Pages

Ads 468x60px

Sabtu, 11 Juni 2016

CERPEN RIM RAZYA: DOA-DOA AIR TAWAR


Rasa iri itu membakar dalam dirinya. Menyulut sumbu pendek dalam hati, Meledakkan rasa kebasnya. Tapi, terkadang ia juga merindukan rasa itu. Jauh lebih baik daripada tak merasakan apa-apa.
Namun, iri bukanlah rasa yang ia sukai. Terkadang, iri datang sembari membawa air mata. Kadang juga datang sembari membawa amarah. Apapun bentuknya, ia tak bisa menolak kala rasa itu datang.

Lalu ia akan mengintip dari balik rerimbunan pohon karet di tepi lapangan. Menatap nanar anak-anak seusianya saling tertawa. Melecut gasing bagai cambuk seorang perwira. Melentingkan mainan dari kayu kerucut tersebut hingga ujungnya menempel pada tanah dan berputar dengan lincahnya. Di wajah mereka terpahat senyum yang nyata, serta gelak tawa yang seolah tak ada habisnya.
Bergabung dengan mereka saja, apa susahnya? Kau mungkin berpikir begitu.
Namun inilah dirinya. Tak terhitung berapa kali sudah ia mencoba bermain bersama anak-anak itu, rasa tertolak selalu saja menohok dadanya. Anak terkecil dari kelompok tersebut pasti akan menunjuk-nunjuknya sembari berkata, “Dia datang lagi!” Lalu mereka berlari meninggalkannya seorang diri. Hingga tungkai-tungkai gasing itu tergeletak di dekat kakinya dan berhenti berputar. Lalu ia menghela nafas berat dan berbalik menuju rumah dengan wajah murung. Lagi.
Begitulah.
Malam itu, di depan beranda rumahnya yang berdinding bambu anyam, kedua orang tuanya duduk mengaso sambil menyesap teh panas. Akhir-akhir ini mereka selalu melakukan kebiasaan tersebut. Bahan obrolan yang muncul pastilah tentang kabar para tetangganya, atau juga tentang hutang yang kini menjerat mereka. Apapun pembicaraannya, topik tidak pernah langung habis dalam satu kali sesap cangkir teh. Selalu ada malam lain untuk menyambungnya, sampai-sampai dia sendiri merasa jengah untuk menguping.
Namun malam ini, ayah memutuskan untuk mengakhiri topik mereka tentang seorang tetangga yang baru meninggal minggu lalu, Kai Arul namanya. Setelah dikenal dengan julukan Kai Taguh1, pria tua itu akhirnya lumpuh jua di pintu waktu. Pembicaraan tentang beliau memakan waktu dua malam.
“Bukan pesugihan, Bah2. Zaman sekarang takhayul sudah salah tempat.” Didengarnya ibu menyanggah. Rupanya ayah telah menemukan topik baru.
Ayah mengisap rokoknya. “Kalau bukan, apalagi?”
Anak itu memajukan posisi duduknya karena tertarik. Ibu berdecak sembari mengupas kulit kacang. “Danau di belakang rumah kita itu cuma bekas galian tambang. Mana bisa jadi tempat mandi bidadari khayangan.”
“Tambang intan,” Ayah mengingatkan. “Katanya, kalau kita minta dengan sungguh-sungguh di sana, mukjizat bisa terjadi.”
“Mukjizat datang dari Tuhan, bukan dari air.” Ibu mengunyah dengan jengkel.
“Tidak ada yang tidak mungkin.” Ayah menegaskan seolah itu adalah kalimat final yang berhasil dilontarkannya untuk ibu.
Dengan cepat, pembicaraan mengenai danau berganti menjadi hal lain. Langit berbintang semakin tinggi, pohon-pohon karet menjulang di sisi kanan-kiri rumahnya bagai lidi-lidi raksasa. Bayang-bayang memanjang berkat cahaya bulan.
Anak itu menciptakan sebuah gambaran abstrak dalam kepalanya. Tentang danau dan bidadari. Tentang mujizat. Serta tentang doa-doa yang terkabul. Bagaimana ayahnya tahu jika kisah itu nyata atau bukan? Pernahkah ia mengujinya sendiri? Karena jika ada danau harapan, maka pasti ada hasrat yang dipendam. Siapapun ingin agar doanya terkabul, termasuk dirinya. Jika ada sesuatu yang benar-benar ia inginkan, maka seorang teman pun akan menjadi salah satu doanya nanti.
Pagi-pagi sekali, tepat setelah orang tuanya berangkat menurih3 ke kebun, dia berlari menuju danau dengan kaki-kakinya yang telanjang. Sebuah danau kecil yang masih terselimut embun membentang di hadapannya bagai cermin alam. Sementara anak-anak sepantarannya memanggul tas menuju sekolah dasar, ia justru bersila di antara rerumputan basah dan menengadahkan tangan pada langit.
“Jika ada yang dapat kupinta, aku hanya ingin seseorang yang bisa menemaniku,” ujarnya. “Seseorang yang menerimaku, bermain denganku. Aku inginkan seseorang yang dapat menyadari kehadiranku, melebihi kesadaran kedua orang tuaku terhadapku,” tambahnya lagi. Matanya terpejam, seolah menikmati setiap hembusan angin dan irama pagi.
Dalam hati ia bertanya-tanya, akankah para bidadari mendengar doanya, lalu menyampaikannya pada Tuhan. Lama sekali ia memandang permukaan danau yang berkilauan, mengharapkan sebuah kemunculan magis yang sempat menari-nari dalam imajinasinya.
Namun, meski matahari semakin menanjak naik. Tak seorang bidadari pun ia lihat hari itu. Segera ia bangkit dari rerumputan. Punggungnya pegal karena duduk terlalu lama, lutut dan betisnya bagai dirubung semut-semut gaib. Dirasakan tubuh kecilnya mulai lelah dan ia ingin pulang sekarang.
Ia luput menghitung hari ketika sebagian besar waktunya banyak dihabiskan di sekitar danau. Rasa sepi yang selama ini mengungkungnya mulai terangkat, walau hanya sedikit.
Di danau ini ia sendirian. Tak ada anak-anak lain yang mau bermain di sini. Pun orang tua yang sekedar iseng menjelajah juga tidak ada. Ia mulai terbiasa bermain dengan ilalang yang tumbuh di sana. Mengikat dan menganyamnya menjadi sebuah boneka-boneka jelek. Terkadang ia membawa serta kail pancing dari rumah, dengan asumsi danau ini terisi oleh ikan. Dan pulang ketika matahari mulai lelah dan tenggelam. Tanpa sedikit pun memperoleh tangkapan.
Apakah para bidadari akan senang jika danau mereka dipenuhi oleh ikan-ikan? Lalu anak itu meringis ketika mengetahui jawabannya. Siapa yang mau mandi dengan ikan?
Keesokan harinya, di tempat ia meninggalkan boneka-boneka ilalang buatannya. Berdiri seorang anak perempuan. Tangannya yang dihiasi gelang dari bunga rampai terjulur untuk merengkuh boneka tersebut. Matanya bulat dan berwarna seperti buah manggis masak. Rambutnya yang ikal tergerai menuruni punggungnya.
Anak perempuan itu mendirikan boneka di tangannya dan bersenandung. Melenggokkan boneka ilalang ke kanan-kiri seolah sedang bernyanyi bersamanya. Helai-helai rambutnya yang nakal menutupi keningnya, anak perempuan itu mendorongnya ke balik telinga. Ketika wajahnya berpaling, saat itulah mata mereka bertemu.
“Siapa kau?” anak perempuan itu bertanya.
Ditanya begitu oleh orang asing membuatnya kaget. Maka ia menyebutkan namanya dengan malu-malu. “Dan siapa kau?”
“Aku Narayana,” ujar anak perempuan itu. Ia mengangkat boneka ilalang di tangannya. “Kau yang membuat ini, Atma?”
Atma mengangguk. Seseorang akhirnya mau berbicara padaku! “Apa kau seorang bidadari?”
Narayana melayangkan raut kebingungan. “Kupikir kaulah bidadari itu?
“Tidak ada bidadari laki-laki.”
Narayana tersenyum. “Kukira juga begitu. Aku manusia.”
Atma membalas senyum tersebut. Rasanya hangat, dan baru sesaat memandangnya, rasa kebas dalam hatinya langsung sirna seketika. Ia mencoba berjalan pelan menuju Narayana, takut jika anak perempuan itu menjauhinya. Namun, Narayana bergeming, seakan menyambut Atma.
“Ajari aku membuat boneka ini,” pinta Narayana.
Mereka akhirnya duduk di pinggir danau. Tangan-tangan getir Atma yang selalu sendirian menganyamkan ilalang untuk Narayana. Gadis itu memperhatikannya seolah Atma adalah anak yang luar biasa. Hari itu, untuk pertama kalinya, Atma tak ingin kembali ke rumah.
Ayahnya tidaklah berbohong. Bidadari telah menyampaikan pesannya pada Tuhan dan membawakan seorang teman untuk Atma, pada akhirnya. Bersama Narayana, Atma menjalani hari-harinya layaknya seorang anak. Ia bermain, tertawa, dan hidup seolah hari ini takkan pernah berakhir.
Sepulang sekolah, Narayana berjanji akan menemuinya lagi di danau. Mereka telah sepakat untuk mencoba ban bekas dari bengkel ayah Narayana sebagai pelampung. Atma berusaha mengingat bagaimana persisnya yang harus ia lakukan ketika berada di dalam air. Atma tak pernah mencoba untuk berenang semasa hidupnya, dan kini ia tertarik untuk mencobanya.
Ibu memandangnya dari arah dapur dengan senyum simpul. Sebuah buntelan baju terkapit di ketiaknya.
“Setelah Narayana pulang dari sekolahnya, kami akan bermain lagi.” Atma bercerita.
“Apakah kau tidak tertarik untuk menyambung sekolahmu, seperti gadis itu?” tanya ibunya.
Atma menggeleng. “Bidadari mengabulkan doaku. Cuma itu yang aku mau.”
“Jangan begitu, nanti kamu menyesal.”
Atma memutar langkah dan meninggalkan ibunya. Narayana telah menantinya dengan dua tangan mengapit ban bekas yang telah diisi angin. Atma tertawa dan mengambil satu ban untuk dirinya sendiri.
Narayana melompat ke dalam danau seperti seekor katak. Tubuhnya menghantam air dan menghasilkan suara deburan yang nyaring. Ban karet membantu tubuh mungilnya terapung. Sepasang gigi kelinci nampak ketika gadis itu tertawa. Air membuat tubuhnya kuyup.
“Bagaimana airnya?” tanya Atma.
“Segar!”
Bukan itu jawaban yang dikehendaki Atma. Danau itu luas dan airnya sebening kaca. Namun, tak ada yang tahu seberapa dalam. Jauh di dasar, air berwarna kehijauan. Menutupi apapun yang berada di dasar danau, termasuk tanahnya.
Tetapi di sisi lain, Narayana mengayuh kakinya ke sana ke mari, menghasilkan cipakan air. Mungkin airnya tidak sedalam yang ia bayangkan.
Narayana berhasil menggodanya dengan timbul tenggelam pada air. memamerkan kelihaiannya dalam berenang pada Atma. Melesat seolah mengejek keberanian anak laki-laki itu.
Karena tak mau kalah dari anak perempuan, Atma akhirnya melompat. Narayana menjerit senang dari dalam danau dan menyingkir dengan ban karetnya. Tubuh Atma membelah air dengan hantaman keras. Dinginnya air menyetrum tubuh telanjangnya. Buih-buih udara terlepas dari hidungnya.
Dalam air, ia melihat kaki Narayana yang mengayuh. Atma merasa senang. Tubuhnya terapung di antara air, hampir-hampir seperti terbang. Lalu Narayana mendorong tubuhnya menjauh dari Atma, memancing anak itu untuk mengejarnya.
Ia kemudian menyadari satu hal. Kaki-kakinya terkayuh seperti kaki Narayana. Tangan-tangannya pun mengepak dari dalam air. Namun, tubuhnya tak beranjak sedikit pun menuju permukaan. Ban karetnya justru melesat lebih dulu, meninggalkan dirinya dalam kungkungan air danau yang mulai menggelap.
Atma tak berani menjerit. Ia tak berani bertingkah panik. Yang ia tahu hanyalah bahwa kini dirinya mulai tenggelam.
Di atasnya, Narayana meloloskan diri dari ban karetnya. Wajah bulatnya memecah air untuk menyusul Atma. Tangan-tangannya yang hangat merenggut bahu Atma. Buih-buih napas gadis itu menghilang di belakangnya. Narayana memekik dan menjerit, mempersilakan air merasuki rongga paru-parunya. Kaki-kakinya mengayuh di sisi Atma dengan lelah, membuktikan bahwa dirinya mulai kehilangan tenaga.
Tanpa ada seorang pun yang tahu, mereka sama-sama menghilang dari dasar danau. Atma kehilangan tarikan napasnya. Matanya tertutupi oleh tabir kemerahan, membuatnya perih. Pada detik-detik terakhir sebelum kakinya menyentuh lumut di dasar, ia teringat pada eksistensi danau ini. Dan, ya... .
Pada bidadarinya.
                                                                                   ***
Selepas kejadian di danau, Narayana tumbuh menjadi seorang gadis yang jelita. Wajahnya berkilau kala bertemu matahari. Rambut ikalnya memanjang hingga pinggang. Melayang ketika angin datang dan meniupnya. Atma cemburu ketika melihat gadis itu tertawa pada angin. Tapi itu hanya angin, kenapa harus cemburu?
 Tenggelamnya mereka di danau lima tahun silam mungkin telah memicu perasaan tersebut.
Setelah tenggelam di danau, Narayana seolah melupakan Atma. Gadis itu mungkin selalu menangis, namun ia tak pernah menyebut Atma dalam kesedihannya. Gadis itu juga mungkin bermain, namun ia tak lagi mengundang Atma. Segala tentang Atma seolah terbuang dari memorinya. Narayana tak lagi memandang Atma, meski anak laki-laki itu dengan sengaja menemuinya. Narayana tetap tak peduli.
Atma mencoba meraih Narayana meski gadis itu tampak ribuan mil jauhnya. Ia mencoba memanggil, namun suaranya tak pernah mencapai Narayana. Atma berusaha menyalahkan danau itu dan para bidadarinya. Namun, itu tak mengubah fakta bahwa kini Narayana telah membencinya.
“Hei,” suatu ketika Atma mencoba menyapa gadis itu.
Narayana sedang melempar bola kasti pada Kinari, sahabatnya. Ia tidak berpaling pada Atma yang berdiri di belakangnya. “Jaga bolaku!” teriaknya.
Kinari berlari mengejar bola sembari mengaduh. Lemparan Narayana rupanya terlampau jauh. Dan sepertinya gadis itu sengaja melakukannya.
“Aku tidak bisa berteman denganmu lagi.” Narayana berbisik saat mereka tinggal berdua.
Tak terhitung ledakan emosi apa lagi yang mengisi dada Atma. Ia takkan bisa menerima kalimat itu, ia tak bisa kembali pada masa-masa suram yang dulu menggelayutinya. Narayana adalah teman yang diberikan oleh bidadari, ia tak bisa kehilangan gadis itu.
“Aku tidak mau.”
“Aku lebih tidak mau lagi.”
“Tapi, kenapa?”
“Aku hanya tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena kau  Atma, jiwa. Dan aku Narayana, anak manusia.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
Kinari datang dengan membawa bola, memutus percakapan mereka berdua. Berlalu seolah ia tak menyadari kehadiran Atma. Dengan napas tidak teratur, disodorkannya bola tersebut pada Narayana. “Benda ini menggelinding sampai jauh sekali.”
Narayana tidak tersenyum. “ Kinari, coba kau ceritakan lagi cerita itu.”
Kinari mengerutkan alisnya. “Eh? Kenapa kau suka sekali mengingat-ingatnya?”
“Ceritakan saja.”
Atma memandang Kinari dengan penasaran, apa yang dimaksud oleh Narayana barusan?
“Dulu kau suka sekali pergi ke dalam hutan,” Kinari memulai. “Orang-orang melihatmu bicara sendiri, mengunjungi rumah bobrok di pinggir jalan, serta bermain di pinggir danau sendirian. Setelah kejadian itu, ketika kau tenggelam di danau, kau sepertinya mengalami gangguan mental kecil dan… .
Kini Narayana memandang Atma. “Kau mengerti sekarang?”
Kinari terhenti tiba-tiba. “Ah?”
“Bukan padamu,” ujar Narayana. Dan Atma dapat melihat raut Kinari berubah ngeri. Narayana menunjuk sebuah titik di belakang Atma. Anak laki-laki itu berbalik.
Rumahnya, atau setidaknya bangunan yang mirip rumah Atma, terkubur dalam gundukan tanah kering. Papan-papannya bobrok dan usang. Rayap-rayap telah membangun sarang di antara kayu penopang atapnya. Namun di luar itu semua, rumah itu tak lagi berbentuk. Gumuk-gumuk yang terbentuk di pelatarnya serta tumbuhan rambat yang menjalar di atapnya membuat bangunan tersebut seolah telah mengarungi roda waktu.
“Kinari, kau ingat longsor yang terjadi ketika kita berumur enam tahun, sebelum aku tenggelam?” Narayana berkata pada kawannya. “Ada satu keluarga yang terkubur oleh tanah karena bencana tersebut. Keluarga itu punya seorang anak laki-laki, kan?”
Atma bersumpah ia melihat kilatan duka cita pada mata Narayana. Ia bersumpah sekarang tubuhnya juga bergetar. Kinari berdiri dengan gelisah di sampingnya, seolah cerita Narayana menganggunya. 
“Anak itu ada bersama kita sekarang.” [ ]

Catatan:
1 Kakek kebal
2 Pak
3 Menyadap pohon karet


Biodata Penulis
Rim Razya bisa dijumpai dimana saja dan kapan saja selama dirinya masih dalam peredaran. Kini berdiam di kota padat, Tanjung, Kalimantan Selatan. Mengesampingkan fakta bahwa dia adalah gadis yang penakut, menulis cerita horror sudah menjadi passion-nya sejak lama sekali. Obsesinya adalah membuat orang lain ketakutan kala membaca tulisannya. Meskipun untuk itu masih dibutuhkan latihan. Akan banyak karyanya yang menyusul selama waktu tidak mendesaknya dalam kesibukan. Bagi yang ingin bertegur sapa dengan penulis bisa melalui facebook: razzyati@yahoo.com atau email: rifqaamalia95@gmail.com. Kritik dan saran dari para pembaca sangat dinantikan.




Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Statistik Pengunjung

Flag Counter