Puisi
I
SIRAH CERMIN
Pada stasiun yang merekam
puisimu
Kau berbicara tentang
bagaimana rel - rel kereta
Menerima gesekan yang
bising di kuping
Aku mengingat mobil - mobil
kota
yang terekam teater -
teaternya
Yang membawa selokan dan
mimpi - mimpi yang belum kelar
Dalam perjamuan bulu merak
yang begitu sahda
Oh,
Membaca ini adalah jalan
yang begitu kota
Dimana bedil - bedil kau
potret
Dan peluh nelangsa begitu
lilin
Pada kalimat yang paling
isyarat
Merapikan kemeja - kemeja
peradaban
Duduk bersebelahan dengan
sawah
Yang membuatmu bersitahan
Membekukan tangan dingin di
muka kaswah
Semarang,
15 April 2016
Puisi
II
SIRAH CENGKEH
Cengkeh
ke atas getas menetas menuju gelas : Silinder itu
Aroma
natural yang kental menyiapkan adegan tumbang
Dan
inilah yang dulu diperkenalkan Soekarno pada rapat – rapat meja bola bumi
Bahwa
bukan segala, namun beberapa yang retas adalah isyarat penebas : Berita itu
Bantal
yang kenyal jangan sampai terlalu kental meneteskan malam yang tetek-nya melarutkan istirah bayi
Pada
berita telivisi, atas segala kegamangan buku – buku yang menjadi peluru
Di
ambang pagi dan mimpi segala sirah mempertanyakan pertanyaan – pertanyaan
selokan
Ada
yang berdalih pada segala yang terkatup semestinya terbuka bila sengat mentari
mulai rekah
Ada
yang menitipkan perih pada segala yang mengaku di-perih-kan padanya
cerita-berita yang luka – luka
Ada yang melantunkan gamang dengan nada mayor di
mana ruang panggung ini semacam orkestra abstrak dengan neon – neon yang mulai
temaram
Oh,
puisi yang malam
Temaram
dalam makam
Semoga
do’a memafkan segala
Adakah
kita membaca bahwa jabat tangan lebih megah membangun langit dibanding membakar
gedung yang menerima sampah sangit.
Semarang, 15 Mei 2016
Puisi III
SAJAK PAGAR
Hujan menjelma bayi – bayi
tanpa dosa
disilsilahi mimpi yang
diperkosa
Langit memerdu kidung
nirsuara
sirah yang begitu permata
menziarahi karut kemarau
Di bandara cuaca
Sepi –
sepi kerontang menerima langit yang berguguran
Api basi
lepas landas menjelma udara pertanyaan - pertanyaan
Semarang, 26 April 2016
BIODATA:
Firdaus
Akmal, lahir di Pekalongan 11 Oktober. Mahasiswa S1 Pendidikan IPS UNNES.
Pernah menjuarai beberapa puisi nasional.

