Dusun
Singojoyo menggigil di tengah musim kemarau yang telah membakar selama 7 bulan.
Tiap-tiap kepala berisi cemas di depan televisi, menyaksikan berbagai daerah
bersuka-ria menyambut hujan turun. Lalu,
apa yang diresahkan oleh orang-orang di dusunku? Bukankah itu hal baik? Sawah
yang haus dan retak akan hilang dahaga? Namun, agaknya tepat jika rahasia ini
aku kisahkan padamu. Bahwa ketika hujan pertama turun, Blawong akan bertandang
dari rumah ke rumah, mencuri hal yang paling berharga dari sebuah keluarga:
kebahagiaan dan kedamaian.
Segala
persiapan telah disediakan oleh kami. Sesuai arahan Ki Bumi, yang namanya tak
asing sebagai dukun satu-satunya di dusun. Mulai dari bambu-bambu kuning, tegak
melingkupi tiap rumah. Juga, telur angsa yang tak menetas, sebagai penangkal
roh jahat. Siapa tahu hujan akan turun pada malam hari. Ketika kami tengah
tertidur, seperti yang dialami Pak Jarko musim hujan beberapa musim sebelumnya,
di mana ia tak memasang persiapan dan kehilangan kebahagiaan: anaknya hilang
kewarasan ketika bangun tidur.
Para
warga berpendapat, itu pastilah ulah Blawong yang mengendap malam-malam dan
mencuri akal anak Pak Jarko. Karena hal itu pula, Pak Jarko mengurung diri di
dalam kamar dan kusut rupanya.
Kejadian
ganjil itu bukan hanya datang satu atau dua kali. Setiap musim, selalu saja ada
keluarga yang kehilangan kebahagiaan dan kedamaian ketika hujan pertama turun.
Bagai tumbal-tumbal untuk menggantikan kekeringan.
Satu-dua
warga masih dimendungi pertanyaan yang serupa. Dengan alasan apa Blawong
merusak ketenangan Dusun Singojoyo? Salahkah warga dusun pada masa lampau?
Tentulah Blawong itu tercipta dari jiwa yang tak bahagia, sela seseorang.
Empat
musim sebelum ini, temanku, Suroto, melontarkan pertanyaan yang membungkam
segala kegusaran. “Siapa yang pernah melihat Blawong? Bagaimana cara membuktikannya?
Mengapa harus percaya pada tahayul?”
“Kiai
Ishak!” teriakku.
“Bagaimana
caranya ia meyakinkan semua orang kalau Blawong benar-benar ada?”
“Ia
pernah bertemu sendiri. Blawong itu gemar mencuri kebahagiaan dan kedamaian
suatu keluarga ketika hujan pertama turun.”
Lalu
kami datangi Kiai Ishak di surau, sebagai biasa, ia menyendiri. Tengah bersilah
di ceruk paling depan tempat seorang imam memimpin shalat.
Kiai
Ishak seakan tahu kedatangan kami. Ia segera memutar tubuhnya. Memancar pada
wajah itu suatu keteduhan dari senyumnya. Keteduhan satu-satunya di dusunku ini
karena rata-rata warga seluruh telah termakan tahayul. Ia mempersilakan kami
berdua untuk masuk. Tanpa kami sadari, beberapa orang mengekor.
“Maaf,
Pak Kiai, mengganggu.”
Kiai
Ishak melengkungkan senyum di bagian bibirnya. “Blawong?”
Di
antara kami berdua, muncul satu pertanyaan. Mungkinkah itu kehebatan Kiai
Ishak? Mengetahui hal-hal yang akan terjadi? Oleh orang-orang dusun, Kiai Ishak
dikenal orang banyak sebagai pemilik ilmu laduni.
Ilmu yang menjadikan pemiliknya bisa mengetahui kabar-kabar langsung dari
langit. Tirakat dan tebusannya tentu amat besar. Salah satunya, apabila
rutinitas zikir terputus sehari saja, pemilik ilmu laduni akan kehilangan akal. Hal itulah yang menjadikan Kiai Ishak
sebagai titik putih di antara banyak titik hitam.
Aku
dan Suroto mematung di lantai dalam surau. Merasakan dingin keramik menembus
badan. Membekukan segala apa yang hendak kami tanyakan pada Kiai Ishak.
Kiai
Ishak bertutur di hadapan kami. Kepala wajah kami tertunduk, tiada sanggup
menatap langsung padanya. Pada matanya yang memancar keteduhan.
“Aku
telah mendengar banyak orang mempermasalahkan adanya Blawong. Namun, apabila
Blawong ditangkap, tentu ada salah seorang yang mati sebagai ganti.”
“Kiai
tahu siapa orangnya?”
“Allah
lebih tahu dari segala-galanya,” kata Kiai Ishak datar seakan menyembunyikan
sebuah rahasia.
“Maukah
Kiai menolong kami? Menghapus keresahan kala hujan pertama turun, misalnya.”
“Setiap
diri tentu sudah disediakan penolong masing-masing.”
“Tolonglah.”
“Tentu,
tentu, jika Allah menghendaki.”
***
Kiai
Ishak adalah anak dari Ki Bumi. Meski terdapat hubungan anak dan bapak, kedua
manusia itu memiliki watak yang berbeda. Jalan yang ditempuh pula berbeda. Ki
Bumi sepanjang umur tiada kenal beribadah. Tiap hari, ia suka mengurung di atas
Gunung Gejene. Mengasing diri. Sedang anaknya, Kiai Ishak, ia gemar bersosial,
bermain dengan kanak-kanak sebayanya, sebagaimana ibunya kecil. Sehingga ajaran
agama pun didapat melalui jalan-jalan itu. Seperti pepatah, harum atau busuknya
seseorang, bergantung pada temannya.
Meski
Ki Bumi adalah dukun, ia amat menyayangi keluarganya. Ia biarkan istri dan
anaknya memilih jalan yang berbeda dengannya. Ia biarkan pula anaknya berguru
pada Kiai Hamim untuk memperdalam ilmu Islam.
Namun, ketika diajak oleh anaknya untuk ikut berguru, ia menolak.
“Setelah
engkau besar nanti, pasti engkau akan tahu, mengapa manusia disediakan pilihan.
Setiap pilihan yang diambil, tentu harus dijalani dan ditekuni. Pilihan bapak
adalah murni menjadi dukun. Dan bahagia dengan ini. Tentu, engkau nanti akan
tahu, sebab yang diinginkan manusia di bumi ini adalah ketenangan dan
kebahagiaan.”
Cerita
itu aku dengar dari kasak-kusuk. Entah benar atau tidak.
Namun,
sejak kematian ibu Kiai Ishak (ketika itu Kiai Ishak telah banyak dikenal
sebagai kiai yang masyhur), Ki Bumi amat jarang menampakkan diri. Ia hanya
menampakkan diri ketika menjelang hujan pertama turun dalam kemarau yang
mendera dengan membawa pesan. Ia hanya berpesan agar seluruh warga
mempersiapkan bambu kuning dan telur angsa yang gagal menetas sebagai penangkal
adanya Blawong. Memang, adanya Blawong telah terjadi sejak puluhan musim
sebelumnya. Seakan dusun terkena kutukan warisan. Namun anehnya, setiap musim
pula ada saja korban yang kehilangan kebahagiaan.
Terlebih
setelah kematian istri Ki Bumi, korban-korban yang tak bahagia
bertambah-tambah. Semula kami menyangka, bahwa pusat dari segala petaka adalah
ulah Ki Bumi. Namun, Kiai Ishak berkata bahwa segala itu adalah kehendak Allah.
Ia berkata pula, penyebab dari segala petaka itu adalah karena tiap-tiap warga
tak mau mempertebal iman dan hanya memendam ketakutan.
Pernyataan
itu membelah pikiran warga. Sebelah mengikuti apa yang disarankan Ki Bumi.
Sebagian mengikuti pandangan Kiai Ishak.
Apakah
engkau mengira bahwa Kiai Ishak hanya menutup-nutupi rahasia bapaknya? Bukan,
tentu bukan. Sebuah kebenaran tentu tak takut untuk meluruskan yang salah.
Namun, aku juga sependapat denganmu,
mengapa Kiai Ishak tiada mampu menyadarkan bapaknya sebagai pemuja setan? Tentu
segala itu mengingatkanku pada kisah Nabi Ibrahim dengan bapaknya. Dan
pandangan itu kandas, tentu, Kiai Ishak telah berusaha sejauh di luar yang
kupikirkan. Pasti ada maksud dari seluruh rangkaian rahasia itu.
***
Setiap
musim, bertambah pengikut pandangan Kiai Ishak. Para warga berbondong menuju ke
masjid meminta perlindungan dari manusia yang memiliki mata yang teduh itu.
Bersama-sama
setiap malam, Dusun Singojoyo setiap hari mengadakan tahlilan. Terlebih,
intensitas dan kedalaman doa, mereka perdalam lagi ketika menjelang hujan
pertama turun. Suatu kali Kiai berkata, bahwa Blawong itu menetap di Gunung
Gejene. Tinggi perawakannya menjulang bagai pohon-pohon raksasa, namun ia
pandai menyamar sebagai manusia.
“Milik
Ki Bumi kah?” tanya
seorang warga.
Kiai
Ishak menggeleng. “Milik Allah,” katanya.
Engkau
harus tahu, bahwa keadaan yang paling menyedihkan adalah ketika penyakit gula
Kiai Ishak kambuh. Dan setelah kematiannya, para warga desa kehilangan
pegangan. Hingga satu-satunya yang dipercayai kini adalah ucapan Ki Bumi. Maka
dari itu, malam ini para warga mempersiapkan segalanya.
Engkau
mungkin tidak percaya dengan segala yang kuceritakan panjang lebar itu. Sebab
engkau orang baru. Namun, bolehkah aku bertanya. Dari manakah asalmu?
“Gunung
Gejene,” katamu. [ ]
Purworejo, 2015
Biodata Penulis:
Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994. Bertempat tinggal di kaki
perbukitan Bruno, kawasan Purworejo. Ia suka membaca dan menulis cerpen di
tengah-tengah kegiatannya sebagai produsen bata merah.
