Pages

Ads 468x60px

Selasa, 05 Juli 2016

ASTRI NOR FITRIANI: LEBARAN UNTUK MELEBARKAN HATI


To the point saja, membuka omongan tentang maaf-memaafkan pada masa menjelang detik-detik Idul Fitri seperti ini sejujurnya terasa sudah terlalu usang. Maksud saya adalah, tentu saja orang akan otomatis meminta maaf dan atau memberi maaf saat keluar dari masjid selepas shalat ‘Ied, saat bertemu handai-taulan di jalan-jalan, atau menerima tamu yang bersilaturahim ke rumah kita. Menjabat tangan dan cipika-cipiki sudah menjadi sebuah tradisi, yang tidak hanya dianut oleh orang Indonesia tapi juga oleh masyarakat dunia. Jadi tanpa diingatkan pun, semua penganut Islam di dunia, persis pada waktu-waktu begini sudah hapal ritual Lebaran tersebut, yang bisa disebut sakral, bagi sebagian masyarakat kita.
Realitanya, begini lah Idul Fitri dengan segala macam momen yang harus dilakukan oleh seorang muslim, jadi meski saya katakan tema maaf-memaafkan itu sudah usang, saya pun secara pribadi tidak bisa melepaskan diri dari keusangan tersebut, begitu pula saudara-saudari sekalian yang budiman. Dalam kehidupan seputar Lebaran, selain menziarahi keluarga dan tetangga, membuat ketupat, maaf-memaafkan adalah sebuah keharusan yang tak terelakkan dan disadari penuh oleh setiap penganut Islam.
Namun saya rasa, ada satu hal yang bisa saja terlewat dari pikiran kita ketika menyodorkan tangan pada orang, yaitu apakah aktifitas yang dilakukan oleh kita (saya tidak mengecualikan diri saya) tersebut benar-benar berasal dari lubuk hati terdalam dan jernih disebabkan oleh penyesalan atas kesalahan yang pernah kita lakukan terhadap orang lain? Karena menurut hemat saya yang baru seperempat abad hidup di dunia ini, telah menjadi kebiasaan seorang manusia ketika sudah terbiasa dengan suatu hal ataupun sebuah benda, kita menjadi lupa untuk menghargai eksistensinya, dan sering terlewat untuk meletakkan jiwa kita ke dalamnya saat kita melakukan hal tersebut, atau ketika kita menggunakannya. Benarkah kesimpulan saya? (Mohon maaf jika ada yang tidak setuju, dan selamat, karena Anda adalah satu di antara orang langka di bumi ini). Karena berjabat tangan saat Lebaran itu sudah menjadi kebiasaan, perbuatan suci yang seharusnya bisa menjadi salah satu jalan mendapat pahala dan sarana introspeksi diri tersebut jadi terasa hampa dan tanpa makna, sebab kita melakukannya hanya untuk sekedar menunaikan kewajiban, tanpa meletakkan batin kita –yang seharusnya disucikan– ke dalamnya. Bukankah sayang sekali?
Saya memiliki satu saran yang baru saja muncul di benak saya gara-gara sebuah momen yang baru saja saya alami, tapi karena ingin menghindari bergunjing saat Ramadhan begini, kita potong saja momen rahasia itu dan saya kasih tahu kesimpulannya saja. Untuk meminta maaf yang tulus jiwa dan raga, kita membutuhkan satu hal yang jangan sampai terlupa kita hadirkan, yaitu positive mind. Yang saya maksud adalah kepositifan dari segala segi, loh, baik itu hati yang positif, pikiran, sifat, maupun semua tindakan kita.
Mari kita rincikan satu persatu: saat kita ingin meminta maaf (dengan tulus), tentu yang harus dilakukan terlebih dahulu adalah berpikir bahwa diri kita lah yang memang menanggung lebih banyak dosa dibanding orang yang ingin kita mintai maaf, itu artinya kita berpikiran positif tentang orang tersebut (terlepas dari semua utang, rasa sakit hati, dendam, yang sudah disebabkan oleh orang tersebut di masa lalu – read. jangan diingat lagi) dan membiarkan diri kita menjabat tangan mereka terlebih dahulu, jauh lebih cepat dari orang lain. Di waktu yang sama, jika kita sedang dalam posisi dimintai maaf, kita harus secara otomatis berpikir bahwa kesalahan apapun yang dilakukan oleh orang yang meminta maaf itu pasti dilakukan di luar kendali pikirannya, mungkin disebabkan karena pada saat itu ia sedang marah, moody, atau sedang memiliki banyak masalah sehingga ia tidak sengaja melakukannya pada kita. Meskipun kemudian kita tahu ia melakukannya dengan sengaja untuk menyakiti kita, lagi-lagi kita harus secara otomatis memaksa pikiran positif kita mengambil alih bahwa pasti ia telah menyesal atas kesalahannya dan saat ia meminta maaf, itu lah yang benar-benar ia maksudkan terhadap kita.
Menjadi orang yang positif saat kita masih terbiasa ber-negative thinking dalam kehidupan sehari-hari memang sungguh merupakan usaha yang sulit, ini pendapat pribadi loh, tetapi sekali lagi jika kita ingin mensucikan hati kita yang hitam seperti jelaga ini, itulah salah satu hal yang harus kita lakukan. Bukankah bulan Ramadhan ada untuk membuat semua muslim di dunia ini menjadi kembali suci dan seindah kupu-kupu? Dengan keheranan yang sangat, dan mesti saya sebutkan di sini, siapa tahu ada yang tersindir (aduh, saya jahil lagi), kemampuan membuat kesimpulan negatif dari suatu hal positif sebenarnya mungkin bisa disebut sebuah skill, skill yang buruk maksud saya, lahir dari hati yang hitam dan pikiran yang membusuk,  seperti air kotor yang keluar dari sebuah teko yang sudah ternoda. Mumpung Lebaran, apakah tidak lebih bagus jika teko tersebut mulai kita bersihkan?
Saya tidak ingin berpanjang lebar, dan artikel ini takutnya akan menjadi seperti tong kosong yang gaduh kayak beduk dipukul. Maksud saya, mumpung sedang malam takbiran begini, kita sudahi saja yang sudah-sudah dan fokus pada masa mendatang. Biarlah yang dahulu kita meminta maaf tak pakai hati, yang terpenting sekarang adalah bagaimana permintaan maaf itu bukan hanya bisa sampai ke dalam hati orang yang dimintai maaf, tetapi juga sampai kepada Allah SWT? Pikirkan saja, siapa tahu Anda akan masuk syurga lebih dulu dari orang-orang lainnya. Apakah Anda tertarik? [*]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter