Puisi I
RAMUAN WAKTU
Aku meramu waktu
Sebagai perupa diatas kanvas warna
Saat pejamkan mata
Ini tentang gambaran rona dunia yang terangkum dalam dirimu
Yang aku ingin mimpikan dan peluk erat sepanjang malam
Sebagai selimut hangat, sajian lekat penuh semangat
Teman tiap detik napas oksigen yang kuhirup lepas
Sebagai senda gurau kebersamaan dimana jarak terbentang luas
memisahkan raga.
Tanpa sedikitpun berbicara bahwa: rindu begitu berat di
punggungku
Dan tanpa lelah: aku bawa kemanapun berada.
Dan suatu saat aku rangkum pada pangkuan kasih mesra
Bersama kelakar tawa dari simpul bibirmu yang ranum
mempesona
Sambil menari bahagia pada ramuan waktu yang telah aku racik
di tiap malam
Saat aku terlelap dalam manisnya bunga tidur
Yang tumbuh begitu subur
Sukabumi,
12 Juni 2016
Puisi II
SUPERNOVA
Aku membentuk janjimu yang hilang,
pada selingkaran imaji.
Yang menerungku mengitari sepikiran hidupku
layaknya bumi berevolusi pada mentari.
Ya,
ini tentang kau
yang senantiasa berputar dengan setia berulang kali
bersama jatuhan air mata berderai.
Menggelar lirih disini,
seirama dentang getaran jantung berdawai.
Melantunkan pulsar melodi dalam kebisuan yang tak terucapkan
dengan damai.
Sedang kau masih disana,
merenggangkan jarak berjuta tahun cahaya.
Hadir sebagai ungkapan hati yang terjebak pada titik pilu
gravitasi yang menarik jiwa.
Untuk tenggelam ditelan pekatnya lubang hitam kepedihan
perkasa.
Meskipun kau supernova yang meletup dengan radiasi maha.
Tetap saja,
kau hanya imaji dalam bayang cermin hati.
Sebuah lengkungan waktu yang pecah tercipta untuk memisahkan
ruang semesta,
mengatasnamakan cinta.
Menjelma sebagai kegelapan,
yang terbentuk dari cahaya pupus bintang di jagad raya.
Sebentuk rupa kehampaan imajiner yang hilang abadi pada
singularitas dadaku yang hampa.
Menyisakan puing kenang yang luruh untuk dilupakan.
Sebagai formasi baru penghias kehidupan.
Sukabumi,
17 Mei 2016
Puisi III
AKU, BUTIRAN
DEBU
Sebagai gurun pasir, aku lirih mendesir.
Berusaha lena untuk menyatu dengan hening.
Dingin malam dan terik siang, tak sebanding suhu kesunyian.
Hanya deru napasku yang terdengar menjadi angin kering.
Sebab anginpun tak pernah lagi menghembus.
Hatiku telah pupus.
Bahkan air mata, telah habis diseka waktu yang geming.
Kini aku tinggal butiran rapuh, hadir untuk terus menjauh.
Aku hanya onggokan bubuk, hidup untuk semakin remuk.
Dan angin harap pun tak kunjung tiba tuk menghapus aku yang
luka.
Hanya suara napasku yang menerbangkan diri pada sisi lain
duka, ke sudut duka lainnya.
Sebab sunyi telah menjalar disekujur tubuhku, menjelma
diriku yang debu.
Sukabumi,
18 Mei 2016
BIODATA:
Yoga
Permana Wijaya, tinggal di Sukabumi. Guru TIK yang sedang melanjutkan S2
bidang sains. Baru saja belajar sastra secara otodidak di akhir tahun 2015. Karyanya
berhasil menjadi finalis dan menjuarai lomba-lomba kepenulisan, diantaranya
Juara 1 Lomba Cipta Puisi Nasional Deza Publishing, Juara 1 Lomba Cipta Puisi
Tiga tema Isykarima Media dll. Puisinya tersebar dalam antologi bersama
diantaranya: Gula untuk Rakyat (?) (2015); Goresan Jiwa (2016); Ketika Senja
Mulai Redup (2016); Sajak Kita (2016); Di bawah Pohon Willow (2016); Dialog
Dini Hari Kala Itu (2016); Kembang Api (2016); Turunnya Nawang Wulan (2016);
Senandung Kidung-Kidung Lara (2016); Sajak Tiga Tema (2016); Bahtera Nelayan
(2016); Rumah Abadi (2016); Rona di Simpul Bibirmu (2016) dll.

