Rini Intama, penyair
wanita dari Tangerang, yang bersama beberapa penyair lainnya ingin mengikuti
kegiatan Tifa Penyair Nusantara 3 di Marabahan, mengirim pesan WA kepada saya
begitu sampai Marabahan, “Udah tiba di batola.... duuuhh jauhnya”. Saya timpali,
“jauhan mana, Jakarta – Banjarmasin?”. Ya, jauh atau dekat jarak tempuh ke
suatu tempat memang tergantung dari mana menghitungnya. Bisa waktu tempuh, bisa
jaraknya.
Saya mencoba
memahami, mengapa menuju Marabahan di Kabupaten Barito Kuala terasa jauh. Siapa
pun yang baru sekali atau jarang pergi ke Marabahan, seperti Intama atau saya,
misalnya, maka melewati jalan sepanjang 2, 13 KM dari Bandara Syamsuddin Noor,
Banjarbaru, melewati Jalan Gubernur Syarkawi, atau sepanjang 1,47 KM dari
Banjarmasin, pasti merasakan itu karena memang pemandangan kiri-kanan jalan
biasa saja, seperti suasana desa di mana pun.
Saya yang juga akan
menghadiri kegiatan temu kangen dan tema sastra di ibu kota Kabupaten Barito
Kuala itu ingin sekali menikmati keindahan kota di tepian Sungai Barito itu.
Maka saya pilih perjalanan malam dengan motor. Yang ada dalam pikiran saya
adalah akan menemukan sensasi keindahan pada malam hari Jembatan Rumpiang yang
dikatakan mirip jembatan Sydney Harbour di Australia.
Maka, sambil memasuki
jalan Moh. Yunus, Rantau Badauh, sepanjang 11 km lebih itu, mata saya
takberkedip berharap bertemu cahaya terang yang menandakan bakal adanya
jembatan yang diresmikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25
April 2008 itu. Namun, sampai kaki jembatan di depan mata, saya tak menemukan
keindahan apa pun selain konstruksi bangunan besi jembatan sepanjang 753 m.
Remang hampir gelap dan dingin.
Jembatan Rumpiang
pasti monumen kebanggaan orang Marabahan dan Barito Kuala. Jembatan yang
dibangun selama hampir 5 tahun dan menghabiskan dana 174, 5 m itu juga menjadi
ikon kota Bahalap ini. Di laman internet dan brosur promosi pemerintah kota dan
kabupaten ini, Jembatan Rumpiang menjadi jualan promosi wisata. Bahkan, di map,
buku, termasuk Antologi Puisi Tifa Nusantara 3, jembatan ini menjadi gambar
sampul. Sangat menarik.
Delapan tahun sudah
jembatan ini menjadi pintu gerbang kota yang dulu disebut Muara Bahan karena
menjadi bandar perdagangan Kerajaan Negara Daha. Keluhan terlambat dan
terhambatnya kemajuan pembangunan kota ini karena saat itu harus melalui sungai
teratasi sudah. Tentu, seharusnya, berdampak pula kepada peningkatan
pembangunan infrastruktur dan ekonomi masyarakatnya.
Itu pulalah tentu
yang menjadikan para sastrawan dan Dinas Porbudpar setempat berani
menyelenggarakan kegiatan nasional semacam Tifa Penyair Nusantara 3, yang
sebelumnya dua kali dilaksanakan di Tangerang. Tersebab selain Barito Kuala
dikenal mempunyai banyak tokoh sastrawan, juga karena para penggiat sastra di
kota itu merasa sudah saatnya daerah mereka dikunjungi untuk dinikmati. Dan
terbukti, 200-an sastrawan menghadiri perhelatan 28 s.d. 30 Oktober 2016 itu.
Semangat para
sastrawan yang hadir di kota yang mempunyai moto Ije Jela atau Selidah itu juga
semangat saya. Berharap bisa menyaksikan kemajuan kota yang hampir setahun
sekali saya kunjungi itu sepertinya belum menenuhi dahaga rasa dan mata saya
selaku pemerhati budaya dan masalah perkotaan. Ada beberapa yang bisa memiliki
nilai jual sebuah kota, tampaknya belum didandani secara serius. Contohnya,
mengapa Jembatan Rumpiang yang indah itu takdipasangi lampu di sepanjangnya.
Pagi itu, setelah
menyeruput segelas kopi, saya dan beberapa teman menikmati suasana Pasar
Wangkang di sebelah kanan Perkantoran Bupati. Sebuah bangunan seperti dermaga
di depannya, miring hampir roboh. Beberapa meter di sebelah kanan ada jembatan
kecil yang sungai di bawahnya tertutup sampah padat. Saya mencoba memaklumi
karena bagaimana pun membangun, apalagi memelihara sebuah kota di Kabupaten itu
tak gampang. Sepertinya Ije Jela saja tak cukup! [ ]
