Untuk
kesekian kali, Masai termenung sendiri
di kamar. Matanya tertuju lekat pada sebuah gambar burung yang kedua sayapnya
patah. Masai sangat menyukainya, sampai-sampai gambar itu jadi satu-satunya
penghias tembok di kamarnya. Kini Masai sedang memikirkan sesuatu yang ada
hubungannya dengan gambar itu.
Jam
terbang pikiran Masai sangat tinggi, karena dia seorang penulis cerita dan
puisi. Saat menulis itulah pikirannya bekerja untuk menciptakan karya yang
mumpuni. Dia pernah berkata bahwa tulisan yang baik adalah yang bisa
menginspirasi banyak orang. Kalau toh belum bisa menginspirasi orang, paling
tidak bukan karya asal-asalan. Tapi kali ini Masai bukan mau menulis cerita
atau puisi, tapi berpikir untuk kerja nyata menghadapi apa yang sedang melanda
dirinya. Dia sedang jatuh cinta.
Meski
usianya sudah hampir menyentuh angka 35, namun sampai sekarang Masai belum
punya pasangan. Bagi Masai hal itu tidak jadi masalah dan kalau toh kini Masai
mendapati rasa itu sebetulnya juga bukan masalah. Boleh jadi justru perlu
disyukuri karena hal itu dapat jadi bukti kalau Masai normal sebagai lelaki.
Ceritanya,
sepekan yang lalu Masai dihadapkan kenyataan. Dia berjumpa dengan seorang gadis
yang mampu menggetarkan hatinya. Itulah yang sekarang membuat benaknya
berkecamuk. Sesuatu yang tak pernah dia sangka sebelumnya akan datang pada
dirinya termasuk tak kuasanya dia
menghindari ketika rasa itu hadir.
“Baca
buku apa, Mas?“ Masai tidak segera
menjawab pertanyaan itu. Ia kaget mendengar pertanyaan yang menurutnya telah
dianggap sebuah sanjungan. Apalagi suara itu keluar dari mulut seorang gadis
manis.
“Novel,”
jawab Masai singkat sembari tersenyum.
“Percintaan,
ya?” tanya gadis itu lagi dengan intonasi yang menggemaskan.
Masai
tak menjawabnya. Dia hanya mengangguk sambil tersenyum lagi.
“Namaku
Hati Linda Purnama, tapi jangan panggil aku Linda karena Linda nama mamaku.
Jangan juga panggil aku Purnama karena Purnama nama papaku. Panggil saja aku
Hati," kata gadis itu sambil menjulurkan tangannya.
Senyuman
Masai semakin melebar lalu menjabat tangan gadis itu dan mengucapkan namanya
sendiri.
Perkenalan
itu terjadi saat mereka sama-sama berada di ruang tunggu rumah sakit. Masai
menunggu karib penulisnya yang mondok karena kadar gulanya meninggi.
Sedangkan Hati menunggu mamanya yang terkena serangan jantung. Selama hampir
sepekan mereka bersama, hingga berhasil
menciptakan sebuah cerita.
Masalah
Masai adalah karena perasaannya pada gadis itu dinilai khalayak abnormal.
Penilaian ketidaknormalan perasaan Masai itu karena alasan gadis yang dicintai
itu ternyata kondisi otaknya di bawah normal. Orang bilang idiot. Karena orang
menganggap peraaannya dinilai tidak lazim itulah, di benak Masai muncul
pertanyaan tentang eksistensi dirinya. Apakah benar dia tidak normal?
Kata
orang, karya-karya Kahlil Gibran yang terkenal mengulas tentang cinta bisa
berguna bagi yang sedang dilanda cinta. Dan Masai juga membaca karya-karya itu
tapi baginya, jangankan mendapat acuan
untuk melangkah, untuk tahu keadaan saja tidak dia dapatkan dari bacaan itu.
Masai menganggap karya-karya Kahlil Gibran itu hanya berupa susunan kalimat
yang bersifat definitif dari sebuah obyek. Bahkan pandangan teman Masai yang
bernama Mello lebih ekstrem lagi, menganggap Kahlil Gibran hanya sebatas menggombal.
Kalimat-kalimat Kahlil acapkali murahan, selayaknya kalimat yang biasa dibuat
anak kemarin sore yang sedang mabuk cinta.
“Tidak
percaya? Baca saja Narasi di buku Sang Pujaan, atau di Wardah
Hani di buku Jiwa-Jiwa Pemberontak, di sepanjang tulisan itu dia
suka sekali menggombal,” kata Mello sebelum terbahak.
Maka
Masai tak ingin mencari pengertian cintanya di sana. Dia memilih mencari
pengertian cinta atas diri Hati, karena dari Hati-lah dia bisa memahami cinta
yang sebenarnya.
***
Sekarang
Masai sudah tidak suka termenung sendiri di kamar, namun dia semakin menyukai
gambar burung itu. Kini dia telah
memutuskan.
"Mencari
cinta tidak usah kemana-mana. Cukup di sini saja. Kumaknai sendiri karena
setiap orang berhak menamai cinta atas keinginan kita sendiri. Cinta jauh dari
logika dan tidak ada standarisasi, karena cinta adalah kemerdekaan. Nilai dan
tafsir cinta bukan rumus kaku matematika, layaknya A + B = C," katanya
suatu kali.
Menurut
Masai, cinta itu adalah anugerah, datang dan pergi tanpa permisi. Berarti tidak
dapat memilih, seperti ketidakbisaan Hati untuk menolak dilahirkan idiot. Di
sisi lain, cinta sangat bersifat subyektif. Tidak ada syarat apapun bagi pelaku
cinta termasuk bagi Hati dan dirinya. Hati berhak mencintai dan dicintai oleh
siapapun. Bukan karena Hati idiot lantas dia tidak boleh mencintai dan
dicintai. Hak sepenuhnya adalah boleh, bukan saja tertuju pada orang tertentu,
melainkan boleh siapa pun, termasuk Hati dan dirinya. Konsep mencintai dan
dicintai di sini terlepas dari unsur bertepuk sebelah tangan. Oleh karena
keyakinannya itulah Masai meyakinkan, baik pada dirinya sendiri maupun pada
semua orang kalau dia telah memutuskan. Dia memilih Hati.
Oleh
karena itu Masai selalu terharu jika melihat film yang mengisahkan cerita sepasang
kekasih dengan dua kodisi berbeda, yang satu normal dan yang lain tidak normal.
Alasan Masai karena hal itu jarang ditemui di kehidupan nyata, bahkan nyaris
sebuah kisah yang mustahil terjadi. Sejujurnya keadaan seperti itu tidak mudah
untuk dijalani disatukan. Tentulah hal itu butuh cinta yang mendalam. Harus ada
saling pengertian dan pengorbanan. Si pelaku harus punya jiwa sikap teteg
dan tekan. Inilah pokok dari keharuan Masai terhadap kisah seperti
ini. Karena yang terjadi di kehidupan
nyata, banyak orang tidak teteg dan tekan, meski sang tokoh
normal itu mengalami perasaan cinta yang dahsyat terhadap orang yang tidak
normal sekalipun.
Hal
yang tidak disukai Masai jika mendapati alasan kemustahilan kisah semacam itu
karena keegoan. Kalau ditanya mengakui cinta tapi tidak ingin menjadikan
hubungan itu nyata karena merasa malu. Rasa malu itu karena dalam diri sang
pelaku telah menerapkan standarisasi bagi pelaku cinta. Dan celakanya jika
berani mewujudkan, oleh publik akan dianggap sebagai orang yang tidak normal.
Karena
pemikiran-pemikiran itulah Masai semakin mantap mencintai Hati karena dia telah
memaknai kata normal dan tidak normal. Bagi orang-orang yang dinilai tidak
normal termasuk Hati, mereka justru jarang melakukan suatu perbuatan yang jauh dari
normal sementara banyak orang-orang yang dianggap normal seringkali melakukan
perbuatan yang abnormal. Lihat saja perpisahan yang membawa dendam kesumat
hingga berlanjut ke pembunuhan, kisah bunuh diri karena di putus kekasih, kisah
perkosaan dan masih banyak lagi. Semua itu biasa dilakukan oleh orang-orang
yang dibilang normal. Oleh karena itulah Masai tidak akan pernah malu untuk
memperjuangkan keinginannya. Dia semakin gemar memandangi gambar burung dengan
kedua sayapnya yang patah.
***
Meski
hari telah pagi, bahkan beberapa lampu
merkuri di jalan telah dipadamkan, dan kota telah menjadi riuh oleh kemajemukan
kepentingan. Situasi di jalanan begitu padat dan seakan semuanya bergerak
begitu cepat. Pada saat di lokasi itu dan dengan kondisi seperti itu, orang
akan cenderung untuk memikirkan diri sendiri. Hanya pada moment tertentu saja,
kisah sosial akan tampak. Di antara mereka yang beraktifitas, adalah Masai
dengan teman karib penulisnya yang dulu sakit, tidak ikut menjadi bagian dari keriuhan jalanan. Mereka masih asyik di kamar
memperbincangkan Hati.
“Jadi,
Hati ini cinta pertamamu?” tanya teman
Masai.
“Aku
tidak tahu. Tapi sebelumnya aku pernah punya rasa seperti ini. Kalau rasa yang
dulu itu juga disebut cinta, berarti ini yang kedua,” jawab Masai.
“Yang
pertama itu kapan dan siapa dia?” tanya teman Masai penasaran.
“Kejadiannya
saat aku kelas tiga SMP. Sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu siapa dia
karena aku hanya bertemu dia sekali di selasar sebuah rumah sakit. Dia-lah
gadis kecil yang memberiku gambar burung yang kedua sayapnya telah patah itu,”
jawab Masai. [ ]
BIODATA
Yuditeha, aktif
di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Tinggal di Jaten RT. 01 RW. 14 Jaten,
Karanganyar.

