Pak,
saya baru bisa menulis kalau lagi sensitif.
Sensitif pada pernyataan di atas
mengarah pada konotasi negatif, semisal mudah tersinggung, lagi kesal, marah,
emosi ketika ada gangguan dari luar. Namun, dalam tataran pemicu
pemikiran, sensitif bermakna mudah menerima rangsangan.
Nah, ketika timbul sensitifitas
pada diri, orang bisa menyalurkannya dalam bentuk tulisan. Sebagaimana
pengakuan teman kita tadi bahwa dia baru bisa menulis di saat dia sensitif,
seumpama lagi kesal. Berarti jika lagi kesal, ia bisa menulis. Ya tentu saja
yang ditulis tentang kekesalannya.
Manakala keadaan jiwa biasa-biasa
saja, tidak sensitif, ia tidak menulis. Nah, ini jadi penghalang juga.
Rugi dong.
Perlu diingat, sensitif bukan
saja pada ranah negatif, bisa diarahkan pada ranah positif juga. Jika
waktu kesal kita bisa menulis, mestinya waktu gembira, waktu tenang harusnya
lebih kencang lagi menulisnya. Persoalannya bukan terletak pada perasaan
sensitif atau tidaknya, tapi terletak pada kemauan mengasah kepekaan itu
dalam bentuk tulisan.
Menulis adalah satu dari cara seseorang
menumpahkan perasaannya. Jika perasaan itu dicurahkan sama teman secara lisan,
ada rasa plong, begitu juga dengan menulis. Malah dengan menulis bahasa tulis
kita pun akan lebih berkembang.
Pada tataran memaksimalkan
karya, kepekaan, bukan ditunggu, tapi dijemput. Manakala kita peka
terhadap sesuatu yang kita rasa, kita lihat, lalu kita asah dengan
menyalurkannya ke dalam tulisan justru itu yang lebih baik.
Kepekaan tidak terbatas pada apa
yang menimpa diri yang membuat diri kesal, yang membahagiakan pun bisa. Tidak
hanya yang menimpa diri, yang menimpa orang lain pun bisa menggugah perasaan
kita. Apa yang kita baca dan kita tonton pun bisa memicu kepekaan. Nah,
Manakala perasaan kita tergugah, lalu ada keinginan untuk menuliskannya,
salurkanlah secepatnya. Jenis tulisannya bisa berupa artikel, cerpen, dan bisa
juga puisi.
Sebenarnya sensitif atau tidak
sensitif tidak jadi masalah. Yang terpenting adalah menulisnya. Menulis jangan
tergantung ini itu. Menulis ya menulis. Kalau sensitif dijadikan alasan baru
bisa menulis, kan repot.
Jadi, jangan pikirkan apakah kita
lagi sensitif atau tidak. Yang penting menulis, dan terus menulis. Justru
dengan terus menulis itu, kepekaan malah semakin bagus. Sehingga, apa saja bisa
jadi bahan tulisan. [Haderi Ideris]
