To the point saja, membuka omongan tentang maaf-memaafkan
pada masa menjelang detik-detik Idul Fitri seperti ini sejujurnya terasa sudah
terlalu usang. Maksud saya adalah, tentu saja orang akan otomatis meminta maaf
dan atau memberi maaf saat keluar dari masjid selepas shalat ‘Ied, saat bertemu
handai-taulan di jalan-jalan, atau menerima tamu yang bersilaturahim ke rumah
kita. Menjabat tangan dan cipika-cipiki sudah menjadi sebuah tradisi,
yang tidak hanya dianut oleh orang Indonesia tapi juga oleh masyarakat dunia.
Jadi tanpa diingatkan pun, semua penganut Islam di dunia, persis pada
waktu-waktu begini sudah hapal ritual Lebaran tersebut, yang bisa disebut
sakral, bagi sebagian masyarakat kita.
Realitanya, begini lah Idul Fitri
dengan segala macam momen yang harus dilakukan oleh seorang muslim, jadi meski
saya katakan tema maaf-memaafkan itu sudah usang, saya pun secara pribadi tidak
bisa melepaskan diri dari keusangan tersebut, begitu pula saudara-saudari
sekalian yang budiman. Dalam kehidupan seputar Lebaran, selain menziarahi
keluarga dan tetangga, membuat ketupat, maaf-memaafkan adalah sebuah keharusan
yang tak terelakkan dan disadari penuh oleh setiap penganut Islam.
Namun saya rasa, ada satu hal
yang bisa saja terlewat dari pikiran kita ketika menyodorkan tangan pada orang,
yaitu apakah aktifitas yang dilakukan oleh kita (saya tidak mengecualikan diri
saya) tersebut benar-benar berasal dari lubuk hati terdalam dan jernih
disebabkan oleh penyesalan atas kesalahan yang pernah kita lakukan terhadap
orang lain? Karena menurut hemat saya yang baru seperempat abad hidup di dunia
ini, telah menjadi kebiasaan seorang manusia ketika sudah terbiasa dengan suatu
hal ataupun sebuah benda, kita menjadi lupa untuk menghargai eksistensinya, dan
sering terlewat untuk meletakkan jiwa kita ke dalamnya saat kita melakukan hal
tersebut, atau ketika kita menggunakannya. Benarkah kesimpulan saya? (Mohon
maaf jika ada yang tidak setuju, dan selamat, karena Anda adalah satu di antara
orang langka di bumi ini). Karena berjabat tangan saat Lebaran itu sudah
menjadi kebiasaan, perbuatan suci yang seharusnya bisa menjadi salah satu jalan
mendapat pahala dan sarana introspeksi diri tersebut jadi terasa hampa dan
tanpa makna, sebab kita melakukannya hanya untuk sekedar menunaikan kewajiban,
tanpa meletakkan batin kita –yang seharusnya disucikan– ke dalamnya. Bukankah sayang
sekali?
Saya memiliki satu saran yang
baru saja muncul di benak saya gara-gara sebuah momen yang baru saja saya alami,
tapi karena ingin menghindari bergunjing saat Ramadhan begini, kita potong saja
momen rahasia itu dan saya kasih tahu kesimpulannya saja. Untuk meminta
maaf yang tulus jiwa dan raga, kita membutuhkan satu hal yang jangan sampai
terlupa kita hadirkan, yaitu positive mind. Yang saya maksud adalah
kepositifan dari segala segi, loh, baik itu hati yang positif, pikiran,
sifat, maupun semua tindakan kita.
Mari kita rincikan satu persatu:
saat kita ingin meminta maaf (dengan tulus), tentu yang harus dilakukan
terlebih dahulu adalah berpikir bahwa diri kita lah yang memang menanggung
lebih banyak dosa dibanding orang yang ingin kita mintai maaf, itu artinya kita
berpikiran positif tentang orang tersebut (terlepas dari semua utang, rasa
sakit hati, dendam, yang sudah disebabkan oleh orang tersebut di masa lalu – read.
jangan diingat lagi) dan membiarkan diri kita menjabat tangan mereka terlebih
dahulu, jauh lebih cepat dari orang lain. Di waktu yang sama, jika kita sedang
dalam posisi dimintai maaf, kita harus secara otomatis berpikir bahwa
kesalahan apapun yang dilakukan oleh orang yang meminta maaf itu pasti dilakukan
di luar kendali pikirannya, mungkin disebabkan karena pada saat itu ia sedang
marah, moody, atau sedang memiliki banyak masalah sehingga ia tidak
sengaja melakukannya pada kita. Meskipun kemudian kita tahu ia melakukannya
dengan sengaja untuk menyakiti kita, lagi-lagi kita harus secara
otomatis memaksa pikiran positif kita mengambil alih bahwa pasti ia
telah menyesal atas kesalahannya dan saat ia meminta maaf, itu lah yang
benar-benar ia maksudkan terhadap kita.
Menjadi orang yang positif saat
kita masih terbiasa ber-negative thinking dalam kehidupan sehari-hari
memang sungguh merupakan usaha yang sulit, ini pendapat pribadi loh, tetapi
sekali lagi jika kita ingin mensucikan hati kita yang hitam seperti jelaga ini,
itulah salah satu hal yang harus kita lakukan. Bukankah bulan Ramadhan ada
untuk membuat semua muslim di dunia ini menjadi kembali suci dan seindah
kupu-kupu? Dengan keheranan yang sangat, dan mesti saya sebutkan di sini, siapa
tahu ada yang tersindir (aduh, saya jahil lagi), kemampuan membuat kesimpulan
negatif dari suatu hal positif sebenarnya mungkin bisa disebut sebuah skill,
skill yang buruk maksud saya, lahir dari hati yang hitam dan pikiran yang
membusuk, seperti air kotor yang keluar
dari sebuah teko yang sudah ternoda. Mumpung Lebaran, apakah tidak lebih bagus
jika teko tersebut mulai kita bersihkan?
Saya tidak ingin berpanjang
lebar, dan artikel ini takutnya akan menjadi seperti tong kosong yang gaduh kayak
beduk dipukul. Maksud saya, mumpung sedang malam takbiran begini, kita
sudahi saja yang sudah-sudah dan fokus pada masa mendatang. Biarlah yang dahulu
kita meminta maaf tak pakai hati, yang terpenting sekarang adalah bagaimana
permintaan maaf itu bukan hanya bisa sampai ke dalam hati orang yang dimintai
maaf, tetapi juga sampai kepada Allah SWT? Pikirkan saja, siapa tahu Anda akan
masuk syurga lebih dulu dari orang-orang lainnya. Apakah Anda tertarik? [*]
