“Menurutku, kamu itu adalah anak pungut!”
Amat terbelalak. Pernyataan Bahrun ini merupakan analisa
paling mustahil dalam hidupnya. Tapi,
kemungkinan benar bisa terjadi.
Sejak banyaknya muncul pembicaraan miring tentang dirinya
yang sangat berbeda dengan keluarga besarnya, Amat yang merupakan ABG labil
yang baru masuk SMP pun mulai galau. Ia khawatir, akan jadi bahan bully teman-teman sekolahnya, apalagi
kalau analisa Bahrun ini ternyata benar.
Sejak lahir, Amat sudah menunjukkan perbedaan yang sangat
signifikan dengan orang tuanya. Ia dianugerahi kepala botak permanen. Saking
permanennya, sehelai rambut pun tak pernah tumbuh di kepalanya. Sangat kontras
dengan keluarga besarnya yang terkenal memiliki rambut indah terawat.
Anugerah lain yang ia miliki terletak pada giginya. Bukan
karena giginya yang antik seperti batu akik, melainkan dua gigi seri bagian
atasnya tidak pernah tumbuh sama sekali. Diduga, kedua gigi seri bersaudara itu
patah hati dengan para gigi di bagian bawah akibat cinta yang bertepuk sebelah
gigi, sehingga keduanya enggan keluar gusi J. Kesimpulannya,
Amat terkena penyakit ompong stadium akhir. Hal ini bertolak belakang dengan
keluarga besar ibunya yang semuanya adalah dokter gigi dan keluarga besar
ayahnya yang pernah mendapat predikat keluarga gigi paling rapi dan bersih se-kabupaten.
Tak ayal, ia pun menjadi penghancur kebanggan keluarga besarnya itu akibat dua
giginya yang terlalu pemalu. Hingga, ibunya menyatakan mundur sebagai dokter
gigi dan beralih profesi menjadi ibu rumah tangga.
Botak dan ompong, itulah ciri khas Amat yang membedakannya
dari Amat-Amat lain yang amat banyak di dunia ini, juga di dunia maya, bahkan
mungkin juga di akhirat. Hingga ia pun mendapat julukan khusus, yakni Amat
Boong. Bukan maksud menyebut Amat tukang bohong, karena sesungguhnya ia
terkenal sebagai orang yang jujur aman damai sentosa dan bersahaja, juga taat
kepada Tuhannya. Boong adalah kolaborasi dari botak dan ompong. Namun, justru
Boong-nya ini lah yang menciptakan kegalauan di masa ABG-nya, dimana ia
dituntut untuk mencari jati diri di antara tekanan pergaulan yang keras.
Apalagi ia baru saja mendapat teman dekat SMP yang pandai beranalisa seperti
Bahrun, yang mulai mengontaminasi otaknya dengan virus-virus aneh.
“Kau yakin?” Amat memastikan. Ia mulai shock.
“Lihat saja dirimu, tak ada kemiripan sedikit pun dengan
orang tuamu.”
Amat tertunduk. “Jadi, aku memang anak pungut.” Ia mulai
terisak. “Aku masih merasa tak percaya.”
“Lebih baik kamu minta orang tuamu membuktikan kalau kamu
memang anak kandung mereka,” usul Bahrun.
“Caranya?” Amat mendongak. Bahrun pun berbisik.
* * *
Sebenarnya Amat
masih meragukan analisa Bahrun tentang dirinya, karena ia masih memiliki
beberapa kemiripan dengan orang tuanya. Seperti tangan, kaki, mata dan telinga
masih sama dua. Jari tangannya pun berjumlah sepuluh seperti orang tuanya.
Hanya saja, analisa itu cukup mengganggu keyakinannya. Apalagi di sekolah,
Bahrun tak henti-henti mendoktrinnya sehingga keyakinannya pun semakin goyah.
Ia semakin galau. Hingga akhirnya, ia pun nekad bertanya kepada ibunya.
“Kamu mengada-ngada, Mat. Ibu tak pernah memungut anak orang.
Kamu itu anak kandung Ibu.”
“Anak kandung? Buktinya?” tuntut Amat.
“Lihat saja di akte kelahiranmu!”
“Akte kelahiran bisa direkayasa.”
Ibu menghela napas. “Kamu benar lahir dari rahim Ibu. Ibu
yang telah melahirkanmu.”
“Masa? Amat merasa tidak pernah keluar dari rahim ibu.” Amat
ngotot
“Lha? Terus, bagaimana?
Memang kenyatannya seperti itu.” Ibu mulai kesal.
“Coba masukan Amat kembali ke rahim Ibu, kemudian keluarkan
lagi. Baru Amat percaya,” ujar Amat
“Ngaco kamu, Mat!” semprot ibu.
Amat tertunduk. Ia menyadari kalau perkataannya ini ngaco.
Namun, tekanan di luar lebih berat untuk ia tahan sehingga menuntutnya untuk
segera menemukan kebenaran, meskipun harus melakukan hal-hal yang ngaco.
Seperti di suatu siang sepulang sekolah, Amat menghampiri ibunya yang sedang tiduran
di depan TV. Dengan menggunakan kaca pembesar, ia mulai mengamati telapak kaki
ibunya.
“Kamu ngapain, Mat?” tanya ibu mengerutkan kening.
“Ibu bukan ibu kandung Amat, karena tidak ada pintu surga di
telapak kaki ibu. Kata guru agama di sekolah tadi, surga itu ada di telapak
kaki ibu.”
“Ngaco kamu, Mat!” semprot ibu.
Tak menyerah, keesokan harinya sepulang sekolah, Amat kembali
menemui ibunya sambil berseru, “Jika Amat memang anak kandung ibu, kutuklah
Amat menjadi batu!” Dan lagi-lagi ia mendapat semprotan yang sama seperti hari
sebelumnya.
“Kamu ini kenapa sih, Mat? Sebenarnya apa maumu?” Ibu mulai kesal,
juga cemas.
Amat menunduk. “Amat hanya ingin bukti bahwa Amat memang
anak kandung ibu.”
Ibu geleng-geleng kepala. “Ya sudah, besok kita buktikan
sama-sama.”
* * *
Amat dan ibunya duduk menghadap seorang dokter. Ibu yang semakin
mengkhawatirkan kondisi mental Amat yang seperti tertekan segera membawanya ke
rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Dan sekarang, mereka sedang menanti hasil
tes tersebut.
Sang dokter tersenyum. “Selamat ya, Bu, dari hasil
pemeriksaan kami, anak ibu dinyatakan positif hamil. Jadi, ibu sebentar lagi
akan menjadi seorang nenek.”
Ibu terperangah. Amat melongo.
“Serius, Dok? Coba cek ulang, siapa tahu keliru.” Ibu
memastikan.
“Betul, Bu. Di sini tertulisnya positif hamil,” jawab dokter
dengan penekanan.
Ibu mulai lemas. “Padahal anak saya cowok, Dok.”
“Apa?!” teriak dokter dan langsung berdiri. “Ini adalah
fenomena luar biasa!”
Sedang ibu malah semakin shock
dan Amat bersiap pingsan.
“Na ... Na ... Nama di hasil pemeriksaan tersebut siapa,
Dok?” tanya ibu gagap.
“Amay.”
Mata ibu langsung melotot. “Anak saya namanya Amat, Dok!
Pakai T!” teriak ibu.
Dan akhirnya, ibu dan Amat pun pulang dengan sebuah
kesimpulan pemeriksaan yang melegakan, bahwa Amat positif anak kandung ibunya.
“Jadi, kamu sudah yakin sekarang?” Ibu memastikan ketika
mereka dalam angkot.
Amat mengangguk. “Tapi, mengapa Amat berbeda, Bu?”
“Itu karena kamu istimewa, Mat. Kamu dilahirkan dengan
keistimewaanmu. Tak usah takut berbeda, karena perbedaanmu itulah yang
memudahkan orang untuk mengenali dan mengingatmu. Jadikan perbedaanmu ini
sebagai prestasimu. Dan yang pasti, ibu dan bapak selalu sayang kamu, Mat.”
Penuturan ibunya membuat mata Amat berkaca-kaca. Hingga
akhirnya ia pun menangis keras sambil guling-guling di angkot saking terharunya.
Walhasil, mereka pun diturunkan di tengah jalan.
“Dari mana kamu dapat pemikiran aneh seperti ini?” tanya
ibu.
“Itu analisa Bahrun, teman sekolah Amat, Bu.”
Akhirnya, ibunya pun memutuskan agar Amat pindah sekolah
demi menjaga kesucian otak Amat dari racun-racun tak berprikemanusian yang
datang melalui pemikiran aneh si Bahrun. []
(Pernah
dimuat di SKH Radar Banjarmasin edisi Minggu, 13 September 2015)
