Rasa
iri itu membakar dalam dirinya. Menyulut sumbu pendek dalam hati, Meledakkan rasa kebasnya. Tapi, terkadang ia juga merindukan rasa itu. Jauh lebih baik daripada tak merasakan apa-apa.
Namun,
iri bukanlah rasa yang ia sukai. Terkadang, iri datang sembari membawa air mata.
Kadang juga datang sembari membawa amarah. Apapun bentuknya, ia tak bisa
menolak kala rasa
itu datang.
Lalu ia akan mengintip dari balik rerimbunan pohon karet
di tepi lapangan. Menatap nanar anak-anak seusianya saling tertawa. Melecut gasing bagai cambuk seorang
perwira. Melentingkan mainan dari kayu kerucut tersebut hingga ujungnya
menempel pada tanah dan berputar dengan lincahnya. Di wajah mereka terpahat
senyum yang nyata, serta gelak tawa yang seolah tak ada habisnya.
Bergabung
dengan mereka saja, apa susahnya? Kau mungkin berpikir begitu.
Namun
inilah dirinya. Tak terhitung berapa kali sudah ia mencoba bermain bersama
anak-anak itu, rasa tertolak selalu saja menohok dadanya. Anak terkecil dari
kelompok tersebut pasti akan menunjuk-nunjuknya sembari berkata, “Dia datang lagi!” Lalu mereka berlari meninggalkannya
seorang diri. Hingga
tungkai-tungkai gasing itu tergeletak di dekat kakinya dan berhenti berputar.
Lalu ia menghela nafas berat dan berbalik menuju rumah dengan wajah murung. Lagi.
Begitulah.
Malam
itu, di depan beranda rumahnya yang berdinding bambu anyam, kedua orang tuanya
duduk mengaso sambil menyesap teh
panas. Akhir-akhir ini mereka selalu melakukan kebiasaan tersebut. Bahan obrolan
yang muncul pastilah tentang kabar para tetangganya, atau juga tentang hutang
yang kini menjerat mereka. Apapun pembicaraannya, topik tidak pernah langung
habis dalam satu kali sesap cangkir teh. Selalu ada malam lain untuk
menyambungnya, sampai-sampai dia sendiri merasa jengah untuk menguping.
Namun
malam ini, ayah memutuskan untuk mengakhiri topik mereka tentang seorang
tetangga yang baru meninggal minggu lalu, Kai Arul namanya. Setelah dikenal
dengan julukan Kai Taguh1, pria
tua itu akhirnya lumpuh jua di pintu waktu. Pembicaraan tentang beliau memakan
waktu dua malam.
“Bukan
pesugihan, Bah2.
Zaman sekarang takhayul sudah salah tempat.” Didengarnya
ibu menyanggah. Rupanya ayah telah menemukan topik baru.
Ayah
mengisap rokoknya. “Kalau bukan, apalagi?”
Anak
itu memajukan posisi duduknya karena tertarik. Ibu berdecak sembari mengupas
kulit kacang. “Danau di belakang rumah kita itu cuma bekas galian tambang. Mana
bisa jadi tempat mandi bidadari khayangan.”
“Tambang
intan,” Ayah mengingatkan. “Katanya, kalau kita minta dengan sungguh-sungguh di
sana, mukjizat bisa terjadi.”
“Mukjizat
datang dari Tuhan, bukan dari air.” Ibu mengunyah dengan jengkel.
“Tidak
ada yang tidak mungkin.” Ayah menegaskan seolah itu adalah kalimat final yang
berhasil dilontarkannya untuk ibu.
Dengan
cepat, pembicaraan mengenai danau berganti menjadi hal lain. Langit berbintang
semakin tinggi, pohon-pohon karet menjulang di sisi kanan-kiri rumahnya bagai
lidi-lidi raksasa. Bayang-bayang memanjang berkat cahaya bulan.
