Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 18 Juni 2016

CERPEN SETO PERMADA: BLAWONG


Dusun Singojoyo menggigil di tengah musim kemarau yang telah membakar selama 7 bulan. Tiap-tiap kepala berisi cemas di depan televisi, menyaksikan berbagai daerah bersuka-ria menyambut hujan turun. Lalu, apa yang diresahkan oleh orang-orang di dusunku? Bukankah itu hal baik? Sawah yang haus dan retak akan hilang dahaga? Namun, agaknya tepat jika rahasia ini aku kisahkan padamu. Bahwa ketika hujan pertama turun, Blawong akan bertandang dari rumah ke rumah, mencuri hal yang paling berharga dari sebuah keluarga: kebahagiaan dan kedamaian.

Segala persiapan telah disediakan oleh kami. Sesuai arahan Ki Bumi, yang namanya tak asing sebagai dukun satu-satunya di dusun. Mulai dari bambu-bambu kuning, tegak melingkupi tiap rumah. Juga, telur angsa yang tak menetas, sebagai penangkal roh jahat. Siapa tahu hujan akan turun pada malam hari. Ketika kami tengah tertidur, seperti yang dialami Pak Jarko musim hujan beberapa musim sebelumnya, di mana ia tak memasang persiapan dan kehilangan kebahagiaan: anaknya hilang kewarasan ketika bangun tidur.
Para warga berpendapat, itu pastilah ulah Blawong yang mengendap malam-malam dan mencuri akal anak Pak Jarko. Karena hal itu pula, Pak Jarko mengurung diri di dalam kamar dan kusut rupanya.
Kejadian ganjil itu bukan hanya datang satu atau dua kali. Setiap musim, selalu saja ada keluarga yang kehilangan kebahagiaan dan kedamaian ketika hujan pertama turun. Bagai tumbal-tumbal untuk menggantikan kekeringan.
Satu-dua warga masih dimendungi pertanyaan yang serupa. Dengan alasan apa Blawong merusak ketenangan Dusun Singojoyo? Salahkah warga dusun pada masa lampau? Tentulah Blawong itu tercipta dari jiwa yang tak bahagia, sela seseorang.
Empat musim sebelum ini, temanku, Suroto, melontarkan pertanyaan yang membungkam segala kegusaran. “Siapa yang pernah melihat Blawong? Bagaimana cara membuktikannya? Mengapa harus percaya pada tahayul?”
“Kiai Ishak!” teriakku.
“Bagaimana caranya ia meyakinkan semua orang kalau Blawong benar-benar ada?”
“Ia pernah bertemu sendiri. Blawong itu gemar mencuri kebahagiaan dan kedamaian suatu keluarga ketika hujan pertama turun.”
Lalu kami datangi Kiai Ishak di surau, sebagai biasa, ia menyendiri. Tengah bersilah di ceruk paling depan tempat seorang imam memimpin shalat.
Kiai Ishak seakan tahu kedatangan kami. Ia segera memutar tubuhnya. Memancar pada wajah itu suatu keteduhan dari senyumnya. Keteduhan satu-satunya di dusunku ini karena rata-rata warga seluruh telah termakan tahayul. Ia mempersilakan kami berdua untuk masuk. Tanpa kami sadari, beberapa orang mengekor.
“Maaf, Pak Kiai, mengganggu.”
Kiai Ishak melengkungkan senyum di bagian bibirnya. “Blawong?”
Di antara kami berdua, muncul satu pertanyaan. Mungkinkah itu kehebatan Kiai Ishak? Mengetahui hal-hal yang akan terjadi? Oleh orang-orang dusun, Kiai Ishak dikenal orang banyak sebagai pemilik ilmu laduni. Ilmu yang menjadikan pemiliknya bisa mengetahui kabar-kabar langsung dari langit. Tirakat dan tebusannya tentu amat besar. Salah satunya, apabila rutinitas zikir terputus sehari saja, pemilik ilmu laduni akan kehilangan akal. Hal itulah yang menjadikan Kiai Ishak sebagai titik putih di antara banyak titik hitam.
Aku dan Suroto mematung di lantai dalam surau. Merasakan dingin keramik menembus badan. Membekukan segala apa yang hendak kami tanyakan pada Kiai Ishak.
Kiai Ishak bertutur di hadapan kami. Kepala wajah kami tertunduk, tiada sanggup menatap langsung padanya. Pada matanya yang memancar keteduhan.
“Aku telah mendengar banyak orang mempermasalahkan adanya Blawong. Namun, apabila Blawong ditangkap, tentu ada salah seorang yang mati sebagai ganti.”
“Kiai tahu siapa orangnya?”
“Allah lebih tahu dari segala-galanya,” kata Kiai Ishak datar seakan menyembunyikan sebuah rahasia.
“Maukah Kiai menolong kami? Menghapus keresahan kala hujan pertama turun, misalnya.”
“Setiap diri tentu sudah disediakan penolong masing-masing.”
“Tolonglah.”
“Tentu, tentu, jika Allah menghendaki.”
***
Kiai Ishak adalah anak dari Ki Bumi. Meski terdapat hubungan anak dan bapak, kedua manusia itu memiliki watak yang berbeda. Jalan yang ditempuh pula berbeda. Ki Bumi sepanjang umur tiada kenal beribadah. Tiap hari, ia suka mengurung di atas Gunung Gejene. Mengasing diri. Sedang anaknya, Kiai Ishak, ia gemar bersosial, bermain dengan kanak-kanak sebayanya, sebagaimana ibunya kecil. Sehingga ajaran agama pun didapat melalui jalan-jalan itu. Seperti pepatah, harum atau busuknya seseorang, bergantung pada temannya.
Meski Ki Bumi adalah dukun, ia amat menyayangi keluarganya. Ia biarkan istri dan anaknya memilih jalan yang berbeda dengannya. Ia biarkan pula anaknya berguru pada Kiai Hamim untuk memperdalam ilmu Islam. Namun, ketika diajak oleh anaknya untuk ikut berguru, ia menolak.
“Setelah engkau besar nanti, pasti engkau akan tahu, mengapa manusia disediakan pilihan. Setiap pilihan yang diambil, tentu harus dijalani dan ditekuni. Pilihan bapak adalah murni menjadi dukun. Dan bahagia dengan ini. Tentu, engkau nanti akan tahu, sebab yang diinginkan manusia di bumi ini adalah ketenangan dan kebahagiaan.”
Cerita itu aku dengar dari kasak-kusuk. Entah benar atau tidak.
Namun, sejak kematian ibu Kiai Ishak (ketika itu Kiai Ishak telah banyak dikenal sebagai kiai yang masyhur), Ki Bumi amat jarang menampakkan diri. Ia hanya menampakkan diri ketika menjelang hujan pertama turun dalam kemarau yang mendera dengan membawa pesan. Ia hanya berpesan agar seluruh warga mempersiapkan bambu kuning dan telur angsa yang gagal menetas sebagai penangkal adanya Blawong. Memang, adanya Blawong telah terjadi sejak puluhan musim sebelumnya. Seakan dusun terkena kutukan warisan. Namun anehnya, setiap musim pula ada saja korban yang kehilangan kebahagiaan.
Terlebih setelah kematian istri Ki Bumi, korban-korban yang tak bahagia bertambah-tambah. Semula kami menyangka, bahwa pusat dari segala petaka adalah ulah Ki Bumi. Namun, Kiai Ishak berkata bahwa segala itu adalah kehendak Allah. Ia berkata pula, penyebab dari segala petaka itu adalah karena tiap-tiap warga tak mau mempertebal iman dan hanya memendam ketakutan.
Pernyataan itu membelah pikiran warga. Sebelah mengikuti apa yang disarankan Ki Bumi. Sebagian mengikuti pandangan Kiai Ishak.
Apakah engkau mengira bahwa Kiai Ishak hanya menutup-nutupi rahasia bapaknya? Bukan, tentu bukan. Sebuah kebenaran tentu tak takut untuk meluruskan yang salah. Namun, aku juga sependapat denganmu, mengapa Kiai Ishak tiada mampu menyadarkan bapaknya sebagai pemuja setan? Tentu segala itu mengingatkanku pada kisah Nabi Ibrahim dengan bapaknya. Dan pandangan itu kandas, tentu, Kiai Ishak telah berusaha sejauh di luar yang kupikirkan. Pasti ada maksud dari seluruh rangkaian rahasia itu.
***
Setiap musim, bertambah pengikut pandangan Kiai Ishak. Para warga berbondong menuju ke masjid meminta perlindungan dari manusia yang memiliki mata yang teduh itu.
Bersama-sama setiap malam, Dusun Singojoyo setiap hari mengadakan tahlilan. Terlebih, intensitas dan kedalaman doa, mereka perdalam lagi ketika menjelang hujan pertama turun. Suatu kali Kiai berkata, bahwa Blawong itu menetap di Gunung Gejene. Tinggi perawakannya menjulang bagai pohon-pohon raksasa, namun ia pandai menyamar sebagai manusia.
“Milik Ki Bumi kah?” tanya seorang warga.
Kiai Ishak menggeleng. “Milik Allah,” katanya.
Engkau harus tahu, bahwa keadaan yang paling menyedihkan adalah ketika penyakit gula Kiai Ishak kambuh. Dan setelah kematiannya, para warga desa kehilangan pegangan. Hingga satu-satunya yang dipercayai kini adalah ucapan Ki Bumi. Maka dari itu, malam ini para warga mempersiapkan segalanya.
Engkau mungkin tidak percaya dengan segala yang kuceritakan panjang lebar itu. Sebab engkau orang baru. Namun, bolehkah aku bertanya. Dari manakah asalmu?
“Gunung Gejene,” katamu. [ ]

Purworejo, 2015


Biodata Penulis:
Seto Permada, lahir tanggal 12 Oktober 1994. Bertempat tinggal di kaki perbukitan Bruno, kawasan Purworejo. Ia suka membaca dan menulis cerpen di tengah-tengah kegiatannya sebagai produsen bata merah.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter