The
Hollywood Walk of Frame
adalah nama sebuah trotoar di Hollywood Amerika. Letaknya di sepanjang 15 blok
Hollywood Boulevard dan 3 blok Vine Street. Trotoar ini sangat terkenal di
dunia karena menampilkan lebih dari 2.400 keramik teras yang bergambar sama,
bintang segi lima, dan bertuliskan nama-nama bintang Hollywood beserta tanda
tangannya. Dokumentasi ini sebagai bentuk penghargaan atas karya-karya mereka
di industri hiburan.
Walaupun bukan artis musik dan film,
petinju Muhammad Ali juga mendapat penghargaan Walk of Frame tahun 2002. Pertandingan tinjunya dianggap sebagai
bentuk live performance yang
menghibur. Namun, tak seperti tokoh yang lain, Ali tak bersedia jika bintang
emas untuknya diletakkan di trotoar. Tersebab menyandang nama ‘Muhammad’
Rasulullah, keramik Ali diletakkan di dinding. “Saya meminta nama Nabi Muhammad
dihormati dan tidak saya mengizinkan orang-orang untuk menginjak namanya”, kata
Ali.
Itulah salah satu yang luar biasa dari
seorang Muhammad Ali, sang legendaris yang wafat di sebuah rumah sakit di
Phoenix, Arizona, Jumat (3/6/2016) atau Sabtu waktu Indonesia dan dimakamkan
dengan sangat fenomenal Jumat (10/6/2016) atau Sabtu dini hari, di Cave Hill
Cemetery, kota Louisville, kampung halamannya. Kepulangan Ali ke hadirat Allah
diantar oleh ribuan masyarakat Amerika dan jutaan mata penonton televisi di
dunia. Almarhum bukan hanya didoakan pelayat muslim, tetapi juga semua agama.
Ketika Ali menjadi juara dunia pertama
kali 29 Oktober 1964 dengan kemenangan TKO atas Sony Liston, saya belum lahir.
Saat itu Ali masih bernama Cassius Clay. Saya mulai mengenal sosoknya dan
menyaksikan pertandingan tinjunya ketika sudah remaja. Saat itu, tahun 1980.
Ali yang kembali ke ring tinju setelah menyatakan mundur setahun sebelumnya,
berhadapan dengan Larry Holmes. Ali dinyatakan kalah TKO pada ronde ke-11.
Sebuah dokumen medis menyebutkan Ali sebelumnya sudah dinyatakan sakit
Parkinson, tetapi dirahasiakan oleh Don King, promotornya.
Walaupun sudah jelas mengidap penyakit
yang membuat tangan bergetar, bicara lamban, dan kerusakan pada membran otak,
Ali mencoba bertanding lagi 11 Desember 1982 dengan Trevor Berbick. Ali tetap
kalah KO di ronde ke-10. Sejak itu Ali mundur total dari dunia tinju. Dunia
tinju kelas berat saat itu kehilangan seorang petinju yang santun. Ali dikenal
“melangkah bagai kupu-kupu, memukul menyengat seperti lebah”. “Catch me if you can” adalah jargon
tinjunya yang terkenal. Dari 61 pertandingan, Ali menang 56 kali dan kalah
hanya 5 kali dan 1 kali di Olimpiade musim panas di Roma 1960.
Ali memang punya pengalaman hidup yang
bersahaja dibanding riwayat petinju dunia lainnya yang kebanyakan lahir dari
jalan raya. Ali mengenal tinju ketika kehilangan sepeda saat usia 12 tahun dan
lapor kepada polisi mantan atlet tinju, Opsir Joe Martin. Ali memutuskan masuk
Islam tahun 1960 karena merasa Islam tak membedakan suku dan warna kulit. Ali
membuang medali emas olimpiadenya tahun 1960 karena diusir oleh sekelompok
orang kulit putih di sebuah restoran. Ali juga menolak wajib militer AS pada
perang Vietnam 1967 karena merasa perang hanya membinasakan manusia.
Sekali pun Ali menyebut dirinya “The Greatest”, sosok kelahiran 17
Januari 1942 ini tidak asyik dengan dirinya sendiri seperti yang terjadi banyak
petinju dunia, bahkan olahragawan dunia lainnya. Ali membaktikan hidupnya untuk
perdamaian dunia dan persamaan hak antar suku dan ras. Maka itulah PBB
menunjuknya sebagai duta perdamaian “Messenger
of Peace” dan Presiden AS kala itu George W. Bush, Presidentil Medal of Freedom. Ali juga mendirikan Muhammad Ali
Center di Louisville, Kentucky, pusat multikultural untuk mewujudkan
cita-citanya.
Satu hal yang tak banyak diketahui
publik adalah bahwa Ali juga seorang penyair. Ali ternyata suka menulis puisi
sebelum dan sesudah bertanding tinju, bahkan pasca sebagai petinju. Puisi
berjudul “I am the Greatest” ditulis
oleh Ali 25 Februari 1964 sebelum bertanding tinju melawan Sonny Liston. Ali
pernah tampil baca puisinya yang berjudul Freedom
- Better Now di televisi di Irlandia tahun 1971. Salah satu puisi pendeknya
yang sangat inspiratif adalah “Aku Berdoa” :
Aku berdoa kepada Tuhan setiap hari
Jika
Tuhan ada bersamaku
Tak
seorang pun bisa mengalahkanku
Selamat jalan, Ali! [Zulfaisal Putera]
(Telah
dimuat di SKH BanjarmasinPost edisi Minggu, 12 Juni 2016)
