Tulisan ini tidak mendikotomi
antara masjid dan pasar. Dua objek ini jelas berbeda, Masjid tempat ibadah dan
pasar pusat perbelanjaan. Masjid tempat yang disucikan karena untuk memasukinya
dikenai sejumlah persyaratan sedangkan pasar dianggap tempat segala bisa – mau
suci bisa, mau setengah suci, atau kotor sekali pun bisa – hingga untuk
memasukinya tak dikenai persyaratan apa pun.
Di bulan Ramadan ini, dua objek
ini menjadi menarik karena seperti dipertentangkan situasinya. Ingatlah sebuah
adagium paradoks yang kalimatnya demikian “di awal-awal Ramadan, masjid
dipenuhi jamaah sedangkan pasar masih sepi; di akhir-akhir Ramadan masjid mulai
kurang jamaahnya dan berpindah ke pasar”. Walau terasa seperti lontaran yang main-main,
tetapi realitasnya memang benar.
Kita tak bisa menyalahkan
masyarakat yang punya kecenderungan memenuhi ruang-ruang pusat perbelanjaan
tinimbang masjid ketika Ramadan sudah makin mendekati injury time. Kita juga
tak bisa menilai kadar iman seseorang ketika dia memutuskan membawa anak
istrinya ke mal justru pada jam yang seharusnya dia dan keluarga lebih
mengkhusukan diri peribadatan malam di masjid. Biarkanlah soal penilaian iman
kita serahkan kepada Allah saja.
Saya pikir ini persoalan pilihan.
Masyarakat, atau lebih khusus umat Islam, pasti sudah tahu, bahkan sadar
sesadarnya, soal penting dan bernilainya bulan Ramadan. Namun, mata masyarakat
tampaknya juga melek dengan daya tarik pusat perbelanjaan. Tidak heran kalau
owner kedua tempat itu jor-joran mempromosikan program dan bonus mereka agar
masyarakat tertarik untuk datang dan betah di tempat mereka.
Lihatlah bagaimana Allah SWT dan
Rasulullah SAW menunjukkan keistimewaan bulan Ramadan. Salat wajib diganjar 70
kali dan salat sunat sama nilainya dengan salat wajib di luar Ramadan. Pun jika
ibadah puasa dan lainnya dilakukan karena iman, akan diampuni dosa-dosa yang
lalu. Bahkan, pada sepuluh terakhir ada semacam superbonus, bahwa akan ada satu
malam yang ibadahnya diganjar dengan pahala ibadah 1000 bulan atau 83 tahun
lebih.
Namun, godaan dunia yang diwakili
pusat perbelanjaan juga tak kalah dahsyat. Semua barang off 70%, bahkan sampai
80%, buy 1 get 1, dan cash back sampai sekian ratus ribu. Pada hari-hari
terakhir Ramadan diperpanjang jam bukanya dengan program midnight sale.
Realitanya, sebagian masyarakat lebih memilih menyerbu mal tinimbang masjid.
Masyarakat lebih enjoy berburu ‘Lailatul Pasar’ daripada Lailatul Qadar.
‘Peribadatan’ malam pindah tempat.
Sekali lagi ini soal pilihan dan
bisa beragam alasan. Mengapa harus memenuhi pusat perbelanjaan? Ya, untuk
keperluan lebaran. Mengapa harus belanja malam hari di saat waktu peribadatan
malam? Ya, kalau belanja siang puasa, lapar dan dahaga. Mengapa harus belanja
di akhir akhir Ramadan? Ya dapat uangnya baru sekarang dan THR dibaginya juga
jelang lebaran. Benar juga. Namun, kalau ditanya lebih penting ibadah atau
belanja? Ya, ibadahlah.
Ibadah di zaman sekarang memang
lebih banyak dan lebih terang tantangannya. Pada zaman nabi dan para sahabat,
orang-orang muslim tekun beribadah, bahkan sepuluh terakhir beriktikaf di
masjid semata karena untuk mendapat keridaan Allah. Zaman itu memang tak ada
mal, pusat hiburan, atau apalah apalah. Justru godaan mereka adalah
mempertahankan keyakinan awal untuk menyebarkan akidah Islam di tengah tekanan
kaum Qurais.
Allah sudah mengawal dengan baik
ajaran-Nya melalui para nabi itu hingga dilaksanakan sampai saat ini. Apalagi
ada klausul khusus di Al Baqarah 183 yang menyebut kewajiban berpuasa (dan
peribadatan lainnya) di bulan Ramadan itu hanya untuk orang beriman. Semua
terpulang kepada Anda. Lebaran tinggal sedikit hari lagi. Jika Ramadan ini
efektif bagi Anda, maka lebaran nanti Anda pantas bergembira yang tentu berbeda
dengan gembiranya para pengusaha pasar yang mengeruk untung dari Lailatul
Pasar. ***
