Apa yang kita bagi, tak akan
pernah berkurang. Mungkin
inilah satu kalimat yang menginspirasi untuk membagikan sedikit ilmu tentang
menulis kepada anak-anak di Rumah Baca Daanish Aniq pekan lalu. Sekaligus sebagai
rasa syukur satu tahun Penerbit Pustaka Kata, penerbit indie yang saya kelola
(26/03/16).
Bersama
dengan teman-teman dari RAJ (Rumpun Aksara Jombang), Marifah R Nazilah, Nindy,
Adella April dan Candra Adikara Irawan, saya berangkat ke Dusun Bajang Desa
Karanglo Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang. Sebelumnya saya sudah
mengkonfirmasi pemilik rumah baca Bu Yaya. Anak-anak menyambut saya dan
teman-teman dengan sangat terbuka. Bahkan rasanya saya terharu melihat
antusiasme hampir seratus anak-anak yang menyambut saya. Mimpi-mimpi besar
seolah terpancar dari wajah polos mereka.
Rumah baca
Daanish Aniq baru berdiri sejak tahun 2014 dan memiliki koleksi sekitar 500
judul buku untuk anak-anak dan umum. Saya sempat memberikan tantangan singkat
untuk membuat cerpen dan puisi bertema bebas, baik tentang peristiwa-peristiwa
di kehidupann sehari-hari maupun imajinasi dan mereka menjawab tantangan saya
dengan baik. Karya-karya mereka patut diacungi jempol. Seperti Resti Langgeng
Wahyono, Wilujeng, Aan Dwi Amrullah, Serli Aprilia, Zian Nur Fitria, Yusrotul
Maghfiroh, Izzatul Hamidah dan Izzatul Mufidati. Untuk mengapresiasi
karya-karya mereka, saya memberikan sedikit kenang-kenangan berupa buku sebagai
motivasi agar mereka terus membaca dan menulis.
Kegiatan
berbagi sekaligus sharing kepenulisan ini akan berlangsung setiap
bulannya di Rumah Baca Daanish Aniq. Menurut Bu Yaya, pemilik Rumah Baca
Daanish Aniq, “Kopdar pertama Penerbit Pustaka Kata adalah pembuka pintu mimpi
anak-anak di rumah baca ini.” Harapan saya tentunya semakin banyak generasi
kita yang gemar membaca dan bisa terus membagi sedikit ilmu saya kepada mereka.
Tetap semangat ya adik-adik. Semoga bisa menjadi penulis sukses. Aamiin.
Yuk, kita
nikmati karya beberapa anak Rumah Baca Daanish Aniq!
KENANGAN
Karya: Serli Aprilia
Saat perjumpaan awal
Aku termangu melihatnya
Kebersamaan yang amat mendalam
Sehingga terbesit hal indah
Tapi saat waktu terus bergulir
Kenangan itu mulai pudar
Dan hilang tanpa bekas
Pada saat aku mengingatnya
kembali
Bagai tersihir rasa hati
Tapi
Sirna sudah semua harapan untuk
kembali
Karna kebersamaan itu hilang
ditelan kenangan
MATAHARI
Karya: M.Fahmil Haq
Oh matahari
Engkau menerangi bumi
Engkaulah yang paling terang
Matahari, bila kau tak ada
bumi akan gelap
manusia sungguh membutuhkanmu untuk
menjemur pakaian
Untuk fotosintesis bagi tumbuhan
Itulah manfaatmu matahari
NEGARAKU YANG SEKARANG
Karya: Wilujeng
Indonesia, itulah negaraku
Terbentang dari Sabang hingga
Merauke
Penuh dengan budaya yang menarik
Keadilan dan kemakmuran rakyat itulah
dasar negaraku
Dahulu, setiap insan di negaraku
pasti ingin melestarikan dan
mempelajari budaya yang ada
Tapi kini sudah jarang kulihat
orang di negaraku mempelajarinya
Bahkan remaja sekarang, hanya
bisa main facebook, bbm tanpa menghiraukan budayanya
Orang asing saja mau
mempelajarinya, tapi kenapa kita yang orang indonesia tak mau?
Mungkinkah kalian sudah bosan
dengan budaya negara kalian?
Anggi Putri, penggagas komunitas menulis RAJ (Rumpun Aksara
Jombang), Pimpinan Penerbit Pustaka Kata, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Penggiat Sastra dan
Penikmat literasi. E-mail anggiputri265@gmail.com


