Pages

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label gaRage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gaRage. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

AMIN BILAMBIKA: SETITIK HITAM KALAHKAN SELEMBAR PUTIH


“Seandainya aku melakukan kebenaran sembilan puluh sembilan kali dan melakukan kesalahan sekali, sungguh manusia akan menghitung-hitung satu kesahalan tersebut.”
(Imam Asy Sya’bi)

 Ada seorang ibu rumah tangga. Dia melakukan pekerjaan rumah tangga dengan sebaik mungkin. Mencuci, memasak, membersihkan rumah, dan seabrek pekerjaan rumah yang sebenarnya tak akan ada habis. Dengan setulus hati dan rasa cinta yang dalam, dia merawat suami dan anak-anaknya. Keluarga terasa sangat harmonis.
Hingga suatu hari, meski dengan kepala yang pusing dan badan mengigil, dia tetap memaksakan diri memasak untuk disuguhkan kepada suaminya sepulang kerja petang nanti. Tanpa sengaja, dia melakukan kesalahan dengan memasukkan terlalu banyak garam sehingga makanannya terasa begitu asin. Dan apa yang terjadi? Dia dimaki-maki suaminya. Dihina. Dicerca. Dimarahi.
“Dasar istri b*d*h! Masak sayur aja keasinan kayak gini! Dasar nggak becus masak! Kamu ingin membunuhku dengan masakan asin ini, hah! Jangan-jangan kamu ada punya selingkuhan, jadi ingin membunuhku!”
Nah lo? Kok jadi ngawur sampai nyebut selingkuhan gitu? Tapi, hal itu bisa terjadi lho!
Kalau kita amati, sebenarnya permasalahan yang terjadi di atas adalah permasalahan yang sangat sepele. Hanya karena kurang teliti memasukan garam pada masakan, masak berujung pada pertengkaran, bahkan perceraian! Padahal telah banyak kebaikan yang telah dilakukan si istri tersebut.
Itulah yang sering terjadi pada diri kita, Kawan! Kita sering melupakan begitu banyak kebaikan yang telah dilakukan orang lain hanya gara-gara satu kesalahan yang terkadang itu sangat sepele. Padahal kalau kita pikirkan baik-baik, kita juga bisa melakukan kesalahan seperti apa yang dilakukan orang lain tersebut. Apabila kita yang melakukan kesalahan tersebut, apakah kita akan menghakimi diri kita seperti kita menghakimi orang lain? Belum tentu juga sang suami bisa memasak seperti istrinya. Malah mungkin tidak bisa memasak sama sekali.
Kawan, manusiawi kita adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah dan khilaf. Tentu untuk menyikapi itu semua kita diajarkan untuk sabar dan saling memaafkan. Andai sang suami bisa sabar dan memaafkan, tentu makian itu tak akan terlontarkan. Padahal masakan bisa dimasak kembali, bukan?
Tahan emosimu dan cobalah berpikir positif! Itu yang harus kita lakukan apabila menghadapi kesalahan yang dilakukan orang lain. Coba kita cari tahu dahulu, apa penyebab kesalahan itu terjadi. Dan belajarlah untuk mengerti apa yang terjadi dengan orang itu sehingga dia melakukan kesalahan. Bayangkan jika itu terjadi pada diri kita! Mungkin itu bisa membantu kita untuk mudah memahami. Cobalah bicarakan secara baik dengannya. Itu lebih baik daripada langsung melontarkan makian. Karena makian sama saja dengan membunuh orang itu! Dan akhirnya, belajarnya untuk memaafkan. Nah, kalau sudah gini kan, indah jadinya.
Namun, begitulah hakikat manusia, selalu lebih tampak yang salah ketimbang yang baik. Seperti ketika melihat selembar kertas, maka kertas itu akan disebut selembar kertas putih. Tapi, setelah dititiki setitik tinta hitam, kertas yang putih akan berganti nama dengan kertas bertitik hitam. Padahal masih lebih banyak warna putih daripada warna hitam.
Satu kesalahan akan merusak banyak kebaikan, itulah makna yang diungkapkan oleh Imam Asy Sya’bi pada kalimat di awal tadi. Namun, hanya diri kita sendiri yang bisa mengontrol apakah kita akan selamanya terpuruk dalam pemikiran ‘Setitik Hitam Kalahkan Selembar Putih’. Kunci keluarnya adalah harus sabar, bisa memahami, dan belajar memaafkan.

Kalau sudah begitu, jadi manis kan rasanya. [ ]

Rabu, 09 November 2016

ALIMAN SYAHRANI: DIAM ITU DOSA


Ketika dulu Mar’ie Muhammad, menteri keuangan di era Orde Baru, mengucapkan kata perpisahan, ia meminta maaf, seperti biasa. Tetapi kali ini, Mar’ie menambah ungkapan klise. Selain meminta maaf atas ucapan, tindakan, gerak-geriknya selama menjadi menteri, ia juga meminta maaf atas tutup mulutnya (sambil meletakkan ibu jari di mulutnya). Ia mohon maaf bukan saja untuk apa yang ia ucapkan, tetapi juga apa yang ia diamkan.
Ajaib. Anda bisa berdosa karena ucapan Anda. Tetapi apakah Anda berdosa karena diam, bungkam, atau tidak berbicara? Bukankah diam itu emas? Bukankah diam berarti pengendalian diri? Selama ini kita diajari untuk diam dan memandang diam sebagai amal saleh yang utama. Kita mungkin merujuk kepada al-Ghazali yang menyebut keburukan bicara dan keutamaan diam. Diam adalah tanda orang yang memperoleh hikmat, kata al-Ghazali.
Tiba-tiba Mar’ie mengingatkan kita ada diam yang dosa dan, untuk itu, kita harus minta maaf. Yang mohon maaf karena diam itu adalah orang yang mengisi saat terakhir jabatannya dengan kesibukan memberi keterangan. Rupanya, banyak yang ia katakan; tetapi lebih banyak lagi yang ia diamkan. Dan Mr. Clean minta maaf untuk keduanya. Sebagaimana tidak semua berbicara berdosa, tidak semua diam berpahala. Tidak semua diam emas. Ada juga diam yang sampah dan menyembunyikan kebusukan. Untuk sementara, kita dapat menyebut empat diam yang dosa.
#Pertama, Anda diam ketika kemungkaran dilakukan terang-terangan di depan Anda. Nabi saw. menyebut salah satu yang dilaknat Allah adalah suami yang diam melihat istrinya berbuat maksiat. (Maksud Nabi saw. tentu saja meliputi juga istri yang diam melihat suaminya berbuat dosa).
Al-Qur’an menyebut laknat yang ditimpakan kepada Bani Israil melalui lidah Dawud dan Isa a.s. karena mereka diam melakukan kemungkaran di antara mereka: “Mereka satu sama lain tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat (QS 5:78-79). Salah satu kemungkaran yang dibuat bani Israil waktu itu adalah kezaliman dan penindasan. ‘Ali bin Abi Thalib menegaskan, kezaliman tak pernah berlangsung tanpa kerja sama antara yang menzalimi dan yang dizalimi. Dengan diam, orang yang tertindas mendukung pelestarian penindasan. Diamnya seluruh masyarakat/bangsa atas penindasan pengausa adalah tonggak utama kezaliman.
‘Ali bin Husayn, cucu ‘Ali, berdoa, “Tuhanku, ampuni aku bila di sampingku ada orang yang dizalimi dan aku diam.” Diam di sini dapat berarti izin, seperti diamnya seorang perempuan ketika dipinang, atau diamnya aparat hukum ketika seorang yang berkuasa melakukan pelanggaran. Mengizinkan kezaliman sama besar dosanya dengan melakukan kezaliman itu sendiri.
#Kedua, diam itu dosa jika berkenaan dengan informasi yang diperlukan masyarakat. Rasulullah saw. berkata, “Jika seorang ulama (‘alim, pemilik informasi) ditanya, lalu ia menyembunyikan informasinya itu (diam), ia akan dibelenggu dengan belenggu api neraka.” Dalam hadits yang lain Rasulullah saw. juga mengingatkan, “Celaka bagi orang yang mengetahui (‘alim, pemuka agama) terhadap suatu persoalan, namun ia tidak memberitahukan kepada orang yang belum mengetahui (awam).” (HR Ahmad).
Al-Qur’an juga mewantikan, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang benar (hak) dengan yang salah (bathil) dan janganlah kamu sembunyikan yang benar itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah 42).
Berdosalah seorang ulama yang diam, tidak mengajarkan ilmunya; seorang yang tahu jalan yang tidak mau memberikan petunjuk; seorang yang melihat kebusukan dan tidak melaporkannya.
Pada tahun ‘80an, Challenger, pesawat ruang angkasa AS, meledak pada saat peluncuran dan membunuh semua krunya. Penyebabnya diduga karena salah satu bagian pesawat, O ring, meleleh dalam temperatur tertentu. Para insinyur sudah lama mengetahuinya, tetapi mereka tidak melaporkannya karena takut dikecam oleh pimpinannya. Mereka tutup mulut. Diam mereka itu dosa. Diamnya menyelamatkan mereka tetapi mencelakakan orang banyak. Ketika para ulama, tuan guru, ustadz, kiayi habib, cendekiawan, dan orang-orang pintar diam melihat kerusakan jukung banua atau negeri ini nang pacang tarampak ambul demi kepentingan sesaat, mereka ikut bertanggung jawab jika jukung banua dan negeri ini tatingkulup.
Berbicara atau berbuat sesuatu berarti melakukan kemungkinan untuk salah dan kesalahan itu bisa fatal. Tapi bersikap diam juga bukanlah tindakan yang tepat. Sebab, diam bukanlah suatu sikap tetapi memberi legitimasi untuk terjadinya penyimpangan-penyimpangan.
#Ketiga, diam yang dosa adalah tidak mau berbicara selama tidak berkaitan dengan keuntungan dirinya. “Tahukah kalian,” kata Jalaluddin Rumi kepada para pengikutnya, “mengapa al-Qur’an menyebut: …sesunggunya suara yang paling buruk adalah suara keledai?” (QS 31:19). Dahulu, ketika semua makhluk diciptakan, mereka diberi kemampuan mengeluarkan suara. Ketika suara mereka keluar pertama kalinya, semua makhluk memuji dan mengagungkan Tuhan, kecuali keledai. Keledai hanya mau bersuara, jika lapar atau ingin memuaskan nafsunya.”
Banyak orang seperti keledai. Dunia boleh bergejolak: hutan terbakar, kemarau panjang, banyak orang kelaparan. Mereka diam. Masyarakat boleh resah: jutaan orang kehilangan pekerjaan karena krisis moneter, jutaan bayi mati karena krisisi menetek. Rakyat boleh sesangsara: jalan negara macet dan rusak oleh mobil angkutan batu bara, harga bahan pokok meroket, PHK merajelela, pengangguran membludak. Umat boleh terpecah: pronogarfi dan pornoaksi menjamur, aliran sesat merebak, penistaan terhadap agama dilakukan terang-terangan, penghinaan terhadap Nabi berlangsung di berbagai tempat dan media. Mereka diam. Begitu mereka dihadapkan pada persoalan gaji dan tunjangan mereka sendiri, mereka angkat bicara. Segera setelah tuntutan kenaikan gaji mereka dipenuhi, mereka sunyi kembali. Segera setelah fasilitas dinas (uang perjalanan dinas, rumah dinas, mobil dinas) mereka dikabulkan, mereka manut lagi.
Ada juga orang yang bersuara keras, vokal, dan kritis. Di mana-mana ia menjadi singa mimbar dan orator ulung. Ia dikenal sebagai pengikut garis keras. Ia kesohor sebagai kelompok oposisi yang fanatik. Tiba-tiba suaranya hilang. Rupanya ia kini sudah menduduki jabatan yang basah di tengah-tengah orang yang dahulu dikecamnya. Rupanya, suara kerasnya itu hanya suara keledai. Suara yang keluar karena lapar.
#Keempat, diam itu dosa, ketika Anda tidak mengakui kesalahan yang Anda lakukan, disengaja atau tidak, khilaf atau mahilap. Anda melakukan kesalahan yang amat-amat merugikan dan meresahkan masyarakat. Orang banyak menuntut pertanggungjawaban Anda. Masyarakat meminta klarifikasi Anda. Umat mengharap permohonan maaf Anda. Anda diam. Anda menjadi lautan yang isinya tidak terlihat. Anda bersembunyi di menara gading yang tak terjangkau. Anda menjelma menjadi manusia suci yang tidak boleh dikritik, tak boleh disalahkan, apalagi dimintai klarifikasi, diminta pertanggungjawaban dan permohonan maaf segala. Anda menjadi patung yang kaku, tanpa ekspresi. Begitu Anda menemukan kambing hitam, Anda melolong dengan suara yang mengalahkan halilintar.
Lantas, apakah seharusnya kita tidak usah berkata kecuali untuk yang buruk, dan tidak berbuat kecuali untuk yang baik? Karena selama ini kita lebih banyak berbicara tentang berbagai kebaikan dengan segala pahalanya. Namun yang terjadi justru keburukan kian merajalela.
Rasulullah saw. memberi tuntunan, “Apabila engkau melihat ketidakberesan maka atasilah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, gunakan mulutmu. Dan bila engkau tidak pula mampu menggunakan mulut, cobalah dengan hatimu, tetapi itulah selemah-lemahnya iman.”
Tafsiran “pop” hadits ini mewajibkan orang tidak berdiam diri bila melihat keadaan yang senjang. Tindakan yang bisa diambil untuk mengatasi kesenjuangan itu bertingkat-tingkat menurut status dan kondisi orang yang bersangkutan. Siapa yang mempunyai kekuasaan (tangan) atau kewenangan politik, gunakan apa yang dimilikinya itu untuk membereskan keadaan yang senjang tersebut. Siapa yang menguasai mimbar (mulut) atau media massa, pakailah sarana itu untuk propaganda tentang kebaikan dan kebenaran. Lalu yang tak punya apa-apa silakan berupaya memperbaiki keadaan dengan berdoa.
Kita tidak tahu mengapa Mar’ie minta maaf untuk tutup mulutnya. Apakah karena ia pernah diam menyaksikan kezaliman, atau karena informasi yang tidak berani ia sampaikan? Tetapi kita yakin, Mar’ie tidak diam karena sudah dipenuhi kebutuhan makannya. Suara Mar’ie bukan suara keledai. Juga, Mar’ie tidak diam karena menyembunyikan kesalahannya. Ia terkenal sebagai orang yang bersih. Kita pasti memaafkan Mar’ie atas diamnya. Kita maklum. Tarimakasih, Pak mar’ie. Semoga Tuhan selalu memberkatimu.
Kita akan selalu merindukan sosok dan pribadi seperti Pak Mar’ie dalam diri para pejabat dan politisi kita. Dan sepertinya kita tak perlu pesimis, sebab kita masih bisa mendengar, meskipun sayup-sayup, ada para pejabat dan politisi yang mau bersuara keras.
Tetapi semoga saja suara keras mereka bukan suara keledai!
Billahi fi sabilil haq! [ ]


