Pages

Ads 468x60px

Minggu, 03 Juli 2016

HADERI IDERIS : MENULIS, JANGAN TAKUT CELAAN


Dicela itu memang sakit. Apalagi tidak ada hubungannya dengan topik pembahasan. Misalnya dalam musyawarah, ada yang memotong pembicaraan kita. Haderi, kamu nggak usah bicara, kamu tidak pegawai negeri nngak tahu soal keuangan. Masya Allah, apa hubungan pegawai dan tidak pegawai dalam berpendapat? Ya, kalau menolak pendapat orang tidak perlulah mengungkit-ungkit soal status orang. Mengemukakan pendapat itu kan hak semua orang dan berbeda pendapat tentu dibolehkan dalam musyawarah.
Dalam soal menulis, tidak ada hubungannya juga kan dengan umur atau gelar seseorang. Masa kita dibilang nggak pantas menulis lantaran masih muda. Kita dibilang tidak cocok menulis lantaran bukan sang Kiyai. Yang dibanggakan leluhur saya, begini-begini. Ketika ditanya ada karya sendiri? Sekak mat.
Ah, masa bodoh celaan seperti itu. Saya menulis karena mengikat ilmu yang pernah saya dengar dan ketahui. Dan saya menulis ngungkapkan perasaan. Saya menulis karena memang melatih diri dengan menulis. Siapa tahu ada secuil manfaat bagi orang lain.
Biar ilmu bejibun, pengalaman selangit, biar gelarnya sang kiyai atau dipanggil muallim, kalau tidak menulis, apa yang bisa dibaca dari karyanya. Kalau toh karya sudah bejibun, tak perlulah merasa tersaingi dengan mereka yang baru berproses. Malahan mestinya bangga dan bersyukur ada generasi yang berbakat, yang mesti dibina dan diarahkan. Bukan untuk dipatahkan.
Karakter orang memang berbeda. Ada yang senang menghina orang lain lantaran diri merasa lebih dari orang lain. Kelebihan dari umur, kelebihan dari pengalaman, lebih dari segi status sosial sehingga nganggap remeh orang lain yang berada di bawahnya. Ada juga yang santun, kata-katanya tidak menyakitkan. Kalau mengkritik tidak menjatuhkan, tidak membantai, malah memberikan semangat dan arahan untuk yang lebih baik dengan ungkapan yang santun.
Dalam hal menulis, kritik yang membangun, ucapkan terima kasih. Kalau sekadar mencela, tak perlu ditanggapi. Istilahnya, biar anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Jadi, untuk terampil menulis, tidak ada cara lain, kecuali dengan banyak berlatih menulis. Dan, jangan takut dicela orang. Yang senang mencela, dan terus mengasah kesenangannya itu, ia pun akan terampil di bidangnya. Bagi yang ingin terampil lebih baik melatih diri dengan menulis ketimbang mencela. [Haderi Ideris]




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter