Sabtu, 09 April 2016
ASTRI NOR FITRIANI: SEBUAH PARODI TENTANG WANITA
Ketika saya bangun dari tidur hari ini, saya teringat bahwa pimred memerintahkan saya untuk menulis sesuatu bertema wanita. Dan mendadak kepala saya menjadi pusing. Siapa yang tidak kenal dengan wanita? Manusia ciptaan Tuhan yang katanya paling susah dipahami, manusia yang perasaannya paling lembut, atau manusia yang secara sepakat kita katakan adalah makhluk yang tidak akan pernah selesai jika dieksplorasi. Lalu, bagaimana saya akan menulis tentang makhluk ajaib ini? Dua buku tebal pun tidak akan cukup. Lalu, saya mengingat-ingat tulisan salah seorang penulis di sebuah koran, dan mendadak saya mendapatkan sebuah ide.
Dalam sebuah hadistnya, Nabi mengatakan kepada kita bahwa wanita kurang dalam dua hal, yaitu kurang dalam hal agama dan akalnya. Untuk pertama kalinya saya mengenal hadist itu, saya sama sekali tidak setuju. Apa-apaan ini? tanya saya dalam hati. Tetapi, ketika guru saya menjelaskan makna yang tersirat dari perkataan Nabi tersebut, alih-alih menentang, saya malah berpikir, benarkah hanya cuma dua? Tentu saya tidak bermaksud untuk meragukan kebenaran hadist Nabi, tetapi hanya bertanya-tanya di dalam hati, adakah kekurangan-kekurangan wanita yang lain selain dua hal tersebut? Lalu saya mengingat-ingat lagi.
Dalam sebuah buku berjudul Half-Full Half-Empty, saya mencatat baik-baik sebuah kalimat Pak Marpaung, “Salah satu sifat manusia yang sampai saat ini masih mewarnai pergaulan sehari-hari adalah seseorang lebih mudah dan menyenangkan menceritakan hal-hal negatif tentang orang lain ketimbang hal-hal positif”. Saya akan selalu termenung kalau membaca tulisan ini. Termenung karena sesungguhnya yang dikatakan oleh Pak Parlindungan Marpaung tersebut benar. Saya tersindir habis-habisan, bahkan hingga saat ini. Karena tentu sudah kita ketahui, wanita lah yang paling sering dan senang bergosip, apa pun itu dan dimana pun.
Bergosip sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi para wanita, bahkan juga laki-laki. Tetapi saya sedang menulis tentang wanita, dan dimana-mana bergosip sangat identik dengan wanita. Sebenarnya saya sungguh tidak setuju dengan pemasangan kata antara ‘bergosip’ dengan ‘wanita’, tetapi ketika saya melihat realita yang ada, saya menggulung lidah dan menarik kata-kata itu kembali.
Mengapa wanita suka bergosip? Banyak jawabannya, tetapi tidak ada yang valid. Mungkin karena kebiasaan, atau memang hobi, atau pun hanya sebagai pengisi waktu luang, dan mungkin pula ketiga-tiganya. Saya jadi bertanya-tanya, bahkan pada diri saya sendiri, apakah saya dan teman-teman saya sesama wanita tidak mengetahui hadist Nabi yang mengatakan bahwa barangsiapa meng-ghibah saudaranya, maka seolah-olah dia telah memakan daging saudaranya sendiri. Tentu saya tahu hadist tersebut. Lalu, mengapa saya terus saja melakukan hal yang jelas-jelas dilarang oleh Allah? Pura-pura tidak tahu kah saya? Sekali lagi, hati saya berat dan merasa ada palu yang jatuh mengenai kepala saya.
Dan untuk pertama kalinya saya berpikir, mungkin, dan hanya mungkin, itu lah salah satu kekurangan akal yang terdapat dalam wanita. Karena sekali lagi, mereka lebih mementingkan kesenangan dibanding mengingat akibat yang akan mereka dapatkan jika melanggar aturan-aturan Allah. Mereka lebih mementingkan perasaan alih-alih menggunakan akal mereka. Mereka? Hati saya bertanya. Apakah kamu tidak termasuk? Ok, saya menyerah.
Tetapi saya belum selesai. Ya, memang saya bisanya hanya berkicau saja. Untuk melakukan yang saya ucapkan itu urusan belakangan. Walaupun jauh di dalam lubuk hati, saya berharap bisa mengerjakannya. Ya, wanita memang unik. Karena dibalik sifat-senang-bergosip tersebut, wanita ternyata juga sulit sekali untuk memaafkan. Saya kok percaya untuk melakukan hal ‘maaf-memaafkan’ itu dibutuhkan kerendahan hati luar biasa. Dan itu tidak terjadi pada diri saya. Apa arti memaafkan mungkin bisa diungkapkan lewat bait puisi karangan seorang penulis, Anthony Dion Martin:
Mengampuni adalah
membiarkan rasa sakit berlalu
serta menerima apa yang telah terjadi
sebab yang terjadi, takkan lagi bisa diubah
Mengampuni adalah
menghilangkan keinginan menyalahkan
Pilihan kita lah yang membuat kita semakin terluka
Sebenarnya, kita dapat membuat pilihan yang lebih baik,
tapi kita tak mau melakukannya
Mengampuni itu ternyata sama sekali tidak mudah bagi sebagian orang. Khususnya sebagian besar wanita. Mereka memang terlihat mengampuni, tetapi lihat saja dalamnya. Saya tidak bermaksud untuk memvonis dan menjadi manusia ‘sotoy’, karena siapa yang bisa menebak hati wanita? Mungkin saja saya salah. Tetapi kalimat forgiveness and forgetness memang bukan ditakdirkan untuk dipasangkan kepada seorang wanita. Rambut boleh sama hitam, tapi kemampuan dan keinginan untuk memaafkan lain perkara. Dan lagi-lagi saya seperti dipukul dengan pohon kelapa. Apakah saya berani memaafkan orang yang saya benci dan membenci saya selama bertahun-tahun? Bagaimana cara saya untuk mulai berani memaafkan? Apakah kalau musuh saya tidak mendatangi terlebih dahulu saya akan berani mendatanginya?
Lalu pertanyaan lain muncul di kepala saya, apakah saya termasuk orang yang dalam istilah Inggris dinamakan Walk the Talk? Saya tidak bisa mengiyakan. Kenyataannya, saya cuma bisa talk talk talk, tok. Karena sekali lagi, saya kan wanita….
Dan justru karena saya adalah wanita, seharusnya saya sadar dan mencoba untuk berubah. Karena kalau mengutip kata-kata teman saya, wanita adalah manusia paling penting yang menentukan generasi selanjutnya. Di tangan wanita lah akhlak dan budi pekerti seorang calon pemimpin dipertaruhkan. Lalu, bagaimana jadinya kalau sang wanita memiliki kekurangan akal dan agama yang tidak bisa dia menej menjadi sebuah hal positif? Saya rasa saya bisa menemukan jawabannya dengan melihat pemimpin-pemimpin kita sekarang. Saya teringat kata-kata teman saya yang selalu saya ulang-ulang: “Kamu adalah seorang wanita, yang dianugrahkan oleh Allah akal dan perasaan. Lalu, kenapa kamu cuma menggunakan perasaanmu saja dalam menghadapi sebuah masalah? Kamu kemanakan anugerah Tuhan yang lain berupa akal? Maka jika perasaanmu tengah mendominasi, pergunakan akalmu untuk menetralisir”. Saya manggut-manggut. Mungkin inilah waktunya saya memaafkan diri saya dan lebih memilih menggunakan otak dibanding perasaan saya. Viva woman!
Astri Nor Fitriani kelahiran tahun 1990 dan merupakan lulusan Al-Azhar University Cairo Mesir. Pernah menjadi editor regular di majalah Kalimantan-Mesir, dan merupakan salah satu redaktur yang ingin merintis berdirinya Read Zone. Ia pertama kali bergabung di Read Zone di bulan September 2016.
Cara Kirim Naskah ke Redaksi Read Zone
Label:
gaRage
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
