Sobat Reader,
andai kamu mendapat suatu ‘bocoran rahasia’ tentang orang-orang yang masuk
surga, dan kamu masuk dalam dalam daftar orang itu, gimana perasaan kamu? Pasti
luar biasa senangnya, kan? Tapi, mungkin
kah itu? Kalau sekarang mah impossible. Kagak
mungkin! Kalau doeloe?
Nabi Muhammad SAW
pernah nyebutin Top Ten orang yang
masuk surga. Salah satu orangnya adalah Thalhah bin Ubaidillah. Pernah dengar
atau baca kisahnya? Amal apa sih yang membuat Sahabat ini menjadi orang yang terpilih?
Di antaranya adalah pengorbanannya yang besar dalam cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya, disamping kedermawanannya yang amat sangat.
Stay tuned, here is the story. Cekidot!!!
Ketika posisi kaum
muslimin terjepit, kocar kacir, karena pasukan pemanah meninggalkan posisi
strategisnya di bukit Uhud. Thalhah memperhatikan daerah peperangan tempat
Rasulullah berdiri. Dilihatnya Rasulullah menjadi sasaran empuk serbuan pasukan
Quraisy. Maka ia dengan cepat segera ke arah Rasul. Thalhah terus maju menebas
jalan yang walau pendek terasa panjan. Setiap jengkal jalan dihadang puluhan
pedang yang bersilang dan tombak yang mencari mangsa.
Ketika dilihatnya
Rasulullah beralih ke pinggir menghindari serangan, Thalhah berkata: “Ya
Nabiyullah, demi bapak dan ibuku jangan minggir nanti orang-orang akan
mengenaimu. Biar aku yang berkorban, jangan engkau.” (Muttafaq ‘alaih). Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya
sudah berdarah. Dipeluknya tubuh baginda dengan tangan kiri dan dadanya,
mengundurkan diri mencari tempat yang aman. Sementara pedang yang ada ditangan
kanan diayunin ke arah lawan yang mengelilingi.
Alhamdulillah, Rasulullah selamat walaupun dalam keadaan
menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bukit yang ada di
ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kaki beliau diciumi oleh Thalhah
seraya berkata, “Aku tebus engkau ya Rasulallah dengan ayah ibuku.”
Ada lebih dari 70 luka bekas tombak, pedang,
dan panah di tubuhnya, serta jari tangannya putus. Diceritain, tangannya bahkan
kemudian jadi lumpuh karena peristiwa ini.
Disamping keberaniannya, Thalhah juga seorang
hartawan dengan harta berlimpah. Seorang dermawan yang menginfakkan hartanya
tanpa batas. Istrinya pernah bercerita: “Suatu hari saya menemukan Thalhah
berduka cita. Saya bertanya, “Ada apa
dengan kanda?”
“Uang yang
ada padaku ini semakin banyak sehingga memusingkan aku.” Jawabnya.
“Tidak jadi
soal, bagi-bagikanlah,” saranku.
Ia lalu berdiri memanggil orang banyak,
membaginya hingga tidak ada yang tersisa walau satu dirham pun”
Subhaanallaah!
Pernah juga suatu saat ia menjual sebidang
tanah dengan harga yang tinggi, maka dilihatnya tumpukan harta, lalu
menangislah ia dan berkata, “Sungguh, bila seseorang dibebani mengalami harta
demikian banyak dan tidak tahu apa yang akan terjadi, pasti akan mengganggu
ketenteraman ibadah kepada Allah!”
Maka kemudian dipanggilnya sahabat-sahabatnya
dan mereka keliling kota Madinah membagikan harta tersebut hingga menjelang
subuh dan suksess … abis tanpa sisa! Ck...ck...ck!!! Adakah orang seperti itu
di sini saat ini?
Reader, bisa kah kita mencontoh Thalhah ini? Mencintai
Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya. Allah Swt berfirman: “Katakanlah, jika bapa-bapa, anak-anak,
saudara-saudara, istri-istri ,kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah tempat tinggal
yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dari
(dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan
keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang fasik” (TQS At Taubah (9) : 24) [*]
