Pada suatu hari, ada seorang teman mendapati beberapa buku puisi di atas meja, lalu dia membuka salah satu buku puisi itu dan membaca salah satu puisi yang tertera di sana. Setelah selesai membaca satu puisi itu dia berkata:
“Apa maksudnya?”
Puisi bukanlah kata atau kalimat yang disusun asal, tanpa pertimbangan. Puisi adalah himpunan kata atau kalimat yang di dalamnya mengandung unsur bunyi, irama, pola sambungan kata, penggalan kalimat, pendek-panjang kalimat serta jeda di setiap kalimat. Semuanya itu di kehidupan sehari-hari seringkali tidak terperhatikan.
Ada banyak cara menikmati puisi, salah satunya yaitu dengan cara menyelami kata-kalimatnya dan menangkap apa yang dihadirkan di sana. Memang bukan perkara sepele dalam menikmati puisi tetapi bukan perkara sulit untuk menangkap apa yang diungkap (Eh, salah. Yang benar adalah: apa yang terungkap). Karena kata diungkap, kita berpikir dari pihak penulis, sedangkan kata terungkap, kita berpikir dari pihak kita (pembaca). Karena sebenarnyalah penulis akan mati ketika tulisannya itu telah sampai kepada pembaca.
Bahasa puisi diartikan sebagai bahasa multi, yang dapat terurai ke dalam berbagai unsur. Dengan begitu seringkali apresiasi dari sebuah puisi tidak selalu harus sejalan dengan maksud penulis. Dengan begitu pula maka makna harfiah dari sebuah puisi bukan merupakan satu-satunya inti dari sebuah puisi itu sendiri. Makna harfiah itu harus masih digabungkan bersama-sama dengan unsur yang lainnya.
Terkadang sebuah puisi hanya diartikan sebagai akibat dari penyelaman puisi itu berdasarkan komposisi yang dilahirkan dari gabungan bunyi, irama dan jedanya saja.
“Apakah boleh begitu dalam mengartikan puisi?"
Boleh dan sah-sah saja, bahkan Imam Budi Santoso pernah mengatakan bahwa kejadian seperti itu dinamainya dengan Kekeliruan yang membahagiakan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kita sering mendapati puisi yang tampak seperti bingung mau berbicara tentang apa, karena senyatanya yang ditampakkan dalam puisi itu hanyalah semacam gabungan kata-kata acak, seperti halnya seorang pelukis yang sedang menguji sebuah gabungan warna-warna baru yang akan digunakan untuk pewarnaan di sebuah lukisannya. Unsur bunyi seperti ditampilkan seserasi mungkin dengan tidak hanya menunjukkan bunyi yang sama tetapi juga termasuk masalah penempatan bunyi dari artikulasinya dibuat pas ketika dibacakan. Penangkapan makna puisi macam begini tentu akan sangat berlainan di setiap personalnya. Penangkapan makna puisi ini tentu akan berbeda-beda.
Kalau memang begitu, mengapa kita merasa takut untuk mengerti isi puisi? Kalau memang begitu, mengapa kita sampai tidak tahu artinya?
Jadi, ketika teman yang membaca puisi tersebut telah selesai membaca puisinya sebenarnya dia telah mempunyai gambaran dari makna puisi yang tadi dibaca tetapi tidak pernah dibilangkannya.
“Apa maksudnya?”
Atas dasar apa dia berani sampai menanyakan pertanyaannya itu? Tidak lain dan tidak bukan pasti karena pada dasarnya dia merasa apa yang diartikan itu tidak sama dengan maksud penulis.
Jadi mulai sekarang janganlah kita takut dengan puisi, karena menikmati puisi sangatlah gampang. Praktisnya setiapkali kita membaca sebuah puisi dengan tuntas kita pasti telah menemukan artinya atas dasar pemahaman kita sendiri. Jadi marilah kita menikmati puisi bersama-sama dengan perasaan nyaman. [y]
Biodata:
Yuditeha, penulis yang punya hobi melukis wajah dan bernyanyi puisi. Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta. Tinggal di Jaten, Karanganyar, Solo

