Pages

Ads 468x60px

Minggu, 12 Juni 2016

HADERI IDERIS: MENULIS INGIN LANGSUNG BAGUS


Siapa yang tidak ingin dan  senang kalau tulisannya bagus?  Semua pasti ingin dan senang kalau hasil tulisannya bagus, strukturnya tepat,  kalimatnya efektif. 
Keinginan semacam itu tidak salah, bahkan harus. Namun, pola pikir seperti itu bila salah menempatkan,  malah menjadi beban dan  penghambat. 
Ketika menulis satu kalimat, lalu merasa kalimatnya kurang bagus, Anda langsung menghapus, mengganti kalimatnya. Atau, sudah selesai satu paragraf, lalu dibaca ulang, merasa kurang mantap, Anda pun berpikir lagi yang bagus ini seperti apa. Waktu pun banyak terbuang. Akhirnya, satu paragraf saja tidak terselesaikan.
Ditambah lagi pikiran kita mengharuskan tulisan itu tidak boleh salah. Tanda baca harus benar penempatannya. Huruf kapital harus diperhatikan. Ejaannya harus tepat. Tambah runyam lagi. Tambah beban lagi. Baru mau menulis lubang atau lobang, sudah berpikir keras. Sementara banyak gagasan yang ingin ditulis. Lantaran itu tadi,  tulisan tak kunjung selesai.
Memangnya menulis itu tak boleh salah? Memangnya menulis itu harus langsung bagus? Tidak!
Menulis itu ada tahapannya. Kalau di tahap pertama Anda mematok target langsung bagus tak ada yang salah. Berarti Anda sudah melompat ke tahap pengeditan.  Atau Anda ingin menulis hal yang hebat, tapi minim bahan, ini juga percuma. Berarti, tahap persiapan, Anda langgar.  Lalu?
Jika Anda merasa minim bahan, perbanyak membaca topik yang akan dibahas. Atau, untuk latihan pertama, tulis saja pengalaman Anda dengan cara bebas.
Biarkan saja gagasan itu mengalir seperti air. Abaikan dulu keinginan ini itu. Kesampingkan dulu aturan ini itu. Bebaskan diri Anda dari beban yang membelenggu. Terus tulis, tak perduli salah atau benar tulisannya, tak soal kalau tulisannya amburadul. Yang penting pikiran Anda sudah tertuang dalam bentuk tulisan.
Jika menulis artikel, tulislah satu topik sampai rampung. Atau, jika menulis cerpen tulislah sampai tuntas. 
Atau, Anda bagi per alur. Satu alur harus selesai. Atau, per adegan kalau dalam drama. Kalau Anda kuat bertahan dalam waktu yang lama, satu jam atau dua jam, Anda bisa merampungkan satu artikel atau satu cerpen. Tentu saja dalam rentang waktu itu ada yang salah ketik, bahasanya ada yang kurang bagus, kurang menarik. Tapi hebatnya, artikel sudah selesai, cerpen sudah rampung.
Nah, jika tahap itu sudah kita lalui, baru ke tahap berikutnya, yaitu melakukan penyuntingan. Di sini keinginan memperbaiki tulisan Anda salurkan. Di sini Anda pasang teori ini itu.
Tahap berikutnya, mintalah orang lain yang paham tentang kepenulisan untuk mengkritisi tulisan Anda. Setelah itu perbaiki sesuai saran dan kritik orang tadi. Dari kritik dan saran itu, pastinya banyak pelajaran yang bisa diambil.
Jadi, menulis tidak harus langsung bagus. [Haderi Ideris]


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter