Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 02 Juli 2016

CERPEN YUDITEHA: IDIOT


Untuk kesekian kali, Masai  termenung sendiri di kamar. Matanya tertuju lekat pada sebuah gambar burung yang kedua sayapnya patah. Masai sangat menyukainya, sampai-sampai gambar itu jadi satu-satunya penghias tembok di kamarnya. Kini Masai sedang memikirkan sesuatu yang ada hubungannya dengan gambar itu.

Jam terbang pikiran Masai sangat tinggi, karena dia seorang penulis cerita dan puisi. Saat menulis itulah pikirannya bekerja untuk menciptakan karya yang mumpuni. Dia pernah berkata bahwa tulisan yang baik adalah yang bisa menginspirasi banyak orang. Kalau toh belum bisa menginspirasi orang, paling tidak bukan karya asal-asalan. Tapi kali ini Masai bukan mau menulis cerita atau puisi, tapi berpikir untuk kerja nyata menghadapi apa yang sedang melanda dirinya. Dia sedang jatuh cinta.
Meski usianya sudah hampir menyentuh angka 35, namun sampai sekarang Masai belum punya pasangan. Bagi Masai hal itu tidak jadi masalah dan kalau toh kini Masai mendapati rasa itu sebetulnya juga bukan masalah. Boleh jadi justru perlu disyukuri karena hal itu dapat jadi bukti kalau Masai normal sebagai lelaki.
Ceritanya, sepekan yang lalu Masai dihadapkan kenyataan. Dia berjumpa dengan seorang gadis yang mampu menggetarkan hatinya. Itulah yang sekarang membuat benaknya berkecamuk. Sesuatu yang tak pernah dia sangka sebelumnya akan datang pada dirinya termasuk tak kuasanya dia  menghindari ketika rasa itu hadir.
“Baca buku apa, Mas?“  Masai tidak segera menjawab pertanyaan itu. Ia kaget mendengar pertanyaan yang menurutnya telah dianggap sebuah sanjungan. Apalagi suara itu keluar dari mulut seorang gadis manis.
“Novel,” jawab Masai singkat sembari tersenyum.
“Percintaan, ya?” tanya gadis itu lagi dengan intonasi yang menggemaskan.
Masai tak menjawabnya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lagi.
“Namaku Hati Linda Purnama, tapi jangan panggil aku Linda karena Linda nama mamaku. Jangan juga panggil aku Purnama karena Purnama nama papaku. Panggil saja aku Hati," kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
Senyuman Masai semakin melebar lalu menjabat tangan gadis itu dan mengucapkan namanya sendiri.
Perkenalan itu terjadi saat mereka sama-sama berada di ruang tunggu rumah sakit. Masai menunggu karib penulisnya yang mondok karena kadar gulanya meninggi. Sedangkan Hati menunggu mamanya yang terkena serangan jantung. Selama hampir sepekan mereka bersama, hingga berhasil  menciptakan sebuah cerita.
Masalah Masai adalah karena perasaannya pada gadis itu dinilai khalayak abnormal. Penilaian ketidaknormalan perasaan Masai itu karena alasan gadis yang dicintai itu ternyata kondisi otaknya di bawah normal. Orang bilang idiot. Karena orang menganggap peraaannya dinilai tidak lazim itulah, di benak Masai muncul pertanyaan tentang eksistensi dirinya. Apakah benar dia tidak normal?
Kata orang, karya-karya Kahlil Gibran yang terkenal mengulas tentang cinta bisa berguna bagi yang sedang dilanda cinta. Dan Masai juga membaca karya-karya itu tapi baginya,  jangankan mendapat acuan untuk melangkah, untuk tahu keadaan saja tidak dia dapatkan dari bacaan itu. Masai menganggap karya-karya Kahlil Gibran itu hanya berupa susunan kalimat yang bersifat definitif dari sebuah obyek. Bahkan pandangan teman Masai yang bernama Mello lebih ekstrem lagi, menganggap Kahlil Gibran hanya sebatas menggombal. Kalimat-kalimat Kahlil acapkali murahan, selayaknya kalimat yang biasa dibuat anak kemarin sore yang sedang mabuk cinta.
“Tidak percaya? Baca saja Narasi di buku Sang Pujaan, atau di Wardah Hani di buku Jiwa-Jiwa Pemberontak, di sepanjang tulisan itu dia suka sekali menggombal,” kata Mello sebelum terbahak.
Maka Masai tak ingin mencari pengertian cintanya di sana. Dia memilih mencari pengertian cinta atas diri Hati, karena dari Hati-lah dia bisa memahami cinta yang sebenarnya.
***
Sekarang Masai sudah tidak suka termenung sendiri di kamar, namun dia semakin menyukai gambar burung itu.  Kini dia telah memutuskan.
"Mencari cinta tidak usah kemana-mana. Cukup di sini saja. Kumaknai sendiri karena setiap orang berhak menamai cinta atas keinginan kita sendiri. Cinta jauh dari logika dan tidak ada standarisasi, karena cinta adalah kemerdekaan. Nilai dan tafsir cinta bukan rumus kaku matematika, layaknya A + B = C," katanya suatu kali.
Menurut Masai, cinta itu adalah anugerah, datang dan pergi tanpa permisi. Berarti tidak dapat memilih, seperti ketidakbisaan Hati untuk menolak dilahirkan idiot. Di sisi lain, cinta sangat bersifat subyektif. Tidak ada syarat apapun bagi pelaku cinta termasuk bagi Hati dan dirinya. Hati berhak mencintai dan dicintai oleh siapapun. Bukan karena Hati idiot lantas dia tidak boleh mencintai dan dicintai. Hak sepenuhnya adalah boleh, bukan saja tertuju pada orang tertentu, melainkan boleh siapa pun, termasuk Hati dan dirinya. Konsep mencintai dan dicintai di sini terlepas dari unsur bertepuk sebelah tangan. Oleh karena keyakinannya itulah Masai meyakinkan, baik pada dirinya sendiri maupun pada semua orang kalau dia telah memutuskan. Dia memilih Hati.
Oleh karena itu Masai selalu terharu jika melihat film yang mengisahkan cerita sepasang kekasih dengan dua kodisi berbeda, yang satu normal dan yang lain tidak normal. Alasan Masai karena hal itu jarang ditemui di kehidupan nyata, bahkan nyaris sebuah kisah yang mustahil terjadi. Sejujurnya keadaan seperti itu tidak mudah untuk dijalani disatukan. Tentulah hal itu butuh cinta yang mendalam. Harus ada saling pengertian dan pengorbanan. Si pelaku harus punya jiwa sikap teteg dan tekan. Inilah pokok dari keharuan Masai terhadap kisah seperti ini.  Karena yang terjadi di kehidupan nyata, banyak orang tidak teteg dan tekan, meski sang tokoh normal itu mengalami perasaan cinta yang dahsyat terhadap orang yang tidak normal sekalipun.
Hal yang tidak disukai Masai jika mendapati alasan kemustahilan kisah semacam itu karena keegoan. Kalau ditanya mengakui cinta tapi tidak ingin menjadikan hubungan itu nyata karena merasa malu. Rasa malu itu karena dalam diri sang pelaku telah menerapkan standarisasi bagi pelaku cinta. Dan celakanya jika berani mewujudkan, oleh publik akan dianggap sebagai orang yang tidak normal.
Karena pemikiran-pemikiran itulah Masai semakin mantap mencintai Hati karena dia telah memaknai kata normal dan tidak normal. Bagi orang-orang yang dinilai tidak normal termasuk Hati, mereka justru jarang melakukan suatu perbuatan yang jauh dari normal sementara banyak orang-orang yang dianggap normal seringkali melakukan perbuatan yang abnormal. Lihat saja perpisahan yang membawa dendam kesumat hingga berlanjut ke pembunuhan, kisah bunuh diri karena di putus kekasih, kisah perkosaan dan masih banyak lagi. Semua itu biasa dilakukan oleh orang-orang yang dibilang normal. Oleh karena itulah Masai tidak akan pernah malu untuk memperjuangkan keinginannya. Dia semakin gemar memandangi gambar burung dengan kedua sayapnya yang patah.
***
Meski hari telah pagi,  bahkan beberapa lampu merkuri di jalan telah dipadamkan, dan kota telah menjadi riuh oleh kemajemukan kepentingan. Situasi di jalanan begitu padat dan seakan semuanya bergerak begitu cepat. Pada saat di lokasi itu dan dengan kondisi seperti itu, orang akan cenderung untuk memikirkan diri sendiri. Hanya pada moment tertentu saja, kisah sosial akan tampak. Di antara mereka yang beraktifitas, adalah Masai dengan teman karib penulisnya yang dulu sakit, tidak ikut menjadi bagian dari  keriuhan jalanan. Mereka masih asyik di kamar memperbincangkan Hati.
“Jadi, Hati ini cinta pertamamu?”  tanya teman Masai.
“Aku tidak tahu. Tapi sebelumnya aku pernah punya rasa seperti ini. Kalau rasa yang dulu itu juga disebut cinta, berarti ini yang kedua,” jawab Masai.
“Yang pertama itu kapan dan siapa dia?” tanya teman Masai penasaran.
“Kejadiannya saat aku kelas tiga SMP. Sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu siapa dia karena aku hanya bertemu dia sekali di selasar sebuah rumah sakit. Dia-lah gadis kecil yang memberiku gambar burung yang kedua sayapnya telah patah itu,” jawab Masai. [ ]


BIODATA
Yuditeha, aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Tinggal di Jaten RT. 01 RW. 14 Jaten, Karanganyar.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter