Pas baca judulnya, enak banget ya! Berasa
anak muda banget. Tentunya juga akan jadi orang paling bahagia dan paling
beruntung dah. Tapi, emang mungkin motto itu bisa terjadi di kehidupannya
nyata, juga kita? Entahlah….
Pada kesempatan kali ini, miRRor ingin berbagi
kisah tentang seorang milyader, saudagar, yang termasuk dalam 10 besar yang
dikabarkan masuk surga oleh Rasulullah saw. Nama beliau adalah Abdul Amr. Setelah
keislamannya, beliau lebih dikenal dengan nama Abdurrahman bin Auf. Mm… sudah
ada yang tau dengan kisah ini? Jika sudah tau, diam aja ya. Beri kesempatan
yang belum tau untuk mencari tau.
Memang, apa
keistimewaan Abdurrahman bin Auf?
Mari disimak kisah………
Sebagaimana Sahabat Rasulullah yang lainnya,
Abdurrahman bin Auf berhijrah ke Madinah tanpa bisa membawa hartanya yang
banyak. Tiba di Madinah, oleh Rasulullah kaum Muhajirin (dari Mekkah) ini
dipersaudarakan dengan kaum Anshar (penduduk Madinah). Abdurrahman bin Auf
dapat saudara angkat bernama Sa’ad bin Rabi’.
Ketika itu, Saad berkata pada Abdurrahman, “Aku
orang terkaya di Madinah. Kamu boleh ambil separuh hartaku. Aku punya istri
dua, silakan kamu pilih seorang yang kamu suka untuk dikawini, nanti akan
kuceraikan.”
Wah, bagi orang awan kayak kita, aji mumpung
sekali ya. Tapi, Abdurrahman bin Auf bukanlah orang yang seperti itu. Ia justru
menjawab, “Semoga Allah memberkati keluargamu dan hartamu. Tunjukkan saja aku
letak pasar agar aku dapat berniaga.”
Abdurrahman pun dibawa ke pasar. Ia mulai
berniaga dan mendapat banyak keuntungan.
Suatu ketika, tiba kafilah dagang di Madinah,
terdiri dari 700 kendaraan (onta). Masyarakat terkesima dengan kedatangan
kafilah besar tersebut. Aisyah ra. yang keluar rumah saat itu teringat dengan
sabda Rasul, “Kulihat Abdurrahman bin Auf
masuk surga dengan merangkak.”
Setelah mendengar sabda Rasul tersebut, Abdurrahman
bin Auf berkata pada Aisyah ra., “Anda telah mengingatkan saya suatu hadits
yang tak pernah saya lupakan. Dengan ini saya sangat berharap Anda berkenan
menjadi saksi bahwa kafilah ini dengan segala isinya, kendaraan dan
perlengkapannya, aku sumbangkan di jalan Allah.”
Pada suatu hari yang lain, Abdurrahman bin
Auf juga pernah menjual tanah seharga 40.000 dinar (berapa rupiah ya?),
kemudian uang tersebut ia bagikan pada keluarganya di Bani Zuhrah, istri-istri
Nabi, dan fakir miskin.
Di lain hari lagi, beliau menyerahkan 500
ekor kuda untuk perlengkapan pasukan Islam. Dan di hari lainnya lagi beliau
menyumbangkan 1500 ekor kuda. Bahkan, menjelang beliau wafat, beliau mewasiatan
50.000 dinar untuk di jalan Allah, serta 400 dinar kepada setiap orang yang
ikut berperang di perang Badar dan masih hidup, sampai-sampai Utsman bin Affan
yang tergolong kaya pun mendapat bagian tersebut.
Dalam riwayat lain, Abdurrahman bin Auf juga
pernah menyumbangkan 2.000 dirham untuk biaya pasukan. Pada saat perang Tabuk,
sumbangan beliau berupa 200 uqiyah emas. Bayangkan, Sobat! Luar biasa, bukan?!
Begitulah Abdurrahman bin Auf, kekayaannya
yang melimpah tak sedikitpun membuat beliau sombong dan takabur. Sampai-sampai
dikatakan orang, “Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya,
kebetulan melihatnya sedang duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tak
akan sanggup membedakannya di antara mereka.”
Kisah ini tentu bukan bermaksud untuk
memamerkan sedekah beliau, tapi untuk kita jadikan pelajaran bahwa kekayaan
bukanlah segalanya. Dan tentu saja, beliau tidak hanya terkenal dengan kekayaan
dan kedermawanannya saja. Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa terdapat 20
bekas luka di tubuh beliau, bahkan salah satu luka tersebut membuat beliau
pincang. Demikian pula beberapa gigi beliau yang rontok sehingga menyebabkan
kecadelan dalan berbicara. Semua itu adalah tanda jasa beliau dalam perang
Uhud.
Ya, itulah Abdurrahman bin Auf: mudan gak
foya-foya, tua kaya raya, dan mati dijamin masuk surga. [ ]
