Pages

Ads 468x60px

Jumat, 01 Juli 2016

PUISI EKA ARTA PRATAMA: KUPU-KUPU SENJA


Puisi I
KUPU-KUPU SENJA


Semilir angin nan lembut perlahan menyusuri lekuk  jilbabku
Debur ombak meriah mengajakku berbicara
Pohon kelapa yang melambai mengajakku berteduh di rumahnya

Ya, semuanya berlomba
Berlomba untuk mendengar kisahku
Berlomba bertanya ada apa dengan hati kecilku
Berlomba mengetahui untuk apa aku di tempat ini
Menanti... menanti... dan menanti
Ya, menanti imam kehidupan yang tak kunjung pulang

Semua tertawa mendengar jawabanku
Mereka meremehkan kata-kataku saat ini
Namun, dia juga tertawa mendengar keluh ini
Ya, tawa yang berat namun menyejukkan

Dia datang senja ini
Senja dimana kami janjikan untuk bersua
Ya, dia datang dengan segenap cinta
Juga bersama kupu-kupu senja nan mungil
dan sepucuk surat usang

Seketika semua terdiam bisu
Seolah ada hembusan sihir yang dikeluarkan oleh sang surat
Dan hanya menyisakan tatapan-tatapan yang penuh selidik
Kepadaku, surat usang dan juga kepada kupu-kupu senja




Puisi II
SEJUTA EMBUN RINDU


Embun itu suci … sesuci rinduku padamu
Embun itu dingin ... sedingin sikapmu padaku
Embun itu ikhlas … seikhlas rasaku padamu
Embun itu sekejap ... sekejap kau bersamaku

Seberapa sering kau menunggu angin hebat yang bisa mematahkan hati?
Seberapa kali kau menanti hujan deras yang dinginnya bisa menusuk jantungmu?
Seberapa lama kau berharap pada pelangi yang datangnya pun tak pasti?
Seberapa lama pula kau ingin menunggu mentari yang selalu berbagi hangatnya pada orang lain?

Dan seberapa kali kau mengibaskan tanganmu pada embun yang mencoba menyapamu?
Ya, akulah embun yang ingin menyapu bersih wajahmu pada subuh hari
Akulah embun yang rela datang menjengukmu sebelum mentari menyapamu
Namun, sejuta tetesan embun kau acuhkan
Sejuta rinduku pula kau abaikan




Puisi III
HAKIM CINTA


Ketika kasih sayang sudah mulai bertebaran
Ketika janji-janji di obral layaknya pakaian murah
Ketika pacaran dijadikan tradisi
Ketika kegiatan memberi harapan menjadi sebuah hobi

Lalu, ketika perselingkuhan memulai debutnya
Kekerasan mulai berani mengambil tindakan
Dan perpisahan mulai membuat jalannya sendiri

Kesedihan berkumpul,
Meminta keadilan kepada sang Hakim Cinta
Namun hanya hening  yang didapat  mereka
Dan hanya suara angin yang seolah mentertawakan permintaan mereka

Mereka tidak mengerti
Kesedihan tidak berhak meminta penghakiman dari cinta
Karena mereka tidak cukup dewasa dalam memahami hukum dari cinta itu sendiri



Biodata:
Ekawati Arta Pratama,  alamat : Desa Kalahang, Tabalong, Kalimantan Selatan. Email : artapratama93@gmail.com




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter