Puisi I
KUPU-KUPU SENJA
Semilir angin nan lembut perlahan menyusuri
lekuk jilbabku
Debur ombak meriah mengajakku berbicara
Pohon kelapa yang melambai mengajakku
berteduh di rumahnya
Ya, semuanya berlomba
Berlomba untuk mendengar kisahku
Berlomba bertanya ada apa dengan hati kecilku
Berlomba mengetahui untuk apa aku di tempat ini
Menanti... menanti... dan menanti…
Ya, menanti imam kehidupan yang tak kunjung
pulang
Semua tertawa mendengar jawabanku
Mereka meremehkan kata-kataku saat ini
Namun, dia juga tertawa mendengar keluh ini
Ya, tawa yang berat namun menyejukkan
Dia datang senja ini
Senja dimana kami janjikan untuk bersua
Ya, dia datang dengan segenap cinta
Juga bersama kupu-kupu senja nan mungil
dan sepucuk surat usang
Seketika semua terdiam bisu
Seolah ada hembusan sihir yang dikeluarkan
oleh sang surat
Dan hanya menyisakan tatapan-tatapan yang
penuh selidik
Kepadaku, surat usang dan juga kepada
kupu-kupu senja
Puisi II
SEJUTA EMBUN RINDU
Embun itu suci … sesuci rinduku padamu
Embun itu dingin ... sedingin sikapmu padaku
Embun itu ikhlas … seikhlas rasaku padamu
Embun itu sekejap ... sekejap kau bersamaku
Seberapa sering kau menunggu angin hebat yang
bisa mematahkan hati?
Seberapa kali kau menanti hujan deras yang dinginnya
bisa menusuk jantungmu?
Seberapa lama kau berharap pada pelangi yang
datangnya pun tak pasti?
Seberapa lama pula kau ingin menunggu mentari
yang selalu berbagi hangatnya pada orang lain?
Dan seberapa kali kau mengibaskan tanganmu pada
embun yang mencoba menyapamu?
Ya, akulah embun yang ingin menyapu bersih
wajahmu pada subuh hari
Akulah embun yang rela datang menjengukmu
sebelum mentari menyapamu
Namun, sejuta tetesan embun kau acuhkan
Sejuta rinduku pula kau abaikan
Puisi III
HAKIM CINTA
Ketika kasih sayang sudah mulai bertebaran
Ketika janji-janji di obral layaknya pakaian
murah
Ketika pacaran dijadikan tradisi
Ketika kegiatan memberi harapan menjadi
sebuah hobi
Lalu, ketika perselingkuhan memulai debutnya
Kekerasan mulai berani mengambil tindakan
Dan perpisahan mulai membuat jalannya sendiri
Kesedihan berkumpul,
Meminta keadilan kepada sang Hakim Cinta
Namun hanya hening yang didapat
mereka
Dan hanya suara angin yang seolah mentertawakan
permintaan mereka
Mereka tidak mengerti
Kesedihan tidak berhak meminta penghakiman
dari cinta
Karena mereka tidak cukup dewasa dalam
memahami hukum dari cinta itu sendiri
Biodata:
Ekawati Arta Pratama, alamat
: Desa Kalahang, Tabalong, Kalimantan Selatan. Email : artapratama93@gmail.com
