Ada pemandangan menarik di masjid
tempat saya dan warga perumahan melakukan ibadah salat Isya dan Tarawih
bejamaah bulan Ramadan tahun ini. Selesai Tarawih malam pertama Ramadan itu,
letak sandal saya dan jamaah lainnya tersusun rapi dan depannya menghadap ke
jalan. Pasti ada petugas atau siapa pun yang mengatur demikian. Syukurlah.
Selain jadi lebih rapi, jamaah tinggal memasukkan kakinya menghadap arah
pulang.
Pertama kali saya menemukan
susunan sandal jamaah bersusun menghadap ke jalan demikian saat salat di Masjid
Daarut Tauhiid, di Geger Kalong Bandung, ketika berkunjung ke pesantren Aa Gym,
puluhan tahun yang lalu. Tidak heran karena tradisi susun sandal ini memang
sudah lama dilakukan pada masjid dan surau di pesantren-pesantren di Indonesia,
khususnya di pulau Jawa. Jamaah biasanya menyusun sendiri letak sandalnya ketika
mau menaiki teras masjid.
Beberapa tempat ibadah di banua
sudah pula melakukan hal ini. Biasanya anak-anak yang sukarela menyusunkannya.
Sementara, masih banyak jamaah tak perduli, meletakkan sandal sembarang. Bahkan
mengumpetkannya di sela pagar atau bagian teras masjid. Biasanya sandal
tersebut dianggap mahal. Tentu jadi terlihat tidak rapi. Alasannya, agar mudah
dicari dan aman dari pencurian. Sandal
yang diselipkan itu belum pasti aman dari kehilangan.
Beberapa tahun lalu, saat salat
Jumat di Sabilal Muhtadin, saya meletakkan sandal di dinding pembatas masuk
tempat wudu pria. Tempatnya lebih tinggi dari jangkauan tangan saya di atas
kepala. Pikir saya pasti aman. Namun, ketika bubaran salat, saya tak menemukan
lagi sandal itu. Luar biasa, kemungkinan yang mengambil badannya setidaknya
sama tinggi dengan saya.
Tentu saya harus belajar lapang
dada. Di kalangan santri di pesantren ada istilah ghosob yaitu meminjam barang
orang lain tanpa seizin pemiliknya. Barang tersebut biasanya kopiah, sajadah, terutama
sandal. Sandal yang tidak ditemukan pemiliknya bisa jadi dipakai jamaah berwudu
dan tidak diletakkan ke tempat asal atau bisa pula dibawa pulang karena jamaah
tersebut sebelumnya kehilangan sandalnya, tetapi waktu salat berikutnya akan
dikembalikan.
Ghosob berbeda dengan mencuri
karena sifatnya hanya meminjam. Sebagian guru di pesantren malah mengatakan
ghoshob itu haram agar tak menjadi kebiasaan. Namun, peristiwa ghosob ini masih
sering ditemukan, terutama ketika masjid penuh jamaah. Selalu saja ada yang
terlihat bingung kehilangan. Dalam cerita anak-anak santri, berkembang pameo,
kalau tidak meng-ghosob ya di-ghosob. Walaupun ini dianggap lumrah, tak elok
juga jika dijadikan budaya.
Nasib sandal jamaah tentu berbeda
dengan sandal milik kyai, imam salat atau penceramah. Biasanya ada jamaah,
pengurus masjid, atau asisten pribadi yang selalu ‘mengamankan’nya. Begitu pula
kalau ada pejabat yang masuk masjid atau ikut hadir di sebuah tempat yang
mengharuskan lepas alas kaki, pasti sepatunya ada yang menempatkan. Hal ini
sudah berlangsung sejak zaman Rasulllah.
Saat itu ada seorang anak berumur
belasan tahun bernama Salman. Setiap hari dia lebih dulu hadir ke masjid
sebelum nabi Muhammad SAW datang. Setelah Rasulullah masuk masjid, Salman
bergegas merapikan dan membalik arah posisi sandal beliau. Rasulullah penasaran
siapa yang melakukan itu. Dan suatu hari nabi mengintip dari dalam masjid dan
melihat Salman yang melakukannya. Salman pun didoakan Rasulullah. Setelah
dewasa, Salman dikenal sebagai ahli fiqih.
Ini sekadar cerita sandal yang
notabene selalu diinjak dan jadi pelindung kaki kita dari tanah dan kotoran.
Namun, sandal menjadi begitu berharga bagi kita ketika menghadapi peristiwa
seperti di atas. Barangkali sudah saatnya memberi perhatian kepada hal-hal yang
selama ini kita remehkan. Ada banyak ‘sandal’ di sekitar kita yang justru mampu
melindungi diri dari kesombongan, kerakusan, dan ego diri. Maka, mumpung bulan
Ramadan, perbanyak empati dan perduli. [Zulfaisal
Putera]
(Telah
dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 12 Juni 2016)