Anak
itu menciptakan sebuah gambaran abstrak dalam kepalanya. Tentang danau dan
bidadari. Tentang mujizat. Serta tentang doa-doa yang terkabul. Bagaimana
ayahnya tahu jika kisah itu nyata atau bukan? Pernahkah ia mengujinya sendiri?
Karena jika ada danau harapan, maka pasti ada hasrat yang dipendam. Siapapun
ingin agar doanya terkabul, termasuk dirinya. Jika
ada sesuatu yang benar-benar ia inginkan, maka seorang teman pun akan menjadi
salah satu doanya nanti.
Pagi-pagi
sekali, tepat setelah orang tuanya berangkat menurih3 ke kebun, dia
berlari menuju danau dengan kaki-kakinya yang telanjang. Sebuah danau kecil
yang masih terselimut embun membentang di hadapannya bagai cermin alam.
Sementara anak-anak sepantarannya memanggul tas menuju sekolah dasar, ia justru
bersila di antara rerumputan basah
dan menengadahkan tangan pada langit.
“Jika
ada yang dapat kupinta, aku hanya ingin seseorang yang bisa menemaniku,”
ujarnya. “Seseorang yang menerimaku, bermain denganku. Aku inginkan seseorang
yang dapat menyadari kehadiranku, melebihi kesadaran kedua orang tuaku
terhadapku,” tambahnya lagi.
Matanya terpejam, seolah menikmati setiap hembusan angin dan irama pagi.
Dalam
hati ia bertanya-tanya, akankah
para bidadari mendengar doanya, lalu menyampaikannya pada Tuhan. Lama sekali ia
memandang permukaan danau yang berkilauan, mengharapkan sebuah kemunculan magis
yang sempat menari-nari dalam imajinasinya.
Namun,
meski matahari semakin menanjak naik. Tak seorang bidadari pun ia lihat hari
itu. Segera ia bangkit dari
rerumputan. Punggungnya pegal karena duduk terlalu lama, lutut dan betisnya
bagai dirubung semut-semut gaib. Dirasakan tubuh kecilnya mulai lelah dan ia
ingin pulang sekarang.
Ia
luput menghitung hari ketika sebagian besar waktunya banyak dihabiskan di sekitar danau.
Rasa sepi yang selama ini mengungkungnya mulai terangkat, walau hanya sedikit.
Di
danau ini ia sendirian. Tak ada anak-anak lain yang mau bermain di sini. Pun orang tua yang sekedar iseng
menjelajah juga tidak ada. Ia mulai terbiasa bermain dengan ilalang yang tumbuh
di sana. Mengikat dan menganyamnya menjadi sebuah boneka-boneka
jelek. Terkadang ia membawa serta kail pancing dari rumah, dengan asumsi danau
ini terisi oleh ikan. Dan pulang ketika matahari mulai lelah dan tenggelam.
Tanpa sedikit pun memperoleh tangkapan.
Apakah
para bidadari akan senang jika danau mereka dipenuhi oleh ikan-ikan? Lalu anak
itu meringis ketika mengetahui jawabannya. Siapa
yang mau mandi dengan ikan?
Keesokan
harinya, di tempat ia meninggalkan boneka-boneka ilalang buatannya. Berdiri seorang
anak perempuan. Tangannya yang dihiasi gelang dari bunga rampai terjulur untuk
merengkuh boneka tersebut. Matanya bulat dan berwarna seperti buah manggis
masak. Rambutnya yang ikal tergerai menuruni punggungnya.
Anak
perempuan itu mendirikan boneka di tangannya dan bersenandung. Melenggokkan
boneka ilalang ke kanan-kiri seolah sedang bernyanyi bersamanya. Helai-helai
rambutnya yang nakal menutupi keningnya, anak perempuan itu mendorongnya ke
balik telinga. Ketika wajahnya berpaling, saat itulah mata mereka bertemu.
“Siapa
kau?” anak perempuan itu bertanya.
Ditanya
begitu oleh orang asing membuatnya kaget. Maka ia menyebutkan namanya dengan
malu-malu. “Dan siapa kau?”
“Aku
Narayana,” ujar anak perempuan itu. Ia mengangkat boneka ilalang di tangannya.
“Kau yang membuat ini, Atma?”
Atma
mengangguk. Seseorang akhirnya mau
berbicara padaku!
“Apa kau seorang
bidadari?”
Narayana
melayangkan raut kebingungan. “Kupikir kaulah bidadari itu?”
“Tidak
ada bidadari laki-laki.”
Narayana
tersenyum. “Kukira juga begitu. Aku manusia.”
Atma
membalas senyum tersebut. Rasanya hangat, dan baru sesaat memandangnya, rasa
kebas dalam hatinya langsung sirna seketika. Ia mencoba berjalan pelan menuju
Narayana, takut jika anak perempuan itu menjauhinya. Namun, Narayana bergeming,
seakan menyambut Atma.
“Ajari
aku membuat boneka ini,” pinta Narayana.
Mereka
akhirnya duduk di pinggir danau. Tangan-tangan getir Atma yang selalu sendirian
menganyamkan ilalang untuk Narayana. Gadis itu memperhatikannya seolah Atma
adalah anak yang luar biasa. Hari itu, untuk pertama kalinya, Atma tak ingin
kembali ke rumah.
Ayahnya
tidaklah berbohong. Bidadari telah menyampaikan pesannya pada Tuhan dan
membawakan seorang teman untuk Atma, pada akhirnya. Bersama Narayana, Atma
menjalani hari-harinya layaknya seorang anak. Ia bermain, tertawa, dan hidup
seolah hari ini takkan pernah berakhir.
Sepulang
sekolah, Narayana berjanji akan menemuinya lagi di danau. Mereka telah sepakat
untuk mencoba ban bekas dari bengkel ayah Narayana sebagai pelampung. Atma
berusaha mengingat bagaimana persisnya yang harus ia lakukan ketika berada di
dalam air. Atma tak pernah mencoba untuk berenang semasa hidupnya, dan kini ia
tertarik untuk mencobanya.
Ibu
memandangnya dari arah dapur dengan senyum simpul. Sebuah buntelan baju terkapit
di ketiaknya.
“Setelah
Narayana pulang dari sekolahnya, kami akan bermain lagi.” Atma bercerita.
“Apakah
kau tidak tertarik untuk menyambung sekolahmu, seperti gadis itu?” tanya
ibunya.
Atma
menggeleng. “Bidadari mengabulkan doaku. Cuma itu yang aku mau.”
“Jangan
begitu, nanti kamu menyesal.”
Atma
memutar langkah dan meninggalkan ibunya. Narayana telah menantinya dengan dua
tangan mengapit ban bekas yang telah diisi angin. Atma tertawa dan mengambil
satu ban untuk dirinya sendiri.
Narayana
melompat ke dalam danau seperti seekor katak. Tubuhnya menghantam air dan
menghasilkan suara deburan yang nyaring. Ban karet membantu tubuh mungilnya
terapung. Sepasang gigi kelinci nampak ketika gadis itu tertawa. Air membuat
tubuhnya kuyup.
“Bagaimana
airnya?” tanya Atma.
“Segar!”
Bukan
itu jawaban yang dikehendaki Atma. Danau itu luas dan airnya sebening kaca.
Namun, tak ada yang tahu seberapa dalam. Jauh di dasar, air berwarna kehijauan.
Menutupi apapun yang berada di dasar danau, termasuk tanahnya.
Tetapi
di sisi lain, Narayana mengayuh kakinya ke sana ke mari, menghasilkan cipakan air. Mungkin
airnya tidak sedalam yang ia bayangkan.
Narayana
berhasil menggodanya dengan timbul tenggelam pada air. memamerkan kelihaiannya
dalam berenang pada Atma. Melesat seolah mengejek keberanian anak laki-laki
itu.
Karena
tak mau kalah dari anak perempuan, Atma akhirnya melompat. Narayana menjerit
senang dari dalam danau dan menyingkir dengan ban karetnya. Tubuh Atma membelah
air dengan hantaman keras. Dinginnya air menyetrum tubuh telanjangnya.
Buih-buih udara terlepas dari hidungnya.
Dalam
air, ia melihat kaki Narayana yang mengayuh. Atma merasa senang. Tubuhnya
terapung di antara air,
hampir-hampir seperti terbang. Lalu Narayana mendorong tubuhnya menjauh dari
Atma, memancing anak itu untuk mengejarnya.
Ia
kemudian menyadari satu hal. Kaki-kakinya terkayuh seperti kaki Narayana.
Tangan-tangannya pun mengepak dari dalam air. Namun, tubuhnya tak beranjak
sedikit pun menuju permukaan.
Ban karetnya justru melesat lebih dulu, meninggalkan dirinya dalam kungkungan
air danau yang mulai menggelap.
Atma
tak berani menjerit. Ia tak berani bertingkah panik. Yang ia tahu hanyalah
bahwa kini dirinya mulai tenggelam.
Di
atasnya, Narayana meloloskan diri dari ban karetnya. Wajah bulatnya memecah air
untuk menyusul Atma. Tangan-tangannya yang hangat merenggut bahu Atma.
Buih-buih napas gadis itu menghilang di belakangnya. Narayana memekik dan
menjerit, mempersilakan air merasuki rongga paru-parunya. Kaki-kakinya mengayuh
di sisi Atma dengan lelah, membuktikan bahwa dirinya mulai kehilangan tenaga.
Tanpa
ada seorang pun yang tahu, mereka sama-sama menghilang dari dasar danau. Atma
kehilangan tarikan napasnya. Matanya tertutupi oleh tabir kemerahan, membuatnya
perih. Pada detik-detik terakhir sebelum kakinya menyentuh lumut di dasar, ia
teringat pada eksistensi danau ini. Dan, ya... .
Pada
bidadarinya.
***
Selepas
kejadian di danau, Narayana tumbuh menjadi seorang gadis yang jelita. Wajahnya
berkilau kala bertemu matahari. Rambut ikalnya memanjang hingga pinggang.
Melayang ketika angin datang dan meniupnya. Atma cemburu ketika melihat gadis
itu tertawa pada angin. Tapi itu hanya angin, kenapa harus cemburu?
Tenggelamnya mereka di danau lima tahun silam
mungkin telah memicu perasaan tersebut.
Setelah
tenggelam di danau, Narayana seolah melupakan Atma. Gadis itu mungkin selalu
menangis, namun ia tak pernah menyebut Atma dalam kesedihannya. Gadis itu juga
mungkin bermain, namun ia tak lagi mengundang Atma. Segala tentang Atma seolah
terbuang dari memorinya. Narayana tak lagi memandang Atma, meski anak laki-laki
itu dengan sengaja menemuinya. Narayana tetap tak peduli.
Atma
mencoba meraih Narayana meski gadis itu tampak ribuan mil jauhnya. Ia mencoba
memanggil, namun suaranya tak pernah mencapai Narayana. Atma berusaha
menyalahkan danau itu dan para bidadarinya. Namun, itu tak mengubah fakta bahwa
kini Narayana telah membencinya.
“Hei,”
suatu ketika Atma mencoba menyapa gadis itu.
Narayana
sedang melempar bola kasti pada Kinari, sahabatnya. Ia tidak berpaling pada
Atma yang berdiri di belakangnya. “Jaga bolaku!” teriaknya.
Kinari
berlari mengejar bola sembari mengaduh. Lemparan Narayana rupanya terlampau
jauh. Dan sepertinya gadis itu sengaja melakukannya.
“Aku
tidak bisa berteman denganmu lagi.” Narayana berbisik saat mereka tinggal
berdua.
Tak
terhitung ledakan emosi apa lagi yang mengisi dada Atma. Ia takkan bisa
menerima kalimat itu, ia tak bisa kembali pada masa-masa suram yang dulu
menggelayutinya. Narayana adalah teman yang diberikan oleh bidadari, ia tak
bisa kehilangan gadis itu.
“Aku
tidak mau.”
“Aku
lebih tidak mau lagi.”
“Tapi,
kenapa?”
“Aku
hanya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena
kau Atma, jiwa.
Dan aku Narayana,
anak manusia.”
“Aku
tidak mengerti maksudmu.”
Kinari
datang dengan membawa bola, memutus percakapan mereka berdua. Berlalu seolah ia
tak menyadari kehadiran Atma. Dengan napas tidak teratur, disodorkannya bola
tersebut pada Narayana. “Benda ini menggelinding sampai jauh sekali.”
Narayana
tidak tersenyum. “ Kinari, coba kau ceritakan lagi cerita itu.”
Kinari
mengerutkan alisnya. “Eh? Kenapa kau suka sekali mengingat-ingatnya?”
“Ceritakan
saja.”
Atma
memandang Kinari dengan penasaran, apa yang dimaksud oleh Narayana barusan?
“Dulu
kau suka sekali pergi ke dalam hutan,” Kinari memulai. “Orang-orang melihatmu
bicara sendiri, mengunjungi rumah bobrok di pinggir jalan, serta bermain di
pinggir danau sendirian. Setelah kejadian itu, ketika kau tenggelam di danau, kau
sepertinya mengalami gangguan mental kecil dan… .”
Kini
Narayana memandang Atma. “Kau mengerti sekarang?”
Kinari
terhenti tiba-tiba. “Ah?”
“Bukan
padamu,” ujar Narayana. Dan Atma dapat melihat raut Kinari berubah ngeri. Narayana
menunjuk sebuah titik di belakang Atma. Anak laki-laki itu berbalik.
Rumahnya,
atau setidaknya bangunan yang mirip rumah Atma, terkubur dalam gundukan tanah
kering. Papan-papannya bobrok dan usang. Rayap-rayap telah membangun sarang di antara kayu penopang atapnya. Namun di luar itu semua, rumah itu tak lagi
berbentuk. Gumuk-gumuk yang terbentuk di pelatarnya serta tumbuhan rambat yang
menjalar di atapnya membuat bangunan tersebut seolah telah mengarungi roda
waktu.
“Kinari,
kau ingat longsor yang terjadi ketika kita berumur enam tahun, sebelum aku
tenggelam?” Narayana berkata pada kawannya. “Ada satu keluarga yang terkubur
oleh tanah karena bencana tersebut. Keluarga itu punya seorang anak laki-laki,
kan?”
Atma
bersumpah ia melihat kilatan duka cita pada mata Narayana. Ia bersumpah
sekarang tubuhnya juga bergetar. Kinari berdiri dengan gelisah di sampingnya,
seolah cerita Narayana menganggunya.
“Anak
itu ada bersama kita sekarang.” [ ]
Catatan:
1 Kakek kebal
2 Pak
3 Menyadap pohon karet
Biodata
Penulis
Rim
Razya bisa dijumpai
dimana saja dan kapan saja selama dirinya masih dalam peredaran. Kini berdiam
di kota padat, Tanjung, Kalimantan Selatan. Mengesampingkan fakta bahwa dia
adalah gadis yang penakut, menulis cerita horror sudah menjadi passion-nya sejak lama sekali. Obsesinya
adalah membuat orang lain ketakutan kala membaca tulisannya. Meskipun untuk itu
masih dibutuhkan latihan. Akan banyak karyanya yang menyusul selama waktu tidak
mendesaknya dalam kesibukan. Bagi yang ingin bertegur sapa dengan penulis bisa
melalui facebook: razzyati@yahoo.com
atau email: rifqaamalia95@gmail.com.
Kritik dan saran dari para pembaca sangat dinantikan.
