Pages

Ads 468x60px

Senin, 20 Juni 2016

HADERI IDERIS: MENULIS DAN SENSITIFITAS


Pak, saya baru bisa menulis kalau lagi sensitif.
Sensitif pada pernyataan di atas mengarah pada konotasi negatif, semisal mudah tersinggung, lagi kesal, marah, emosi ketika  ada gangguan dari luar.  Namun, dalam tataran pemicu pemikiran, sensitif bermakna mudah menerima rangsangan.
Nah, ketika timbul sensitifitas pada diri, orang bisa menyalurkannya dalam bentuk tulisan. Sebagaimana pengakuan teman kita tadi bahwa dia baru bisa menulis di saat dia sensitif, seumpama lagi kesal. Berarti jika lagi kesal, ia bisa menulis. Ya tentu saja yang ditulis tentang kekesalannya.
Manakala keadaan jiwa biasa-biasa saja, tidak sensitif, ia tidak  menulis. Nah, ini jadi penghalang juga. Rugi dong.
Perlu diingat, sensitif bukan saja pada ranah negatif,  bisa diarahkan pada ranah positif juga. Jika waktu kesal kita bisa menulis, mestinya waktu gembira, waktu tenang harusnya lebih kencang lagi menulisnya. Persoalannya bukan terletak pada  perasaan sensitif atau tidaknya, tapi  terletak pada kemauan mengasah kepekaan itu dalam bentuk tulisan.
Menulis adalah satu dari cara seseorang menumpahkan perasaannya. Jika perasaan itu dicurahkan sama teman secara lisan, ada rasa plong, begitu juga dengan menulis. Malah dengan menulis bahasa tulis kita pun akan lebih berkembang.
Pada tataran memaksimalkan karya,  kepekaan, bukan ditunggu, tapi dijemput. Manakala kita peka terhadap sesuatu yang kita rasa, kita lihat, lalu kita asah dengan menyalurkannya ke dalam tulisan justru itu yang lebih baik.
Kepekaan tidak terbatas pada apa yang menimpa diri yang membuat diri kesal, yang membahagiakan pun bisa. Tidak hanya yang menimpa diri, yang menimpa orang lain pun bisa menggugah perasaan kita. Apa yang kita baca dan kita tonton pun bisa memicu kepekaan. Nah,  Manakala perasaan kita tergugah, lalu ada keinginan untuk menuliskannya, salurkanlah secepatnya. Jenis tulisannya bisa berupa artikel, cerpen, dan bisa juga puisi.
Sebenarnya sensitif atau tidak sensitif tidak jadi masalah. Yang terpenting adalah menulisnya. Menulis jangan tergantung ini itu. Menulis ya menulis. Kalau sensitif dijadikan alasan baru bisa menulis, kan repot.
Jadi, jangan pikirkan apakah kita lagi sensitif atau tidak. Yang penting menulis, dan terus menulis. Justru dengan terus menulis itu, kepekaan malah semakin bagus. Sehingga, apa saja bisa jadi bahan tulisan. [Haderi Ideris]



Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter