Dangsanak,
apa yang akan kau
lakukan jika kau terdesak untuk segera meminang gadis yang kau cintai,
sedangkan kau tidak mempunyai apa-apa untuk jujuran-nya?
Kisah ini berawal dari hari Minggu,
sehari sebelum Ramadhan dimulai. Ketika itu, aku kedatangan tamu seorang lelaki
berwajah sedih. Dia bercerita padaku tentang gadis yang selama ini ia cintai
dan rencananya akan ia lamar di malam selikur
Ramadhan tahun ini. Dia adalah Nizam, sahabat karibku sendiri.
“Tapi, kemarin aku mendapat kabar bahwa
dia telah dikhitbah oleh lelaki
lain,” ujarnya dengan suara parau.
“Kau sudah buktikan kebenaran kabar itu?”
Aku bertanya.
Dia mengangguk. Wajahnya tertunduk.
“Padahal aku tinggal menunggu uang THR-ku
untuk mencukupi duit jujuran.”
Nizam memang tidak berstatus pacaran
dengan gadis yang disukainya itu. Lebih tepatnya, gadis itu tidak mau diajak
pacaran. Gadis itu maunya langsung dilamar dan dinikahi tanpa melewati proses pacaran.
Karena pacaran itu mendekatkan ke zina, kata gadis itu. Sayangnya, untuk datang
ke rumah gadis dan melamarnya tidak bisa hanya dengan tangan kosong, bermodal
cinta, dan janji siap bertanggung jawab.
“Si Anu itu kemarin jujuran-nya tiga puluh juta.”
“Kalau si Itu jujuran-nya besar lagi. Lima puluh juta.”
“Gimana mau cepat-cepat nikah. Jujuran mahal! Ada patokan minimumnya lagi. Kayak jual-beli
saja, menyesuaikan harga pasaran para tetangga.”
Itulah sedikit rangkuman obrolan para
bujangan yang pernah kudengar di sebuah warung. Perihal itu juga yang membuat
Nizam menjadi lelaki patah hati yang terlambat datang ke medan perang. Dan
perihal itu juga yang membuat hatiku mulai mengumumkan kegalauannya seiring
dengan diumumkannya awal bulan Ramadhan oleh Pak Menteri Agama.
Aku mulai khawatir hal yang menimpa
sahabatku itu juga menimpa diriku. Apalagi ada angin-angin kecil yang
mengabarkan padaku bahwa ayah gadis yang kucintai sudah mulai menunjukan
tanda-tanda kebelet pengen punya cucu. Meski aku dan gadis yang kucintai itu
berstatus pacaran, tapi status ini belum bisa dijadikan jaminan kalau kami akan
tetap duduk bersama di pelaminan. Aku sudah sering melihat wajah-wajah nelangsa
yang berusaha berlapang dada berfoto di pelaminan bersama mantan kekasihnya dan
disekat oleh sang pengantin pria.
Jadi, apa yang harus kulakukan, dangsanak? Aku takut.
“Datang ke rumahnya, lalu katakan pada
ayahnya kalau kamu mencintai anaknya dan bermaksud mempersunting anaknya
menjadi istrimu.” Ini bukan saran Nizam, karena tentu aku tidak akan curhat pada
lelaki patah hati itu. Ini saran dari sohibku yang lain. Nazmi namanya.
“Tapi, apa yang harus aku bawa? Aku tidak
punya duit berpuluh-puluh juta.” Aku menyadari, aku bukanlah seorang pekerja
tetap dengan gaji yang selalu tepat selama bertahun-tahun.
“Kamu bawa saja rasa cintamu dan
keseriusanmu. Yang penting, coba dulu.”
“Terus, jika ayahnya menanyakan tentang
mahar yang bisa kuberikan, aku harus jawab apa?” tanyaku lagi.
Nazmi memandang ke atas dengan kening
yang berkerut, menanti sebuah lampu jatuh ke kepalanya. Cukup lama, hingga ia mengakhirinya
dengan geram. “Argh…. Kenapa aku yang
harus pusing memikirkan jawabannya? Aku saja masih pusing mikirin duit jujuran untuk melamarkan kekasihku.”
* * *
Setelah melewati diskusi yang cukup
intens dengan gadis yang kucintai, akhirnya aku pun memutuskan untuk melangkah
ke rumahnya dan menyatakan keseriusanku. Tentu saja, dia sangat senang dengan
sikap gantle-ku ini. Karena memang inilah
yang dia tunggu-tunggu dariku sejak beberapa bulan yang lalu. Meskipun aku
dipenuhi getar ketakutan yang membuatku selalu merasa ingin pipis.
“Tak masalah pian tidak membawa apa-apa. Yang penting, pian datang ke rumah ulun,
kakanda ae.”
Sebagai seorang gadis yang sudah kebelet ingin
dinikahi, tentu dia tidak mempermasalahkan apa yang kubawa. Apalagi aku sangat
yakin, dia juga mencintaiku dan berharap banyak padaku. Namun kenyataannya, tetap
ayahnya jualah yang memegang kendali cerita selanjutnya. Dan seperti yang
kukhawatirkan, pertanyaan itu pun keluar lebih cepat dari yang aku prediksikan.
“Saat ini, ulun hanya bisa membawa ini,” jawabku sambil meletakkan bawaanku
ke atas meja.
Beliau memandang bawaanku dengan kening
berkerut dan tangan mengelus-elus janggut tipisnya. Mungkin aneh melihat
bawaanku yang masih terbungkus dengan kantong plastik hitam. Kemudian – meski
agak lama sehingga membuatku cukup kewalahan mengatur orkestra jantungku –
beliau pun meraih kantong plastik itu dan melihat isinya.
“Kurma?” gumam beliau. Ekspresi beliau
membuatku menjadi semakin berkeringat dingin.
