Nah, kok ada yang
namanya penyakit merasa? Perasaan penyakit
itu kayak batuk, flu, demam, dll. Apakah ini jenis
penyakit bau, eh baru?
Hm...
sebelum gue jelasin, gue ceritain sebuah fenomena deh. Contoh
dalam pilkada terkadang ada terjadi para calon saling serang satu sama lain,
menghalalkan segala cara untuk meng-goal-kan tujuannya. Nah,
kenapa bisa seperti ini? Bisa
jadi karena merasa. Merasa paling
pantas dan mengganggap calon lain tidak pantas sama sekali, sehingga menjadi
persaingan yang tidak sehat, dan cenderung suka menyerang lawan.
Merasa
adalah penyakit yang berbahaya. Merasa
paling pintar, merasa paling benar, merasa paling tinggi kedudukan, merasa
memimpin dan harus dihormati, merasa paling kaya. Kemudian
penyakit merasa ini dibarengi dengan penyakit merendahkan dan menghina orang
lain, lambat laun ini malah menjadi buah kesombongan yang bisa mengotori hati. Padahal
tidak akan masuk surga seseorang yang punya sifat sombong di dalam hatinya
meski sebesar biji sawi sekalipun.
Kita sebagai
dosen, kemudian merasa paling pintar, merasa paling tinggi kedudukan,
menganggap bahwa mahasiswa lebih bodoh dari diri kita, merasa berjasa karena
bisa mendidik mahasiswa, nah, artinya ini
orang sudah kena penyakit merasa. Kalau
dosen kagak ada mahasiswanya, terus mau jadi
apa? Ngomong-ngomong sendirian di depan kelas? Kan aneh. Karena
itu dosen membutuhkan mahasiswa, seperti mahasiswa yang membutuhkan dosen. Bukan
berarti dosen itu paling pandai. Dosen
hanya menempuh pendidikan dan belajar lebih dulu dari mahasiswanya, dan
mahasiswa yang rajin belajar bisa jadi mengalahkan dosen yang malas belajar.
Kita sebagai
direktur, kemudian merasa paling tinggi kedudukan, dan menganggap bahwa
karyawan kita itu lebih rendah dari kita. Ini
penyakit merasa juga. Kalau
direktur tanpa ada karyawan, apakah
perusahaan bisa jalan? Direktur tanpa karyawan cleaning servise,
apa punya waktu bersih-bersih perusahaannya. Pemimpin
tanpa jasa security, apakah bisa
mengamankan perusahaannya sendiri. Pemimpin
tanpa karyawan, apa mampu mengerjakan sebuah pekerjaan yang butuh
manajemen yang besar. Kagak
bakalan bisa bekerja sendirian. Pasti
bakalan capek luar biasa, dan output
perusahaan akan tersendat.
So, apakah kita
tidak boleh merasa?
Gue
kira bukan tidak boleh merasa, tapi bagaimana cara kita menempatkan “merasa”
itu pada tempat yang baik. Misalkan
di lingkungan kita merasa seakan-akan paling kaya dari yang lain, saat ini pula
kita membantu orang-orang yang membutuhkan, menolong orang miskin, membuka lapangan
pekerjaan untuk orang lain, sehingga perasaan “merasa” ini membawa dampak
manfaat bagi orang lain, bukan untuk merendahkan orang lain.
Atau kita
merasa pendidikan kita lebih tinggi dari orang lain, saat itu pula kita
merangkul orang-orang lain yang tidak sempat mengecap manisnya pendidikan
dengan berbagi ilmu, mengajarkan kepada mereka tentang arti kebaikan dan ilmu
bermanfaat. Tidak dengan
tujuan ingin merasa dihormati atau merasa tinggi. Tapi,
murni dari hati yang dalam untuk menjadi sarana manfaat orang lain.
Mudah-mudahan
kita terhindar dari penyakit merasa, dan bisa menempatkan merasa ini untuk
membawa dampak manfaat yang luar biasa bagi orang lain. [ ]
Ditulis oleh Irza Setiawan
