Pages

Ads 468x60px

Kamis, 03 November 2016

SUPER TEEN MUSLIM: PENYAKIT MERASA


Nah, kok ada yang namanya penyakit merasa? Perasaan penyakit itu kayak batuk, flu, demam, dll. Apakah ini jenis penyakit bau, eh baru?
Hm... sebelum gue jelasin, gue ceritain sebuah fenomena deh. Contoh dalam pilkada terkadang ada terjadi para calon saling serang satu sama lain, menghalalkan segala cara untuk meng-goal-kan tujuannya. Nah, kenapa bisa seperti ini? Bisa jadi karena merasa. Merasa paling pantas dan mengganggap calon lain tidak pantas sama sekali, sehingga menjadi persaingan yang tidak sehat, dan cenderung suka menyerang lawan.
Merasa adalah penyakit yang berbahaya. Merasa paling pintar, merasa paling benar, merasa paling tinggi kedudukan, merasa memimpin dan harus dihormati, merasa paling kaya. Kemudian penyakit merasa ini dibarengi dengan penyakit merendahkan dan menghina orang lain, lambat laun ini malah menjadi buah kesombongan yang bisa mengotori hati. Padahal tidak akan masuk surga seseorang yang punya sifat sombong di dalam hatinya meski sebesar biji sawi sekalipun.
Kita sebagai dosen, kemudian merasa paling pintar, merasa paling tinggi kedudukan, menganggap bahwa mahasiswa lebih bodoh dari diri kita, merasa berjasa karena bisa mendidik mahasiswa, nah, artinya ini orang sudah kena penyakit merasa. Kalau dosen kagak ada mahasiswanya, terus mau jadi apa? Ngomong-ngomong sendirian di depan kelas? Kan aneh. Karena itu dosen membutuhkan mahasiswa, seperti mahasiswa yang membutuhkan dosen. Bukan berarti dosen itu paling pandai. Dosen hanya menempuh pendidikan dan belajar lebih dulu dari mahasiswanya, dan mahasiswa yang rajin belajar bisa jadi mengalahkan dosen yang malas belajar.
Kita sebagai direktur, kemudian merasa paling tinggi kedudukan, dan menganggap bahwa karyawan kita itu lebih rendah dari kita. Ini penyakit merasa juga. Kalau direktur tanpa ada karyawan, apakah perusahaan bisa jalan? Direktur tanpa karyawan cleaning servise, apa punya waktu bersih-bersih perusahaannya. Pemimpin tanpa jasa security, apakah bisa mengamankan perusahaannya sendiri. Pemimpin tanpa karyawan, apa mampu mengerjakan sebuah pekerjaan yang butuh manajemen yang besar. Kagak bakalan bisa bekerja sendirian. Pasti bakalan capek luar biasa, dan output perusahaan akan tersendat.
So, apakah kita tidak boleh merasa?
Gue kira bukan tidak boleh merasa, tapi bagaimana cara kita menempatkan “merasa” itu pada tempat yang baik. Misalkan di lingkungan kita merasa seakan-akan paling kaya dari yang lain, saat ini pula kita membantu orang-orang yang membutuhkan, menolong orang miskin, membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, sehingga perasaan “merasa” ini membawa dampak manfaat bagi orang lain, bukan untuk merendahkan orang lain.
Atau kita merasa pendidikan kita lebih tinggi dari orang lain, saat itu pula kita merangkul orang-orang lain yang tidak sempat mengecap manisnya pendidikan dengan berbagi ilmu, mengajarkan kepada mereka tentang arti kebaikan dan ilmu bermanfaat. Tidak dengan tujuan ingin merasa dihormati atau merasa tinggi. Tapi, murni dari hati yang dalam untuk menjadi sarana manfaat orang lain.
Mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit merasa, dan bisa menempatkan merasa ini untuk membawa dampak manfaat yang luar biasa bagi orang lain. [ ]

Ditulis oleh Irza Setiawan


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter