Setiap manusia di dunia ini punya roda kehidupannya masing-masing. Ada yang punya giliran berada di bawah sampai harus terinjak-injak, bonyok, dan nelangsa, dan ada saatnya kita mendapat giliran berada di atas, menghirup angin kemenangan, berjaya, dan bahagia. Begitulah alur hidup yang diciptakan Tuhan untuk kita dengan penuh keadilan yang kadang tak disadari oleh manusia. Orang sakit adalah salah satunya.
Dalam tulisan yang pernah saya baca, siapapun
akan lumpuh ketika berhadapan dengan sakit. Terserah itu politikus, kritikus,
presiden, ulama, dokter, koruptor, napi, ataupun penjahat dan perampok, sampai
orang biasa, semuanya akan ‘tunduk’ sewaktu kebagian giliran sakit. Saya yang
saat itu juga tengah sakit hanya bisa membenarkan, perut saya bandel lagi.
Setuju ataupun tidak, menurut saya orang
sakit adalah satu-satunya orang yang paling paham satu hal: Tak selalunya
kesempatan sehat berada di tangan mereka. Dalam kesakitan, saya sampai
menulis lebih dari sepuluh hashtag tentang orang sakit. Dalam hashtag-hashtag
tersebut saya mengeluarkan semua pikiran saya tentang kerugian dan
keberuntungan orang sakit. Dan ternyata, ada 1001 keberuntungan khusus untuk
orang sakit ketika kita mau dan mampu berlapang dada.
Terkadang ketika kita melihat orang-orang di
sekitar kita, kita mungkin berpikir, pernahkah mereka sakit? Mengapa mereka
selalu terlihat sehat? Atau, mengapa Tuhan lebih memilih memberikan
sakit kepada kita dan bukannya kepada orang lain? Beberapa pertanyaan
tersebut wajar saja, karena pikiran orang sakit biasanya berbeda dengan pikiran
orang normal. Karena orang sakit hanya bisa merasakan kegembiraan orang lain
tanpa bisa masuk ke dalamnya. Karena orang sakit adalah satu-satunya orang yang
terpojok di tengah kesibukan manusia-manusia lainnya tanpa bisa bangun dan
bergabung dengan mereka. Ibarat daun, orang sakit seperti daun yang jatuh di
antara tunas-tunas baru yang tumbuh.
Tetapi perasaan-perasaan tersebut
berhasil teratasi dengan hati nurani saya yang mendadak nyeletuk dari
dalam, “Mbok ya makasih gitu dikasih sakit sama Allah. Dia mau
merehatkanmu sejenak dari lalu lintas hidup. Sebenarnya waktu sakit, Tuhanmu
itu sedang berkata pada malaikat-Nya: Aku memberinya sakit karena dia orang
spesial di mata-Ku.” Saya terdiam lagi. Kali ini tak berkutik. Karena
mungkin saja, sakit yang saya idap ini adalah bayaran buat dosa-dosa saya yang
dengan sangat baik hati berusaha dikurangi oleh Tuhan. Saat saya terbaring
sakit, mungkin saja Tuhan sedang menggoyang pohon dosa saya agar daun-daunnya
berguguran.
Maka berbahagialah ketika Anda sakit,
karena Anda adalah orang-orang pilihan Tuhan! [ ]