Sejujurnya, aku sangat ingin membawa
cincin emas berkarat sebagai bukti keseriusanku melamar gadis yang kucintai.
Namun, apalah daya, situasi dan kondisiku saat ini tidak memungkinkan bagiku
untuk membawa barang mewah itu. Entah di saat yang akan datang pun kemungkinan
itu tetap akan terasa sangat sulit. Aku pun sempat terpikir mencari alternatif dengan
membeli chiki-chikian, berharap dapat
hadiah langsung sebuah cincin. Namun, pikiran itu langsung kutepis. Aku juga
sempat berpikir membeli cincin akik imitasi, tapi …. Ah, ini adalah hal yang
serius, bukan main-main!
“Sudah, tak usah bingung. Coba bawa kurma
saja,” usul Nazmi.
“Emang ada orang yang melamar gadis hanya
dengan kurma?” tanyaku.
“Ada.”
Benarkah? Entah mengapa hatiku seketika merasa senang. “Siapa?”
“Ya, kamu lah orangnya,” jawab Nazmi lalu
ngakak. Tentu saja aku langsung manyun.
“Kan dicoba dulu. Daripada tak ada yang
dibawa sama sekali. Jika itu berhasil, aku juga akan melamar pacarku dengan
kurma.”
“Berarti, aku dijadikan bahan percobaan
dong,” sahutku makin manyun.
Tapi ujungnya, aku tetap mengikuti saran
Nazmi. Tentu saja kurma yang kubawa adalah kurma terbaik yang bisa kubeli sesuai
isi dompetku.
“Maaf, Bah, ulun tidak bermaksud
menghina keluarga pian dengan hanya
membawa kurma. Saat ini, hanya sebatas ini yang mampu ulun berikan. Mungkin, anak pian
sudah menceritakan bagaimana kondisi ulun.
Yang pasti, kedatangan ulun ini ingin
menyampaikan niat baik ulun terhadap
anak pian.” Tentu saja, kalimat ini
sudah kurangkai dan kuhapal sebelum berangkat ke rumah gadis yang kucintai.
Untung grogiku tidak menghilangkan hapalanku.
Suasana masih hening. Tidak ada
pergerakan dari beliau setelah gumam kurma tadi. Membuatku merasakan suasana
yang mencekam.
Beliau tersenyum kemudian berujar, “Aku
senang dengan kejujuranmu, dan salut atas keberanianmu. Sekarang, jarang ada pemuda
seperti kamu. Dengan senang hati aku menerima pemberianmu ini. Tentang niat
baikmu terhadap anakku, jika anakku bersedia menerimamu, aku pun akan
merestuinya.”
Benarkah? Semulus inikah jalanku untuk
menghalalkan cinta yang kuidam-idamkan? Tentu saja aku ingin berteriak dan
melompat kegirangan.
Namun, perkataan ayah gadis yang kucintai
tadi hanyalah ekspektasiku belaka. Realitanya, aku masih berada dalam suasana
hening yang mencekam.
“Ehem…” Beliau berdehem. Suaranya bak petir
yang menyambar telingaku, membuatku hampir saja terlonjak.
“Kau serius dengan anakku?”
“Inggih,” jawabku bergetar sambil mengangguk,
kepalaku juga masih menunduk.
“Bukan coba-coba, kan?”
Aku terdiam. Menimbang-nimbang kata apa yang
cocok sebagai jawaban. Karena aku yakin, yang beliau butuhkan bukan sekadar
kata “Inggih”.
Aku menarik napas panjang, mengangkat
wajah demi mengumpulkan keberanian, dan menjawab dengan sejujur-jujurannya, “Ulun serius ingin menikahi anak pian. Tapi, ulun belum punya apa-apa yang bisa dijadikan mahar untuk meminang
anak pian. Ulun nekad datang ke rumah pian
karena beberapa hari ini ulun dihantui
rasa takut kehilangan anak pian. Takut
kalau ada lelaki lain yang lebih dahulu meminang anak pian. Jujur, ulun memang coba-coba
datang dengan hanya membawa kurma. Tapi, untuk menikahi anak pian, ulun tidak pernah terpikir sekadar
coba-coba.”
Dan aku langsung tertunduk kembali
setelah mengatakan itu. Entah sejauh mana ngelanturnya
kata-kata itu. Yang penting aku telah jujur, itu saja. Semoga beliau paham.
Cukup lama aku duduk dengan menunduk,
mendengarkan setiap kata yang terlontar dari mulut beliau. Hingga akhirnya, aku
bisa pulang dengan hati yang lega. Meskipun lamaranku tidak diterima malam ini,
yang penting lamaranku tidak ditolak mentah-mentah. Beliau memintaku untuk
berusaha mengumpulkan modal dan mempersilakanku datang kembali setelah hari
raya qurban.
“Wuih…. Kalau begitu, aku akan meminang
pacarku malam ini dengan kurma juga,” ucap Nazmi setelah mendengarkan cerita
dariku.
Tanjung
di puasa ke-9 1437 H
Catatan:
1.
Dangsanak
= Saudara
2.
Jujuran
= Mahar
3.
Malam
Selikur = Malam 21 Ramadhan
4.
Ulun
= Saya
5.
Pian
= Kamu
(Cerpen
ini sudah pernah dimuat di SKH Radar Banjarmasin edisi Minggu, 19 Juni 2016)
Biodata
Mahfuzh
Amin, kelahiran Ujung
Murung (HSU - Kalsel) 1 Mei 1990 yang sedang belajar menulis dan mengelola
blog. Menyukai homur walau ia bukan seorang yang homuris ini bisa diajak
berteman di facebook. Silakan diadd atau mengajukan diri untuk ia add, katanya.
