Puisi I
PERCAKAPAN MALAM
memandangi gelisah malam
yang kini telah menelan tubuhmu
hanya aroma racun yang siap
menjelmakan keabadian
“siapa yang menyulut bara maut ini
dan membiarkannya menjalari semesta
hingga biru langit pun koyak melepuh
seperti kerak neraka?” tanyamu gusar
pada tanah gambut yang diam-diam
mengulum kepedihannya sendiri
dalam kabut, kita masih saja setia
merayakan manisnya mimpi keakanan
sementara orang-orang sibuk menyeka
peluh waktu yang terus menggaram
dalam genangan luka sejarahmu
“jika tanda-tanda sudah tak lagi dibaca
dalam tafsir keilahian yang sederhana
adakah masih tersaji anasir-anasir cinta
di tiap tikungan jalan?” tanyamu lagi
seakan bau asap yang menyengat ini
telah menjadi ruh kesadaranmu
dan kau akhirnya menyudahi malam
dengan bahasa diam tak berkesudahan
sementara pucuk pohonan di ujung sana
terus merindukan sejuknya angin pagi
2015
Puisi II
TUMBANG NUSA
menyapa asap yang telah meragi dalam tubuhmu
membaca peta negeri yang hilang ditelan awan
lidah-lidah api membagikan senyumnya dari hulu
hanya ruh kelampauanmu yang masih tersimpan
wahai, lagu apa lagi yang kini kau lantunkan
di jalan layang ini kita dikepung kabut air mata
wahai, luka sejarah mana yang kau sembunyikan
hidup orang-orang rimba cuma pelengkap saja
ketika matahari sudah tak lagi merindukan kami
lalu raksasa mana yang telah mengulum pijarnya
hingga jejaknya pun tak lagi mampu kami kenali
sementara iklan-iklan terus jejalkan mimpi kota
tumbang nusa, kegelisahan yang kini kau tuliskan
bukanlah dongeng lama yang layak didustakan
tumbang nusa, penderitaan yang kini kau kabarkan
adalah derita dunia yang tak cukup didiskusikan
2015
Puisi III
SEMBILU RINDU
merindukanmu adalah sembilu lukaku
ketiadaanmu menjelma mimpi perihku
di manakah sejuk embun yang dulu menyapa pagi
kemanakah deras hujan yang kelak menyudahi
jika matahari sudah tak lagi membawa cahaya
biarkan sajak-sajakku yang akan membakarnya
kalau napasku sudah tinggal sepotong angan
biarkan luka ini kulipat dalam kenangan
merindukanmu adalah sembilu lukaku
tak cukup kata untuk mengekalkan cintaku
2015
Jamal T.
Suryanata mulai produktif menulis
sejak awal dekade 90-an. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Banjar
(bahasa daerah di Kalimantan Selatan). Beberapa karya tulisnya pernah terpilih
sebagai pemenang dalam sejumlah even sayembara penulisan, baik di tingkat
daerah maupun nasional. Karya-karyanya yang lain (berupa puisi, cerpen, kritik
dan esai sastra, juga artikel pendidikan dan kebudayaan) telah tersebar di
berbagai media massa, di samping dalam sejumlah buku antologi bersama. Selain
itu, ia juga kerap didaulat sebagai narasumber dalam berbagai forum seminar dan
diskusi, terutama untuk bidang sastra-budaya dan pendidikan. Pernah menerima
Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (2000), Penghargaan Sastra dari Kepala Balai
Bahasa Banjarmasin (2007), dan Anugerah Budaya dari Gubernur Kalsel (2015).

