Pages

Ads 468x60px

Senin, 04 Juli 2016

ZULFAISAL PUTERA: LAILATUL PASAR


Tulisan ini tidak mendikotomi antara masjid dan pasar. Dua objek ini jelas berbeda, Masjid tempat ibadah dan pasar pusat perbelanjaan. Masjid tempat yang disucikan karena untuk memasukinya dikenai sejumlah persyaratan sedangkan pasar dianggap tempat segala bisa – mau suci bisa, mau setengah suci, atau kotor sekali pun bisa – hingga untuk memasukinya tak dikenai persyaratan apa pun.
Di bulan Ramadan ini, dua objek ini menjadi menarik karena seperti dipertentangkan situasinya. Ingatlah sebuah adagium paradoks yang kalimatnya demikian “di awal-awal Ramadan, masjid dipenuhi jamaah sedangkan pasar masih sepi; di akhir-akhir Ramadan masjid mulai kurang jamaahnya dan berpindah ke pasar”. Walau terasa seperti lontaran yang main-main, tetapi realitasnya memang benar.
Kita tak bisa menyalahkan masyarakat yang punya kecenderungan memenuhi ruang-ruang pusat perbelanjaan tinimbang masjid ketika Ramadan sudah makin mendekati injury time. Kita juga tak bisa menilai kadar iman seseorang ketika dia memutuskan membawa anak istrinya ke mal justru pada jam yang seharusnya dia dan keluarga lebih mengkhusukan diri peribadatan malam di masjid. Biarkanlah soal penilaian iman kita serahkan kepada Allah saja.
Saya pikir ini persoalan pilihan. Masyarakat, atau lebih khusus umat Islam, pasti sudah tahu, bahkan sadar sesadarnya, soal penting dan bernilainya bulan Ramadan. Namun, mata masyarakat tampaknya juga melek dengan daya tarik pusat perbelanjaan. Tidak heran kalau owner kedua tempat itu jor-joran mempromosikan program dan bonus mereka agar masyarakat tertarik untuk datang dan betah di tempat mereka.
Lihatlah bagaimana Allah SWT dan Rasulullah SAW menunjukkan keistimewaan bulan Ramadan. Salat wajib diganjar 70 kali dan salat sunat sama nilainya dengan salat wajib di luar Ramadan. Pun jika ibadah puasa dan lainnya dilakukan karena iman, akan diampuni dosa-dosa yang lalu. Bahkan, pada sepuluh terakhir ada semacam superbonus, bahwa akan ada satu malam yang ibadahnya diganjar dengan pahala ibadah 1000 bulan atau 83 tahun lebih.
Namun, godaan dunia yang diwakili pusat perbelanjaan juga tak kalah dahsyat. Semua barang off 70%, bahkan sampai 80%, buy 1 get 1, dan cash back sampai sekian ratus ribu. Pada hari-hari terakhir Ramadan diperpanjang jam bukanya dengan program midnight sale. Realitanya, sebagian masyarakat lebih memilih menyerbu mal tinimbang masjid. Masyarakat lebih enjoy berburu ‘Lailatul Pasar’ daripada Lailatul Qadar. ‘Peribadatan’ malam pindah tempat.
Sekali lagi ini soal pilihan dan bisa beragam alasan. Mengapa harus memenuhi pusat perbelanjaan? Ya, untuk keperluan lebaran. Mengapa harus belanja malam hari di saat waktu peribadatan malam? Ya, kalau belanja siang puasa, lapar dan dahaga. Mengapa harus belanja di akhir akhir Ramadan? Ya dapat uangnya baru sekarang dan THR dibaginya juga jelang lebaran. Benar juga. Namun, kalau ditanya lebih penting ibadah atau belanja? Ya, ibadahlah.
Ibadah di zaman sekarang memang lebih banyak dan lebih terang tantangannya. Pada zaman nabi dan para sahabat, orang-orang muslim tekun beribadah, bahkan sepuluh terakhir beriktikaf di masjid semata karena untuk mendapat keridaan Allah. Zaman itu memang tak ada mal, pusat hiburan, atau apalah apalah. Justru godaan mereka adalah mempertahankan keyakinan awal untuk menyebarkan akidah Islam di tengah tekanan kaum Qurais.
Allah sudah mengawal dengan baik ajaran-Nya melalui para nabi itu hingga dilaksanakan sampai saat ini. Apalagi ada klausul khusus di Al Baqarah 183 yang menyebut kewajiban berpuasa (dan peribadatan lainnya) di bulan Ramadan itu hanya untuk orang beriman. Semua terpulang kepada Anda. Lebaran tinggal sedikit hari lagi. Jika Ramadan ini efektif bagi Anda, maka lebaran nanti Anda pantas bergembira yang tentu berbeda dengan gembiranya para pengusaha pasar yang mengeruk untung dari Lailatul Pasar. ***




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter