Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 09 April 2016

PUISI JAMAL T. SURYANATA: PERCAKAPAN MALAM


Puisi I
PERCAKAPAN MALAM
                                 
memandangi gelisah malam
yang kini telah menelan tubuhmu
hanya aroma racun yang siap
menjelmakan keabadian

“siapa yang menyulut bara maut ini
dan membiarkannya menjalari semesta
hingga biru langit pun koyak melepuh
seperti kerak neraka?” tanyamu gusar
pada tanah gambut yang diam-diam
mengulum kepedihannya sendiri

dalam kabut, kita masih saja setia
merayakan manisnya mimpi keakanan
sementara orang-orang sibuk menyeka
peluh waktu yang terus menggaram
dalam genangan luka sejarahmu

“jika tanda-tanda sudah tak lagi dibaca
dalam tafsir keilahian yang sederhana 
adakah masih tersaji anasir-anasir cinta
di tiap tikungan jalan?” tanyamu lagi
seakan bau asap yang menyengat ini
telah menjadi ruh kesadaranmu

dan kau akhirnya menyudahi malam
dengan bahasa diam tak berkesudahan
sementara pucuk pohonan di ujung sana
terus merindukan sejuknya angin pagi


2015




Puisi II
TUMBANG NUSA

menyapa asap yang telah meragi dalam tubuhmu
membaca peta negeri yang hilang ditelan awan
lidah-lidah api membagikan senyumnya dari hulu
hanya ruh kelampauanmu yang masih tersimpan

wahai, lagu apa lagi yang kini kau lantunkan
di jalan layang ini kita dikepung kabut air mata
wahai, luka sejarah mana yang kau sembunyikan
hidup orang-orang rimba cuma pelengkap saja

ketika matahari sudah tak lagi merindukan kami
lalu raksasa mana yang telah mengulum pijarnya
hingga jejaknya pun tak lagi mampu kami kenali
sementara iklan-iklan terus jejalkan mimpi kota

tumbang nusa, kegelisahan yang kini kau tuliskan
bukanlah dongeng lama yang layak didustakan
tumbang nusa, penderitaan yang kini kau kabarkan
adalah derita dunia yang tak cukup didiskusikan


2015




Puisi III
SEMBILU RINDU
                                 
merindukanmu adalah sembilu lukaku
ketiadaanmu menjelma mimpi perihku

di manakah sejuk embun yang dulu menyapa pagi
kemanakah deras hujan yang kelak menyudahi

jika matahari sudah tak lagi membawa cahaya
biarkan sajak-sajakku yang akan membakarnya

kalau napasku sudah tinggal sepotong angan
biarkan luka ini kulipat dalam kenangan

merindukanmu adalah sembilu lukaku
tak cukup kata untuk mengekalkan cintaku


2015




Jamal T. Suryanata mulai produktif menulis sejak awal dekade 90-an. Ia menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Banjar (bahasa daerah di Kalimantan Selatan). Beberapa karya tulisnya pernah terpilih sebagai pemenang dalam sejumlah even sayembara penulisan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Karya-karyanya yang lain (berupa puisi, cerpen, kritik dan esai sastra, juga artikel pendidikan dan kebudayaan) telah tersebar di berbagai media massa, di samping dalam sejumlah buku antologi bersama. Selain itu, ia juga kerap didaulat sebagai narasumber dalam berbagai forum seminar dan diskusi, terutama untuk bidang sastra-budaya dan pendidikan. Pernah menerima Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (2000), Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (2007), dan Anugerah Budaya dari Gubernur Kalsel (2015).


Buku-bukunya yang sudah diterbitkan antara lain Untuk Sebuah Pengabdian (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh (Banjarmasin: Radar Banjarmasin Press, 2005), Penyesalan Sang Pemburu (Jakarta: Pabelan Cerdas Nusantara, 2005), Bulan di Pucuk Cemara (Yogyakarta: Gama Media dan LPKPK, 2006), Debur Ombak Guruh Gelombang (Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Guruku Tidak Kencing Berlari (Banjarmasin: Tahura Media, 2010), Tragika Sang Pecinta: Gayutan Sufistik Sajak-sajak Ajamuddin Tifani (Yogyakarta: Akar Indonesia, 2010), Sastra di Tapal Batas (Banjarmasin: Tahura Media, 2012), Inspring Teacher: 7 Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif, 2 jilid (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2013), Kitab Cinta (Banjarbaru: Scripta Cendekia, 2014), Sastra Banjar: Refleksi Historis dan Tinjauan Kritis (Banjarmasin: Pustaka Banua, 2015), Sajak Sepanjang Trotoar (Banjarmasin: Tahura Media, 2016), dan Pengkajian Drama: Teori, Metodologi, dan Aplikasi (Yogyakarta: Akar-Indonesia, 2016) 


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter