Dicela itu memang sakit. Apalagi tidak ada
hubungannya dengan topik pembahasan. Misalnya dalam musyawarah, ada yang
memotong pembicaraan kita. Haderi, kamu nggak
usah bicara, kamu tidak pegawai negeri nngak tahu soal keuangan. Masya Allah,
apa hubungan pegawai dan tidak pegawai dalam berpendapat? Ya, kalau menolak
pendapat orang tidak perlulah mengungkit-ungkit soal status orang. Mengemukakan
pendapat itu kan hak semua orang dan berbeda pendapat tentu dibolehkan dalam
musyawarah.
Dalam soal menulis, tidak ada hubungannya
juga kan dengan umur atau gelar seseorang. Masa kita dibilang nggak pantas
menulis lantaran masih muda. Kita dibilang tidak cocok menulis lantaran bukan
sang Kiyai. Yang dibanggakan leluhur saya, begini-begini. Ketika ditanya ada
karya sendiri? Sekak mat.
Ah, masa bodoh celaan seperti itu. Saya
menulis karena mengikat ilmu yang pernah saya dengar dan ketahui. Dan saya
menulis ngungkapkan perasaan. Saya menulis karena memang melatih diri dengan
menulis. Siapa tahu ada secuil manfaat bagi orang lain.
Biar ilmu bejibun, pengalaman selangit, biar
gelarnya sang kiyai atau dipanggil muallim, kalau tidak menulis, apa yang bisa
dibaca dari karyanya. Kalau toh karya sudah bejibun, tak perlulah merasa
tersaingi dengan mereka yang baru berproses. Malahan mestinya bangga dan
bersyukur ada generasi yang berbakat, yang mesti dibina dan diarahkan. Bukan
untuk dipatahkan.
Karakter orang memang berbeda. Ada yang
senang menghina orang lain lantaran diri merasa lebih dari orang lain.
Kelebihan dari umur, kelebihan dari pengalaman, lebih dari segi status sosial
sehingga nganggap remeh orang lain yang berada di bawahnya. Ada juga yang
santun, kata-katanya tidak menyakitkan. Kalau mengkritik tidak menjatuhkan,
tidak membantai, malah memberikan semangat dan arahan untuk yang lebih baik
dengan ungkapan yang santun.
Dalam hal menulis, kritik yang membangun,
ucapkan terima kasih. Kalau sekadar mencela, tak perlu ditanggapi. Istilahnya,
biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Jadi, untuk terampil menulis,
tidak ada cara lain, kecuali dengan banyak berlatih menulis. Dan, jangan takut
dicela orang. Yang senang mencela, dan terus mengasah kesenangannya itu, ia pun
akan terampil di bidangnya. Bagi yang ingin terampil lebih baik melatih diri
dengan menulis ketimbang mencela. [Haderi
Ideris]