Selasa, 25 Oktober 2016

ASTRI NOOR FITRIANI: SAKIT


Setiap manusia di dunia ini punya roda kehidupannya masing-masing. Ada yang punya giliran berada di bawah sampai harus terinjak-injak, bonyok, dan nelangsa, dan ada saatnya kita mendapat giliran berada di atas, menghirup angin kemenangan, berjaya, dan bahagia. Begitulah alur hidup yang diciptakan Tuhan untuk kita dengan penuh keadilan yang kadang tak disadari oleh manusia. Orang sakit adalah salah satunya.
Dalam tulisan yang pernah saya baca, siapapun akan lumpuh ketika berhadapan dengan sakit. Terserah itu politikus, kritikus, presiden, ulama, dokter, koruptor, napi, ataupun penjahat dan perampok, sampai orang biasa, semuanya akan ‘tunduk’ sewaktu kebagian giliran sakit. Saya yang saat itu juga tengah sakit hanya bisa membenarkan, perut saya bandel lagi.
 Setuju ataupun tidak, menurut saya orang sakit adalah satu-satunya orang yang paling paham satu hal: Tak selalunya kesempatan sehat berada di tangan mereka. Dalam kesakitan, saya sampai menulis lebih dari sepuluh hashtag tentang orang sakit. Dalam hashtag-hashtag tersebut saya mengeluarkan semua pikiran saya tentang kerugian dan keberuntungan orang sakit. Dan ternyata, ada 1001 keberuntungan khusus untuk orang sakit ketika kita mau dan mampu berlapang dada.
Terkadang ketika kita melihat orang-orang di sekitar kita, kita mungkin berpikir, pernahkah mereka sakit? Mengapa mereka selalu terlihat sehat? Atau, mengapa Tuhan lebih memilih memberikan sakit kepada kita dan bukannya kepada orang lain? Beberapa pertanyaan tersebut wajar saja, karena pikiran orang sakit biasanya berbeda dengan pikiran orang normal. Karena orang sakit hanya bisa merasakan kegembiraan orang lain tanpa bisa masuk ke dalamnya. Karena orang sakit adalah satu-satunya orang yang terpojok di tengah kesibukan manusia-manusia lainnya tanpa bisa bangun dan bergabung dengan mereka. Ibarat daun, orang sakit seperti daun yang jatuh di antara tunas-tunas baru yang tumbuh.
 Tetapi perasaan-perasaan tersebut berhasil teratasi dengan hati nurani saya yang mendadak nyeletuk dari dalam, “Mbok ya makasih gitu dikasih sakit sama Allah. Dia mau merehatkanmu sejenak dari lalu lintas hidup. Sebenarnya waktu sakit, Tuhanmu itu sedang berkata pada malaikat-Nya: Aku memberinya sakit karena dia orang spesial di mata-Ku.” Saya terdiam lagi. Kali ini tak berkutik. Karena mungkin saja, sakit yang saya idap ini adalah bayaran buat dosa-dosa saya yang dengan sangat baik hati berusaha dikurangi oleh Tuhan. Saat saya terbaring sakit, mungkin saja Tuhan sedang menggoyang pohon dosa saya agar daun-daunnya berguguran.
 Maka berbahagialah ketika Anda sakit, karena Anda adalah orang-orang pilihan Tuhan! [ ]




Selasa, 20 September 2016

KAK IAN: PENULIS OTODIDAK VS PENULIS AKADEMISI


Penulis otodidak : tanpa bakat pun bisa!
"Aku ingin memberitahu dunia satu kata saja. Karena tidak bisa melakukannya, aku menjadi penulis." (Stanislaw Lee)

Selasa, 13 September 2016

Drs. H. M. HASBI SALIM, M. Pd: HIKMAH HARI RAYA QURBAN DAN HARI RAYA HAJI


Syukur Alhamdulillah pada saat ini kita masih diberi Allah usia,  sehingga bisa berjumpa dengan hari yang mulia yaitu hari Raya Idul Adha 1437 H. Hari raya ini ditandai dengan dengungan takbir, tahmid dan tahlil yang berkumandang di seluruh penjuru dunia sejak kemarin sore (9 Dzulhijjah) dan berhenti hingga hari tasyrik yang ketiga.

Selasa, 23 Agustus 2016

LENI RAHMIDA: GAGAL? JANGAN TAKUT!!!


Apakah menurutmu orang yang sukses itu tidak pernah gagal? Kalau pendapatmu seperti itu mungkin kamu harus membaca lebih banyak lagi cerita tentang tokoh-tokoh dunia yang sukses. Mereka bukan tidak pernah gagal, mereka sering gagal namun tidak berhenti dalam kegagalan. Ada sebuah kalimat bijak yang berbunyi, “Gagal itu bukan pada saat kita jatuh, namun saat kita tidak mau bangkit lagi setelah jatuh”. Saat kamu mengambil jalan yang salah, saat kamu memilih keputusan yang salah, semua itu bukanlah kegagalan jika kamu mau bangkit kembali, belajar dari kesalahan yang telah dibuat, memperbaiki kembali dan mencobanya sekali lagi, jika gagal lagi, bangkit lagi sampai mencapai tujuan yang diinginkan.
Seringkali kita mengukur kegagalan dan kesuksesan dari hasil akhir yang kita capai. Jika kamu juara kelas maka kamu adalah orang yang sukses, tidak peduli bagaimana caramu mendapatkan hasil tersebut. Namun, suatu kalimat bijak menyangkal lagi pandangan ini “success is a journey, not a destination”. Ya, sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan ataupun hasilnya. “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki, nasihat Mahatma Gandhi. Proses itu penting, niat pun tak kalah pentingnya.
Kita analogikan saja dengan petani yang menanam padi. Bibit ibarat sebuah niat, bibit yang baiklah yang nantinya akan menghasilkan padi yang baik. Namun, bibit yang unggul tidak 100% menjamin hasil panen yang juga unggul. Dalam perjalanan tumbuhnya bibit tersebut banyak usaha yang harus dilakukan agar bibit dapat tumbuh dengan maksimal. Begitu pula ketika kita ingin mencapai sesuatu yang kita inginkan, banyak usaha dan kerja keras yang harus dilakukan dalam perjalanan menuju kesuksesan tersebut. Ketika kita telah melakukan yang terbaik, hasil yang baik merupakan bonus dari Tuhan. Bagaimana jika gagal?
Jika petani gagal panen apakah mereka berhenti bertani? Mereka tetap menanam kembali dan belajar dari kegagalan sebelumnya. Dalam kehidupan, mencoba dan gagal adalah sesuatu yang biasa. Orang yang tidak pernah gagal adalah orang yang tidak pernah mencoba. Ketika kita mencoba dan gagal, setidaknya kita telah mendapat pengetahuan baru bahwa cara dan jalan yang kita ambil keliru, sehingga kita tidak akan mengulang kesalahan tersebut. Lebih cepat kita mencoba, lebih sering kita gagal, lebih dekat juga kita dengan kesuksesan. Thomas Edison pernah berkata “Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal”.
Saya tidak membagi dunia dengan orang yang lemah dan kuat atau orang sukses dan orang gagal, atau orang yang berhasil dan orang yang tidak. Saya membagi dunia dengan orang yang mau belajar dengan orang yang tidak mau belajar” (Benjamin Barber).
Maka temukan sukses dalam kegagalanmu! []




Selasa, 09 Agustus 2016

KAK IAN: KEBEBASAN BERBAHASA DALAM BERPUISI


Terkadang hidup akan terasa kering jika kita tidak punya rasa seni yang baik. Selain itu, menikmati seni dan alam juga dapat meningkatkan sifat humoris kita. (M. Anis Matta berjudul Model Manusia Muslim Abad XXI)

Selasa, 02 Agustus 2016

ASTRI NOR FITRIANI: EDIT


Dalam istilah lainnya, sinonim dari kata ‘edit’ atau ‘mengedit’ adalah ‘koreksi’ atau ‘mengoreksi’. Tak perlu jauh-jauh membuka kamus, saat kita membaca kata ‘edit’, kita bisa mendefinisikannya menjadi sebuah kalimat. Kegiatan mengedit adalah kegiatan memangkas, menyortir, menambah, mengganti, atau bahkan memotong habis, yang pada intinya bertujuan untuk mengoreksi sesuatu.
Ketika saya mulai ngomong masalah edit-mengedit, itu bukan berarti saya ingin membicarakan pekerjaan rutin saya setiap bulan. Tentu tidak! Saya bahkan ingin mengatakan bahwa edit-mengedit ternyata merupakan pekerjaan kita bersama. Tidak hanya setiap bulan, bukan cuma setiap minggu, tetapi setiap jam dalam hidup kita, tanpa sadar kita selalu mengedit. Mengedit manusia. Kita semua ternyata sang editor itu!
Saya tak mencoba berbasa-basi. Tapi memang, sungguh luar biasa kita! Bisa-bisanya kita mengedit manusia, sementara yang dikoreksi belum tentu lebih jelek daripada yang mengoreksi. Ketika kita berjalan di trotoar dan melihat seseorang yang bajunya gak matching, kita mengedit, terserah itu terlontar dari mulut atau hanya bergumam di dalam hati. Saat kita mendengar si anu melakukan begini dan begitu, kita akan berkomentar, sibuk mengedit di sana-sini, seakan digaji. Bahkan waktu dosen kita (rahmatullah ‘alaihim) mengajar sebuah mata pelajaran dan menyampaikan kepada kita sebuah ilmu, disadari ataupun tidak, kita masih sempat-sempatnya mengedit mereka! Dan sadarkah Anda? Saya, si penulis tulisan ini, tentu saja dengan sangat sengaja tengah mengedit Anda-anda semua. Lagi, setelah saya merampungkan tulisan saya ini, akan ada orang lain yang akan mengoreksi tulisan saya! Rupanya, mengedit adalah hidup, karena objek yang diedit pun adalah kehidupan itu sendiri.
Memang tak dinyana, kegiatan mengedit adalah kegiatan yang penting dan dibutuhkan. Seorang editor yang membetulkan tulisan-tulisan yang tidak pas adalah mengedit. Orangtua yang menegur tingkah laku anak mereka adalah mengedit. Seorang teman yang ngomen kata-kata kita yang tidak pantas juga merupakan kegiatan mengedit, karena mengedit bertujuan untuk memperbaiki sesuatu yang salah agar terlihat lebih pantas. Tetapi saat tujuan seorang editor telah bergeser dari titik ingin memperbaiki menjadi bertujuan ingin menghina, mengejek, pamer, atau hanya sekedar sensasi ataupun main-main, dan sebagainya, maka kita sepakat bahwa mengedit dengan tanda kutip seperti itu adalah kegiatan negatif dan salah besar.
Mengedit sesuatu memang enak, karena kita berada dalam posisi sang komentator. Berujar begini, nyeletuk begitu. Potong sana, pangkas sini. Enak! Puas! Tetapi bagi si objek yang diedit, lain perkara. Ternyata hal tersebut sangat menyebalkan, bahkan menyakitkan. Lebih-lebih ketika tujuan mengolok-oloknya ditutupi dengan tulisan, ‘Demi mengoreksi kesalahan’. Penipuan publik!
Atau bahkan, memang bertujuan mengedit sesuatu dengan niat yang benar, tetapi dengan cara yang tidak pas. Wah, lupakan saja. Anda tidak akan sukses menjadi editor yang baik.
Saya hanya berpikir, beruntung sekali orang yang mengedit dengan niat yang benar dan menerima editan yang baik pula dari orang-orang di sekitarnya, atau menjadi seorang editor kehidupan tetapi tidak pernah diedit oleh manusia. Tapi kita semua tahu, tak ada gading yang tak retak.
Terlepas dari semua itu, saya hanya ingin bertanya, editor yang baik kah kita?


*Astri Nor Fitriani kelahiran tahun 1990 dan merupakan lulusan Al-Azhar University Cairo Mesir. Pernah menjadi editor regular di majalah Kalimantan-Mesir, dan merupakan salah satu redaktur yang merintis berdirinya Read Zone. Ia pertama kali bergabung di Read Zone di bulan September 2006.




Senin, 11 Juli 2016

H. MOH. MUFID, Lc. M.HI: IDUL FITRI, MELESTARIKAN SPIRIT RAMADHAN


Ketika malam idul fitri tiba, kita mendengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang membesarkan Allah. Tetapi, dalam lubuk hati terdalam, kita seakan mendengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, gemuruh suara kepedihan dan kegembiraan, gemuruh tangis dan tawa.
Kita menangis karena mengenang Ramadhan, yang begitu cepat meninggalkan kita, karena telah tiba kesempurnaan bilangannya. Kita tertawa karena tiba pada hari bersyukur, yang mengantarkan kita pada curahan kasih sayang Allah, yang tidak ada batasnya, tidak ada hingganya dan tidak ada henti-hentinya.
Bagi umat Islam, momentum idul fitri adalah saat-saat penting untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Seluruh kesalahan yang pernah dilakukan selama setahun, seolah ingin kita lebur di hari Lebaran ini, dengan mengucapkan minal a’idin wal-faizin, yang dalam masyarakat kita sering dimaknai "mohon maaf lahir dan batin". Meskipun keluasan dan kedalaman makna ungkapan minal a’idin wal-faizin tidaklah sepenuhnya terwakili sekadar dalam perkataan "mohon maaf lahir dan batin".
Selain itu, di momentum Idul Fitri inilah pada akhirnya kita dapat mengevaluasi diri, mawas diri, serta mengukur kualitas diri dalam keseluruhan amal yang kita lakukan, khususnya dalam melewati hari-hari Ramadhan yang penuh hikmah.
Saat ini, kita baru saja selesai melewati kewajiban menjalankan ibadah puasa. Kita seharusnya dapat memetik buah ketakwaan sebagai hasil yang paling mulia dari proses penempaan diri melalui ibadah puasa. Kita seharusnya berhasil menjadi manusia utuh dan bermartabat sesuai karakter yang relevan dengan tuntutan syari’at dan masyarakat. Sebab seperti diisyaratkan al-Qur’an, kita adalah para pewaris manusia unggul yang pernah menerima kewajiban berpuasa untuk meraih ketakwaan yang serupa.
Begitu santun Allah menunjukkan jalan menuju takwa melalui proses puasa. Suatu proses menahan diri dari segala nafsu. Jika kesadaran kolektif yang menjadi target proses pembelajaran dari ibadah puasa dapat diraih setiap Muslim, niscaya ia akan mendapatkan petunjuk dalam menjalani kehidupan sebelas bulan pasca bulan suci Ramadhan. Karena kualitas ketakwaan inilah yang akan membimbing jalan hidup kita menuju hidayah dan kebahagian hakiki.
Minimal ada tiga nilai dan spirit Ramadhan yang seharusnya selalu dilestarikan setelah berakhirnya bulan suci ini. Spirit inilah yang akan menjadi indikator atau ukuran dalam keberhasilan kita meraih ketakwaan itu, baik secara spiritual maupun sosial.
Pertama, hendaknya mampu mempertahankan sikap jujur. Kita sadar, bahwa saat kita berpuasa Ramadhan, kejujuran selalu mewarnai kehidupan kita sehingga kita tidak berani makan dan minum meskipun tidak ada orang yang mengawasinya. Hal ini karena kita yakin Allah swt yang memerintahkan kita berpuasa selalu mengawasi diri kita dan kita tidak mau “mencurangi” Allah swt serta tidak mau membohongi diri sendiri. Inilah kejujuran yang sesungguhnya. Karena itu, setelah berpuasa sebulan penuh semestinya kita mampu menjadi orang-orang yang selalu berlaku jujur, baik jujur dalam perkataan, jujur dalam perbuatan, jujur dalam berinteraksi dengan orang, jujur dalam berjanji dan segala bentuk kejujuran lainnya.
Ibadah puasa telah mendidik kita untuk berlaku jujur kepada hati nurani kita yang sehat dan tajam, bila kejujuran ini tidak mewarnai kehidupan kita sebelas bulan mendatang, maka tarbiyyah (pendidikan) dari ibadah Ramadhan kita menemukan kegagalan, karena kita gagal melaksanakan spiritnya dalam kehidupan sehari-hari pasca Ramadhan.
Kedua, nilai ibadah Ramadhan yang harus kita lestarikan adalah semangat berjamaah dan berkumpul di majelis ilmu. Kebersamaan kita dalam proses pengendalian diri membuat setan merasa kesulitan dalam menggoda manusia. Betapapun setan menggoda agar kita mengabaikan terawih, toh kita masih berangkat ke masjid-masjid, surau-surau untuk melaksanakannya. Betapapun sibuknya aktivitas kita di Bulan Ramadhan, toh kita masih menyempatkan diri untuk menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid. Betapa masjid-masjid seakan-akan memiliki daya tarik di bulan Ramadhan. Gelombang magnetiknya sangat kuat, sehingga kita berbondong-bondong ke masjid untuk beribadah.
Karena itu, semangat kita berjamaah sesudah Ramadhan ini, semestinya akan menjadi sangat baik. Apalagi kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa hidup sendirian, sehebat apapun kekuatan dan potensi diri yang kita miliki, kita tetap sangat memerlukan pihak lain. Berjamaah berarti meniscayakan adanya interaksi sosial yang merupakan suatu pondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran dalam berinteraksi, bergaul, berkomunikasi di antara warga suatu masyarakat, menjadikan suatu masyarakat tersebut dapat menjalin persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan kebersamaan. Dan, kebersamaan inilah modal penting dalam membangun kerukunan dan toleransi antar umat manusia.
Ketiga, yang harus kita lestarikan sesudah Ramadhan berakhir adalah upaya pengendalian diri. Puasa Ramadhan adalah bentuk pengendalian diri dari hal-hal yang membatalkan puasa. Kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari hal-hal terlarang tersebut semestinya membuat kita mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu lainnya. Kita harus mampu mengendalikan nafsu serakah, nafsu amarah, nafsu ghibah dan lainnya. Keberhasilan kita dalam mengendalikan nafsu inilah yang menjadi modal berharga dalam meraih hidayah dan ridha Allah swt.

