dipastikan
saat kau tak menerimanya
tak bisa meninggalkan kesedihan
tak bisa hanya membawa keriaan
meski kau telah memberi
seluruh pedulimu sampai maut datang
Puisi II
RANTAU
terengkuh dari waktu
yang pergi untuk kembali
darah pencerah
untuk pekatnya tali-temali
rantai menjawab
kesakralan masa depan
jangan lupa
sesekali mundur satu dua langkah
sebagai pengingat
jiwamu tak terpisahkan
oleh belantara keganasan
dan cawan besar
akan membawamu
pada hakekat pemakaman
di bumi lahirmu
Puisi I
SENDIRI
berseteru dengan riuh
menidurkan gaduh
baru sadar
saat musim penghujan datang
tapi gerimis yang terakhir
tetap memilih tak berkarib
pada kenyamanannya
kesesakan masih utuh
menggenang di ulu hati
mewarisi kesunyian
Biodata
Yuditeha : Penulis yang hobi melukis wajah-wajah dan bernyanyi puisi. Buku puisinya : Hujan Menembus Kaca (2011). Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta.