Dengan demikian, harus kita sadari bahwa Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan, keberhasilan ibadah Ramadhan justeru tidak hanya terletak pada amaliah Ramadhan yang kita kerjakan dengan baik, tapi yang juga sangat penting adalah bagaimana menunjukkan adanya peningkatan taqwa yang dimulai dari bulan Syawal hingga Ramadhan tahun yang akan datang.
Kini, Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Begitupun nuansa Idul Fitri yang secara perlahan beranjak pergi. Semoga amalan kita selama di bulan puasa Ramadhan diterima Allah swt. Dan semoga kita semua diberikan umur panjang sehingga mampu berjumpa dengan Ramadhan dan Idul Fitri pada tahun-tahun yang akan datang.

(Diambil dari intisari khotbah Idul Fitri 1437 H. oleh H. Moh. Mufid, Lc. M.HI. pada salah satu pelaksanaan shalat Idul Fitri di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan)


Selasa, 05 Juli 2016

ASTRI NOR FITRIANI: LEBARAN UNTUK MELEBARKAN HATI


To the point saja, membuka omongan tentang maaf-memaafkan pada masa menjelang detik-detik Idul Fitri seperti ini sejujurnya terasa sudah terlalu usang. Maksud saya adalah, tentu saja orang akan otomatis meminta maaf dan atau memberi maaf saat keluar dari masjid selepas shalat ‘Ied, saat bertemu handai-taulan di jalan-jalan, atau menerima tamu yang bersilaturahim ke rumah kita. Menjabat tangan dan cipika-cipiki sudah menjadi sebuah tradisi, yang tidak hanya dianut oleh orang Indonesia tapi juga oleh masyarakat dunia. Jadi tanpa diingatkan pun, semua penganut Islam di dunia, persis pada waktu-waktu begini sudah hapal ritual Lebaran tersebut, yang bisa disebut sakral, bagi sebagian masyarakat kita.
Realitanya, begini lah Idul Fitri dengan segala macam momen yang harus dilakukan oleh seorang muslim, jadi meski saya katakan tema maaf-memaafkan itu sudah usang, saya pun secara pribadi tidak bisa melepaskan diri dari keusangan tersebut, begitu pula saudara-saudari sekalian yang budiman. Dalam kehidupan seputar Lebaran, selain menziarahi keluarga dan tetangga, membuat ketupat, maaf-memaafkan adalah sebuah keharusan yang tak terelakkan dan disadari penuh oleh setiap penganut Islam.
Namun saya rasa, ada satu hal yang bisa saja terlewat dari pikiran kita ketika menyodorkan tangan pada orang, yaitu apakah aktifitas yang dilakukan oleh kita (saya tidak mengecualikan diri saya) tersebut benar-benar berasal dari lubuk hati terdalam dan jernih disebabkan oleh penyesalan atas kesalahan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain? Karena menurut hemat saya yang baru seperempat abad hidup di dunia ini, telah menjadi kebiasaan seorang manusia ketika sudah terbiasa dengan suatu hal ataupun sebuah benda, kita menjadi lupa untuk menghargai eksistensinya, dan sering terlewat untuk meletakkan jiwa kita ke dalamnya saat kita melakukan hal tersebut, atau ketika kita menggunakannya. Benarkah kesimpulan saya? (Mohon maaf jika ada yang tidak setuju, dan selamat, karena Anda adalah satu di antara orang langka di bumi ini). Karena berjabat tangan saat Lebaran itu sudah menjadi kebiasaan, perbuatan suci yang seharusnya bisa menjadi salah satu jalan mendapat pahala dan sarana introspeksi diri tersebut jadi terasa hampa dan tanpa makna, sebab kita melakukannya hanya untuk sekedar menunaikan kewajiban, tanpa meletakkan batin kita –yang seharusnya disucikan– ke dalamnya. Bukankah sayang sekali?
Saya memiliki satu saran yang baru saja muncul di benak saya gara-gara sebuah momen yang baru saja saya alami, tapi karena ingin menghindari bergunjing saat Ramadhan begini, kita potong saja momen rahasia itu dan saya kasih tahu kesimpulannya saja. Untuk meminta maaf yang tulus jiwa dan raga, kita membutuhkan satu hal yang jangan sampai terlupa kita hadirkan, yaitu positive mind. Yang saya maksud adalah kepositifan dari segala segi, loh, baik itu hati yang positif, pikiran, sifat, maupun semua tindakan kita.
Mari kita rincikan satu persatu: saat kita ingin meminta maaf (dengan tulus), tentu yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah berpikir bahwa diri kita lah yang memang menanggung lebih banyak dosa dibanding orang yang ingin kita mintai maaf, itu artinya kita berpikiran positif tentang orang tersebut (terlepas dari semua utang, rasa sakit hati, dendam, yang sudah disebabkan oleh orang tersebut di masa lalu – read. jangan diingat lagi) dan membiarkan diri kita menjabat tangan mereka terlebih dahulu, jauh lebih cepat dari orang lain. Di waktu yang sama, jika kita sedang dalam posisi dimintai maaf, kita harus secara otomatis berpikir bahwa kesalahan apapun yang dilakukan oleh orang yang meminta maaf itu pasti dilakukan di luar kendali pikirannya, mungkin disebabkan karena pada saat itu ia sedang marah, moody, atau sedang memiliki banyak masalah sehingga ia tidak sengaja melakukannya pada kita. Meskipun kemudian kita tahu ia melakukannya dengan sengaja untuk menyakiti kita, lagi-lagi kita harus secara otomatis memaksa pikiran positif kita mengambil alih bahwa pasti ia telah menyesal atas kesalahannya dan saat ia meminta maaf, itu lah yang benar-benar ia maksudkan terhadap kita.
Menjadi orang yang positif saat kita masih terbiasa ber-negative thinking dalam kehidupan sehari-hari memang sungguh merupakan usaha yang sulit, ini pendapat pribadi loh, tetapi sekali lagi jika kita ingin mensucikan hati kita yang hitam seperti jelaga ini, itulah salah satu hal yang harus kita lakukan. Bukankah bulan Ramadhan ada untuk membuat semua muslim di dunia ini menjadi kembali suci dan seindah kupu-kupu? Dengan keheranan yang sangat, dan mesti saya sebutkan di sini, siapa tahu ada yang tersindir (aduh, saya jahil lagi), kemampuan membuat kesimpulan negatif dari suatu hal positif sebenarnya mungkin bisa disebut sebuah skill, skill yang buruk maksud saya, lahir dari hati yang hitam dan pikiran yang membusuk,  seperti air kotor yang keluar dari sebuah teko yang sudah ternoda. Mumpung Lebaran, apakah tidak lebih bagus jika teko tersebut mulai kita bersihkan?
Saya tidak ingin berpanjang lebar, dan artikel ini takutnya akan menjadi seperti tong kosong yang gaduh kayak beduk dipukul. Maksud saya, mumpung sedang malam takbiran begini, kita sudahi saja yang sudah-sudah dan fokus pada masa mendatang. Biarlah yang dahulu kita meminta maaf tak pakai hati, yang terpenting sekarang adalah bagaimana permintaan maaf itu bukan hanya bisa sampai ke dalam hati orang yang dimintai maaf, tetapi juga sampai kepada Allah SWT? Pikirkan saja, siapa tahu Anda akan masuk syurga lebih dulu dari orang-orang lainnya. Apakah Anda tertarik? [*]


Selasa, 21 Juni 2016

YUDITEHA: MENIKMATI PUISI


Pada suatu hari, ada seorang teman mendapati beberapa buku puisi di atas meja, lalu dia membuka salah satu buku puisi itu dan membaca salah satu puisi yang tertera di sana. Setelah selesai membaca satu puisi itu dia berkata:
Apa maksudnya?
Puisi bukanlah kata atau kalimat yang disusun asal, tanpa pertimbangan. Puisi adalah himpunan kata atau kalimat yang di dalamnya mengandung unsur bunyi, irama, pola sambungan kata, penggalan kalimat, pendek-panjang kalimat serta jeda di setiap kalimat. Semuanya itu di kehidupan sehari-hari seringkali tidak terperhatikan.
Ada banyak cara menikmati puisi, salah satunya yaitu dengan cara menyelami kata-kalimatnya dan menangkap apa yang dihadirkan di sana. Memang bukan perkara sepele dalam menikmati puisi tetapi bukan perkara sulit untuk menangkap apa yang diungkap (Eh, salah. Yang benar adalah: apa yang terungkap). Karena kata diungkap, kita berpikir dari pihak penulis, sedangkan kata terungkap, kita berpikir dari pihak kita (pembaca). Karena sebenarnyalah penulis akan mati ketika tulisannya itu telah sampai kepada pembaca.
Bahasa puisi diartikan sebagai bahasa multi, yang dapat terurai ke dalam berbagai unsur. Dengan begitu seringkali apresiasi dari sebuah puisi tidak selalu harus sejalan dengan maksud penulis. Dengan begitu pula maka makna harfiah dari sebuah puisi bukan merupakan satu-satunya inti dari sebuah puisi itu sendiri. Makna harfiah itu harus masih digabungkan bersama-sama dengan unsur yang lainnya.
Terkadang sebuah puisi hanya diartikan sebagai akibat dari penyelaman puisi itu berdasarkan komposisi yang dilahirkan dari gabungan bunyi, irama dan jedanya saja.
Apakah boleh begitu dalam mengartikan puisi?"
Boleh dan sah-sah saja, bahkan Imam Budi Santoso pernah mengatakan bahwa kejadian seperti itu dinamainya dengan Kekeliruan yang membahagiakan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kita sering mendapati puisi yang tampak seperti bingung mau berbicara tentang apa, karena senyatanya yang ditampakkan dalam puisi itu hanyalah semacam gabungan kata-kata acak, seperti halnya seorang pelukis yang sedang menguji sebuah gabungan warna-warna baru yang akan digunakan untuk pewarnaan di sebuah lukisannya. Unsur bunyi seperti ditampilkan seserasi mungkin dengan tidak hanya menunjukkan bunyi yang sama tetapi juga termasuk masalah penempatan bunyi dari artikulasinya dibuat pas ketika dibacakan. Penangkapan makna puisi macam begini tentu akan sangat berlainan di setiap personalnya. Penangkapan makna puisi ini tentu akan berbeda-beda.
Kalau memang begitu, mengapa kita merasa takut untuk mengerti isi puisi? Kalau memang begitu, mengapa kita sampai tidak tahu artinya?
Jadi, ketika teman yang membaca puisi tersebut telah selesai membaca puisinya sebenarnya dia telah mempunyai gambaran dari makna puisi yang tadi dibaca tetapi tidak pernah dibilangkannya.
Apa maksudnya?
Atas dasar apa dia berani sampai menanyakan pertanyaannya itu? Tidak lain dan tidak bukan pasti karena pada dasarnya dia merasa apa yang diartikan itu tidak sama dengan maksud penulis.
Jadi mulai sekarang janganlah kita takut dengan puisi, karena menikmati puisi sangatlah gampang. Praktisnya setiapkali kita membaca sebuah puisi dengan tuntas kita pasti telah menemukan artinya atas dasar pemahaman kita sendiri. Jadi marilah kita menikmati puisi bersama-sama dengan perasaan nyaman. [y]


Biodata:

Yuditeha, penulis yang punya hobi melukis wajah dan bernyanyi puisi. Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Tinggal di Jaten, Karanganyar, Solo




Statistik Pengunjung

Flag Counter